Jurnal k.e.b.o. 01

Jadi ide ini datang begitu saja saat saya sedang melamun, meski sejujurnya pemikiran serupa tema Kebo ini bukan pertama kalinya hinggap di otak saya. Ide dasarnya adalah saya selalu membayangkan seandainya semua materi di dunia ini memiliki pikiran seperti halnya akal pikiran manusia. Saya membayangkan kalau tumbuhan, hewan dan benda-benda di sekeliling kita mampu berpikir, maka dia pasti punya pikiran-pikiran menarik. Sebab kodrat memaksanya hanya bisa memikirkan itu tanpa bisa bertindak tanpa aksi dari manusia.

Selain itu, idenya datang dari kegemaran manusia berkiasan. Contohnya, tak jarang kita mengatai ornag lain dengan julukan monyet hanya karena hasrat ingin merendahkan orang itu; monyet dianggap buruk rupa dan usil dan aneh (seandainya disejajarkan dengan manusia) sehingga kita memanfaatkan karakternya itu sebagai alat mengatai orang. Atau kalau bukan monyet, kadang kita suka menasihati orang agar jangan seperti kura-kura, lamban dan lamban dan lamban. Kita juga mengecap orang yang tidak berpikir panjang sebagai keledai.

Kebo sendiri muncul dengan kuat dalam benak saya karena di daerah saya banyak sekali orang bilang: malas kayak kebo. Well, itu mungkin benar, sebab kalimat yang mengikuti perumpamaan itu kemudian adalah “tidak bergerak kalau tidak dipecut”. Aduhai sekali ya si kebo ini, hewan yang diperalat sebagai alat kias negatif, besar, lamban, malas dan tidak menarik dilihat. Padahal kalau saya nonton saluran-saluran televisi kabel langganan yang menayangkan acara-acara hewani (apalah ini sebutannya), kebo pun ternyata melakukan apa yang dia lakukan dengan alasan.

Sebagai contoh, kebo mungkin bergerak lamban, tapi itu karena beban yang dia bawa berat juga. Pernah dengar mobil nabrak kebo? Siapa yang luka? Seringnya mobilnya yang ringsek kan? Ya, begitulah kebo, kuattt. Lalu kebo suka bermalas-malasan? Hmm, mungkin kalau dilihat dari sudut pandangnya, dia tidak sedang bermalas-malasan. Saya sempat mendapat informasi bahwa kebo, dalam diamnya pun, dia tidak benar-benar diam. Ada memamah biak lah, ada membiarkan suhu tubuhnya menurun lah, ada acara detoks segala lah, pokoknya, sebetulnya hanya mata kita saja yang menganggap gerakan-gerakan kebo itu ‘nggak nyabarin’.

Berawal dari merenungi hal inilah saya kemudian memutuskan akan menuliskan sesuatu tentang kebo.

Absurd? Ya sekali, karena saya jelas-jelas nggak tahu apa-apa tentang kebo. Pendidikan saya berkutat di ilmu alam yang tidak bernyawa dan ilmu finansial, tentunya akan berat kalau saya harus nulis sambil bolak-balik gugling hanya untuk mengetahui ‘kebiasaan kebo pada umumnya’. Tapi karena dasarnya saya ngeyelan, ya saya terusin aja ide saya ini. Selain juga karena udah terlanjur merajalela kemana-mana.

.

So, babak pertama menulis Kebo adalah hal yang sasyik, alias sangat asyik. Saya nggak perlu memikirkan macam-macam karena otak dan tangan kompak menuangkan ide dalam bentuk ketikan. Rasanya ringan karena didorong oleh semangat dan antusiasme memulai. Sudut pandang orang pertama yang saya pilih juga sangat membantu menyelesaikan belasan lembar pertama hanya dalam beberapa jam. Saya nggak membual, tapi memang dalam urusan mengarang, selama rasa ‘asyik’ itu ada, saya bisa ngebut seperti geng motor dikasih akses ke jalanan baru yang mulus dan kosong melompong.

