Tag

, ,

711w.

.

.

Saya tahu, kita bisa dibilang sedang perang dingin. Betapa saya tak ingin menyentuh kamu meski sebetulnya kepingin. Terus saya terbayang akan kamu, namun malas rasanya mendekatimu. Itu tepat. Malas. Malas sekali saya sama kamu. Berpikir kamu itu terlalu menuntut. Berpikir kamu itu menyedot saya jiwa raga. Lelah. Lelah saya menghadapi kamu.

Lelah saya menghadapi kamu. Kalau dipikir-pikir, kamu cuma menawarkan kepuasan saja pada saya. Tak ada lain yang bisa saya petik dari kamu, hanya kepuasan semata. Seolah di dalam saya ini, kamu masternya. Kamu abdi dalemnya sekaligus. Tanpa kamu, saya tersesat. Dan saya bukan bercanda tentang itu.

Saya bukan bercanda tentang itu. Itu malah membuat saya memberengut-berengut karena enam kali serius. Kenapa saya bisa sangat terpesona sama kamu, kenapa? Pertanyaan saya kadang-kadang bikin saya bosan: kenapa kamu mengganduli saya terus di setiap tarikan napas? Tapi kadang-kadang saya lupa bahwa saya bosan sama pertanyaan itu sampai saya ingat lagi. Eksistensimu, dalam diri saya, luar biasa.

Eksistensimu, dalam diri saya, luar biasa. Saya bisa melupakan semuanya kalau kita lagi berasyik masyuk. Percintaan kita, adalah yang terhebat. Sentuhan-sentuhan kamu di saya. Teriakan-desahan-kesukaan kamu karena saya. Dan pada akhirnya banjir peluh saya akibat kamu. Semua itu cuma kisi-kisi. Kerangka. Detail di antara itulah yang membentuk kita. Cengkerama. Rayuan. Godaan. Di antara kita, bukankah itu kebiasaan yang meledak-ledak?

Di antara kita, bukankah itu kebiasaan yang meledak-ledak? Satu pemicu saja sudah buat saya yakin tak salah menggaulimu. Habis, mana ada yang lain yang membuat saya sepuas ini? Hangatmu, mana ada yang lain yang sehebatmu? Meski sudah habis seharusnya sanjungan saya untuk kamu, tapi nyatanya saya lebih berani mengulangi semuanya daripada berhenti memujamu. Walau memuja bukan berarti tak pernah kesal padamu.

Walau memuja bukan berarti tak pernah kesal padamu. Seperti halnya sekarang, kita perang dingin. Sudah saya sebut tadi itu, kan?

Sudah saya sebut tadi itu, kan? Kamu mungkin tak melakukan apa pun, tapi saya merasakannya. Merasakan saat kamu harusnya lebih mengerti saya, lebih berusaha agar saya menyetujui bujukanmu. Kadang kamu benar-benar bebal karena tak paham bahwa saya sedang ingin dibujuk saja, bukan diajak berantem. Sayangnya, pengertian bukanlah satu sifat unggulanmu.

Sayangnya, pengertian bukanlah satu sifat unggulanmu. Kamu terus dan terus hanya menjalani apa yang kamu yakini harus dijalani. Semua terjadi sesuai keinginanmu, tak pernah keinginan saya. Saya sendiri sering takjub dengan bagaimana kamu menggubah semuanya. Skenariomu, trikmu, menipu saya. Bodohnya saya hampir selalu mengagumimu karenanya. Mengagumimu karena mengesimakan saya dalam trik. Dasar kamu penipu.

Dasar kamu penipu. Apakah kamu tak sadar? Semua kehangatan percintaan kita menjadi seolah tak berarti karena kelakuanmu yang satu itu? Tapi kamu mungkin sadar, sebab bagaimanapun saya bilang hanya ‘seolah’. Artinya, sebenarnya itu betul-betul berarti, kan? Dan apakah ada gunanya saya menyadari itu betul-betul berarti? Apa pula faedahnya kamu mengetahui saya menyadari itu betul-betul berarti? Paling-paling kamu hanya akan bertambah besar kepala. Mengira saya sebegitu tergila-gilanya pada kamu. Meskipun, bukannya perkiraanmu tidak benar juga, sih.

Bukannya perkiraanmu tidak benar juga. Sebab di atas banyak hal yang terlalu muskil dipikirkan itu, saya tak bisa berhenti kembali pada kamu. Saya jengah, jenuh, jeri akanmu, seberapa pun itu, suatu ketika nanti, saya sangat tahu, saya akan kembali menyambangimu.

Mungkin kamu dan saya saling berseregang. Atau terkadang kita menindik berbalas-balasan. Mungkin pula kita perang dingin seperti sekarang. Bisa jadi saya marah padamu kamu tak peduli, atau kamu marah pada saya dan saya tak sadar, mungkin pula kita tak sudi saling mencintai lebih dulu seperti seyogianya, yang mana pun, saya—ya, saya hanya bicara saya, bukan kamu; tak bisa saya lakukan apa-apa kalau sudah menyangkut mau kamu—akan kembali kepadamu.

Merangkaimu, menemukan kata untukmu, menegaskan unsurmu, memoles diksimu, demi leganya perasaan saya sendiri, puasnya imaji, kenyangnya gairah.

Dan demi rasa tak terkatakan itu, ketika pembaca kita membacamu, membaca apa yang saya tuliskan, mengenali hasil dari jibaku kita hingga peluh meregang deras.

Kita sedang berperang dingin, saya tahu. Saya tak sedang bernafsu padamu, saya juga sadar itu. Namun di ketika yang akan datang, mungkin sebentar lagi, atau sedikit lebih lama dari itu, kamu tahu saya akan merayumu lagi, kan? Memaksamu tampil lagi. Entah di blog, entah saya delegasikan kamu untuk kompetisi, entah untuk sekedar disimpan dalam folder manis berjudul ‘curhat’?

Oh ya, kamu tahu itu. Saya bisa melihatmu tersenyum.

Kamu akan selalu menungguku, mendatangimu lagi. Menggaulimu. Sampai saya mencapai ‘.kkeut.’ milik saya yang tak pernah berubah itu.

.

.kkeut.

Iklan