Tag

, ,

my funny valentine

2,642w.

.

Namanya Ruli, gadis itu. Rambutnya keriting dan kalau bersisir, akan terdengar suara srok-srok-srok keras akibat gesekan antara sisir dan rambutnya. Wajahnya tidak bisa dibilang cantik atau rata-rata; di bagian itu dia memang agak kurang. Bicara rata-rata, level itu jatuh pada kemampuan otaknya. Sementara level di atas rata-rata terdapat pada sifatnya yang periang dan tulus, serta proporsi tubuhnya yang tidak buruk; jemari lentik, pinggul-paha-pinggang proporsional. Ruli, gadis SMA umur enam belas tahun, sejak hari pertamanya masuk SMA terus menginginkan untuk menjadi sedikit lebih menarik.

Contoh gadis menarik bagi Ruli adalah Inda. Itu sewaktu dia kelas satu SMA. Kenapa Inda? Sebab Inda memiliki mata lebar dengan bentuk almon, berambut lurus mengilap, tampak halus setiap beriap tertiup angin, kaki jenjang, tubuh tinggi, dan tawa yang membuat gadis itu dikejar oleh beberapa anak lelaki di SMA mereka. Inda cantik di mata Ruli sebab Inda populer di kalangan teman-temannya. Inda cantik sebab anak itu tampak bersinar setiap Ruli berpapasan dengannya di koridor sekolah. Inda cantik sebab Dondi memilihnya sebagai pacar.

Menaiki kelas dua, Ruli mempelajari bahwa ada gadis lain yang masuk standar cantik juga. Namanya adalah Khasanah. Berbeda dari Inda, Khasanah berperangai anggun. Gadis itu tidak banyak tertawa tapi senyumnya menyejukkan dan banyak anak laki-laki menganggap itu adalah daya tarik yang tidak bisa dielakkan. Khasanah cantik dengan pembawaannya yang tampak rapuh, kulit putih pucat, rambut berbelah tengah dan poni naif bertengger di dahinya. Sekali Ruli mencoba membenahi rambutnya seperti yang dilakukan Khasanah, namun tatanan rambut itu hanya bertahan sepuluh menit sebelum akhirnya rambut Ruli kembali ke bentuknya semula. Ruli mengeluh dalam hati, namun tetap tertawa ketika hal-hal lucu terjadi di sekitarnya. Yah, mau bagaimana lagi, toh Ruli memang tidak akan bisa menjadi Khasanah. Ruli juga tidak akan pernah dibilang cantik. Kalau Ruli cantik, tentunya selama kelas dua, dialah yang akan menjadi pacar Dondi, bukannya Khasanah.

Di kelas tiga, Khasanah masih tetap gadis paling cantik dan menarik menurut Ruli. Sempat Ruli mengira Inge dan Ofta lebih cantik dari Khasanah, tapi tidak. Dia mengoreksi penilaiannya itu saat Dondi kembali menjadi pacar Khasanah setelah beberapa saat pacaran dengan Inge dan Ofta.

Ruli terus melakukan penelitian mendalam tentang gadis tercantik selama SMA. Dia membutuhkan variabel independen yang tidak akan berubah dalam penelitiannya itu: Dondi. Maka dia berjuang sekuat tenaga agar bisa diterima di jurusan yang sama dengan lelaki itu di universitas. Dia meneguhkan pendiriannya bahkan meski harus merantau jauh ke Padang. Orang tuanya tak akan ke mana-mana, masih akan menetapi kota kecil yang selalu dilewati bisa antar kota antar provinsi di Pulau Jawa; tapi Dondi? Siapa tahu lelaki itu akan ke mana.

Tahun pertama kuliah ada Azita. Tahun kedua ada Heni. Tahun ketiga dan keempat ada Mutmainah. Tahun kelima Ruli memutuskan tak ada lagi gadis tercantik di universitasnya.

