2,171w. Cerpen (berdasarkan kisah nyata). Awalnya dibuat untuk mengikuti proyek #MaleStories

.

tips-kursus-menjahit-001

.

“Dahulu kala, ada ribuan hektar tanah dan bangunan yang berdiri di atas tanah itu juga tak sedikit. Semua sawah itu punya ayah saya. Bukan hanya sawah. Ada kebun durian. Ada gudang-gudang yang seluas bengkel pesawat terbang. Ada toko-toko tempat tengkulak berbisnis layaknya penjual eceran. Ada stadion olah raga. Ada kilang[1] minuman berperisa. Banyak sekali.

“Tapi sekarang hanya tinggal empat puluh persennya saja. Kebanyakan sawah. Itu semua sudah dijual oleh keluarga saya tanpa sepengetahuan saya.

“Saya tinggal lama di perantauan sampai tak pernah menikmati itu semua. Saya punya ayah dan saudara-saudari, ada ibu yang menyayangi saya, namun di perantauan saya selalu diincar rasa sebatang kara. Zaman dahulu tidak seperti sekarang; semuanya tinggal transfer. Butuh waktu tak sebentar untuk menerima kiriman. Kalau saya tak berusaha sendiri, saya pasti sudah mati kelaparan menunggu kiriman.

“Tapi lama-kelamaan kiriman itu pun seperti tererosi oleh angin laut yang mengiringi kapal pengirimnya. Pada satu titik hilang sama sekali. Sedih sekali rasanya saat menyadari bahwa kiriman kabar pun harus saya terima belakangan. Saya tidak mendengar berita mengenai meninggalnya ayah sampai dua bulan sejak beliau dimakamkan. Saya kadang sampai berpikir saya anak durhaka. Tapi tidak terlalu serius sampai benar-benar merasa demikian. Saya seolah selalu tahu bahwa memang takdir saya untuk tidak bersua ayah di akhir hidupnya.

“Di saat-saat itulah saya bertemu Dinda. Dalam kepayahan, dalam keterlunta-luntaan, dia menjadi seperti cahaya dalam keseharian saya. Tenang dan tidak suka perhatian, saya sangat terkesan dengan sikapnya yang itu. Dulu kota kita ini apalah. Tak ada transportasi hebat kecuali bus-bus antar kota yang lewat seperempat hari sekali. Jika mendesak, pilihanmu hanya sepeda atau mungkin sekuter yang dipinjam dari tetangga. Makanya, saya sangat terkesan bahwa meski kemampuan orang tuanya di atas rata-rata, Dinda tetap selaras dengan kesahajaan harian di sekitarnya.

“Justru karena itulah saya—dan mungkin sebagian besar orang yang mengenalnya—menilai dia sebagai mutiara di kubangan lumpur. Tanpa usaha mencolok untuk mempercantik diri, dia mengenakan rok-rok dari gorden bekas, atau sisa seprei. Baju-bajunya manis dan sopan. Rambutnya tak pernah digulung berlebihan, justru sangat sederhana, terurai dengan sepen[2] menyelip di antara anak rambut yang helaiannya tipis-tipis. Dibandingkan orang-orang sekitar yang masih mengenakan jarit[3] dan kebaya, dia material berkualitas yang jadi incaran banyak orang.

“Belakangan baru saya tahu bahwa semua baju-bajunya adalah hasil karya tangannya sendiri. Sejak belum punya minat pada lawan jenis, dia sudah sangat tertarik dengan pakaian. Adik-adiknya yang banyak itu rata-rata dia yang membuatkan baju. Terutama adik-adik perempuannya. Karena saudaranya sangat banyak, tentu repot bagi Ibu—Ibunya—untuk memikirkan pakaian masing-masing anak. Maka dialah yang mengurus ketersediaan pakaian untuk dikenakan adik-adiknya. Bahkan setelah kami menikah dan saya sudah sangat sering melihat hasil karyanya, saya masih terkagum-kagum akan dedikasinya pada fesyen dan keluarga.

“Tapi tentu semua ada baik dan buruknya. Justru kecintaannya itulah yang membuat kami akhirnya sering bertengkar. Dulu, saat manusia belum sebanyak sekarang, seorang tukang jahit bisa menyelesaikan pakaian pesanan dengan santai, tepat waktu dan rapi sekaligus. Namun, begitu jumlah manusia mendobel, saya pikir konyol rasanya untuk tetap berpegang teguh pada tradisi lama: membuat pakaian; bukannya membeli baju jadi di toko.

