Tag

, ,

3,922w.

.

Namanya adalah Maksi. Lucu, ya? Jarang lho, ada yang bernama sesingkat itu: Maksi. Tadinya dia akan diberi nama Makan Siang, tapi terlalu panjang, jadi dia diberi nama Maksi saja.

Sewaktu baru lahir, Maksi muda sungguh sangat bawel. Sebentar-sebentar memanggil, lalu tertawa, membuat semua orang merasa gemas. Lalu Maksi pun sering melucu, membuat keseluruhan tubuhnya tampak glowing karena penuh semangat positif. Wajahnya sering berganti-ganti ekspresi. Penuh tawa, kadang muka jelek, lain waktu wajah jahil. Ah, Maksi, dia penuh warna.

Namun demikian, pada dasarnya Maksi memiliki paras cantik. Otaknya juga cerdas. Pribadinya, meski agak rumit dan berlapis-lapis, namun menarik. Dan organ-organ bagiannya pun tidak kalah seru untuk dibahas. Ada Moderator; yang satu ini selalu memiliki sesuatu untuk dilontarkan, simbol kebawelan Maksi. Ada Admin; yang mengendalikan seluruh aktivitas tubuh Maksi. Ada pula Anggota. Anggota ini lebih dari satu dan mereka sejatinya adalah jiwa dan hati Maksi.

Suatu ketika, usia Maksi sudah dua bulan. Salah seorang anggota menyerukan sebuah usulan, “Woy! Ini grup apaan kek, namanya. Maksi doang masa?”

Dan setelah itu komentar tak ada yang bermunculan. Hening. Maksi tak berdenting, karena para anggota tidak ada yang membaca seruan usulan tersebut. Sedang sibuk semua.

Malamnya, setelah seharian Maksi hanya beristirahat, tanpa aktivitas sama sekali, grup mendadak menjadi ramai.

“Apaan nih?! Siapa yang ngeganti nama grup?!”

“Apaan sih, ganti kagak kreatif banget.”

“Iya, masa dari grup Maksi cuman ganti jadi ‘Maksi Kantor’ gitu doang.”

“Ganti lagi! Ganti lagi!”

“Eh brisik lu pade! Tadi gue kan udah nanya, lu nggak ada yang nanggepin. Ya udah gue ganti! Awas kalo ada yang ganti jadi yang lain, besok makan siang gue minta traktir!”

“Besok Sabtu, wek!”

“Makanya itu, gue satronin kosan lu, gue paksa lo nraktir gue makan siang.”

“#maleminipindahkos”

“Udeh! Pada brisik amat sik, kagak ada yang kecapekan, apa, seharian kerja?! Udah malem! Tidor!!!”

“#dasaremakemak #ketawanudahtuwir“

“#kitamasihmuda”

“#kaudanakubeda”

“Kampret! Diem lu pade! Anak gue kagak bisa tidor inih! Lagi ngempeng HP gue bunyi melulu!”

“Ya disilent ngapa, Bu, HP-nya?!”

“Iya, kayak yang punya HP situ doang.”

“Udah, Bu. Anaknya diajarin WA aja.”

“Anak gue udah bisa tauk, main WA.”

“Buset. Hebat amat anaknya, Bu. Umur berapa sik?”

“Ya bisa lah, anak si Ibu kan udah kelas 6.”

“Kelas 6 masih ngempeng?!”

“Maksud gue yang diajarin WA anak yang masih ngempeeeeng … Hadooooh …”

“BRESYEEEEK!!!”

Maksi menghela napas. Dia lega para anggotanya akhirnya mau diam.

“Etapi besok jalan-jalan, kuy? Di Pelangi lagi banyak diskon cuci gudang, lho.”

“Ibu katanya anaknya gabisa tidor!!”

“Ibu bresyek!”

“Ibu udah ngempengin anak ajah!”

“Yah … si Ibu … malah memulai topik.”

“Yuk, belanja. Jam berapa, Bu? Gue mau nyatronin Body Shop.”

“Emang Body Shop cuci gudang?”

“Ya nggak tahu. Kan ibu tadi yang bilang ada diskon cuci gudang.”

“Nggak tahu juga sih gue, kalo Body Shop.”

“Grup ini kapan diemnya ya?”

“#diskon! #diskon! #diskon!”

Maksi tahu, malam itu dia akan bawel lagi seperti biasanya.

.