“Sudah dikerjakan?” Dondi bertanya padanya suatu hari. Tas berisi alat pertukangan tersampir di pinggangnya. Ruli menatap lelaki itu lurus-lurus, berusaha mengingat apa yang yang seharusnya sudah dia kerjakan tapi mungkin atau mungkin saja tidak dia kerjakan—belum.

“Sirkuitnya, Ruli. Sudah dikerjakan?”

“Sirkuit…” Ruli meragu. “Ah, tugas dari Pak Husnaini? Sudah dikumpulkan minggu lalu. Kau belum mengumpulkannya?” dia merasa lega.

Dondi menepuk dahi lalu tangannya melorot membasuh muka. “Tugas akhir semester dari Pak Ginting, Ruli. Sirkuit untuk generator air mancur akuarium. Kita bikin akuarium, ingat?”

Pak Ginting… Pak Ginting… Astaga! “Astaga! Kapan terakhir dikumpulkan?!” Ruli membelalak panik.

“Dasar cewek edan. Sudah, kau bolos saja kuliah ini. Toh mengulang juga, kau tinggal baik-baiki Pak Hanung, minta nilai kasihan. Sekarang kita ke tempatmu, bikin sirkuitnya. Besok sudah harus terpasang di akuarium!” Dondi mengomel tak tanggung malu.

Ruli mengeluh keras. Mulutnya berucap maaf tak putus-putus.

.

“Pembahasan sudah dikerjakan?” Pak Ginting bertanya datar.

“Sedang, Pak,” Ruli menjawab dengan senyum selebar kapal Titanic.

Pak Ginting memelintir kerutan jelek di dahinya. “Dari kemarin sedang, sedang terus. Kapan selesainya, Ruli?” Dosen itu tampak memulai kemarahan pertamanya pagi ini. “Kamu bagaimana, Dondi?! Revisi yang kemarin sudah ada?”

Dondi mengangguk mantap di sebelah Ruli. “Sudah, Pak. Ini.”

Pak Ginting menerima bendel perbaikan skripsi milik Dondi lalu membacanya. Semakin lama wajahnya semakin suram dan akhirnya mengembalikan kembali bendelan itu ke Dondi sambil merengut. “Kamu hanya menambahkan satu paragraf dan itu bahkan tidak menjelaskan apapun.” Beliau menarik napas, kentara sekali menahan kesal. “Kalian berdua jangan sampai ketemu saya sampai minggu depan. Saya tidak mau tahu kalian harus sudah bawa skripsi yang beres—paling tidak sampai bab pembahasan—ke saya minggu depan,” kata beliau lagi. “Tolonglah,” kali ini nadanya lebih lembut, “Masa kalian tidak jengah hampir disalip oleh adik angkatan dua tahun di bawah kalian? Memangnya kalian tidak rindu pulang ke Jawa sana dan segera bekerja? Kasihan, kan, orang tua kalian?”

Dondi dan Ruli mengangguk bersamaan. Melihat sikap pasif keduanya, perasaan kesal Pak Ginting agak mengabur sedikit. “Ya sudah, cepat sana perbaiki skripsi kalian. Minggu depan sudah bagus, oke?”

“Ya, Pak,” seperti prajurit keduanya menjawab serempak.

Saat menatap punggung Dondi dan Ruli yang meninggalkannya, tengkuk Pak Ginting seperti digelitik. Dia kembali menghela napas berat, sepertinya minggu depan dia masih belum bisa terlalu berharap.

Di luar ruangan, Dondi dan Ruli tidak banyak bicara. Mereka berjalan bersisian sampai di tempat parkir, lalu tanpa kata juga Dondi menaiki motornya, kemudian Ruli menaiki boncengan di belakang Dondi. Baru setelah mereka berjalan kurang lebih seratus meter, Ruli bicara, “Sebaiknya kita makan siang dulu, Don. Aku lapar.”

