Tag

,

457w.

.

.

Namaku Ray. Orang biasa memanggilku ‘Mas Ray’.Nama panjangku … ah, panggil saja aku Ray. Terlalu panjang membawa-bawa nama panjang.

Aku adalah lelaki yang tangguh. Biasanya di pagi hari aku sudah bekerja keras. Peluh adalah sahabatku dan kesukaanku adalah hitam. Hitam terbakar matahari.

Pekerjaanku banyak. Pantang bagiku tidak bekerja keras. Otak, otot, semuanya kumanfaatkan dengan maksimal. Memikirkannya saja aku sudah merasa keren.

Tapi aku memang keren. Karena pekerjaanku adalah pekerjaan yang keren dan luar biasa.

Aku adalah seorang pahlawan super. Karena ‘membantu orang lain’ sudah mengalir dalam darahku, maka mudah bagiku untuk cepat tanggap menyelesaikan masalah. Terutama jika orang lain yang terkena masalah dan membutuhkan bantuanku.

Dengan kekuatan superku, aku membantu menggali sumur. Yang kugunakan kala itu adalah kekuatan kecepatan super. Saking cepatnya, orang-orang tidak sadar bahwa sumur yang kugali sudah selesai dan airnya telah melimpah ruah.

Selain itu, aku juga membantu memadamkan kebakaran. Dengan kekuatan paru-paru superku, kupadamkan api yang kalau dibiarkan akan menjadi kebakaran. Keberanianku luar biasa.

Tapi aku memiliki kekurangan. Karena aku adalah manusia terbaik, maka aku pun mengakui kekuranganku. Aku takut menyeberang jalan. Eh, salah. Biar kubenarkan. Aku sedikit takut menyeberang jalan. Hanya sedikit saja.

Tapi itu bukan masalah karena aku tak pernah tidur. Demi orang lain, terkadang aku melakukan aksi menguap. Tapi sungguh, itu hanya aksi. Pura-pura saja. Aku tak benar-benar lelah.

Di keluargaku, aku adalah anak pertama. Misi utamaku adalah melindungi ibu dan adikku. Tentu saja dengan kekuatan superku itu adalah hal yang sangat mudah dilakukan.

“Mas Ray!”

Ada hal yang sangat kusukai sebagai pahlawan super. Kalau sedang tidak sibuk, aku mencari batu bersinar. Batu-batu itu sangat bermanfaat sehingga aku suka memberikannya pada orang lain agar mereka terbantu. Dulu, aku rajin memberikannya pada nenekku dan dia sangat berterima kasih padaku karenanya.

“Mas Ray!”

Saat ini aku sedang sibuk menolong ibuku. Pohon tumbang di depan rumah harus segera disingkirkan karena nantinya ibu ingin memasang pagar di sana.

“Mas Ray! Dipanggil baik-baik kok nggak jawab, sih?! Ibu marah, nih! Cepet masuk! Mandi sore!”

Tapi pohon itu sedikit terlalu besar untukku. Mungkin kekuatan superku sudah agak melemah.

“Mas Ray! Jangan buat Ibu teriak-teriak, dong, Nak! Dedek di perutnya Ibu tegang, nih! Ibu kan sudah bilang, jangan sampai Ibu marah, nanti dedeknya ikut kesel, perutnya Ibu jadi sakit! Udah mau jadi kakak kok masih nggak ngedengerin kata Ibu, sih? Ayo cepetan masuk, nanti Ayah pulang kamu belum mandi, disuruh mandi pakai air dingin, lho!”

“Tapi Mas Lay lagi bikin sumul, Ibu. Ini adalah sesuatu yang sangat penting untuk dilakukan!”

“Bikin sumurnya besok lagi. Sekarang udah hampir magrib.”

“Baiklah, besok sole Mas Lay mau bikin sumur lagi ya, Ibu …”

“Ya … Ayo sekarang lepas bajunya.”

Sudah dulu, ya. Aku harus mandi. Sampai jumpa besok denganku, Rayhan Si Pahlawan Super Pemberani berumur lima tahun.

.

.kkeut.