Waktu berlalu, dan para anggota semakin akrab. Itu karena semua anggota kini merangkap sebagai Admin dan Moderator. Maksi merasa sangat bangga dengan dirinya yang sangat berkualitas, berintegritas, serta bersemangat.

Tapi kini dia bukan lagi Maksi. Dia sudah sejak beberapa bulan berganti nama menjadi Genk Rumpies. Lebih chick dan kece. Percakapan antaranggota pun semakin berbobot.

“Guys, maksi di Aseng ya, gue lagi bokek.”

“Ga mau ah. Panas. Maksi di PP aja.”

“Idih! Mehong! Tanggal segini ke PP.”

“Teman-teman, kalau makan di Aseng, perut aku sakit.”

“Ah elo, Ci. Yawdah lo nggak usah makan ama kita.”

“Tapi kan aku ingin makan bersama kalian.”

“Cici, bahasa lo. -__- Nggak bisa lebih formal lagi?”

“Aku kan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.”

“Bodo amat!”

“Pakailah bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan bos anda saja. Di sini alergi denger begituan!”

“Iya noh, sama Bos lo aja. Jangan di sini. Di sini tempat wanita-wanita ketjeh yang pakai bahasa gawl.”

Sepi. Tak ada tanggapan. Sepertinya semua orang menjadi sibuk.

“GAEEESSS!!! UDAH KELUAR!!! INFO BONUUUSSS!!!”

“HAH? SERIUS, LO?! DAPET BERAPA?”

“Berapa?”

“Berapa, Mbak?”

“Berapa?

“Berape, tjuy?”

“Berapaaaaaa??? Awas aja kalo nggak sampe sebulan gaji!”

“Elah, emang kalo nggak sampe sebulan gaji lo mau ngapain, Nok? Ngomong-ngomong, berapa, Nyah?”

“Ya nggak mau ngapa-ngapain, nangis aja palingan di pojokan.”

“Kalo gue mau keluar! Resign!”

“Asek. #sikap”

“Trus apply lagi.”

“Bego.”

“Lo resign sekarang, bertahan dua tahun biar dapet bonus, terus dua tahun kemudian bonus nggak sampe sebulan gaji lagi, lo resign lagi, padahal pas lo setahun sejak lo apply bonusnya empat kali gaji, lo yakin mau resign?”

“Dan pertanyaannya, pas lo apply lagi lo yakin kantor masih mau nerima lo?”

“Terus, lo yakin, bos lo masih mau nerima lo?”

“Nggak papa gih, lo resign aja, gue ngelamar posisi lo, yak?!”

“Ah somplak lo semua. Kenapa jadi gue yang dibully sih?!”

“Ini si Nyonyah ke mana, yak? Kasih kabar gempar langsung lari.”

“Nyonyah!”

“Nyaaaah!!!”

“Sabar, pemirsah. Nyonyah lagi dipanggil bos besar. Kita maksi di mana? Ntar ngerumpi yuk? Kita desak si Nyonyah.”

“Asyiiik. Aku ikut kalian.”

“Katanya perutnya sakit. Kayaknya kita mau makan di Aseng loh.”

“Iya, Cici nggak usah ikut. Cici kan nggak butuh bonus.”

“Aku ikut ah kalian aku ikut pokoknya tapi jangan di aseng.”

“Yee, suara mayoritas, dong, Ci.”

“Iya, Ci. Masa lo yang mau ikutan lo yang nentuin. Ga bisa gitu dong.”

“Iya. Ga bisa gitu dong.”

“Iya. Ga bisa gitu dong.”

“Iya. Ga bisa gitu dong.”

“Iya. Ga bisa gitu dong.”

“Ya udah, aku ikut deh ke Aseng. Soalnya aku ingin tahu tentang bonus kita.”

“Emang kita mau ke Aseng?”

“Nggak, kita mau ke GL.”

“Ah! Ngehe kelen semua! Nggak tahu apa kami lagi kejer tanggal jatuh tempo?! Brisik! Makan di kantor aja nitip Pak Kahar! Brisik kelen semua!”

.

Pada suatu ketika, Genk Rumpies kembali mengalami perubahan nama. Kali ini, salah satu anggota mengganti namanya menjadi Genk Perempuan Baebaek.

Anggota yang lain mengubah wajahnya menjadi wajah manusia. Wajah salah seorang anggota. Dia sudah hampir merasa senang saat grup menjadi heboh.