Melirik lewat spion, Dondi iba pada Ruli. Cewek itu benar-benar tidak punya bakat di bidang elektronik, entah kenapa dia bisa dapat beasiswa ke jurusan teknik elektro seperti dirinya. Namun diam-diam Dondi bersyukur, karena dengan adanya Ruli, dia tak sendiri. Bahkan sampai telat wisuda pun Ruli masih menemaninya.

Mereka mampir di warung langganan mereka dekat kos Ruli. Saat menyantap paru balado, Ruli menengadah sambil tersenyum lebar, rambutnya yang kribo bergoyang-goyang, ada nasi satu menempel di cuping hidung cewek itu. “Parunya enak banget!” ucap Ruli seolah lupa bahwa setiap kali makan di situ dia mengatakan hal yang sama.

Sebenarnya Dondi tidak selera makan mendengar keputusan Bapak Ginting Yang Mulia tentang minggu depan, tapi melihat Ruli begini dia jadi lapar. Diam-diam—hanya setengan sadar—Dondi kembali bersyukur atas keberadaan Ruli.

.

Ruli berpikir, tidak ada gadis di dunia ini yang lebih cantik dari Ida. Dengan Ida di sekitar mereka, Dondi tampak luar biasa ceria. Ruli seperti melihat lagi Dondi yang dulu yang masih SMA mengejar-ngejar Inda. Nah, ini bisa pula dimasukkan dalam catatannya. Mungkin perempuan dengan nama yang mengandung huruf “I” dan “A” dengan urutan peletakan seperti itu adalah golongan perempuan-perempuan tercantik.

“Cepat selesaikan revisimu!” Dondi membentak Ruli. “Jangan ikuti aku ke mana-mana. Tinggal saja di kosmu dan kerjakan revisi dari Pak Ginting!” sekali lagi dia berkata keras pada cewek itu di depan kos.

Wajah Ruli tampak gelisah. Dia ingin melihat Dondi dan Ida bersama. Tanpa perlu Dondi memberi tahu, Ruli sudah tahu lelaki itu akan pergi bertemu Ida. Ruli perlu melengkapi datanya tentang bagaimana gadis cantik bersikap.

“Kenapa malah diam?” Dondi memutar paksa tubuh Ruli dan setengah mendorongnya masuk ke dalam kos.

Belum Ruli sempat berkata apa-apa, Yessi, teman satu kos Ruli keluar dari pintu. “Eh, Uda Dondi sama Akak Ruli kok di jalan? Ndak jadi pergi?” tanyanya sambil berusaha menjejalkan kaki ke dalam sepatu, tangannya bukan opsi bantuan sebab penuh dengan modul kuliah.

“Aku nggak boleh ikut,” Ruli merajuk.

Mata Yessi melebar, senyum mengembang di bibirnya. Ruli dua, hampir tiga, tahun di atasnya, tapi Yessi kadang merasa cewek itu lebih seperti adiknya. Mungkin karena wajahnya yang bulat dengan kulit mulus dan rambut kribo membentuk siluet kepala bulat, Ruli jadi seperti bayi. “Hayooo, Uda Dondi mau ke mana Akak Ruli ndak boleh ikut? Mau selingkuh, ya?”

Dondi langsung merah padam. “Nggak! Enak aja!”

“Dia mau ketemu Ida!” Ruli mengadu.

Yessi melotot, kali ini jelas tidak setuju. “Uda! Ndak boleh gitu! Jangan dekat-dekat sama Akak Ida. Indak baik,” anak itu menasihati Dondi dengan nada peringatan yang jelas.

“Apanya yang nggak baik? Kenapa memangnya kalau aku dekat sama Ida? Dia masih baru di Padang sini, wajar kalau aku bantu!” Dondi terpancing.

“Uda!” Yessi berseru. “Tega kali Uda, ni! Sudah, Kak Ruli. Putusin saja orang macam Uda Dondi ini. Laki-laki ndak tahu diuntung. Masih untung Akak masih mau samo dio, malah terang-terangan menggoda cewek lain!” kesal betul sepertinya anak itu.

