Tag

, ,

.

Sudah dua ribu tiga ratus enam tahun cinta punah dari gen manusia. Tak ada lagi manusia yang mengenal cinta sejak dia dinyatakan lahir ke dunia. Di Kota Ujung Dunia Satu-satunya, cinta kini adalah komoditas mahal yang hanya dapat dibeli oleh para pembesar. Mereka tinggal di rumah-rumah ceruk tebing yang difasilitasi dengan kelengkapan hidup khas orang-orang mapan. Di kota lain, para pembesar tinggal di tempat tinggal berbeda namun orang-orang sudah tak lagi peduli pada apa yang terjadi di luar lingkungan mereka sendiri.

Setelah hewan-hewan, tanaman mulai punah, lalu sifat-sifat baik, lalu akhirnya, sekarang, masuk dalam daftar hal hampir punah adalah kebahagiaan. Yang bertahan selama ribuan tahun, lolos dari ancaman hanyalah manusia, waktu dan kepunahan. Kepunahan tak perlu ditanya, tapi manusia jelas kepayahan mempertahankan keberadaannya, tidak seperti waktu yang sepertinya selalu punya alasan untuk terus kembali baru setiap kali habis.

Setiap manusia saat ini hanya memedulikan dirinya sendiri. Manusia terakhir yang masih memiliki kepedulian bertahan hingga sekitar dua ribu tahun lalu setelah menciptakan sebuah sistem masyarakat. Sejak beliau meninggal, tak ada lagi yang mengenal kepedulian. Sistem yang diciptakan oleh manusia terakhir yang peduli itu tetap dipakai hingga hari ini, tak ada yang mengubahnya.

Di rumah sakit, manusia-manusia baru dilahirkan lalu diangkat anak oleh para wanita. Semua manusia berjenis kelamin perempuan di dunia wajib mengikuti ikatan dinas keibuan pada usia dua puluh lima hingga tiga puluh tahun. Dengan angka rata-rata kehidupan sembilan puluh hingga seratus tahun merata di seluruh dunia, umur itu dianggap sebagai umur produktif untuk mengasuh anak-anak.

Para bayi ini lahir dengan tangisan sangat keras. Tangisan mereka semakin berkurang tiap tahun dan normalnya menjadi sepi sama sekali menginjak usia enam tahun. Pada usia ini anak-anak mendapatkan ibu baru hingga mereka berusia sepuluh. Lalu ibu baru lagi hingga usia lima belas di mana mereka akan mulai dilepas ke masyarakat untuk bersosialisasi. Saat itulah mereka dinyatakan sebagai manusia dewasa yang merdeka.

Setelah usia lima belas, para manusia mulai dengan sendirinya menentukan hendak menjadi apa. Tak ada guru di zaman ini. Semua belajar otodidak dari mesin-mesin pembelajaran yang tersebar di banyak titik di kota. Tak ada pula jam sekolah atau jam malam. Manusia tak lagi peduli tentang keberadaan satu sama lain yang tak punya potensi memenuhi kebutuhan mereka.

Di zaman ini, kebahagiaan hanya didapat jika dibeli. Dan biasanya, kebahagiaan diterjemahkan sebagai kebutuhan yang terpuaskan. Kau bisa membeli makanan untuk mengenyangkan perut, maka kau baru saja membeli kebahagiaan. Kau tidak terlambat membayar oksigen segar, maka kau bahagia. Kau berhasil mengumpulkan artefak peninggalan manusia lama, seperti ponsel kuno yang berisi gambar-gambar atau spinner, lalu menjualnya untuk mendapatkan pakaian, kau bisa disebut bahagia. Atau menganggap dirimu bahagia. Semacam itulah.

Ketika manusia sederhana luntang-lantung di bawah berkawan dengan mesin-mesin canggih, manusia pembesar duduk ongkang-ongkang di rumah ceruk tebing menikmati kemewahan seperti bayam, kacang polong dan air panas yang lumayan bersih. Sesekali pintu rumah mereka akan diketuk dan sales bermuka datar akan menawari mereka berbagai macam barang.

Tuan Ondol sedang menghemat kacang polong dengan memakannya tiga butir sekali makan ketika pintu rumahnya diketuk oleh sales. Sales itu bernama Samin, namun Tuan Ondol tidak tertarik bertanya. Tuan Ondol justru tertarik pada bibir Samin yang agak tertarik ke belakang ketika pintu dibuka.

“Tuan, saya menjual cinta. Apa Tuan tertarik?”

Alis Tuan Ondol naik sedikit. “Cinta itu barang langka.”

