Tag

, ,

1,601w. Also at SaladbowlPacaran anak muda zaman sekarang, ck…ck…ck…

.

Apa yang penting kalau kalian tinggal di Korea Selatan? Tentu saja popularitas. Kecantikan dan uang tidak ada artinya kalau kalian tidak populer. Dan bagaimana usaha remaja-remaja di Korea Selatan meraih popularitas? Gampang sekali: media sosial. Mudah dan murah. Kalian hanya perlu siap sedia untuk eksis di media soial. Seperti aku.

Aku bahagia dengan hidupku sekarang. Modal tampang ada, modal uang ada, hanya tinggal mencari aksesori untuk hidup senang. Kebetulan Papi sangat mirip denganku. Dia tahu sekali apa yang dibutuhkan anak seusiaku, jadi dia tidak pernah ribut mengatakan ini-itu kalau aku minta ini-itu. Beda dengan Mami; yang selalu menambahi ini-itu saat aku bahkan baru memikirkan hendak minta ini atau itu.

Tapi aku dan Mami baik-baik saja. Terutama setelah aku bilang aku mau tinggal di Korea saja dan tidak berniat bertahan di Perancis. Paling-paling dia hanya ribut menyuruhku untuk tinggal di rumah Halmoni di Jejudo; yang mana, tentu saja bukan pilihan utamaku. Aku lebih sejiwa dengan Seoul, gempita dan bersinar. Bukan Jeju, yang sederhana meski cantik. Paling-paling aku menurutinya kalau sedang liburan. Seperti sekarang.

“Waaah… gurita pasti enak,” itu pacarku, Sehun.

“Enak?” ucapku setengah tak peduli. Bagaimana bisa peduli kalau fokusku pada ponsel, berusaha membekukan momen paling tepat merekam wajah pacarku. Wajah gantengnya.

Sehun menyeringai lebar. Gantengnya berkurang jadi tinggal 75%.

Dengan jejak bumbu memanjang dari sudut bibir ke arah telinga, sisa kegantengannya berkurang lagi. Hanya tinggal 55%.

“Sayang, hadap sini dan bergaya yang benar,” kataku tidak sabar. Tapi tetap dengan nada lembut. Sehun tidak akan menurut kalau nadaku naik sedikit saja.

Sehun menatapku sebelum meletakkan sumpitnya. Dia mengubah posisi duduk. Satu kakinya ditekuk, satu tangannya diluruskan di sandaran, badannya setengah miring, wajahnya menghadap ke luar jendela. Matahari Jeju bersinar lembut, rambut tembaganya meronai kulit yang pucat. “OOH! PERFECT!” seruku luar biasa gembira.

Sehun hanya melirikku, yang mana tidak kuperhatikan. Aku terus mengambil gambarnya sambil membayangkan semua komentar iri dan kagum di akun Instagramku. Misalnya pun Sehun bodoh, kere dan tidak punya pengertian, tampangnya saja sudah cukup membuatku mau berkencan dengannya. Dia tiket mudahku mendapatkan lebih banyak follower.

Jalan-jalan di Jeju seperti ini membuatku antusias, dengan catatan: hanya sekali waktu. Semua hal yang ‘dikunjungi’ tampak sangat cantik karena alasan yang sudah jelas: mereka tidak kulihat setiap hari. Sebuah ayunan dengan tali tua terlihat artistik karena aku baru melihatnya kali ini dan mengabadikannya dalam foto. Seandainya aku tinggal di sini dan harus melihatnya setiap hari, mungkin aku tidak akan mengerti mengapa ayunan lekang itu istimewa.

“Tanganmu, Sayang,” aku menegur Sehun yang melalaikan instruksiku tentang gayanya.

Dia cemberut tapi menurut. Di sisi kiri ayunan dia memegang tali pengayun dengan tangan kanan. Di sisi kanan ada aku dengan tangan kiri memegang tali lainnya. Menghadap ke belakang, aku tersenyum pada lelaki yang baru saja kami kenal. “Tolong difoto sekarang,” seruku.

Aku sudah mengatur semua agar fotonya tampak bagus. Yang orang itu perlu lakukan hanya memastikan kami berdiri seimbang di dalam bingkai dan menekan tombolnya. Selesai. “Terima kasih!” seruku gembira. “Bisakah dua kali lagi?” tanyaku dengan senyum yang dulu membuat Sehun tak kuasa menahan diri untuk tidak mengejarku dan menyatakan cinta.

Lelaki itu mengangguk seperti yang kuperkirakan.

Kusuruh Sehun menatapku dengan posisi yang sama. Setelah itu aku duduk di ayunan dan—masih di tempatnya semula, hanya kali ini dia berputar menghadap kamera—Sehun kusuruh menoleh sembari sedikit menunduk menatapku. “Ingat, kau mencintaiku,” ucapku pelan. Aku tahu Sehun akan menatapku sesuai yang kuinginkan. Penuh cinta.

