Tag

, ,

586w. What if I know, what if I see, there is a crack right down the front of me (Wolf Larsen: If I be wrong).

2329

(pic cr: torontosnaps)

.

Apa yang disebut dalam lagu-lagu itu, bohong. Tik tik tik, bunyi hujan… Itu bohong. Saat hujan, aku mendengar suara berkelatak-kelatak di jendela. Di dalam rumah rasanya semua damai saja, hanya kelatak-kelatak air tabrakan dengan kaca jendela yang menandai ada aktivitas di luar sana. Suara motor lewat atau mobil atau ting-ting-ting panggilan tukang nasi goreng sudah tak lagi terdengar saking biasanya. Namun hujan, yang datang tak setiap hari, hanya sering, membuatku sadar bahwa sekalipun lelap dan tak sadar, di luar sana rencana Tuhan tetap berjalan.

Seharian tadi aku lelap. Aku tak membuka mata. Bergerak hanya sejauh kasur bisa menampung tubuhku. Aku ingin memberontak atas rencana Tuhan. Lihat, Tuhan, aku tak menjalankan rencanamu. Aku tidur dan hanya bernapas adalah rencanaku. Kau pasti tak mengira aku membelot dari sistematikaMu, kan? Ha!

Dan seharian tadi aku memandangi langit yang cerah. Pagi tadi aku perhatikan langit lebih oranye dibandingkan merah jambu. Siang hari terkadang biru, terkadang kekuningan. Kemudian beranjak sore, putih angkasa dan kuning gading bermain-main di atas kepala. Senja datang dan gelap menemaninya dengan tangkas. Aku tak perlu melihat bintang-bintang, di luar jendelaku banyak sekali lampu. Sekali lagi, Tuhan, bukankah kami begitu pandai meniru?

Terhadap semua itu, saat aku memilih tak memerhatikan, maka aku memejamkan mata. Lelap, menutup mata pada jalannya segala sesuatu.

Aku senang akan hari ini. Sekalipun lelap, aku bisa merasakan bahwa dunia akhirnya bergembira. Mau tanya apa? Angin? Dia riang berhembus. Matahari? Kan sudah kubilang tadi, dia ceria mewarnai langit. Hujan? Dia dan kegalauan abadinya nggak kelihatan batang hidupnya, tuh. Ya, hari ini membuatku senang.

Semua berjalan cakep. Tak ada rintangan berarti.

Makanya keletak-keletak di jendela pada pukul 23:29 membuatku kesal. Tak bisakah hujan membiarkan hariku bebas galau? Satu hari saja, kenapa dia musti datang pada jam segini? Padahal tinggal sedikit lagi sudah besok, perlukah dia datang dan membuat malamku diisi keletak-keletak tanda di luar sana hal basah dan dingin sedang pesta pora?

Kancing botol!

Sebaiknya kubuka saja jendela dan membuang undangan di tanganku. Aku berharap hujan datang besok, bukan malam ini. Besok aku ingin punya alasan hebat bahwa alam pun melarangku datang ke pernikahanmu. Makanya aku menyesali pakai banget dia yang menyapaku malam ini.

Aku sudah mengambil jatahku menyenangkan diri sendiri. Tidur sampai tak ingin lagi, makan kenyang aku tak sempat merasa lapar, tersenyum pada hari yang sempurna besok kuanggap ilusi. Lalu tinggal sedikit lagi, hujan datang.

Mengingatkanku bahwa aku membangun rasa sukaku padamu setengah mati. Kau yang dibilang calon paling potensial di mata banyak orang. Kemudian aku mendustai perasaanku sendiri dengan ikhlas dilelapkan oleh sikap baikmu. Selanjutnya aku hanya memandangmu. Cinta mungkin terlalu berlebihan, tapi aku sudah menginginkanmu menggenggam tanganku sambil menyusuri jalan yang sama. Dan akhirnya, ketika pintu besarnya terlihat, hujan datang berkelatak-kelatak, membuatmu kocar-kacir menepi. Tak peduli seberapa kencang aku berteriak meyakinkanmu bahwa hujannya tak menyakitkan, kau memilih menepi, tak jadi meneruskan jalan.

Pada akhirnya, aku, di malam pukul 23:29 ini aku terpaksa melek, melihat gaun pengantin yang seharusnya sudah kubanting di kios tukang loak. Aku terpaksa menonton cincin pemberianmu bergulir masuk kolong tempat tidur. Aku terpaksa memperhatikan undangan-undangan berisi nama kita terbang di angkasa. Padahal semuanya sudah terjadi sekian ratus jam yang lalu. Tapi gara-gara keletak hujan, mereka mengulang diri.

Tinggal sedikit lagi, hujan memilih datang.

Tinggal sedikit lagi, kau memilih yang bukan aku.

Sarung buluk!

Seharusnya kupilih yang bukan kamu saja sejak dulu.

Masalahnya, semua tampak baik-baik saja. Sampai semua jadi tak baik-baik saja.

Pukul 23:29. Melek itu tak berguna. Mendingan kuplester saja mataku pakai lakban, biar hujan tahu, aku sentimen padanya, yang selalu datang menjelang semuanya berakhir.

.

.kkeut.

Iklan