Saya asyik sekali menggambarkan karakter Kebo, karakter orang-orang di sekeliling Kebo, juga definisi lingkungan tempat Kebo tinggal. Sambil mengetik, berbagai awan gemuk mengambang di atas kepala saya. Isinya beragam, dari bentuk fisik Kebo, sampai detil-detil adegan yang ingin saya realisasikan dalam tulisan. Kadang saya ketawa sendiri, kadang cemberut, kadang sedih. Beberapa kali saya harus berhenti dan mengerutkan kening untuk menuangkan fakta kebo sesuai ilmu seadanya yang saya peroleh dari Mbah Gugel; saat-saat seperti inilah yang membuat saya beberapa kali kehilangan konsentrasi.

Saya sering mengalami noise semacam ini. Niatnya membiarkan internet terkoneksi agar mudah mencari informasi, eh malah terlena pada informasi-informasi luar biasa yang hanya sejauh se’klik’kan tetikus.

Kembali pada tulisan saya. Setelah tiga bab terselesaikan, saya mulai terbatuk-batuk meneruskan. Saya mulai kehabisa informasi. Pada titik ini, semua tokoh utama sudah saya keluarkan, hubungan-hubungannya sudah fix, dan konfliknya sudah terbentuk secara kasar. Sayangnya, saya tidak mampu menciptakan chemistry di antara tokoh-tokohnya; atau paling tidak, tidak sekuat yang saya mau.

Selain itu juga timbul masalah detil konflik yang mulai menanjak. Sejak pertama menulis, detil selalu menjadi masalah untuk saya. Saya kesulitan membangun komunikasi yang menarik untuk tokoh-tokoh saya. Sering kali saya terjebak pada suasana klise yang mengambang. Biasanya kalau sudah seperti ini, saya tutupi dengan paragraf-paragraf deskriptif, tapi masa seluruh novel ini nantinya bakalan deskriptif? Saya tidak mau itu. Saya mau sebuah cerita yang lincah dengan komunikasi antartokoh yang menarik.

Inilah tantangan pertama saya.

Selain tantangan tadi, saya juga menghadapi masalah lain, yaitu penciptaan detil yang ciamik. Sejak awal saya sudah punya standar bahwa cerita ini nantinya harus punya konflik seperti ini dan itu, tapi kok kayaknya susah banget membangun suasana ke arah sana. Saya mencoba mengonsentrasikan masalah pada tokoh utama (Kebo), tapi itu tidak akan memberikan gambaran utuh tentang hubungan Kebo dengan orang-orang pentingnya. Lalu saya ingin mengangkat konflik yang dibawa oleh tokoh kedua, etapi malah mengular kemana-mana, karena selain saya belum sempat kolek data, saya juga belum punya gambaran detil-detil ceritanya.

Ini mungkin kalau divisualisasikan, seperti awan-awan domba gemuk yang penuh ide di awal penulisan tadi mendadak dijual ke pasar dan benak saya langsung kosong. Benar-benar membuat frustasi.

.

Kondisi tersebut membuat saya memilih alternatif yang paling tidak saya suka, yaitu: berhenti menulis.

Alternatif ini merupakan pilihan yang sangat riskan. Kondisinya serba tidak pasti. Bisa jadi saat saya menulis lagi, otak saya sudah kembali segar dan bisa menentukan dengan tegas detil-detil seperti apa yang ingin saya pakai dalam cerita. Mungkin saja saya bisa memperoleh kembali antusiasme yang membuat saya kebanjiran ide.

Sayangnya, alternatif ini juga mengandung risiko. Yaitu pertama: saya nggak dapet-dapet ide, kedua: saya malah lupa sama ide besarnya, ketiga: saya jadi malas melanjutkan.

Penyakit ketiga adalah penyakit paling parah. Nggak terhitung berapa banyak file yang hanya selesai setengahnya hanya gara-gara saya sudah kehilangan minat. Dan kehilangan minat ini bisa terjadi dalam waktu cepat sekali, bahkan bisa terjadi dalam sekejapan kelopak mata. Demi menghindari penyakit mematikan ini, biasanya saya menghindari segala macam hal yang memaksa saya berhenti menulis, seperti makan, ke kamar mandi, atau sekedar menghela napas. Benar-benar merepotkan. Sebab saya harus memastikan saya berada di suatu tempat yang tidak akan mengganggu saya dengan panggilan-panggilan untuk makan dan sebagainya.

