Tag

, , ,

me and mrs jones

Fiction | Prompt#60: Me and Mrs Jones dari [Writing Prompt] di Writer’s Secret | Konten Dewasa

.

Kami.

“Halo.”

“Halo Mrs. Jones.”

Gelak tawanya terdengar di seberang telepon. Bahagia. Yah, seperti sudah seharusnya. “Deril, jangan memanggil begitu, ah.”

Aku tersenyum. Tentu saja dia tak akan melihat. “Kenapa?” Ah, sepertinya aku gagal. Senyumku pasti terdengar dari suaraku.

Sebagaimana kali ini aku mendengar senyum dalam nada jawabannya, “Ya… Aneh aja.”

Ya, diam-diam aku mengafirmasi ucapan singkatnya, aku memang aneh, masih saja bahagia mendengar suaramu. Padahal, apa, kita sudah berapa lama bersama?

“Aku mau ke kantormu,” kudengar suaranya. Kali ini lebih berhati-hati, lebih serius. Wajar saja, sih. Kantorku bukan tempat bermain. Dengan ibu-ibu hamil berserakan di ruang tunggu—atau wanita-wanita minta aborsi, atau perempuan-perempuan yang minta dibuat hamil—tentu saja tak sembarang orang boleh ‘mau ke kantormu’.

Kecuali dia, mungkin.

“Ah, Mrs. Jones. Tentu saja. Silakan.”

Aku mendengarnya merajuk, memintaku berhenti menyebutnya begitu. “Deril~”

“Aku menunggumu, Sayang,” bisikku sebelum telepon berakhir.

.

“Selamat,” aku tersenyum lebar padanya. “Kehamilanmu baik-baik saja.”

Dia melirikku dengan ancaman main-main. “Mau berapa kali kau mengatakannya?” dia berujar seolah lelah dengan ucapanku. “Kau mengatakannya setiap kali—“

“Aku bahagia untukmu! Seharusnya kau bersyukur! Dokter kandungan mana coba yang sepenuh hati ikut berbahagia dengan kehamilan pasiennya?!” aku berseru sembari membersihkan peralatan USG yang baru saja kugunakan untuk memeriksanya.

Dia sudah selesai merapikan pakaiannya kala berdiri di hadapanku. Tangannya berkacak pinggang saat berkata, “Mungkin… Dokter Kandungan yang kebetulan ayah dari anak yang dikandung pasiennya itu?”

Aku berdecak. “Kau wanita berbahaya. Bagaimana kalau ada yang mendengarmu? Ini tempat umum, Lady.”

Matanya berputar. Coklat gelap sempurna. “Memang kenapa? Ini kabar bahagia, bukan? Paling tidak untukku dan untukmu. Kenapa takut didengar orang lain?”

Aku tersenyum. Kata-katanya penuh tantangan dan mungkin agak kesal. Agak terbiasa karena aku harus sering menghadapi ibu-ibu hamil yang emosional—hanya ada satu cara ini agar bisa mengerti mereka—aku pun mencoba membayangkan diriku sebagai dirinya. Wanita, hamil, hormonnya bergejolak, bahagia, namun selalu disanggah olehku saat mengungkapkan betapa gembira dirinya sebagai wanita sempurna. Kalau aku yang begitu, mungkin aku juga akan mudah merajuk.

Kuraih pinggangnya, merengkuhnya dalam pelukan. “Maafkan aku. Aku hanya sangat senang anak kita baik-baik saja,” gumamku di pundaknya. Helai-helai kecokelatan mewarnai lengannya yang terbuka.

Dia menggenggam tanganku dan meremasnya. Senyumnya dihiasi semu merah jambu. “Terima kasih. Terima kasih, Sayang. Kau tahu berapa lama sudah aku menantikan ini…” disembunyikannya wajah di leherku, membuat dadaku membuncah dengan emosi.

Tanganku membelai lengannya, terus turun sampai kutemui jemarinya, menemui lingkar cincin emas cantik tanda pernikahan. Aku sangat tahu berapa lama kami menantikan bayi ini. Aku menantinya bersamanya. Selalu. Mereka ini, ibu dan anak yang sekarang lengket dalam pelukku, adalah paket bahagia dalam hidupku. Bahkan setelah bertahun-tahun dan seharusnya pemujaan buta sudah memudar dalam hubungan kami.

.

“Kapan…” dia berkata penuh antisipasi.

