Tag

, ,

Word count: 186w

http://wp.me/p1rQNR-jr

…/

Musim panas.
Matahari terlalu terik, katamu. Panas, keluhmu. Malam terlalu sedikit, kau cemberut. Dan setiap kali aku mengusapmu. Kalau masih kurang, aku menciummu singkat. Untuk mengobati ketidaknyamananmu, kupeluk kau sepanjang malam, membiarkanmu tahu kau milikku dan aman bersamaku.

Musim gugur.
Aku mulai dingin, protesmu. Angin mengacaukan semuanya, kau menggerutu. Kau benci saat pasir-pasir bertabur. Kau ingin berteriak kalau dingin meresap hingga ke dalam. Aku masih mendengarkanmu.

Musim dingin.
Beku. Anginnya terlalu dingin. Kau rindu matahari. Setiap hari aku mendengarmu mengeluhkan hal yang sama dalam cara yang baru. Aku takjub. Betapa ahlinya kau bicara. Kau luar biasa ahli dalam mengumpulkan kata, meski maksudmu itu-itu saja. Kalau sudah kesal, kubiarkan kau mengadu pada angin. Kau cerewet. Dan bawel. Dan aku harus tetap memelukmu. Aku pusing karena tak bisa menjauh darimu.

Musim semi.
Matahari sempurna. Dingin kau bilang membelai. Temperatur pas. Dan setiap kali, kau menyilaukanku dengan kilaumu. Tiga musim yang lalu kau menyebalkan dan aku tak sanggup menjauh darimu. Lalu katakan bagaimana aku bisa menghindarimu kalau musim ini kau begitu manis?

 

(picture by Haruka Kagiwada)

Andai ombak bisa bicara, maka dialah kekasih bodoh yang tak sanggup meninggalkan garis pantai, seharipun dalam setahun.

/…

Iklan