Tag

, , , ,

1,038w.invisible_art_hayward-jpg550x392

.

Lelaki itu duduk di hadapanku dengan kening sedikit berkerut. Aku mendengarkan ceritanya sambil tidak mendengarkan. Maksudku, aku berusaha mendengarkan ocehannya tentang dunia—dunianya, duniaku, dunia kami, sentimen-sentimen sosial, politik, teori ekonomi, kasus-kasus hukum kekinian—dan di saat bersamaan, aku terpesona melihat matanya yang masih hitam berkilat penuh ide. Kepalanya bulat dan kecil, namun di mataku, kepala itu seolah hendak meledak saking penuh oleh berbagai macam pikiran. Di dalam sana, ada paradoks, ada ironi, ada simpati plus empati, ada curiga, pikiran buruk, ada pula arogansi. Kadarnya tak selalu tetap, tapi semua itu ada di dalam sana, mengapung-apung, dan ada yang mengalir menuju hati, jendela jiwanya.

Siapa yang bilang mata itu jendela jiwa? Salah itu. Hatilah penghubung jiwa. Jiwa berkembang sesuai gerak hati. Dan karenanya, pancaran jiwa seseorang sedikit banyak pasti mencerminkan hatinya. Seperti lelaki itu. Satu yang paling jelas terlihat darinya adalah dia seseorang dengan jiwa pantang tidak melakukan yang terbaik. Dia sosok yang penuh keinginan untuk membawa keseimbangan di setiap sesi hidupnya. Dan catat, sesi hidupnya sama sekali tidak sedikit.

Kau pikir kau sudah sibuk karena bangun di dua per tiga malam hanya untuk langsung bekerja, lalu terus bekerja sampai malam datang lagi menghampirimu? Ha! Artinya, pikiranmu itu belum mengenal dunia. Semua orang berpikir waktu mereka terlalu sedikit. Semua orang. Ada satu dua lontaran memento yang membuat orang berpikir mereka memiliki terlalu banyak waktu untuk terlalu sedikit kegiatan, tentu saja ada. Tapi ingat, mereka itu berjudul memento. Pada dasarnya, manusia selalu berpikiran tentang kekurangan. Termasuk kekurangan waktu. Maka, jangan berani-berani kau pikir kau lebih budak dari lelaki itu. Karena tidak, meski dia tidak lebih budak darimu, kau pun lepas dari predikat ‘kerja lebih keras’ dibandingkan dirinya.

Sekali lagi kuungkapkan. Aku duduk di hadapannya. Mendengarkan suara pengantar celotehnya. Mataku tertuju padanya. Tidak hanya di mata, tapi di seluruh wajahnya. Perubahan gurat senyum, tarikan kerut mata, kedut awas dan kedip keluhan. Intinya, untukku, dia terlalu menarik untuk tak diperhatikan.

Sebaiknya jangan berpikiran buruk. Dia lelaki, aku perempuan, itu benar. Dia mapan, aku cukup, itu benar. Dia terpandang, aku jelata, itu benar. Dia tua, aku tak bisa dibilang begitu, itu benar. Nah, kau bisa jadi mulai merangkai asumsi. Dia menarik—kataku—dan dia duduk di hadapanku sementara aku mengamatinya seksama. Maka kubilang, jangan berpikiran buruk. Tak ada romansa di antara kami. Tak ada getaran listrik yang kulancarkan ke arahnya dalam rangka menggoda apalagi menuntut kasih. Pikiran demikian hampir terasa menjijikan.

Yang ada di antara kami adalah tatapan kagumku dan sorot ngemong-nya. Dia berusaha menyesuaikan level bahasanya, aku berusaha mengejar pikiran-pikirannya. Harus kuakui, ini bahkan lebih menggairahkan daripada pikiran romantis apa pun yang mungkin muncul di antara lelaki dan wanita. Apa, udara penuh uap dengan kulit lembab yang saling menyentuh dengan hati berdebar cepat, mulut saling kehausan akan yang lain, begitu? Ah, dangkal sekali gairahmu, Kawan.

Ini adalah euforia pertemuan pikiran. Kau bisa menahan diri dari nafsu duniawi yang bisa diwujudkan, namun ide, kepuasan jiwa, hilangnya dahaga kedangkalan saat pikiranmu saling melilit harmonis dengan pikiran orang lain, itu adalah suatu wow yang tak mungkin kau dapatkan dari sekedar peluk, cium, ucapan cinta.