Aku tersenyum geli melihat ketidaksabarannya. “Menurut perkiraan saya, akhir April, Mrs. Jones.”

Matanya berkaca-kaca. “Sekarang bulan Januari,” ucapnya tanpa maksud yang bisa kutangkap. Tatapannya menerawang bukan ke arahku.

Aku terkekeh. Jantung terkipas-kipas penuh penantian yang sama dengannya.

“Terima kasih, Deril. Terima kasih!” dia sangat terharu. Bangun, dikecupnya pipiku.

.

Dia menggenggam tanganku. Matanya menyorot cemas. Aku tersenyum dan membalas genggamannya. “Semua baik-baik saja,” yakinku padanya.

Dia mengeluhkan perutnya yang kencang. “Biasa. Sudah mendekati tanggal kelahiran,” aku berkata sembari melepaskan perutnya. “Bangunlah. Kau harus banyak bergerak.”

Dia menggerutu. Menurutnya ibu hamil seharusnya tidak dianjurkan banyak bergerak. Mereka ini ibu-ibu bukan tentara yang harus giat berlatih dengan beban berat. Ibu-ibu tidak bisa menolak membawa beban sekian kilogram.

“Karena meski berat itu membuatmu bahagia,” kuterabas pidatonya.

Dia melemparkan tisu yang tadi digunakannya untuk diremas-remas di tangan. Karena meski membuat bahagia, membawa-bawa bayimu ke manapun membuatmu tak bisa berhenti cemas. Bagaimana kalau dia melonjak. Bagaimana kalau ada bola nyasar menyeruduk perutmu. Bagaimana kalau dia ingin tengkurap, sangat ingin sampai tidak sadar melakukannya.

“Ya kau bisa main jungkat-jungkit,” aku mencoba menghumor.

“Jangan main-main dengan anakmu!” dia membentakku, berdiri, berwajah murka, dan berderap meninggalkan ruang praktekku.

Aku melongo. Perasaan bersalah cepat sekali datang dan diam-diam aku meminta maaf pada anakku. Aku memang sudah kelewat batas. Memangnya aku bakal santai saja kalau—

Pintu ruanganku menjeblak terbuka dan dia di sana. Pipinya basah seolah sedang mandi—hanya saja bagian tubuhnya yang lain tidak basah. “Oh Deril… aku takut sekali!!!” dia menghambur masuk dengan cemas.

Aku baru tegap berdiri saat dia menginvasi udaraku. “Apakah rasanya sakit sekali? Apa anak kita akan kesakitan nanti saat keluar? Apa dia bernapas dengan benar? Apa jantungnya sehat? Apa jarinya lengkap? Apa rambutnya lebat? Kakinya tidak kecil satu, kan? Kau sudah memastikan semuanya, kan? Bagaimana kalau aku tidak sanggup melakukannya? Apa aku boleh operasi saja, Deril? Aku ingin operasi, tapi… Tapi bagaimana kalau aku mati di meja operasi? Bagaimana anak kita kalau aku mati nanti? Bagaimana dia belajar jalan? Belajar bicara? Masuk sekolah? Nanti dia salah memilih pacar… Dia tak akan tahu wanita baik-baik itu yang bagaimana… Oh Deril…”

Kupeluk pundaknya yang berguncang. Air matanya terus mengalir membasahi bajuku sampai kulit dada. Kalau bajuku mudah terlihat saat basah mungkin orang akan mengira aku sudah saatnya menyusui karena basahnya tepat di bagian organ pemberi susu. Mungkin orang akan lupa sejenak kalau aku ini laki-laki.

Pertanyaannya masih tertumpah panjang lebar. Rupanya dia tegang sekali. Yah, maklum, anak pertama.

Aku tertawa. Geli. Tapi, hei—tunggu dulu.

Dia pikir aku tidak cemas?! Anakku bulan depan akan lahir dan dia yang membawanya sekarang. Memang dia saja yang baru pertama akan punya anak?!

Hah!

Harusnya aku marahkah sekarang? Atau—

Hah.

.

Teriakannya nyaring memenuhi ruangan bersalin. Aku tidak pernah setakut ini menghadapi wanita melahirkan—demi Tuhan mereka itu obyek pekerjaanku! Aku jadi makin paham apa makna ungkapan ‘konflik kepentingan’. Seharusnya seorang dokter kandungan tidak boleh menangani kelahiran anaknya sendiri! Tidak boleh di belahan bumi manapun. Itu—INI—absurd!