Dondi mengacak rambutnya sendiri. Semua penghuni rumah kos Ruli sudah gila. Mereka tak satu pun ada yang mengira bahwa dirinya dan Ruli tidak pacaran! “Putus itu—“

“Aku mau ikuuut…” Ruli merengek sambil memegangi tangan Dondi.

Dondi melotot. Bukan karena Ruli memegang tangannya, tapi karena dia ingat tatapan membunuh Pak Ginting pada Ruli yang masih juga tidak mengerti perbedaan rangkaian seri dan paralel meski sedang skripsi. Dipegangnya bahu Ruli, lupa sama sekali pada keberadaan Yessi. “Ruli, kalau pembahasanmu tidak selesai besok, Pak Ginting akan melelang pembimbinganmu. Dia sudah hampir menyerah jadi pembimbingmu, jadi kamu harus selesaikan pembahasanmu hari ini juga.”

“Bantulah, Uda!” Yessi sekarang berkata dengan nada memprovokasi.

“Nggak bisa. Aku ada janji.” Dondi menjawab cepat.

“Sama Ida, kan? Aku mau ikuuuut…” lagi-lagi Ruli memohon.

Dondi melotot. “Nggak boleh! Masuk, tulis revisimu!”

“Ih, Uda jahat,” Yessi nyeletuk lagi.

Kali ini Dondi memelototi Yessi, “Kamu nggak telat kuliah?!” geramnya.

Yessi tampak kaget. “Masya Allah, telat ambo!”

Dondi puas menatap Yessi terbirit-birit. Tapi tidak lama, sebab Ruli kembali meraih tangannya. “Aku mau ikut ketemu Ida, Don…”

Menghela napas, akhirnya Dondi memutuskan jurus terakhirnya, “Aku nggak akan ketemu Ida. Aku mau bantu Rusdi pindah kos.” Dia berbohong. Sebab Ruli sangat keras kepala. Ini emergency.

Ruli tampak ragu-ragu. “Telepon saja Rusdi, kalau tidak percaya. Tanya apa dia benar pindah kos atau tidak.”

Ruli melepaskan tangan Dondi. Lelaki itu hampir tersenyum sampai dari jendela ruang tamu terdengar suara, “Bohong, Kak Ruli! Uda Dondi pasti mau ketemu Kak Ida! Bohong diaaaa!” Seru-seruan itu diiringi cekikikan.

Dondi melotot pada cewek-cewek iseng itu. Gemas bukan main.

Lalu dia merasa sangat bersalah saat melihat mata Ruli yang berkilau karena air mata. “Aku cuma mau lihat kamu sama Ida…” bisik Ruli nelangsa.

Menarik napas, akhirnya Dondi berkata, “Boleh. Tapi bukan hari ini. Hari ini kamu garap revisimu, kalau sudah selesai aku ajak kamu jalan-jalan bareng Ida.” Ucapnya menyerah.

Ruli menatapnya lama, Dondi mencoba bertahan tidak mengalihkan tatapan. Air mata di mata Ruli sudah menghilang, tapi kini mata cewek itu berkilau dengan semangat. Dondi harus mengingatkan dirinya akan janji menemani Ida membeli perangkat listrik alih-alih tinggal membantu Ruli menyelesaikan revisinya saat melihat cewek itu tersenyum girang. “Masuk, sana,” suruhnya jauh lebih lembut dari yang dia maksudkan.

Syukurlah, Ruli mengangguk dan menurut.

.

Pastilah Ida wanita paling cantik di dunia. Tapi Ruli ragu memberinya label itu. Ida kadang menyikapinya dengan tidak baik. Tapi Ruli sangat mengerti. Sebab, dia sudah sering mengganggu acara cewek itu dengan Dondi. Kalau saja penelitiannya sudah selesai, pasti dia tak akan melakukan ini.

“Aku terpaksa melakukannya, Don. Kamu ngerti, kan?” dia bertanya pada Dondi suatu malam setelah mereka pulang dari nonton dan makan ayam penyet. Bertiga dengan Ida, tentunya.