Ada ide yang tak terlihat. Ada bentukan kasat mata. Ada suatu gebrakan ketika aku mendengarkan idenya, menambahkan pikirku, menyatukan iya, bergulat dengan pertentangan dengannya, lelaki itu. Lalu semuanya datar kembali. Sejenak saja. Untuk kemudian berliatan lagi membentuk jalinan abstrak percakapan yang ringan dan intens sekaligus.

Kau mungkin tidak ingin memikirkan dan membayangkan ini, tapi … aku ingin memberitahumu, jadi terima saja. Rasanya seperti otakmu mengembang dengan kepuasan dua puluh empat karat. Sangat memuaskan, hampir klimaks, namun tidak sampai ke sana, dan di situlah bagian terbaiknya.

Jujur, aku tidak suka klimaks. Setelah klimaks, kau harus turun, setelah klimaks, bukan klimaks lagi namanya, sebab, jelas-jelas sudah klimaks. Nah, buatku, kondisi hampir klimaks adalah yang terbaik, karena kau bisa merasakan sensasi klimaks, sedikit saja, dan kau begitu bersemangat karena tahu masih ada yang lebih baik setelah itu.

Dan kondisi hampir klimaks ini terus terjadi, membuat otakmu berdenyut-denyut dalam konotasi yang bagus. Yang sangat bagus, malah. Dan lelaki itu yang membawakannya untukku.

“Baiklah, sebaiknya saya kembali sekarang, waktu istirahat telah habis,” jantungku melompati degupnya sekali.

Apakah aku tak ingin itu berakhir? Apakah aku mau ini diteruskan? Apakah …

Tapi ternyata benakku masih terus mengonsumsi ekstasi idenya. Ide kami, maksudku. Di sini, di kepalaku yang ini, yang tidak bisa kulihat ini, kurasakan konsep-konsep bergelinjang penuh semangat. Di dalam sini, aku masih melayang tinggi oleh masukan yang terus terngiang. Mereka tak mau pergi, aku pun tak ingin menyuruh mereka hengkang. Mereka tetiba telah menjadi kesayanganku tanpa aku berniat memelihara. Mereka memeliharakan diri mereka sendiri dalam kalbuku.

Kujawab pamit lelaki itu setengah sadar, setengah senyum. Dia berlalu dan aku termangu.

Aku ingin media. Aku ingin media. Aku membutuhkannya!

Lalu kau datang dan menatapku heran. Oh, andai saja. Oh andai saja.

Kau yang tampan. Kau yang hebat. Kau yang membuat kumpulan cewek di meja sebelah melirik berulang kali. Oh andai saja. Kau memiliki otaknya. Kau punya jiwanya. Kau dan dia satu isi.

Dan kembali kutermangu. Apungan ide yang bagai obat terlarang itu masih mengapung seakan mengejek, tapi dari pusat tak terlhat di balik itu semua, satu pikiran lurus hitam kaku maju dengan gagah. Aku menyebutnya kesadaran. Aku menjulukinya kemaluan.

Malu aku. Mengharapkan kau sebagai yang lain. Malu aku, menginginkan kau jadi dia. Malunya, membayangkan kau adalah dia dan sebaliknya. Aku merasa kotor. Tahu bahwa aku bisa memelukmu kapan saja, menciummu di mana saja, menidurimu bagaimana aku mau, menjejerkan cincin kita sebebas apa saja, dan aku mengharapkan kau dan dan dia adalah sama.

Ugh, aku mual.

Akankah aku menciumnya untuk pikirannya yang seksi? Bisakah kupeluk dia dan menggelendot mesra padanya? Sanggupkah kuminta dia meniduriku seperti yang sering kuminta darimu?

Kesadaran-malu-ku semakin jelas tegak di tengah indah pemikiran luar biasa di dalam kepala. Oh, kau-ku. Aku telah durhaka padamu. Aku jahat padamu. Aku kotor untukmu.

Namun, hai, ini rahasia. Biarlah kusimpan tak-tahu-malu, tak-tahu-diri, durhaka, jahat dan kotorku dalam kepalaku sendiri. Kau tak akan terluka selama tak mengetahuinya. Kau akan baik-baik saja dalam ketidaktahuanmu. Aku toh tetap mempersembahkan diriku untukmu. Diri yang bisa kau sentuh, diri yang bisa kau bawa pulang, diri yang bisa kau bermanja padanya.

Dan sst, pikiran rakusku, jangan terlalu liar. Bermain cantiklah, agar lain kali kau dan dia bertemu, kau dapat berpuas diri.

Ah. Ego.

.

.kkeut.

Iklan