Setelah selesai, aku mengucapkan terima kasih sambil berseri-seri karena lelaki yang membantu kami memuji kami sebagai pasangan model yang sempurna. “Haha, kami bukan model. Kami hanya orang biasa,” ucapku merendah. Dia tersipu saat aku memintanya selfie bersamaku dan Sehun. Pacarku itu tidak tersenyum, tapi sama sekali tidak masalah, karena seberapapun tampak bodohnya Sehun, dia selalu terlihat bagus di depan kamera.

“Hentikan mengambil gambar,” Sehun berseru di depan mesin permainan. Kami mampir ke pusat permainan setelah berkeliling dan mengambil beberapa—banyak—foto yang membuatku tak bisa berhenti tersenyum. Matanya fokus pada layar, kakinya sibuk menekan pedal. Dia suka sekali bermain balap pesawat ruang angkasa. Pusat permainan ini kebetulan yang bagus. Ada di sana tepat saat Sehun sudah mulai sadar sedang kumanfaatkan. Aku senang bisa mengalihkan perhatiannya.

Aku menggeleng menolak. Sibuk mengambil fotonya, aku juga melakukan beberapa selfie dengan dia dalam bingkai. Tak perlu mencolok, dia hanya perlu ada di sana.

Mendadak Sehun bangun dan melangkah. “Sayang kau mau ke mana?” aku berseru gugup. Tak mengira dia akan meninggalkanku begitu mendadak.

“Jangan ikuti aku!” dia berteriak tanpa menoleh padaku.

Apa-apaan.

“Hei!” aku balik berteriak sambil berlari menyusulnya.

“Yha! Oh Sehun!”

Oh Budha, dia kesurupan, ya? Kenapa jalannya cepat sekali aku sudah hampir tak bisa melihatnya. Padahal dia tinggi. Maksudku benar-benar tinggi.

Ini gawat. Aku tak tahu Sehun ke mana. Aku melangkah sendiri ke rumah Halmoni. Kepikiran juga sih apa yang akan kukatakan pada Halmoni kalau beliau tanya Sehun ke mana, tapi pertanyaan tentang kenapa Sehun bertingkah aneh lebih memenuhi benakku.

Memasuki rumah, suasana sepi. Kupanggil Halmoni, tak ada jawaban. Matahari sudah tergelincir, biasanya Halmoni senang duduk di teras belakang di waktu seperti ini. Rumah Halmoni sangat strategis, halaman belakangnya menghadap langsung ke laut. Duduk di sana saat matahari terbenam sambil minum es teh terasa istimewa.

Mendekat ke belakang, aku mendengar gumaman. “Halmoni?” aku memanggil dan tertegun di pintu teras.

Halmoni sedang cekikikan dengan Sehun di atas rumput. Mereka berdua berhadapan dengan ember berisi kimchi di tengah-tengah. Keduanya mengenakan sarung tangan pink manyala sampai ke siku. Pemandangan yang sangat aneh sebab Halmoni mengenakan gaun musim semi yang biasa dipakainya kalau ke gereja, sementara Sehun masih mengenakan pakaian yang dipakainya untuk kencan denganku tadi.

Sehun mengatakan sesuatu. Cukup keras untuk terdengar gumamannya, terlalu pelan untuk diketahui jelas apa kata-katanya. Lalu aku terpana. Halmoni cekikikan. Benar-benar cekikikan seperti cewek-cewek Hongdae kecentilan yang biasa ke-ge-er-an kalau ditegur oleh Sehun.

“Oh…yhaaa~” Halmoni merajuk sambil memukul bahu Sehun sok manis.

Aku tidak bohong. Nenekku memang sok manis di depan Sehun sekarang.

“Semua cewek harusnya seperti Halmoni,” sekarang, setelah aku melangkah mendekat, aku lebih bisa mendengar ucapan Sehun. “Pandai membuat kimchi tapi tetap cantik dan segar dilihat,” ucap pacarku itu tanpa tahu malu.

Apakah itu rona yang kulihat di wajah Halmoni? Aku benar-benar tidak ingin berpikir aku benar. Sebaiknya aku menyalahkan matahari yang terbenam. “Dasar kau cowok penggoda,” Halmoni membalas sama sekali tidak terdengar seperti protes.

“Astaga Halmoni, itu bukan godaan. Coba lihat, mana ada wanita yang membuat kimchi pakai gaun. Hanya Halmoni seorang. Kimchinya pasti rasanya jauh lebih enak!” Sehun menyobek sepotong daun kubis yang baru dimarinasi lalu menyuapkannya ke Halmoni. “Bagaimana? Benar kan kataku? Kimchinya lebih enak, kan?” tanyanya benar-benar tampak penasaran.

“Itu kan karena ada anak muda manis yang menyuapiku…” Halmoni menjawab sambil tersenyum senang. Terlalu kesenangan, menurutku.