Dondi menatap Ruli penuh tanya. “Melakukan apa?”

“Aku harus melihat Ida. Aku harus mengamati Ida. Aku nggak bermaksud buruk, kok. Kamu tahu, kan?”

Dondi tampak terperangah, tapi sejurus kemudian tersipu. Dia mengusap tengkuk sambil menunduk mengangguk. “Iyalah, aku tahu, kok. Justru kamu harus begitu.”

Ruli mengangguk tegas. “Ini hal penting. Aku nggak mau kehilangan kesempatan.” Mengobservasi, maksud Ruli. Kesempatan mengobservasi.

Dondi cengengesan. “Iya, Ruli…” panggilnya dengan nada dilenggok-lenggokkan. “Kamu nggak akan kehilangan apa-apa, aku janji. Aku nggak mungkinlah begitu.”

Ruli menatap Dondi serius. “Serius, Don?! Janji, ya?!”

“Iya, janji.”

“Baik. Kalau begitu aku juga janji aku akan terus mengobservasi Ida biar aku tahu apa yang dilakukan gadis cantik kalau berkencan!”

“Eh—“ Dondi terperangah.

“Kamu yang sabar, ya, Don. Aku akan berusaha supaya aku nggak terlalu mengganggu kencanmu dengan Ida.”

“Eh—“

.

Dondi mau hanya berdua. Tapi harus selalu bertiga. Kalau tidak, Ruli akan sedih setengah mati. Ini mengesalkan.

Dondi mau disuruh membelikan berondong jagung ukuran berdua saat mereka nonton, tapi mereka bertiga, jadi dia harus membeli yang ukuran paling besar.

Dondi mau memilihkan pakaian wisuda. Tapi untuk Ruli, bukan untuk Ida!

“Kenapa sih kita harus selalu bertiga?!” protesnya saat Ida pamit ke toilet.

Ruli tampak terkejut. Lalu terluka. “Ma-maf, Don. Kamu keganggu, ya? Oke, aku tahu, aku sudah keenakan. Aku pulang sekarang, deh. Hari ini cukup sampai di sini saja. Data aku sudah lengkap, kok.”

Ruli buru-buru mengemasi dompetnya, meraih minumnya yang baru diminum seteguk, lalu berdiri dan beranjak.

Dondi sangat gemas. Dengan cepat dia bangun, mencangklong tas, lalu menyusul Ruli. Tangannya meraih tangan cewek itu lalu menariknya pergi. Sambil berjalan, dia menelepon Ida, mengatakan maksudnya dengan cepat lalu segera memutus sambungan tanpa menunggu Ida selesai bereaksi.

Mereka akhirnya berdua. Tanpa Ida.

.

“Tapi kenapa, Don?” Ruli mendesak. Besok pagi mereka wisuda, malam ini Dondi main ke kos Ruli.

Dondi menghela napas mencari sabar.

“Aku pikir Ida cewek paling cantik. Dia cocok banget sama kamu,” Ruli kembali mendesak. Dondi mendelik melihatnya.

“Aku tahu! Pasti salahku, ya. Ida mutusin kamu gara-gara aku selalu nebeng kalian? Wah, gawat. Aku akan minta maaf sama dia. Kalian harus jadi pasangan wisuda.”

“Dia nggak wisuda besok.”

Ruli mendelik. “Ya kalau gitu kebeneran, dong. Dia bisa jadi pendamping wisuda kamu!”

Dondi mengerang. “Ruli… sudah kamu nggak usah mikirin Ida kenapa, sih?!”

“Iya, Kak Ruli. Kak Ida itu udah the end!” suara cempreng kedengaran dari balik dinding ruang tamu.

“Heh!” Dondi gemas bukan main. “Nggak pernah start, ya! Jadi nggak ada pake end-end itu!” serunya. Dasar adik-adik kos bawel. Nyantel aja kalau ada orang ngomong.

Cekikikan cewek-cewek tak tahu malu berkumandang di dalam rumah.