“Tentu saja dia tidak setuju. Dia selalu banyak berkomentar akan pakaian yang saya kenakan hanya karena pakaian itu hasil jahitan pabrik, bukan buah karya tukang jahit langganan. Lengannya tak nampak enak dipakai, lah. Jahitannya terlalu kasar, lah. Potongan bahannya salah arah, lah. Semuanya hal-hal yang menurut saya seperti diada-adakan. Padahal pakaian itu saya yang kenakan, bukan dia. Dan saya merasa nyaman-nyaman saja memakai itu semua. Entah kenapa dalam kenyamanan saya berpakaian dia tetap bersikeras saya tak nyaman mengenakan pakaian saya sendiri.

“Ha ha. Di situ kadang saya merasa gemas.

“Saya heran. Hanya masalah pakaian saja kami bisa berdebat cukup lama dari pagi hingga menjelang tidur. Dia akan melontarkan teori menjahit yang benar di sela-sela kami makan, menonton teve, atau bahkan saat saya akan berangkat kerja.

“Saat pulang kerja! Nah, saya kesal sekali padanya kalau kami sedang memasuki hari perdebatan—saya menyebut hari-hari dia bersikap keras kepala seperti itu. Di hari perdebatan, dia bahkan akan berkoar-koar tentang pakaian yang ideal dipakai saat menyambut saya pulang kerja. Sembari menghidangkan secangkir teh, membukakan pakaian saya, membantu saya berganti dengan pakaian rumah, dia akan menunjukkan ciri-ciri pakaian yang tidak nyaman dipakai. Benar-benar hal yang sangat signifikan bagi pemulihan jiwa saya yang tertekan akibat bekerja seharian.

“Saya masih ingat saat saya merasa saya jadi manusia super jenius. Saya tersenyum lebar sekali. Lihat, seperti ini saya tersenyum—

“Demikian bangga diri ini setelah membelikannya mesin jahit. Waktu itu, mesin jahitnya bisa berdiri sendiri. Dikayuh dengan pedal selebar telapak kaki dan membuat kaki seperti berjungkat-jungkit. Saya masih ingat mereknya ‘Penyanyi’.

“Sungguh brilian ide saya itu. Sebab dia jadi punya cukup banyak proyek untuk dikerjakan dan saya terbebas dari rentetan peluru teori menjahitnya, sekaligus dihadiahi senyum sumringah hampir setiap malam selama dua bulan berturut-turut. Kasih sayangnya pada saya naik sekian level sampai-sampai saya mengklaim bahwa mesin jahit adalah hasil revolusi industri paling super di dunia modern. Kasih sayang ini tidak menurun bahkan sampai tadi pagi. Sebetulnya—kasih sayang yang dulu naik itu bahkan tidak ada apa-apanya dengan kasih sayang yang saya terima darinya tadi pagi.

“Yah, begitulah. Saya sangat beruntung bisa bercinta dengannya sejak dulu sampai tadi pagi.

“Pertengkaran kami selalu manis kalau diingat kembali. Kami biasanya bertengkar karena dia ingin mendahulukan kepentingan saya dan saya ingin melakukan hal yang sama, hanya saja untuk kepentingannya. Pertengkaran-pertengkaran itu biasanya lahir dalam wujud perdebatan. Kadang sengit, kadang hanya sedikit menggigit. Tapi di atas semua itu, dia tetap meladeni saya dalam hal berpakaian.

“Kebanggaannya terlihat jelas saat memilihkan pakaian untuk saya kenakan setiap kali berangkat kerja. Dengan karir yang tak pernah menurun, saya dianugerahi pendamping yang sangat mencintai saya. Awalnya dulu dia yang menjahitkan baju-baju saya. Kemudian setelah kebutuhan saya akan setelan semakin banyak, dia mulai berlangganan pada penjahit. Bukan perkara enteng, dia sangat selektif memilihkan penjahit untuk saya. Pertanyaan tentang bagaimana rasa pakaian itu di tubuh saya bukan lagi hal aneh untuk saya.

“Itulah dirinya. Seperti urusan menjahit, dia ribet dan paten. Iya, paten. Segala sesuatu sudah ada ketentuannya. Ketentuan itu membuat nyaman. Maka segala sesuatu itu harus mengikuti ketentuan agar nyaman dirasa. Filosofi menjahit ini begitu takzim diterapkannya dalam segala aspek kehidupan maka kadang saya bingung kala ingin berimprovisasi.

“Makanan, cara bicara, cara menyimpan pakaian, demikian banyak aturan yang dibuatnya saya sampai—

“Dia punya hobi—

“Dia—

“Suatu hari, kami pergi ke toko pakaian. Di sana dia memilih bajunya sendiri dan memilihkan baju untuk saya. Sampai di rumah, kami mencoba baju itu dan dia merasa kurang nyaman dengan miliknya. Yang saya tahu, keesokan harinya, sepulang saya kerja, dia melapor pada saya dengan senyuman bangga. Katanya, dia sudah mereparasi bajunya.

