Tag

, ,

Sebelumnya: Di Kota Ujung Dunia Satu-satunya, Tuan Ondol ditawari cinta oleh seorang penemu cinta bernama Samin. Akan tetapi, cinta yang dijajakan Samin ternyata belum cukup bagi Tuan Ondol.

.

Tuan Ondol bercinta dengan Samin. Lelaki penjaja cinta itu memberinya kebersamaan, perhatian dan sejumlah hal-hal langka lainnya seperti mengobrol dan makan bersama. Suatu ketika Tuan Ondol bertanya pada Samin, “Di mana kau temukan hal-hal langka begini?”

“Saya ini penemu, Sayangku. Saya menemukannya di tempat di mana manusia meletakkan semua hal yang terlupakan.”

“Coba tunjukkan padaku di mana itu.”

“Tidak semua bisa menemukannya. Sayangku adalah pembesar, bukan penemu.”

Tuan Ondol terdiam karena menyadari kenyataan tersebut. Tuan Ondol bisa mendapatkan banyak benda untuk membeli banyak benda dan hal, namun dia bukan penemu yang bisa mengenali sesuatu yang seharusnya ditemukan. “Ada berapa banyak penemu di dunia ini?” tanya Tuan Ondol.

“Saya tidak tahu. Tapi saya tahu penemu yang ada di kota ini.”

“Ada berapa banyak penemu di kota ini?”

“Empat orang. Sayangku memberi kami jatah makan selama dua tahun.”

.

Suatu saat yang lain, Samin menyambut Tuan Ondol yang baru saja keluar untuk mendapatkan benda untuk membeli benda dan hal-hal. “Sayangku, apakah cinta yang kau terima cukup memuaskan?”

Tuan Ondol memikirkan apa yang telah dia dapat selama ini. Dia makan bersama Samin, bicara dengannya, lelaki itu memberinya senyum, tawa dan binar dari matanya, selain itu Samin berlaku lembut padanya, sesuatu yang dia tahu sudah lama hilang bahkan sebelum cinta dan kepedulian punah. Tapi dia tidak pernah mengetahui cinta, maka dia pun berkata, “Apakah yang disebut memuaskan jika kita memiliki cinta?”

Samin menatapnya lalu tersenyum. Bukan senyum memesona seperti yang selama ini sering ditunjukkan padanya, tapi senyum ini lebih redup dan membuat Tuan Ondol merasa aneh. “Sayangku, jika kau memiliki cinta, seharusnya kau banyak tersenyum. Dan tertawa.”

“Bagaimana kau tahu itu?”

“Saya yang menemukan cinta kembali, tentu saja saya tahu.”

“Apakah aku sudah tersenyum?”

“Sayangku, itu tidak benar. Sayangnya, cinta dari saya sepertinya tidak bisa membuatmu tertawa. Saya menawarkan garansi. Apakah Sayangku ingin mendapatkan cinta dari yang lain?”

“Bisakah?”

Samin mengangguk.

.

-c-

Iklan