“Apanya yang nggak pernah start, Don?” Ruli bertanya penasaran. Matanya terbuka sempurna. Dondi ingin tersenyum lembut. Tapi lelaki macho tidak tersenyum lembut. Jadi dia malah meringis seperti orang buang air besar.

“Nggak. Sudahlah. Besok kamu ke salon jam berapa? Aku jemput, ayah-ibumu nggak bisa datang, kan?”

“Ecieeee… calon mertua ndak datang…” koor mengejek terdengar dari dalam.

Ruli seolah tidak mendengar itu sama sekali, malah menjawab lurus, “Jam 5.”

Dondi mengangguk. Wajahnya sebetulnya memerah. Karena koor adik-adik sial itu. Tapi Ruli sepertinya juga buta warna, jadi tidak masalah.

“Maafin aku, ya, Don,” kata Ruli pelan.

“Apa lagi?” Dondi mengernyit.

“Ida—“

“Idih! Kan sudah dibilang, nggak usah dibahas!”

“Tapi masalahnya aku juga kecewa, Don! Aku kan nggak pernah pacaran, jadi aku selalu mengamati gaya cewek-cewek cantik kalau pacaran! Biar nanti kalau ada yang mau jadi pacar aku, aku sudah tahu teorinya. Cewek kamu kan selalu cantik-cantik, makanya aku semacam berguru gitu ke cewek-cewek kamu. Coba kamu terus sama Ida, aku bisa mengamati Ida terus.”

“Kamu pengin pacaran?” Dondi bertanya menelan ludah. Sumpah dia seolah bisa melihat ke balik dinding, melihat adik-adik sial di sana memanjangkan kuping mati kaku karena penasaran. Tapi dia tidak bisa peduli.

“Ya pengin, lah…” Ruli menjawab cepat sambil tertawa malu. Lalu melanjutkan dengan sedih. “Penginnya pacaran sekarang ini, lalu habis kuliah langsung nikah, biar kerja jadi ibu rumah tangga aja. Cinta-cintaan sama suami sama anak-anak, bahagia gitu selamanya.”

Dondi lupa bahwa dia bisa bicara.

“Idih, ya, Don?” Ruli bertanya pelan. Kepercayaan dirinya melorot sampai ke mata kaki sekarang setelah impiannya keluar dari mulutnya sendiri.

Dondi mengangguk. “He-eh. Idih banget.”

Ruli menunduk dalam-dalam.

“Kamu malu, ya?” Dondi bertanya. Entah kenapa suaranya serak.

Ruli mengangguk. Tangannya menutup muka, lalu dibuka lagi. Malu luar biasa sepertinya.

Bibir Dondi sudah bergerak maju sebelum dia bisa berpikir. Begitu sadar, bibirnya hanya tinggal sesenti dari telinga Ruli. Dia menelan ludah, berusaha menelan kata-kata yang hiperaktif ingin keluar dan bertamu ke telinga Ruli.

Kata-katanya ternyata tidak bisa diberi pengertian. Mereka menghambur ke telinga Ruli secepat yang mereka bisa. Pelan, tapi jelas, “Ya sudah, biar kamu nggak malu, habis wisuda ini kamu nikah sama aku aja. Kan langsung tercapai, tuh, cita-citamu.”

Ruli menoleh cepat. Ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Dondi berkedip bertanya. Lalu bibirnya mengecap, “Bagaimana?”

Bayangan wanita-wanita paling cantik berkelebat di benak Ruli. Lalu semua itu menghilang dan dia melihat pantulan wajahnya sendiri di mata Dondi. Tiba-tiba, seperti tak pernah berkaca sejak SMA, Ruli sangat terkejut mendapati pantulan dirinya di mata Dondi sudah berubah menjadi sangat cantik. Dia tidak sadar bibirnya menyungging senyum.

Dondi membalas senyumnya. “Ya sudah. Gitu aja, ya.”

.

.kkeut.

Iklan