Tag

, , , ,

pic by: @sarahafiifah on IG

 

.

“Mom? Aku pengin liburan. Ke Amerika. Ke Los Angeles.”

“…”

“Mom?”

“Mommy dengar! Mommy cuma memastikan—“

“Mommy nggak salah dengar.”

“Anak nggak tahu sopan santun. Mommy kan belum selesai ngomong.”

“Memang Mommy mau ngomong apa?”

“Mommy cuma mau bilang kalau Mommy perlu memastikan bahwa Mommy nggak salah dengar.”

“Ini buang-buang waktu, Mom.”

“Eh, anak durhaka, kamu yang buang-buang waktu Mommy. Apa kamu tahu Mommy lagi ngapain?”

“Lagi meneliti berkas pertahanan.”

“Iya, sih.”

“Makanya, aku bilang aku mau liburan ke—“

“Apa hubungannya berkas pertahanan sama liburan ke LA?!”

“Nggak ada, makanya aku bilang langsung aja, biar nggak menyita waktu Mommy.”

“Tunggu! Tunggu, tunggu, tunggu. Sayang, kamu nggak habis makan mie basi, kan?”

“…”

“Aku emang tadi malam makan mie, sih.”

“Udah basi?”

“Mie instan.”

“Udah basi?”

“Nemu di bawah Kasur.”

“IYA TAPI MIE-NYA UDAH BASI APA BELUUUM?!!!”

“Biasa aja, kali, Mom. Nggak usah pake teriak-teriak.”

“Buut… buuut… buuut… apa salah Mommy sampe punya anak kayak kamu.”

“Maaf, ya, Mom.”

“Apa? Kamu menyesal sudah dilahirkan?”

“Nggak.”

“Kamu nyesal sudah gangguin Mommy di jam sibuk?”

“Nggak.”

“Kamu nyesal cuma bisa ngomong sama Mommy gini lewat telepon, nggak bisa nemuin Mommy?”

“Nggak.”

“Terus kamu minta maaf buat apa?!”

“Maaf aku nggak bisa ngasih tahu Mommy mie-nya udah basi atau belum.”

“Senter jamuran! Tobat, tobat.”

“Masukin kulkas, dong, Mom. Biar nggak jamuran.”

“Kamu nggak boleh liburan ke LA.”

“…”

“Kamu denger? Tidak ada liburan ke LA untuk kamu.”

“…”

“Lagian kamu itu sehari-hari ya liburan! Masih sok pengin liburan. Cari kerja dong, Nak… Cari kerja!”

“…”

“Kerjaan yang sebenarnya! Bukan cuma potret sana, potret sini, dijual aja nggak bisa potret kamu itu.”

“…”

“Cari kerja, biar dapet duit. Jangan cuma ngandelin duit dari Mommy melulu tiap bulan.”

“…”

“Coba deh kamu berubah. Pakai tabungan kamu buat nyalon, nge-gym, biar penampilan kamu agak bagusan. Terus habis itu kamu ngelamar ke kantor mana, kek.”

“…”

“Kamu itu udah dewasa! Tiga puluh satu tahun, lho! Mau sampai kapan tinggal di kos-kosan yang kalo hujan kebanjiran padahal punya rumah di kecamatan sebelah?”

“…”

“Apa kamu nggak kepengin punya pacar? Nikah? Punya anak? Seumur kamu Mommy dulu lagi indehoy sama Daddy!”

“Mom.”

“Atau paling nggak kamu tuh punya kerjaan. Yang ada pensiunannya. Jadi besok kalo Mommy udah jadi miskin, kamu nggak kelaperan. Makan kamu kan banyak.”

“Dokumen Pertahanan…”

“Ada di depan Mommy! Nggak usah bawel. Emang Mommy ini kamu?! Gini-gini Pak Presiden percaya sama Mommy!”

“Iya.”

“Jangan cuma iya-iya, kerjain.”

“Iya. Jadi aku boleh liburan nggak?”

“Berapa lama?”

“Paling sebulan.”

“Udah booking hotel?”

“Aku mau backpacker-an.”

“APA?!”

“Mommy ada kaca, nggak?”

“Apa?”

“Ulangin, Mom.”

“Apanya?”

“APA?! Gitu.”

“Ngapain?”

“Jadi aku boleh backpacker-an, ya?”

“Kam—“

“Janji, nggak lebih dari sebulan, kok.”

“Tungg—“

“Dibekelin, ya, Mom? Janji deh, hotelnya yang murah-murah aja.”

“KAMU!!!”

“Ayolah, Mom. Gini-gini kan aku bisa dibilang wartawan, butuh fresh insight, nih.”

“Udah Mommy bilang—“

“MOOOOMMMYYYYY… Pleeaassee…”

“Ke Portland aja!”

“Aku maunya ke LA.”

“Di Portland, kan, ada Aunt Rhoda.”

“Tapi aku maunya LA!”

“Kamu, tuh, bukan anak kecil lagi, ya! Nurut sama Mommy!”

“LA!”

“Kenapa, sih? Pengin banget ke sana?!”

“Pokoknya aku mau ke LA! Dibeliin tiket, dikasih uang saku!”

“Ya udah. Berangkat kapan?”

“Besok.”

“Eh, tahu gejrot! Urus visa dulu!!!”

“…”

“Pulang dulu, pamitan yang bener sama Mommy!”

“Berarti boleh, ya?”

“Mau Mommy, sih, nggak—“

“MOOOMMMYYY~~~!!!”

“IYA! Ah, dasar.”

Dan jurnalis manja berbadan bulukan itu pun mulai menyusun rencana untuk berjalan-jalan di LA, Amerika Serikat, selama sebulan. Dia yang sama sekali tidak kiyut, manis, baik hati, apalagi pintar menjahit, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, merasakan sedikit antusiasme dalam dadanya.

Bukan karena dia akan ke negara Paman Sam, oh tidak demikian. Tapi karena untuk pertama kalinya sejak entah kapan dia sudah tak ingat lagi, dia berinisiatif, berencana dan bertindak untuk dirinya sendiri.

Kecuali bagian finansial.

.

-cut-