“Egila si Ndut. Ngapain lo ganti depe grup pake foto lo?! Najong!”

Kemudian Genk Perempuan Baebaek pun berubah lagi. Menjadi wajah anggota yang marah tadi.

“Lha ini ngapa ganti jadi foto lo, Ijah?!”

Genk Perempuan Baebaek kembali melakukan operasi karena tak sreg dengan pilihan wajah baru.

“Ah, gue depresi liat grup ini. Sapa sik ini yang ngeganti DP grup pake logo kantor?!”

Hari itu, Genk Perempuan Baebaek operasi wajah sampai sembilan kali, sesuai jumlah anggotanya kala itu.

.

Hari sudah gelap saat Arisan Rumpi (nama terbaru Genk Perempuan Baebaek) menggeliat berbisik.

“Eh gue sebel dah sama Mak Lampir. Kepo banget coba ama urusan gue.”

“Itu tandanya dia sayang ama lu.”

“Najis. Jauh-jauh deh.”

“Dia pengen berteman ama lu, tuh.”

“Nggak sudi.”

“Emang napa, sih? Dia kan baik (kalo belum kenal).”

“Makanya. Gue kan udah kenal, jadi gue nggak mikir dia baik.”

“Emang si Mak Lampir kenapa sih?”

“Dia kan suka nusuk dari belakang.”

“Masa?”

“Iya. Lo inget waktu—“ percakapan pun berlanjut. Dalam diri Arisan Rumpi, terdapat ketegangan yang setengah mengasyikkan, setengah lagi tidak terlalu. Dia merasakan bagaimana sebagian anggota berinteraksi dengan kentalnya, sementara sebagian yang lain membatasi diri. Kali ini berbeda dengan ketiadaan anggota yang biasanya, sebab Arisan Rumpi tahu bahwa sebagian yang membatasi diri itu sudah membuka kolom penulisan namun tak jadi mengirimkan pesan.

Rumpian tentang Mak Lampir masih berlangsung seru hingga malam, dan Arisan Rumpi perlahan lupa bahwa ada ketidaktenangan dalam dirinya.

.

Arisan Rumpi tak lagi sering berganti nama. Sudah beberapa bulan ini, nama dan wajahnya tak pernah berubah. Dia terus menampung para anggota yang bercakap-cakap namun hanya beberapa. Anggotanya pun sudah mengalami pengurangan.

“Guys, makasih ya, selama ini, gue seneng banget bisa berteman sama kalian. Jadi meskipun gue udah pindah kantor, jangan lupain gue ya. Kita keep in touch ya,” seorang anggota pernah berkata suatu hari. Yang lain menimpali. Memberi semangat, mencela dengan sayang, merangkul.

“Temen-temen, apa gue resign aja, ya? Gue udah nggak tahan lagi sama bos gue,” di hari yang lain salah seorang anggota mengungkap. Yang lain bersikap sama, memberi semangat, memberi saran dan masukan, merangkul.

“Eh cuy, pokoknya gue udah nggak tahan lagi nih, sama si Nenek Rempong depan meja gue! Masa gue lagi telepon ama dia diliatin melulu, kayak nggak boleh ribut aja. Gue juga telepon, bersuara, itu karena kerjaan, keles! Emang dia doang yang punya kerjaan?!” Demikian seorang anggota mencurahkan isi hati, yang ditanggapi oleh sebagian anggota lain. Rumpian berlanjut.

Namun ada yang berbeda. Semakin hari, dukungan, pemberian semangat, rangkulan, rumpian yang terjadi dalam diri Arisan Rumpi semakin dangkal. Tak ada timpalan-timpalan hangat yang menyenangkan. Hanya masukan berisi basa-basi yang semakin lama semakin hambar. Sebagian anggota tak lagi pernah bertemu untuk makan siang karena situasi; pindah, berhenti bekerja atau alasan lain seperti menikah atau punya anak.

Pada akhirnya, Arisan Rumpi telah berubah. Sosoknya tak lagi ceria dan menyenangkan, namun pendiam dan nyinyir. Tak jarang bahkan sarkastis. Lebih banyak tuangan negatif mengalir dalam nadinya dibanding aura positif. Deringnya tak lagi menggemborkan keasyikan, melainkan kewaspadaan.

Maksi yang kini telah menjadi Arisan Rumpi, telah berubah. Dan bukan ke arah yang baik. Justru sebaliknya.