Tapi karena benar-benar sudah buntu, maka saya berdoa sekali supaya setelah berhenti rehat, saya tidak akan mengalami penyakit-penyakit yang tiga butir tadi. Saya sangat menyukai ide ini, saya tidak ingin dihentikan oleh penyakit mental laknat itu.

Doa saya tidak terlalu dikabulkan. Selain aktifitas mencari uang saya semakin padat, kecemasan tentang menetapkan detil juga terus menggema di benak saya. Rasanya frustasi sekali karena pikiran saya terus terpecah-pecah, saling berdebat mempertahankan banyak ide yang melintas. Kehidupan nyata juga tidak membantu. Saya dipaksa berpikir tangkas dan logis alih-alih kreatif dan full-of-fun. Kondisi ini berlangsung dari jam 6 sampai jam 6 lagi setiap hari, dan 5 hari setiap minggu. Pada akhirnya, meski tidak ingin terdengar mengambinghitamkan kondisi, saya sering kecewa sendiri melihat komputer lipat saya yang lebih sering dingin nggak dinyalakan. Di akhir pekan, saya sibuk membuat rencana-rencana-rencana namun pada akhirnya tidak berhasil menuliskan satu rencana pun di dalam draft saya.

Akhirnya, draft saya terkatung-katung.

.

Kemudian bulan Mei 2014 datang. Sebelum ini saya sudah banyak mendengar pengumuman dari para penulis dan blogger yang berseliweran di dunia maya saya mengenai “BULAN SAYA”. Banyak lomba, banyak acara, banyak hadiah lalu lintas di depan hidung saya. Nah, untuk saya, momen “BULAN SAYA” ini adalah bulan Mei.

Kenapa?

Karena PlotPoint dan NulisBuku mengadakan sebuah event menulis novel dalam sebulan. Saya seperti dibangunkan dengan kembang api yang riuh. “Hei, jangan busukin naskah kamu!” seolah begitu bunyi kalimat pembangunnya.

Saya tengoklah situsnya. Cakep. Dan membuat saya bersemangat lagi. Banyak sekali penulis yang bertekad.

Saya nggak naif, saya tahu, sudah sifat alami orang Indonesia untuk anget-anget ketek ayam (tepat seperti adanya saya), jadi mungkin saya sekian ratus penulis itu nantinya dalam sebulan akan berkurang menjadi separuhnya di tengah bulan, dan separuhnya lagi di akhir waktu yang diberikan. Tapi begitu pikiran itu datang, saya langsung meragu sendiri. “Saya bisa nggak ya?”, “Bakal selesai nggak ya?”, itu yang terus-menerus menggerogoti benak saya.

Jujur saja, ih saya benci banget sama pemikiran itu. Membuat saya jadi benci juga sama kepala saya sendiri karena memikirkan itu. Rasanya belum juga dijalani kok sudah menyerah. Maka dari itu, saya mengumpulkan serakan kepercayaan diri saya, dan berkata pada diri sendiri: “S-E-L-E-S-A-I! HARUS!”

.

Sekarang, sepuluh hari pertama sudah terlewati. Jujur, saya baru berhasil menambah 1 bab dari sejak terakhir kali saya meng-update jurnal saya. Kesulitan saya rasanya sudah basi. Masih tentang detil dan pengembangan jalan cerita. Pikiran saya begitu penuh dengan banyak hal lain sehingga saya tidak bisa fokus.

Tekad saya untuk hari ke depannya adalah saya akan memfokuskan pikiran saya. Saya akan berusaha sangat keras supaya bisa membagi pikiran dengan bijak. Siang hari untuk pekerjaan, malam hari dan akhir pekan untuk passion saya, yaitu menulis.

Sekali lagi saya teriakkan pada diri saya sendiri: “S-E-L-E-S-A-I!!!!”

.

.kkukk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s