“Saya tidak bisa melihat apa yang berbeda dengan baju itu sampai dia menunjukkan pada saya bahwa dia telah mengubah jahitannya di bagian lengan. Saya amati lagi, ternyata bagian lengannya memang sedikit lebih longgar dibandingkan saat dia berpose di depan saya kemarin harinya. Rasanya agak bersalah juga karena tidak menyadari hal yang membuatnya sangat bangga. Tapi dia seperti tidak sadar akan rasa bersalah saya, jadi perkara itu berlalu begitu saja.

“Yang tidak saya antisipasi kemudian adalah dia jadi senang beli baju di toko, untuk direparasi. Awalnya dia hanya menyukai kegiatan membenahi. Menurutnya semua keluaran pabrik tidak ada yang beres, maka dia ada di sana sebagai penyelamat pakaian, memperbaiki jahitan dan membuat pakaian toko menjadi pakaian nyaman pakai dengan teknik jahitan rumah. Tapi lalu dia berkembang begitu pesat dan mulai mengimprovisasi model-model pakaian yang dibelinya. Sekejap saja rumah kami sudah dipenuhi pakaian-pakaian yang bergelimpangan akibat proses pembedahan yang separuh-separuh.

“Ide di kepalanya demikian banyak dan dia rupanya sangat antusias dengan semua itu. Ketika itu dia sudah bekerja. Dia bekerja sebagai guru, sedangkan saya pemimpin sebuah kantor dinas daerah. Penghasilan saya sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk kami berdua, penghasilannya dia tabung atau digunakan demi memenuhi keinginannya sendiri; sehingga kami tidak benar-benar berpikir untuk memanfaatkan hobinya sebagai sumber penghasilan tambahan. Dia tak pernah menginginkan hal itu, saya pun tak berpikir sampai ke sana. Akibatnya, semua ide yang muncul di kepalanya hanya diterapkan bagi pakaiannya sendiri saja—pakaian saya tidak butuh terlalu banyak modifikasi.

“Dalam sekejap lemari pakaian di kamar kami tak cukup lagi untuk menampung pakaian kami berdua. Dia dan kesenangannya akan baju-baju hasil modifikasinya, dan saya dengan kesenangan saya akan berbelanja, termasuk belanja baju.

“Tapi itu masih terkendali karena saya lagi-lagi mendapat promosi ke tingkat daerah yang lebih tinggi. Di tingkat propinsi saya mendapat kesempatan memiliki rumah yang lebih luas. Dia juga akhirnya terpaksa mengabaikan hobinya terhadap pakaian karena sibuk menjalankan fungsinya sebagai guru dan pendamping pimpinan dinas.

“Saat saya mencapai level nasional, saya terkejut mendengar keinginannya untuk pensiun dini; namun saya tidak melarangnya. Dia terlihat bahagia bisa mengurus rumah; dan paling bahagia saat bisa menekuri potongan-potongan kainnya. Ingat ketika saya bilang banyak perca bergelimpangan di rumah kami dulu? Perca-perca itu mengisi sebagian besar koper-koper yang kami punya untuk dibawa luntang-lantung ke setiap daerah di mana saya dipindahtugaskan. Setelah pensiun dini, yang dilakukannya adalah membongkar kembali koper-koper itu dan melanjutkan apa yang sudah dimulai dulu pada tiap-tiap potongan.

“Tapi bukankah dia sendiri telah berubah? Secara fisik dia telah menjadi lebih gemuk, lebih kurus, gemuk lagi, kurus lagi, sehingga tubuhnya kini tidak sama dengan tubuhnya dulu saat diukur. Itu membutuhkan pekerjaan ekstra. Reparasi pakaian menjadi lebih rumit dan lama dan dengan kebutuhannya mendampingi saya dalam acara-acara formal, dia dituntut untuk mengadakan baju baru secepatnya. Dia harus membeli baju baru, atau setidaknya, menjahit baju baru. Dia mengakui sendiri bahwa pakaian-pakaian lamanya sudah sangat ketinggalan zaman sehingga dia sendiri sudah tidak percaya diri untuk mengenakan mereka.

“Ternyata, aktivitas menjahit, mereparasi, dan keberadaan pakaian-pakaian yang mengikatnya pada memori masa lalu yang indah dan penuh semangat, tidak terlalu berguna bagi hidupnya sekarang. Tuntutan yang dia—kami—hadapi sudah berubah. Saya pun menjadi lebih keberatan dengan baju-baju yang tidak pernah dia selesaikan.