.

“Semuanya, aku keluar dulu dari grup ya. Soalnya aku sibuk banget. Ntar kalo ada kesempatan kita jalan bareng yaaa …”

Ibu has left grup.

Arisan Rumpi mengalami nyeri di dada. Tanpa menyadari ada apa, Arisan Rumpi merasakan sakit.

“Eh, ada apa, nih. Kok Si Ibu left group?”

“Iya, kenapa ya? Ada yang dijapri, nggak?”

“Nggak tau.”

“Ih, kok gitu ya?”

“Emang kita salah ngomong, ya?”

“Tauk.”

“Ada apaan sih?”

“Yah, gue sih nggak ngerti kenapa. Tapi kalo mau keluar tuh ya, jangan kayak gini. Kan jadi bikin su’udzon.”

“Iya, ya. Kalo ada masalah tuh ngomong, biar diselesein.”

“Ah, kelen anak manusia pada ribet amat sik mikirnya. Palingan juga Si Ibu keluar karena HP-nya error lagi kek biasanya.”

“Ah, masa, sih?”

“Cie, mentang-mentang anaknye.”

“Ya mungkin juga, sih. Tapi apa iya bener gitu?”

“Udeeeh … pada woles dulu aja, tungguin sehari dua, ntar Si Ibu pasti masuk lagi.”

Arisan menunggu. Tidak sehari dua hari seperti yang dikatakan salah satu anggotanya, tapi seminggu. Si Ibu kembali masuk setelah satu minggu.

Ibu join the group.

“Semuanya … I present you … taraaa … Si Ibu … !!! Eh, bener nggak, sih, ngomongnya begitu?”

“Hai hai semuanya … Aku kembali … pada kangen ya …?”

“Ibu kenapa sih, keluar? Nggak seneng ama kita?”

“Apaan sih. Biasa, HP gue error. Makanya keluar-keluar sendiri gitu.”

“Kalo udah pamitan namanya nggak keluar sendiri, kali, Bu.”

“Beneran HP gue error makanya gue pilih keluar dulu, HP diberesin, baru minta dijoin lagi.”

“Ah masa. Waktu gue japri, kok jawaban lo aneh-aneh, Bu? Mana lo udah unfollow gue juga di IG.”

“Oh ya? Masa sih? Kok gue nggak tau, ya?”

“Alah, Bu. Udah deh, nggak usah alasan.”

“Idiiih, benerrraaan … Orang gue beneran nggak tau.”

“Lo unfollow gue, unfollow si  Jenong. Lo ada masalah ama divisi kita berdua?”

“Apaan, siiih … Enggak, nggak ada, kok. Lagian kita mah damai-damai aja.”

“Udah jujur aja, Bu. Kalo Ibu nggak suka ama kita blak-blakan aja di sini. Gentleman!”

“Tapi Si Ibu, kan, cewek, Ijah. Gentlewoman, dong.”

Gentlemistress, Kak Ndut.”

“Eh, Jenong. ‘Mistress’ tuh buat simpenan! Emang Si Ibu simpenan orang?”

“Simpenan suaminya.”

“Somplak. Ini pada ngomongin apa, sih? Absurd banget percakapannya.”

“Makanya lo jangan pergi jauh sampe Solo sana, Onah. Jadi lo bisa nyambung ama omongan kita.”

“Kan bukan mau aku juga dipindahin Cabang Solo.”

“Apaan! Bukannya lo yang rajin banget maju pindah Solo? Lo sendiri yang pengen balik kampung!”

“Hihi, iya juga, ya.”

“Iya, lu, Onah. Lu tega ninggalin kita. Rasain lu sekarang nggak mudeng omongan kita.”

“Kenapa jadi aku yang salah … ?”

“Emang lo yang salah! Lo pindah salah! Lo chat WA salah! Keberadaan lo di dunia ini juga salah!”

“Buset dah, Batak! Tega bener, luuu …”

“Pokoknya, Bu. Ngomong aja kalo emang nggak seneng ama kita. Nggak usah sok-sok keluar dari grup ngomong HP-nya error, lah, apa, lah. Mentang-mentang udah pindah, udah punya temen baru. Bilang aja udah nggak mau temenan ama kita.”

“Yah, kok balik lagi, sih.”

“Enggak, Ijah … Nggak gitu …”

“Kalo gitu alasannya apa?”