“Betul. Karena itu saya menawarkan pada Tuan.”

“Kenapa padaku?” Tuan Ondol melirik ke kanan dan kirinya di mana terdapat pintu-pintu rumah ceruk lain yang tertutup.

“Saya sudah menawari rumah di sebelah kiri dan dia bilang tidak tertarik.” Alis Tuan Ondol kini berkerut. Samin buru-buru meneruskan. “Saya bukan penipu, Tuan. Saya bisa langsung menginstalnya sekarang kalau Tuan mau.”

Tuan Ondol pernah mendengar tentang cinta yang dijual. Sejujurnya, dia tidak terlalu tertarik pada barang yang tidak pernah diketahuinya. Apalagi cinta itu barang lama, bukan barang baru. Untuk apa menghidup-hidupkan barang yang sudah punah?

“Bagaimana, Tuan?”

Tapi mungkin mengetahui cinta—bukan yang dari cerita—cukup menarik. “Hmm.” Samin menawarinya bibir yang ditarik lebih jauh ke belakang. Seperti cinta, senyum dan tawa juga barang langka. Meski demikian, senyum dan tawa masih agak sering ditemui Tuan Ondol jika dia berjalan-jalan. Senyum dan tawa itu hasil produksi, tentu saja. Dia harus membayar untuk melihatnya, meski pembayarannya ada yang secara tidak langsung, yaitu lewat pajak harian. Tapi rupanya Samin menawarkan senyum gratis. Entah dari mana dia memperoleh modal memproduksi barang mewah itu.

“Apa kau juga menjual senyum?”

Sekarang Samin nyengir lebar. “Saya menggunakan cinta, Tuan. Sudah bertahun-tahun saya menggunakan produk saya sendiri dan rupanya menggunakan cinta, saya dapat paket senyum dan tawa gratis.”

Kepala Tuan Ondol dimiringkan. “Dari mana kau dapat paket cinta seperti itu?”

Saat itu Tuan Ondol melihat sesuatu yang langka lagi: mata yang berbinar. “Saya memproduksinya sendiri, Tuan,” Samin berseru. “Saya ini seorang penemu, saya menemukan cinta yang ternyata bisa memancing keluar senyum dan tawa dan rasa bangga!”

Binar mata Samin membuat Tuan Ondol mendadak iri. “Instal sekarang juga! Pastikan aku juga dapat bonus binar mata seperti milikmu!”

Sekarang Samin tertawa. “Baiklah, Tuan. Sebenarnya saya memiliki berbagai macam pilihan, namun karena Tuan meminta yang sekarang, maka saya akan instal yang ada saja.” Seusai berkata demikian, Samin merangsek maju dan memeluk Tuan Ondol. Pelukannya erat namun tidak menyesakkan, hangat namun tidak membuat gerah. Tuan Ondol merasakan punggungnya ditepuk tiga kali lalu mereka berdua masuk ke dalam rumah masih sambil berpelukan.

Setelah pintu tertutup di belakang mereka, Samin melepaskan pelukannya dan menjabat tangan Tuan Ondol untuk menggenapkan transaksi. “Bayarannya sedia makan dua tahun untuk saya dan tiga orang lagi, Tuan.”

Mata Tuan Ondol melebar. Itu harga yang cukup mahal. Bahkan untuk ukuran pembesar seperti Tuan Ondol, dia merasa harga itu mahal. Tapi bukannya dia tidak mampu. Kecuali Samin meminta untuk sepuluh orang, baru Tuan Ondol akan membatalkan istalasi cinta. “Baiklah,” ucapnya.

Samin tertawa lagi dan berkata, “Sekarang saya akan menggenapi instalasinya. Tadi baru menginstal program awal.” Berkata begitu, Samin maju dan merangkum wajah Tuan Ondol dengan kedua telapak tangannya. Tuan Ondol terkesima dengan sorot mata Samin. Lelaki itu bergigi kuning, tapi matanya membuat Tuan Ondol menganggap gigi kuning Samin agak menarik.

Kemudian Samin mencium pipi Tuan Ondol. Sekejap dan hangat. Lalu setelah dilepaskan, dia berkata, “Instalasi selesai. Mulai sekarang Tuan bisa memanggil saya Samin, atau Sayang. Saya juga tidak akan memanggil Tuan dengan sebutan ‘Tuan’ melainkan dengan sebutan Sayangku.”

Tuan Ondol menyerap informasi itu seperlahan yang dia sanggup. Otaknya mencerna sesuatu. Bahwa dia baru saja membeli sebuah hal langka. Dia baru saja memiliki cinta.

.

-cut-

Iklan