Tag

, ,

08.08.2018 (Rabu)

.

Petang ini Tubita berhasil keluar kandang. Kandangnya tidak rapat sehingga ada celah di sana yang cukup untuk tubuhnya menyelip di antara dinding kandang. Saat aku mengecek ke kandang, hanya ada Kae yang sedang mengeong ribut. Mungkin mengadu, bilang bahwa Tubita berhasil keluar. Keluyuran tanpa mengajak dirinya.

Hatiku sempat mencelos. Tapi tak sampai sedetik aku sudah berusaha menghibur diri, ‘kalau sudah waktunya kami berpisah ya mau bagaimana lagi’. Aku pikir, itu pasti rencana Tuhan. Pastilah aku akan sedih karena kehilangan anabul yang sejak kecil kurawat, tapi mungkin menurut Tuhan sudah saatnya aku melepaskan salah satu kesayanganku itu.

Lalu aku berbalik. Dan di sanalah Tubita.

Anak itu merunduk di balik tembok, rupanya mengikutiku. Saat aku keluar untuk mengecek kandang, dia rupanya ada di garasi dan menyadari gerak tubuhku. Instingtif, dia mengikutiku. Tapi untuk ke kandang, ada genangan air yang tidak bisa dilewati kucing kecuali dia melompat. Saat mengikutiku kembali ke kandang, Tubita berjalan santai, jadi genangan itu jadi tantangannya.

Yang mana memberiku cukup waktu untuk mengangkatnya. Bagian bawah tubuhnya terasa kotor, tapi menurutku itu tidak masalah. Rasa lega membuatku tak ambil peduli dengan hal lain. Fakta bahwa aku masih bisa melihat Tubita, menggendong dan memeluknya lagi cukup membuatku senang.

Tubita kumasukkan kembali ke kandang. Kali itu aku tidak kembali sebelum memastikan kandang tak akan longgar lagi. Kupasang kalung berlonceng di lehernya setelah seharian tadi kubiarkan dia bebas tanpa kalung. Meski tidak menjamin dia tak akan menyelinap lagi, tapi loncengnya membuatku sedikit tenang. Aku akan bisa mendeteksi apakah Tubita masih di kandang atau tidak hanya dari suaranya.

.

.miauw.

Iklan