“Saya berpikir, dia hanya senang saja, tapi tidak benar-benar berusaha menyelesaikan apa yang sudah dia mulai. Saya—

“Say—

“Kemarin itu, kami bertengkar pun gara-gara pakaian. Dia mengatakan ingin mengenakan pakaian saya. Karena dia sedang sakit, jadi saya turuti saja. Lalu dia bilang dia ingin mengenakan pakaiannya sendiri. Itu pun saya turuti. Namun ketika dia bilang ingin mereparasi pakaian itu—pakaiannya sendiri, bukan pakaian saya—saya melarangnya.

“Dia bersikeras. Saya pun bersikeras. Dia akhirnya jengkel. Saya tak berbeda. Kami berdua saling melempar argumen dengan keheranan di benak saya mengapa sudah sakit saja dia masih kepikiran untuk menjahit. Bahkan dia sampai berkata nyelekit bahwa yang hendak dipotongnya itu pakaian yang dia beli sendiri, dia beli tidak pakai uang saya, jadi terserah dia mau diapakan pakaian itu.

“Saya masih berargumen dengannya sampai kami pergi tidur. Sampai—“

Profesor kembali terdiam. Aku tidak melihat ke arahnya. Aku melihat ke luar jendela, tapi di jendela yang gelap tertera bayangan Profesor yang juga sedang melirik ke luar jendela di sisinya, maka mau tak mau aku pun melihatnya.

“Saya tidak tahu,” gumamnya pelan, menambah kesan tua di sosoknya yang memang sudah tujuh puluh tahun. “Bahwa dia hanya ingin melakukannya karena—“ Lagi-lagi beliau seperti ditenggelamkan oleh kata-katanya sendiri.

Aku masih tidak melihat langsung padanya. Berdua, kami membiarkan kabin belakang mobil sunyi. Raungan sirine pengawal polisi dan ambulan terdengar di depan, seolah mendesak para pengguna jalan minggir karena pekak telinga.

“Seharusnya saya biarkan saja, kan? Seharusnya saya mengerti. Dan bukankah seharusnya dia berpamitan pada saya? Maksud saya dengan baik-baik bicara, bukan bertengkar karena masalah sepele. Maksud saya, dia sedang sakit, kenapa tidak saya biarkan saja dia melakukan apa yang diinginkannya?”

Karena dia sakit, maka kau pikir menjahit terlalu berlebihan baginya, pikirku namun tak terucap.

“Mungkin dia hanya ingin berpamitan,” lemah suara Prof terdengar. Ajudannya yang duduk di kursi depan mendadak berhenti mengetik. Meski diseting tanpa suara, tapi kegiatannya main ponsel menjadi satu-satunya jendela bagiku untuk menyadari bumi masih berputar normal di luar sana. Aku memang benci dengan tindakannya yang seolah tanpa simpati tetap bersosialisasi via ponsel, namun kini aku tak yakin aku lebih benci saat dia beraktivitas atau saat dia memutuskan bersimpati dengan tidak beraktivitas.

“Kenapa dia tidak berpamitan pada saya? Mana saya tahu keinginan terakhirnya adalah membongkar pakaian? Mengapa dia tak mengatakan apapun pada saya? Saya pasti akan membolehkannya kalau saya tahu. Saya pasti akan menemaninya—dia masih membangunkan saya untuk solat subuh! Kenapa setelah saya solat subuh dia sudah tidak ada?! Saya—Selalu! Dia selalu seperti ini! Tak pernah menyelesaikan apa yang dia mulai!“

Raungan sirine kembali menguak sepi. “Dia mendatangi saya, membongkar hidup saya, mereparasinya sampai seperti sekarang, tapi mengapa dia tidak menutup prosesnya dengan layak? Saya berharap paling tidak, dia menutup jahitannya dengan sempurna sebelum pergi.” Profesor menunduk dan mengusap pipi. Tangisannya tak pernah bersuara. “Saya hanya ingin mengucapkan selamat jalan,” ucapnya kering dan datar.

Aku pun, Prof. Aku pun.

“Tolong nanti, kalau kita sudah kembali ke Jakarta, kamu bantu saya mengemasi seluruh pakaiannya,” beliau menarik napas, “Dan alat-alat jahitnya.”

“Ya, Pak. Baik,” balasku. Suaraku gagal untuk tetap tenang.

.

.kkeut.

 

————————-

[1] Kilang di sini berarti pabrik. Di beberapa daerah di luar Jawa, istilah ‘kilang’ lebih diakrabi dibandingkan ‘pabrik’.

[2] Jepit rambut kecil kurus yang biasanya berwarna hitam.

[3] Kain motif batik yang biasa digunakan oleh perempuan desa sebagai pakaian bawahan. Penggunaannya dengan cara diliit dan diamankan dengan ikatan/simpul di pinggang.

Iklan