“HP gue error, itu doang. Ya mungkin gue udah rada nggak nyambung, ngomong di sini, karena kan udah pindah. Lagian nggak enak gue denger rumpian tentang kantor kalian padahal guenya udah nggak di situ.”

“Tuh, kan! Berubah lagi! Udah lah, Bu, jujur aja. Apa alasan sebenernya! Ibu pikir kita bego? Alasan mencla-mencle begitu!”

“Enggak … seriuuuss …”

Dan malam semakin larut. Arisan pun semakin galau. Sesuatu dalam dirinya terasa patah. Patah itu sudah terjadi dan meski setelah malam itu tak ada lagi pembahasan yang melewati tuduhan dan sangkalan, namun Arisan tahu bahwa jauh di dalam, patahan dirinya masih ada, tak tertangani. Patahan yang tertimbun oleh canda tawa yang semakin hari semakin dipaksakan.

.

Setelah konfrontasi oleh anggota malam itu, Arisan menjalani hari dengan tenang. Terlalu tenang sampai dia merasakan cemas berlebihan. Kau tahu kedamaian yang hadir tepat sebelum badai? Entah bagaimana Arisan merasakan kehadiran kedamaian yang mengancam ini.

Para anggota semakin jarang berinteraksi. Dalam dirinya, Arisan berpikir dia sudah mengalami banyak sekali asam garam kehidupan. Dia telah melewati hari-hari yang ceria, hari-hari galau, menyenangkan, dewasa, menyedihkan, sepi, semuanya telah dia lalui, namun tak ada yang membuatnya segalau ini. Semua riak yang dia hadapi sejak diciptakan adalah riak yang tertangani. Riak yang membuatnya yakin bahwa dia bisa melewati berbagai rintangan. Namun tidak kali ini.

Dia bertanya-tanya, apakah akhirnya sudah dekat? Dia menyadari bahwa sesuatu yang dimulai itu pasti akan diakhiri. Apakah baginya saat itu sudah menjelang?

“Ndut, lo lagi di Jakarta? Ketemuan, yuk?”

“Boleh, tapi gue belum bisa janji sekarang, Jah.”

“Ah sok sibuk, lo.”

“Iya, Kak Ndut, ayo kita karaokean. Udah lama, nih, nggak karaokean bareng.”

“Iyaaa, gue pengen karaokean juga. Tapi gue ada kondangan.”

“Emang kapan lo balik?”

“Lusa, kayaknya.”

“Ah elah! Itu mah namanya mampir doang, kagak maen. Cepet amat pulangnya!”

“Iya, nih, Mbak. Mbok kamu pulangnya entar aja. Kita main dulu.”

“Makanya gue bilang liat situasi dulu.”

“Sempetin, dong, Ndut. Kan udah lama kita nggak main.”

“Enak ya, kalian, bisa janjian karaokean.”

“Makanya, minta pindah lagi ke Jakarta. Jangan di Solo.”

“Dasar Batak. Biarin, aku enak, makan tidur nggak bayar di Solo sini.”

“Iya nih, dijadiin aja. Ndut, lo sempetin kek, abis kondangan.”

“Wkkk. Abis kondangan langsung karaokean? Masih pake high heels ama make-up medok?!”

“Ya gpp kaleee.”

“Waaaa … mau pada karaokean? Hayuk! Aku ikut! Ndut di Jakarta ya? Onah nggak ke Jakarta?”

“Iya, Bu. Mau karaokean, mumpung nggak lagi pada sibuk. Ibu bisa kapan?”

“Aku mah ayok ajalah. Kapan aja, asal malem. Apa nanti malem aja?”

“Aku nggak bisa, Bu. Besok kondangan pagi. Ntar kalo karaokean malem, mata aku berkantung pagi-paginya. Ntar aku nggak cantik kondangannya.”

“Kalo mau tidur kasih es matanya, Kak Ndut. Biar besok nggak kayak panda.”

“Bantal basah! Ogah.”

“Emang rencananya kapan mau karaokean.”

“Tauk, tuh, Si Ijah.”

“Jah?”

“Kok Ijah diem?”

“Mana yak, si Ijah?”

“Ijaaaaah …”

Dan panggilan itu terabaikan, tak pernah terjawab.

.

