Tag

, , , ,

418w.

.

Bahwa kau milikku, aku merasakannya di sini. Di dalam dada. Yang berdegup lebih kencang setiap kau ada di hadapanku. Bahkan jika kau berpaling. Bahkan jika hanya batas rambut belakangmu yang menyapa. Bahkan jika punggungmu yang kusua. Jantungku, tak mau tenang. Kalau di depanku, judulnya kamu.

Bahwa kau milikku, aku mengetahuinya di sini. Di dalam kepala. Yang berpusar di antara pemikiran tentangmu. Bahkan jika kau sedang berbicara dengan orang lain. Bahkan jika yang kau bahas bukan aku. Bahkan saat kau tidak mengucapkan kita. Kepalaku, tak mau diam. Kalau di duniaku isinya kamu.

Bahwa kau milikku, aku membiarkannya mengalir dalam aliran darahku. Kau membuatnya lebih hangat dari yang semestinya. Membuat pipiku, dadaku, lenganku, tengkukku, perutku, sedikit lebih panas dari seharusnya. Tapi aku sendiri bertanya-tanya, benarkah mereka panas? Sakitkah aku? Atau aku baru tersengat panci panas? Lalu … jeng jeng jeng … kau menemukan tatapanku, menawariku senyum coba-coba, membuatku terkekeh, kemudian ikut terkekeh.

He he he.

Aku terkekeh karena aku sangat senang melihatmu, merasakanmu, mengetahui kau di dekatku. Kalau kau, apa kau terkekeh karena aku menawarimu senyum paling dari hati yang kupunya?

Kau milikku saat kita berdebat. Kepunyaanku ketika kita saling mendukung. Bagian dariku waktu bekerja bersama.

Membahagiakan saat kau terpekur menghadapi layar, dahi sedikit berkerut, bernapas nyaman, dan aku melihat semua itu. Dengan jelas. Karena kau begitu dekat di depan mataku. Melegakan ketika aku kelelahan bekerja, mengangkat muka dan menemukanmu di sana. Suaramu memanggilku, menanyai hariku, ingin tahu soal laporanku meski sebenarnya kau bisa saja menganggapnya rutinitas yang membosankan.

Aku berbunga-bunga—tidak pernah absen untuk itu—kalau kau mendekat dan kita bicara berdua seolah baru kemarin kita menikah. Padahal apa? Bukankah kita sudah bersama tiga tahun? Oh ya ampun, aku tak tahu apa yang terjadi padaku setelah mengenalmu. Setelah mencintaimu.

Apakah cinta yang membuat sirkuit-sirkuit beres di otakku berlibur? Atau kamu?

Apakah cinta yang membuat sirkuit-sirkuit beres di otakku kabur? Atau kegilaan?

Kegilaankah yang menjadikanmu milikku? Menganggapmu sumber bahagiaku? Menganggapmu pusat pikiranku? Penyangkalankah yang membuatku yakin kau menatapku sepenuh tatap cintaku padamu? Inginkah yang mengantarkan getaran peduli yang kurasakan memancar darimu? Egokah yang menyatukan tatapan kita dalam pengertian sayang—aku bicara egoku, bukan egomu?

Sebab kau milikku, menurutku saja. Terkadang, yang cukup sering sebenarnya, aku menyadari, kau sama sekali orang lain. Bukan milikku. Dengan rasa kasihan pun, kau tak pernah jadi milikku.

Maka biarkanlah, biarkan, rasa tak tahumu berkembang. Agar kau tetap milikku selamanya. Kau dan rasa ini. Tak terpisahkan. Karena kau tak tahu, tak pernah tahu, sehingga tak kepikiran mengambil klaim atasnya.

Milikku, wahai kau, ingatlah itu.

.

.kkeut.

Iklan