Tag

, ,

848w. Judul entah apa pun artinya. Warning: heavy content. Jika kita ditanya sebelum kita ada.

nonexistent singularity

.

“Hey, kamu, si Non-eksisten Singular. Aku akan membuatmu menjadi Singular yang eksis. Bagaimana menurut pendapatmu?”

Aku tak bisa menjawab. Dia Yang Menciptakanku tak membuatku bisa bicara. Namun dengan cara kami sendiri, kami saling mengerti satu sama lain. Maka berdasarkan pengertian itu, Dia melanjutkan:

“Ya, aku kan bertanya dulu padamu. Siapa tahu kau punya keinginan yang lain.”

Keinginan pun Dialah yang menciptakan. Apa sebelum ini Dia sudah bertanya pada keinginan apakah keinginan ingin mampir bersemayam padaku yang berupa ketiadaan non-jamak?

Dia tertawa. “Ya, aku tahu. Aku hanya ingin berdialog, kau tahu. Baiklah. Rupanya kau sendiri tak bisa memutuskan apakah kau ingin atau kau tak ingin. Begini saja. Aku jadikan kau melihat.”

Maka di hadapanku, aku melihat. Entah apa.

“Apa maksudmu entah apa? Mereka wanita. Di sana ada dua wanita. Kau mau yang mana?”

Aku tak punya mau, Tuhanku.

Dia tersenyum. “Kalau kau menjadi ada, maka kau akan merasa, mendengar, mencium, melihat, lalu mau. Kau akan punya mau. Kau akan tahu rasanya itu semua. Jadi kalau kau punya mau, kau mau wanita yang mana?”

Aku tak bisa membayangkan ‘mau’. Tapi, Tuhan, itu seperti sesuatu yang menarik karena bisa memberikan banyak hal. Rasa, dengar, cium, lihat. Meski aku tak tahu apa itu semua, tapi kalau kemudian aku menjadi tahu, itu lebih banyak daripada hanya mengetahui ketidaktahuan, kan?

“Nah, sekarang kau sudah semi punya mau. Jadi kau mau yang mana?”

Aku tak tahu wanita.

“Lihat saja. Lalu putuskan.”

Kedua wanita itu sangat berbeda. Yang satu keemasan, yang satu tampak gelap menonjol. Rasanya aku selalu berada dalam kegelapan.

“Sebelum kau memutuskan, biar kuberi satu petunjuk. Keduanya mulia. Namun setelah memiliki mau, kau pun akan berteman dengan konsekuensi. Jika kau memilih yang cemerlang seperti emas, kuberi tahu apa yang ada di ujung jalan: neraka. Jika kau pilih yang gelap, kau akan bertemu surga.”

Aku tahu neraka dan surga. Mereka entitas besar yang terkenal selain Engkau, Tuhanku.

“Begitulah. Jadi kau mau pilih yang mana?”

Mengapa hatiku pilu melihat yang keemasan, Tuhanku?

“Ah, apa kau melihatnya menangis?”

Apa itu menangis?

“Lihat matanya. Dia mengeluarkan air dari sana. Ada kepedihan dalam air itu. Apa kau merasa pedih?”

Sepertinya. Apa aku sudha mulai diberi rasa?

“Ya. Dan aku memberimu rasa yang sama dengan yang keemasan.”

Aku merasa pedih. Sepi. Dingin. Putus asa. Betapa banyaknya rasa ini, Tuhanku!

“Kau tak merasakan apapun dari yang gelap?”

Ya, aku merasakannya. Aku merasa pasrah. Kuat. Dingin. Putus asa. Tapi aku mendengarnya memanggilMu selalu, Tuhanku.

“Apakah kau tak tersentuh?”

Aku sedang memikirkan surga. Aku ingin. Aku mau bersama yang gelap.

Dia tertawa lagi. “Baiklah. Jadi kau hendak bersama yang gelap?”

Mungkin iya. Apakah aku sedang diturunkan?

“Ya.”

Tapi ini begitu berat, Tuhanku.

“Kenapa begitu berat?”

Sebab aku si keemasan menarikku begitu kuat. Rasa pilunya meraja lela. Aku sangat kasihan dengannya.

“Surga dan neraka ada di ujung perjalanan. Sebelum itu, kau akan bersamanya penuh kebahagiaan. Tertawa dan merasa hangat. Kau membuatnya hangat, dia membuatmu hangat. Si keemasan itu. Jika kau bekerja keras untuk bersama yang gelap, maka saat-saat bersamanya akan terasa dingin dan menyiksa. Namun kau tak perlu menunggu lama untuk kembali padaKu, menghuni surgaKu.”

Aku ingin yang kedua. Namun sungguh, piluku sangat menyayat aku ingin menghibur si keemasan. Maafkan aku, Tuhanku. Aku tak bisa menoleh pada si gelap. Dia memanggil-manggilku.

“Kau benar. Dia memang memanggil-manggilmu tanpa henti. Lagipula kau kutawari memang untuk menemaninya. Aku hanya memberimu penawaran seandainya kau lebih bisa memilih.”

Aku akan bersamanya, Tuhanku. Izinkan aku bersamanya.

“Tak perlu izinku. Kau kuciptakan dengan tujuan. Jadi pergilah.”

Maka aku pun meluncur dengan bebas. Seolah lorong yang kulalui dari kaca, aku bisa melihat sekelilingku. Aku mulai bisa melihat lebih dari dua wanita. Banyak sekali lorong-lorong yang tampak kosong, namun aku kemudian sadar bahwa di dalam lorong-lorong itu, ada materi-materi tak eksis sepertiku yang sedang meluncur menuju banyak wanita yang berbeda.

“Hei,” kudengar Dia memanggil. Aku mendongak. “Kalau kau bisa melihat jalan yang benar, maka kau boleh tak masuk neraka di ujung jalan. Aku akan memastikan kau mendapat petunjukKu. Kau sendirilah yang akan memilih. Apa kau akan ingat pesanKu ini?”

Ya, Tuhanku. Aku akan ingat.

Lalu aku tak bisa melihatNya lagi. Aku tak bisa melihat apapun, namun aku merasakan banyak hal. Semua ini baru. Semua ini memberiku suntikan rasa. Aku punya banyak ingin. Aku memiliki banyak mau. Terlalu penuh di dalam sini untuk merasakan semuanya, sampai aku lupa apa yang harus kuingat.

Aku benar-benar lupa apa yang harus kuingat. Kehangatan ini melingkupiku dengan serius, aku lupa pada janjiku. Oh aku ingat sudah berjanji sesuatu, namun apakah itu? Sesuatu mengatakan aku bisa tenang karena akan selalu ada petunjuk yang datang, tapi aku tetap lupa.

Sayang, cepatlah keluar. Mommy menantimu. Aku mendengar suara-suara lembut. Apakah itu petunjukku?

Buah hatiku, belahan jiwaku, Mommy akan berikan segalanya untukmu. Sehat-sehatlah selalu, Nak. Mari berjuang di hari kelahiranmu. Mommy mencintaimu.

Suara itu untukku. Mungkin benar itu petunjuknya.

Saat suara-suara lembut itu semakin jelas, aku merasa petunjukku pun semakin jelas. Nah, sesuatu menarikku turun. Apakah sudah saatnya aku bergerak mengikuti petunjuk? Di dalam sini ada yang berdenyut dengan gembira. Jika rasanya gembira seperti ini, mungkinkah itu hal yang salah?

Entahlah, aku tak bisa menjawabnya. Petunjuk. Aku harus mencari petunjukku.

.

.kkeut.

Iklan