Excuse moi!” aku tidak tahan lagi. Puas tapi entah kenapa merasa semakin marah, aku melihat mereka berdua salah tingkah. “Halmoni sedang apa?” tanyaku dingin.

Halmoni merapikan rambut pendeknya yang diblow sempurna. “Marischka, sudah pulang, ma chéri?”

Don’t ma chéri me, sejak kapan Halmoni bisa membuat kimchi?! Sejak kapan Halmoni bisa memasak?, begitu rasanya ingin kujawab Halmoni, tapi kupilih untuk mengabaikan dorongan hatiku. Alih-alih aku menatap tajam Sehun, menyadari bahwa ledakan emosiku sangat tidak masuk akal. Maksudku, Sehun dan Halmoni? Yah, yang waras saja. “Ke mana kau tadi?” aku bertanya pada pacarku dengan galak.

“Kau tidak tahu?” Halmoni malah bertanya padaku meski aku terang-terangan mengabaikan keberadaannya. “Sehun, katamu Marischka sedang bertemu temannya jadi kau pulang sendiri.”

Aku memelototi pacarku. “Kita sedang berkencan! Aku tidak bertemu siapapun.”

Sehun menghela napas kesal. “Halmoni, kurasa aku mau ganti baju. Aku naik dulu ke atas, ya.”

“Yha! Oh Sehun!” aku berteriak. Sehun jelas-jelas marah padaku. Meski aku benar-benar tidak tahu kenapa. Ini membuatku gemas. Dan agak khawatir sebenarnya. Apa yang kulakukan? Apa yang sudah kulakukan?

“Oh ya Halmoni, seharusnya aku merayakan hari jadiku dengan Marischka hari ini, tapi teman-temannya sangat baik. Mereka semua ingin merayakannya bersama pacarku yang cantik itu. Aku tidak ingin mengganggu kesenangannya, jadi kurasa perayaan kami kutunda saja. Makan malam yang itu kubatalkan saja, Halmoni.”

“Apa kalian sedang bertengkar?” Halmoni bertanya. Nadanya penuh gosip.

“Kami tidak sedang bertengkar!” aku menyahut marah. Habisnya… iya kan? Aku tidak merasa ada apa-apa. Sehun tidak mengatakan apa-apa padaku.

Dia tidak berkata padaku sama sekali. Kedengarannya memang seperti pertengkaran.

“Tidak, Halmoni. Kami tidak bertengkar. Aku tidak mungkin bertengkar dengannya. Apa kata teman-temannya nanti?” Sehun menjawab Halmoni dengan lembut. “Aku selalu memandangnya penuh cinta, memeluknya, bermain game bersamanya, kami selalu bersama. Halmoni lihat saja instagramnya. Buktinya semua ada di sana.”

Oh.

“Inse… Insta… apa?” Halmoni kebingungan.

“Itu hanya tempat Marischka berkumpul dengan teman-temannya,” Sehun menjawab sambil melangkah memasuki rumah.

Ah, rupanya…

“Bahkan saat perayaan hari jadi kami,” lanjut Sehun, kali ini langsung menatapku sebelum berbalik dengan dingin.

Oh tidak…

Aku menatap punggung pacarku itu sampai menghilang saat dia menaiki tangga, lalu termangu menatap rumput halaman belakang yang semakin berwarna gelap. Kalau mendongak, aku bertaruh langit sudah lebih tepat disebut hitam daripada biru.

“Marischka, ma chéri, Halmoni tidak mengerti. Apa dia sedang marah padamu? Kau pergi ke insta-insta itu saat seharusnya berkencan dengannya? Begitu?”

Aku memandang Halmoni dengan putus asa. “Hueee… Halmoni…” aku mulai merasakan efek samping ambisiku jadi cewek eksis di Seoul.

“Marischka, kenapa?! Kenapa kau menangis?!”

“Halmoni… apa yang sudah kulakukan…?!! Huwaaaa…”

Halmoni mengelus kepalaku.

“Bagaimana ini…?” kurasakan air mata mulai menetes dari sudut-sudut mataku. Yang tentu saja membuatku terkejut. Karena aku tidak pernah menangis karena laki-laki. Apalagi karena Sehun. Dia yang mengejarku, bukan aku yang mencintainya duluan. “Huwaa…”

Meski—berdasarkan rasa bersalah dan nyeri di dalam dadaku kali ini—kurasa aku sudah jatuh cinta padanya juga. Cukup dalam. Kenapa aku bisa tidak sadar akan hal ini?

“Huwaaa… Halmoniiii…”

Beliau memelukku dengan bingung.

“Sehun-a… Waaaa…”

Aku benci tapi air mata dan isakanku tak bisa berhenti.

.

boy-couple-cute-girl-love-favim-com-224317

(credit pic: google search, definitely not mine)

.kkeut.

Iklan