BAM – 1

Behind the scene: Pengacara Baik Hati

Seri pertama dari Bagaimana Aku Mati (BAM), adalah sebuah cerita nyata yang saya dapatkan dari informan atau salah satu sumber inspirasi saya. Informan saya ini saksi mata kejadian yang sebenarnya saat seorang pengacara sedang membela kliennya (kebetulan kliennya adalah ‘Tergugat’), meninggal dunia. Yang bersangkutan sekonyong-konyong tersuruk dari bangkunya, dan saat dibawa ke rumah sakit, sebenarnya—sepertinya—sudah tidak ada di dunia ini. Sangat mengejutkan, tentu. Sebab, mari kita buka-bukaan saja, tentang seseorang yang meninggal, bukankah ada di antara pelayat yang pasti berpikir: hari kerja kok mati? Iya, tidak?

Kejadian yang menimpa Bapak Pengacara ini menyentil saya. Saya tidak habis pikir, lagi kerja kok bisa mati. Naini, sungguh, sekalipun saya merasa diri ini sangat dangkal, tapi tetap saja saya takjub akan betapa semena-menanya peristiwa nyawa diambil itu bisa datang.

Memikirkan hal itu, saya bertanya-tanya, mungkinkah saat mengetik ini nyawa saya dicabut?

Karena tulisannya masih terus ada, berarti saya masih diberi waktu di dunia.

Kejadian ini sendiri sudah terjadi sekitar dua bulan sebelum cerita ini diterbitkan di Wattpad. Dan tentu, perasaan ngeri saya sudah jauh berkurang dibandingkan saat baru mengetahui kejadian itu. Namun, setelah menuliskan cerita ini, kengerian itu datang lagi. Memang tidak seintens saat baru terjadi, tapi cukup menggelisahkan sampai membuat saya tidak nyenyak tidur di malam hari.

Saya yakin, tidak ada orang yang tidak ngeri saat dicabut nyawanya. Tapi ada satu hal tentang mengetahui kematian demi kematian orang lain. Yaitu tentang pembelajaran yang selalu nendang setiap kali ditunjukkan. Saya pikir menyerah pada rasa ngeri tanpa mengambil keuntungan dari sana sama sekali itu konyol. Maka saya mengambil hikmah dari cerita-cerita kematian ini.

Hikmah yang dapat saya ambil adalah, kalau sudah jelas kapan kita mati, entah sedang melakukan apa, bersama siapa, untuk siapa, tentu akan memberikan sedikit ketenangan seandainya kita mati dalam keadaan siap. Siap yang seperti apa, itu bukan urusan saya untuk menentukan. Setiap orang punya standar kesiapannya sendiri-sendiri, tapi, mengingat mati itu artinya meninggalkan dunia, maka kita tentu akan lebih tenang saat tidak meninggalkan dunia dalam keadaan menyesal.

Yah, begitulah. Meskipun ngeri, saya akan tetap berusaha melawan kepengecutan dalam jiwa saya dan tetap melakukan yang terbaik.

Semoga yang membaca tulisan ini pun mendapatkan kekuatan. Baik kekuatan untuk menghadapi ajal, maupun kekuatan untuk mau membaca kisah-kisah kematian yang saya persembahkan ke depannya.

Untuk membaca cerita ini bisa diklik di bagian judul “Pengacara Baik Hati”.

.

.B.