Tag

, , ,

Dia menatap istrinya dengan berjuta makna. Tidak adil kalau kau hanya mau tahu satu makna dari pancaran matanya sebab di sana ada dunia.

Istrinya menatap balik tapi hanya sekejap. Mata si wanita kembali menekuri tumpukan baju di depannya. Mereka belum disetrika, berbau wangi dan hendak dilipat.

Terulur mengambil satu potong kaos milik sang suami, si istri menyadari sesuatu. Rupanya suaminya masih terus menatapnya. Alis matanya terangkat sebelum suaranya keluar, “Apa?”

Ah, betapa dia takjub menyadari bahwa dia tahu tepat itulah yang akan dilakukan dan dikatakan istrinya. Perempuan itu mengikat rambutnya jadi satu di tengkuk, karetnya karet warna-warni yang biasa dipakai anak SD, di garis rambut, anakan rambut saling mencuat. Wajahnya bengkak tanda belum lama bangun tidur.

“Apa, Mas?” perempuan itu bertanya lagi.

Dia menggeleng. Senyumnya tersungging, kepalanya bergerak ke samping mencari bantal. Kurang dari satu menit, dia sudah berbaring miring, kepala bersangga lengan yang terlipat dan satunya lagi diletakkan santai di sisi tubuh yang menghadap ke atas. Gelengannya lemah, tapi suaranya cukup jelas, “Enggak.”

Istrinya ikut-ikutan tersenyum. Sesuatu dalam sikap santai suaminya membuat perasaannya mengembang bahagia. Tatapan suaminya begitu kompleks, tapi dia memahami tatapan itu sepenuhnya. Dia mungkin tak bisa membalas menatap seintens itu, tapi rasa di dadanya seperti terlalu besar untuk tak dikenali sang suami. Aneh, tapi mereka memang bisa diam saja sambil memberi tahu banyak hal satu sama lain.

“Aku ingin menciummu,” perempuan itu menghentikan kegiatan tangannya.

Suaminya mengerutkan hidung. “Jangan, ah.”

“Kok?”

“Aku baru bangun. Mulutku bau.”

Si perempuan melupakan kaosnya. Dia merangkak mendekati sang suami dan tak berhenti sampai tubuhnya tak bisa maju lagi karena sudah menempel pada tubuh suaminya. “Keinginanku menciummu lebih besar dari rasa terganggu karena bau mulutmu.”

Dan dengan itu, dia menempelkan bibir mereka.

Bibir mereka hangat, sedikit kering, tapi tak ada yang salah tentang itu. Malah sebaliknya, rasanya sangat menyenangkan. Merasakan bibir kering yang satu menempel di bibir kering yang lain, perlahan meresapi degup yang semakin cepat.

Si suami melepaskan bibir mereka. “Geli, ih,” ucapnya sambil nyengir.

“Apanya?” si istri gagal nyambung.

“Kata-katamu.”

Gelak tawa meluncur empuk dari si istri. “Ya udah, nggak usah dipikirin. Sini, biar lupa, aku cium lagi. Pake hot.”

Si suami ikut tertawa. “Oke.”

.

–bee@2018