Jurnal K.E.B.O. 02

Ada perasaan menyesal saat ini saat saya memikirkan kelanjutan K.E.B.O. Cerita ini harusnya ringan dan menyenangkan untuk ditulis, sehingga saya cukup percaya diri bahwa saya akan sanggup menyelesaikannya dalam satu bulan. Karena antusiasme ini pulalah, saya dengan percaya diri ikut mendaftar pada kompetisi menulis yang diadakan oleh salah satu komunitas menulis. Saya percara diri sekali bahwa saya akan bisa memecut diri sendiri untuk tekun menulis.

Seperti yang sudah diaba-aba di awal Jurnal ini, tentu saja saya tidak berhasil memuaskan rasa antusiasme saya. Semua rencana itu berserakan tidak jelas akibat ketidakdisiplinan saya. Sejujurnya, agak berat juga saya berpikir bahwa semua itu karena kesalahan saya. Pasalnya, saya baru saja pindah divisi. Saya, di tengah bulan yang saya rencanakan akan bisa fokus mencurahkan segenap gairah menulis, ternyata harus berkutat lagi dengan perjuangan menjadi anak baru. Tempat kerja saya yang lokasinya lebih jauh dari rumah juga tidak membantu. Proses belajar saya sangat intens, sehingga saya jarang sekali pulang di bawah jam 8 malam. Kalau sudah begitu, kapan pun saya melihat kasur saya yang kosong, yang bisa dan mau saya lakukan ya hanya menggeletak dan langsung terlelap.

Meski begitu, saya senang karena otak saya tidak berhenti begitu saja memikirkan K.E.B.O. Banyak sekali inspirasi yang saya dapat dalam kehidupan sehari-hari untuk saya tuangkan ke dalam plot saya, sampai-sampai saya jengkel karena saya tidak pernah punya tenaga lagi untuk menuliskan semua inspirasi cihuy tadi sepulang kerja. Ini betul-betul membuat saya frustasi.

Tentang inspirasi, saya sangat suka pada detil-detil kecil kehidupan. Dari tulisan-tulisan yang sudah pernah saya buat dan terbitkan, beberapa orang mengatakan bahwa konflik saya tidak dalam, tulisan saya pun terlalu deskriptif, kurang hidup dan dinamis.

Itu adalah masukan-masukan yang berharga. Sayang sekali, saya adalah penulis yang cenderung menuliskan apa yang saya suka saja. Dan celakanya, saya suka detil-detil membosankan seperti lirikan mata yang punya banyak arti. Untuk saya, lirikan mata yang dilemparkan bisa dibuat sedemikian rupa agar tidak menjadi klise. Sayangnya, klise-tidak-klisenya itu hanya menurut standar saya.

Memang nggak jelas sekali saya ini.

Sudahlah. Sekarang ini saya sedang punya cukup ide untuk melanjutkan, jadi saya akan lanjutkan K.E.B.O. Semoga segera terwujud satu buku penuh dan saya segera bisa mendistribusikannya ke siapa saja yang ingin berbagi dengan saya.

.

.kkukk.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s