“Dokter!” Suster Meta menegurku. Dia menatapku heran. Aku tidak pernah termangu menghadapi kelahiran sejak dia pertama kali bekerja bersamaku; dan bisa dibilang Suster Meta itu suster pertamaku.

Aku mengibaskan kepala. Berusaha fokus. Lalu, “DERIIIIILLLL!!!” teriakannya mengiris telingaku.

Astaga.

Astaga. “Tenang, tenang. Tarik napas… buang… tarik napas… buang…” aku memberi pengarahan seperti seorang amatir.

“SAKIIIIITT!!!!!” pekiknya lagi.

“Dokter, kepalanya hampir keluar!” Suster Meta lagi.

“Berjuanglah!!!” aku berteriak. “Kepalanya hampir keluar! Sedikit lagi!”

Jawabannya bukan teriakan terakhir dalam proses persalinan anak kami.

.

“Dokter,” Suster Meta menyerahkan bayi merah itu padaku. Dia tidak menggeliat-geliat, sepertinya tidur kelelahan. Begitu keluar dari tubuh ibunya tadi, teriakannya keras sekali membuat semua orang jadi tertawa lega.

Aku menyibak kain yang agak menutupi wajah bayi kami dan hatiku semakin melorot.

Sudah mulai melorot saat aku memencet hidungnya dan menatap wajahnya yang sempurna. Anak ini sangat sempurna. Tubuhnya lengkap, paru-parunya kuat, kulitnya sehat. Dan dia sangat mirip aku.

“Dokter, anda sudah ditunggu di luar,” Suster Meta mengingatkan.

Aku mendesah berat. “Deril,” kudengar namaku dipanggil. Saat menoleh, aku menatap sepasang bola mata coklat indah yang selalu menyihirku. “Bagaimana anak kita?” dia bertanya lemah.

Tanpa berkata apa-apa, aku menyerahkan bayiku padanya.

Dia menangis lalu menciumi anak kami. Suara Suster Meta kembali terdengar dari luar, memanggilku.

Aku mencium keningnya dan kening anakku sebelum melangkah keluar.

.

Tulang punggungku nyeri. Ketegangan sedari tadi membuatku seperti habis dipukuli. Lucu, belum dipukuli, tapi sudah seperti itu rasanya.

Lelaki itu berjalan tergopoh menyongsongku. “Dokter!” wajahnya sumringah.

Aku mengangguk dengan senyum lebar. “Mereka baik-baik saja,” ucapku.

“Saya ingin melihat—“

“Nanti, Mr. Jones. Mereka baik-baik saja, tapi istri anda perlu istirahat dan anak anda perlu waktu untuk sesi menyusui pertamanya,” aku memotong ucapannya.

“Tapi—“

“Saya bilang, nanti. Anda pasti tidak keberatan menunggu sebentar lagi. Mungkin sambil menyelesaikan administrasi?” dia tampak terkejut melihat sikapku yang kaku dan menjaga jarak. Padahal aku selalu hormat dan bersikap seperti teman baik padanya. “Saya permisi dulu, ada pasien darurat yang harus saya tangani. Tanpa menunggu jawabannya aku berlalu.

Berbelok dan berbelok lagi untuk masuk ke ruangan tempat anakku berada lewat pintu yang berbeda.

.

Di dalam ruangan, saksi keberadaan kami.

Kuamati keduanya. Ibunya masih cantik, meski terlihat luar biasa lelah. Anaknya tampan dan gagah. Anakku. Dan anaknya. Anak kami.

Suami dari ibu anak kami sekarang sedang menanti di luar, menunggu diperbolehkan menemui makhluk yang baru saja lahir yang dikira anaknya.

Sebagai dokter istrinya, harusnya aku segera memberinya kesempatan itu. Mereka menunggu punya anak sudah sepuluh tahun. Dan lelaki itu sudah lebih tepat dipanggil kakek daripada ayah.

Tapi kalau nanti aku dipukuli setelah dia melihat anakku, bagaimana? Sebab lelaki itu pasti akan langsung tahu. Bukan. Sebab anak ini sangat sempurna.

Kemiripannya denganku.

.

Me and Mrs Jones, we got a thing going on

We both know that it’s wrong

But it’s much too strong to let it go now

.

.kkeut.

.

Note: judul diambil dari lagu yang dipopulerkan kembali oleh Michael Buble: Me and Mrs. Jones (2007).

Iklan