Arisan menerima sesuatu. Sebuah foto. Berisi tiga orang. Pengirimnya Ijah. Ketiga orang di dalam foto menyeringai lebar, mungkin maksudnya mau memberi kesaksian bahwa makanan yang baru mereka santap adalah makanan enak. Piring-piring di hadapan mereka sudah kosong.

“Waaa … Si Onah di Jakarta!”

“Ah, aku pengen ikuuut … Tapi Pak Bos lagi kesetanan, nih, kayaknya. Nggak bisa ngabur …”

“Makanya, Jono, pilih Bos tuh yang baek hati kayak Bos gue.”

“Sotoy lo, Jah. Biarin, Bos gue juga biarpun nggak baek hati tapi nggak ganteng!”

“Waaaa … ada Onah! Enak ya, kalian jalan-jalan.”

“Iya dong, Bu. Kita kan hedon.”

“Apaan tuh.”

“Apaan aja terserah lu.”

“Kok aku nggak diajak?”

“Yah, Bu. Orang ini juga dadakan. Kebetulan aku lagi meeting di pusat, makanya terus si Ijah ama Jenong ngajakin jalan-jalan.”

“Makan di mana?”

“Di SenCy. Di apa ya namanya tempatnya itu. Aku lupa.”

“Pokoknya agak keindia-indiaan gitu menunya, Bu.”

“Meksiko, ah, Jenong. Masa India begitu.”

“Iya, ya? Nggak tau juga, sih, rekomendasi Kak Ijah.”

“Apaan nama tempatnya, Jah?”

“Ijah?”

Lagi, panggilan yang tak terjawab.

.

Lalu hari itu datang. Hari sudah beranjak malam. Langit sudah gelap meski Jakarta masih terang-benderang. Sebuah pesan berbalas-balasan meramaikan Arisan. Semua baik-baik saja sampai …

“Ah, bete nih.”

“Napa, Ndut?”

“Ini, Jah. Ada temen gue. Kalo ngomongin orang, nasehatin, ngasih tau, masukan, hebat banget keknya. Rajin. Giliran diingetin dikit doang, gaterima sampe naik gunung bawa panji-panji perang.”

“Bakar aja, Ndut.”

“Hihihi. Iya kali, ya.”

“Sadis amat Kak Ijah.”

“Lu kayak nggak tau Ijah aja, Jenong.”

“Apaan lo, Batak. Sama aja kayak gue. Palingan juga lo mikir orang kayak gitu musti diculik terus dikitikin sampe mampus.”

“Iya juga sih.”

“Eh, Ndut, orang kayak gitu baeknya diajakin ngopi bareng.”

“Hiih, males!”

“Pesen yang pake sianida.”

“Somplak lo, Jah!”

Ibu mengirimkan gambar: “Hati-hati jika berada di sekitar orang yang selalu berpikiran negatif, bisa jadi anda tertular menjadi berpikiran negatif.”

“Ngingetin doang lho ini. Kalo mau, nggak juga nggak apa-apa.”

Hening selama sepuluh menit.

“#tsiiiiiiiiiiiiiiiiing … Hening.”

“Keinget omongan seseorang di grup ini. Kalo emang temen, ngomong di depan.”

“Siapa, Bu, yang ngomong? Coba sebutin nama. Jangan-jangan kegeeran doang.”

“Yah, sebut saja Mawar.”

“Situ aja suruh ngomong langsung malah ngeles. Nggak usah sok-sok becanda, deh, pake-pake nama Mawar segala. Sebut aja nama gue langsung! Katanya suruh ngomong langsung!”

“Ya ngingetin doang, sih.”

Sorry, guys, gue kayaknya mau keluar aja dari grup ini. Gue nggak bisa satu grup sama orang munafik.”

“Eh, lho. Apaan, nih?! Kok serius?!”

Sorry, Ndut. Gue nggak bisa di grup ini terus.”

“Apa sih, masalahnya, Jah?”

“Gue nggak bisa bareng sama orang muka dua.”

“Maksud lo, gue?!”

“Bu, sabar dulu, Bu. Kok lo ngomongnya gitu, Jah?”

“Ya gue nggak suka aja ama orang yang omongannya nggak jelas. Di depan ngomong apa, di belakang ngomong apa.”

“Eh, Ijah. Kalo mau nuduh itu yang jelas. Ini perkara apa, ya? Lo mau jelasin sekarang? Gue ladenin.”

“Nggak perlu. Ngejelasin ama lo ngapain. Kalo emang kerasa, introspeksi diri aja.”

