Tag

, ,

340w. Dibuat untuk event Open Series: Obsecure Sorrow by Kak Put.
Terlepas kenal/tidaknya orang itu denganmu, kau tetap tersenyum.

ecstatic shock

.

Kenyamanan itu semacam bukti bahwa seseorang bisa bertahan. Sekalipun dalam kondisi kurang menguntungkan, seandainya orang itu memiliki tekad untuk bertahan, maka dia akan menciptakan rasa nyaman dari ketidakuntungan yang dihadapinya. Seperti misalnya kalau kau pergi menghadiri undangan pernikahan. Di sana kau dipaksa berbaur dengan banyak orang yang sebagian besarnya tidak kau kenal. Bikin jengah saja.

Jika kau datang sendiri, menoleh ke mana pun rasanya wajahmu bisa menghangat karena bertemu orang-orang baru. Kemudian kau mempertimbangkan berbagai pilihan: membaur, atau hengkang dari sana secepatnya. Tergantung tipe orang seperti apa kau. Namun biasanya, dalam situasi seperti ini, ‘hengkang’ itu sudah meliputi aktivitas salaman-dengan-pengantin-secepatnya, mencicip-makanan-di-tiap-booth, lalu berpamitan-seperti-atau-tidak-seperti-kau-menyelinap-agar-orang-tak-menyadari-kau-sedang-kabur.

Kemudian, saat baru dua booth kau datangi, kau sedang menilai dalam dirimu sendiri bahwa siomaynya agak terlalu asam atau baksonya terlalu sedikit untuk kebutuhanmu, kau melempar pandang ke arah pintu masuk.

Ah, hatimu berdesir. Atau mungkin juga tidak. Kau biasanya tidak suka menjadi konyol, dan karena memandang seseorang sampai hatimu berdesir itu terasa konyol, maka kau sekuat tenaga mematikan rasa dan akhirnya kehilangan orang itu—yang baru saja melewati pintu masuk—karena terlalu berkonsentrasi mengendalikan perasaanmu.

Kau bertanya-tanya apakah hanya kau yang pernah merasakan ini atau perasaan ini sama wajarnya dilakukan oleh orang lain di sekelilingmu; emosi yang berkepak-kepak dan tiba-tiba berbunga tanpa alasan yang masuk akal. Kau tahu persis apa yang kau rasakan tapi sekitar delapan puluh persen tidak mau mengakui penyebab perasaanmu itu. Sebab tersenyum tiba-tiba—kau sedang meringis karena kebanyakan menambahi cuka ke dalam kuah ketika kau tersenyum dan akibatnya kau malah seperti sedang mengejan hebat—hanya karena melihat seseorang itu mengesalkan. Apa sih yang orang itu sudah lakukan sehingga mulutmu bekerja mendahului sistem otakmu dalam menganalisis? Dia kan hanya datang dan melangkah melewati pintu masuk dan kebetulan saja kau melihatnya, lalu kenapa kau harus tersenyum?

Terlepas kenal/tidaknya orang itu denganmu, kau tetap tersenyum, hatimu berkebit lebih cepat, bibirmu lancang tersenyum dan tubuhmu memutuskan gravitasi sudah berubah pusat. Kau sungguh tidak tahu apa yang harus kau lakukan pada dirimu sendiri. Dan kau jelas sudah lupa pada opsi hengkang yang sebenarnya masih kau miliki.

.

ecstatic shock

n. the surge of energy upon catching a glance from someone you like—a thrill that starts in your stomach, arcs up through your lungs and flashes into a spontaneous smile—which scrambles your ungrounded circuits and tempts you to chase that feeling with a kite and a key.

.

.kkeut.

Iklan