Jurnal k.e.b.o. 03

150127

.

Saya menyelesaikan outline KEBO.

Ya, itu benar. Saya yang tidak pernah menulis menggunakan outline, menyelesaikan outline KEBO. Dan outline itu selesai saat KEBO sudah diselesaikan sebanyak lima bab. Prestasi sekali ketidakberaturan saya.

Asal mula saya menyelesaikan outline adalah saat saya membaca sebuah tweet yang memensyen perihal kompetisi menulis. Saya baca ketentuannya dan (karena sedang jengah dan bosan-bosannya dengan kehidupan kantor) saya langsung melonjak kegirangan. Bagaimana tidak, ide sudah ada, garis besar sudah terbentuk, lantas kenapa tidak saya lanjutkan saja. Toh yang harus diserahkan hanya berupa outline. Maka sejak tanggal 25 malam saya pun ngebut menulis outline yang di-deadline-kan tanggal 28. Target saya, sebelum tanggal 28 saya harus mengirimkan outline tersebut.

Hasilnya? Cukup sukses. Outline selesai tanggal 27 malam dan tanpa berpikir dua kali saya mengirimkan outline tersebut.

Pernah saya dengar arahan seorang penulis: “Jika kamu menulis, tulislah idemu, selesaikan, kirimkan—biarkan orang tahu, lalu lupakan, lanjutkan menulis lagi.” Saya merasa arahannya itu sedikit banyak cocok dengan saya. Sebab setelah mengirimkan hasil karya, saya biasanya terlalu terfokus pada: ‘apakah tulisan saya bagus?’, ‘apa orang akan menyukai tulisan saya?’, ‘bisakah saya memenangkan ini?’. Pikiran-pikiran semacam ini benar-benar menimbulkan aura negatif dalam benak saya. Saya melupakan perolehan saya dari menulis yang tidak bisa diukur dengan uang dan hanya fokus pada menang atau kalah. Saya menjadi terlalu tegang yang mana membuat saya tampak jelek sekali.

Jadi, kali ini, setelah outline saya dapatkan, saya berusaha melanjutkan hidup saya. Keputusan panitia kompetisi bukan satu-satunya benang sambung bagi masa depan saya. Atau paling tidak, saya belum tahu apakah dia benang yang ‘itu’ atau hanya satu di antara sekian banyak benang yang terpilin untuk saya jalani setiap lajurnya. Saya lupakan kompetisi itu dan alih-alih bersyukur untuk outline pertama dalam hidup saya. Karena bukan ‘manusia peraturan’, memiliki sebuah lini yang bisa dijadikan pegangan membuat saya lebih lega dan lebih tenang. Jika pun outline saya tak cukup menarik untuk diapresiasi dengan status kemenangan, saya masih punya tujuan untuk menyelesaikan setiap bab dalam KEBO.

Saya tak punya alasan untuk mundur lagi. KEBO harus diselesaikan. Mungkin sulit, mungkin tersendat, tapi saya hanya punya satu keinginan untuk proyek saya yang satu ini: selesai.

.

.kkuk.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s