“Nggak usah sok bijak deh, lo, bocah! Apa lo ngatain gue muka dua?!”

“Apa namanya kalo bukan itu?! Lo yang mulai ngindarin kita-kita. Nggak ada sebab, nggak ada alasan, tiba-tiba unfoll akun-akun IG gue ama si Jenong. Lo kalo ada masalah, nggak sukanya ama kita, ngomong, Bu! Diiming-imingin apa lo sama si Nyonyah? Mentang-mentang sama-sama udah resign terus kalian mau nendang kita? Marah, nggak dikasih apa yang diminta?!”

“Aduh, ini apaan sih nih bocah satu. Minta apa? Ngasih apa? Kok bawa-bawa follow-unfollow lagi?! Masih jaman ngebahas itu?! Apa hubungannya ama Nyonyah?!”

“Udah lo nggak usah ngeles. Gue juga punya otak kali, Bu. Awalnya Nyonyah, keluar. Terus lo. Lo pikir gue nggak tau lo ama Nyonyah udah klik-klikan di belakang gue?!”

“Hadeeeeh! Tambah nggak jelas deh ini!”

“Ini apaan sih. Eh, kalian kalo mau berantem jangan di grup. Japri aja sono. Bagus lagi ketemuan, jambak-jambakan sekalian.”

“Eh, Ijah! Gue nggak ngerti ya, maksud lo apa.”

“Nggak usah pura-pura, Bu!”

“Mungkin si Ibu lelah, Ijah. Lupa beneran. Udah, ah.”

“Nggak bisa, Ndut. Nggak mungkin lah dia lupa. Mau gue skrinsyut percakapan gue ama dia?! Gue pajang di sini?! Biar kalian tau nih orang mulutnya kagak bisa dipercaya.”

“Eh kalo ngomong ati-ati, ya, Jah. Mau lo apa, hah? Lo mau berantem?! Ayok, gue ladenin. Di mana? Kapan? Apa perlu gue ke kantor lo, buat berantemin ini?”

“Nggak perlu gue ngomong banyak. Udah jelas maksud gue.”

“Ada yang mau popcorn nggak?”

“Ini ada apa, ya?”

“Helo, Surabaya! Udah gabung juga bareng kita. Malam ini kita nonton drama urban.”

“Hihihi, Batak. Kamu lucu.”

“Dan kabar baiknya adalah, ini salah lo, Mbak.”

“Hah? Kok salah aku? Aku kan nggak pernah ngapa-ngapain.”

“Justru karena lo nggak pernah ngapa-ngapain, makanya ini jadi salah lo. Siapa suruh lo pulang ke Surabaya?”

“Ihihihi. Kalian kangen ya, sama aku?”

“Asal lo tau, ya, Bu. Gue tuh paling nggak suka sama orang kayak lo. Mencla-mencle. Ditanya ada masalah apa jawabnya nggak ada. Tau-tau ngilang, mutusin hubungan pertemanan. Ditanyain pelan-pelan, disabar-sabarin, masih nggak mau ngejelasin. Tau-tau sekongkol ama orang lain di belakang. Kalo emang nggak suka tuh ngomong. Jangan nggak suka, kabur, dideketin baek-baek malah bohong.”

“Ah, apaan sih, Ijah. Udah, kek. Damai ngapa?!”

“Ndut … makan aja popcornnya.”

“Halo Surabaya, kita lagi main sandiwara, nih. Lagi bikin FTV buat ngerjain kamu.”

“Iya! Sandiwara yang bukan skenario. Pemerannya orang munafik beneran.”

“Heh Ijah! Lo balik lewat mana?! Gue tungguin lo. Lo mau apa?! Diselesein urusan ini?! Ayok! Lo pikir gue utang maaf sama lo?! Fine! Tapi jelasin dulu! Ketemuan, biar abis jambak-jambakan kita kelar beneran!”

“Gue nggak ada waktu ngeladenin orang muna kayak lo.”

“Elo yang dari tadi punya banyak waktu nyinyirin gue!”

“Oh, kerasa?!”

“Eh, pengecut! Keluar sini kalo berani. Gue tunggu di lobi kantor lo, apa? Biar makin greget?!”

“Apaan lo ngatain gue pengecut?!”

“Apa namanya kalo diajakin ketemuan nyelesein masalah tapi kabur mulu?! Takut, bakal ketawan tuduhan lo mengada-ada?!”

“Gue nggak mengada-ada! Lo ngerasa nggak, kalo lo udah beda di mulut ama di sikap?! Lagian lo jujur aja kenapa?! Jujur aja, lo udah nggak suka ama kita, lo udah punya temen baru, sekarang kita udah lo anggap nggak lepel!”

“Ini masalahnya apa, ya, Jah?! Lo sendiri yang mencla-mencle begitu. Tadi lo bilang gue kongkalikong sama Nyonyah. Lo bilang gue nusuk divisi lo dari belakang. Sekarang lo nyuruh gue ngaku gue udah nggak suka ama kalian?! Sebenernya mau lo yang mana?! Lurusin dulu dah otak lo, baru main tuduh.”

“Gaes, sorry buat yang laen. Tapi gue nggak bisa satu grup sama orang munafik tukang tusuk dari belakang kaya si Ibu. Gue keluar!”

Ijah left the group.

Arisan divonis gagal ginjal.

“Maunya apa, sih, tuh anak?!”

“Lah, kok Kak Ijah keluar?”

“Brisik, Jenong. Siapa tau ada antiklimaksnya.”

“Gue nggak bisa di sini, ya. Grup ini selalu isinya negatif. Gue nggak nyaman ada di grup ini.”

“Loh, kok Ibu jadi nyalahin kita? Emang kita salah apa sama Ibu?!”

“Bukan gitu, Jono. Pokoknya ini grup bener-bener bikin gue sakit kepala.”

“Tapi kan bukan salah kita juga. Masa gara-gara satu orang Ibu nyalahin kita semua.”

Sorry. Gue keluar.”

Ibu left the group.

Arisan divonis gagal hati.

“Ini, nih, makanya gue nggak suka gabung di grup. Maaf ya, semuanya, tapi menurut gue, grup WA itu kebanyakan drama. Nggak penting. Ganggu orang kerja untuk obrolan nggak mutu.”

“Lo sama aja kaya si Ibu. Ngapain lo jadi nyalahin kita? Selama ini lo enjoy aja.”

“Sorry, Mbak Ndut. Pokoknya gue nggak mau grup-grupan lagi. Kalo kalian masih mau kontakan ama gue, japri aja.”

Jono left the group.

Arisan divonis mati otak.

“Ini kok jadi pada keluar gini?”

“Elu sih, Jenong.”

“Apaan sih, Kak Ndut. Emang aku ngapain?”

“Ya lu nggak ngapa-ngapain.”

“Aku juga nggak ngapa-ngapain.”

“Iya, aku juga nggak.”

“Jadi sekarang kita gimana?”

“Si Batak ke mana ya?”

“Kemungkinan besar sih, dia tidur, Kak.”

“Buset, lagi perang nuklir masih bisa tidur.”

“Dia mah nggak ngaruh.”

“Gue ada ide.”

“Apaan, Kak Ndut?”

“Kita semua left group aja. Biar entar si Batak bangun, dia udah sendirian di group.”

“Lucu, lucu.”

“Gue duluan, ya. Bye, semua.”

Ndut left group.

“Yah, left beneran dia. Ya udah deh.”

Jenong left group.

Surabaya left group.

“Ini, beneran pada keluar … parah …”

Onah left group.

.

Arisan kini bergantung pada mesin penyokong hidup. Daya hidupnya hanya tinggal beranggotakan satu orang. Dia tak lagi sadar apa yang terjadi dengan sekelilingnya. Hidup, dia tidak. Mati, tak dapatlah dikatakan demikian.

.

Keesokan pagi.

“Waw.”

“Gue ditinggal.”

“Sopan bet kelen semua yak.”

“Ninggalin gue gini.”

“Tapi yah, sudahlah. Memang apa yang dapat daku lakukan lagi.”

“Tinggallah kusendiriiii~ Di siniiii~”

“Gue bego atau gimana ya? Udah tau sendiri masih ngomong aja.”

“Nggak ada yang nanggepin juga.”

“Oke, baek-baeklah kelen di sana.”

“Babay.”

.

Arisan mengalami gagal jantung. Dengan begitu dia juga mengalami gagal pernapasan. Rupanya selama ini firasatnya benar. Dia telah menemui akhir. Akhir yang diawali oleh sebuah bisul. Menurut beberapa ahli, bisul membahayakan tersebut disebut sebagai bisul prasangka.

.

.kkeut.

Iklan