Tag

, , , , ,

Fiction | Prompt#18: Fine Suit dari [Writing Prompt] di Writer’s Secret | Rating: PG-17

.

Pesta pernikahan di mana-mana sama saja.

Oh hai, kau datang? Bersama pacarmu?

Apa, Luisa, ini calonmu?

Kami senang kau datang bersama seseorang. Kau sudah terlalu lama sendiri.

incestuous cerpern1

“Kau bersenang-senang?” suara Abdi mengaburkan gema pertanyaan yang terus berulang di benak Luisa. Wanita itu melirik ke sebelahnya. Mengangguk.

“Pembohong jelita,” Abdi berbisik di telinganya. Luisa bergidik.

“Aku ingin minum,” Luisa membalas tak nyambung.

Abdi sigap mengambil dua gelas sampanye dari nampan yang seolah melayang dibawa pelayan luar biasa gesit berdasi kupu-kupu. “Ini dia,” Abdi menyerahkan gelas berisi cairan bening keemasan ke tangan Luisa. “Kamu harus berterima kasih padaku. Aku menyetir malam ini jadi kamu bebas minum sesukamu.”

“Terima kasih,” Luisa menjawab datar, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Ruangan itu aula olah raga yang disulap menjadi ruang dansa spektakuler.

“Aku pikir hanya orang Indonesia yang memakai lapangan badminton untuk resepsi pernikahan. Ternyata di Amerika pun ada yang begini,” Abdi berkomentar. Nadanya agak sini. Namun empuk. Penekanan Amerika memastikan Luisa tahu pendapat lelaki itu terhadap negara tempat mereka tinggal sekarang.

“Hanya orang Indonesia yang mempermasalahkan di mana pesta dilangsungkan. Jangan cerewet.”

Abdi terkekeh pendek.

Seorang pelayan berdasi kupu-kupu lain melewati mereka, mengundang decakan lidah dari Abdi. Pelayan itu melirik. Luisa mengabaikan rasa tidak enak yang mencolek jiwanya. Rasa yang akrab kalau kau sering berkencan dengan Abdi.

“Tema androgini yang hebat. Semua pelayan memakai dasi kupu-kupu,” komentar Abdi tanpa bobot. Tapi mengesalkan karena dinyatakan tidak kurang dari menghina.

Luisa menatap lelaki di sampingnya dengan terganggu.

“Rambutnya dicepol, tapi pakai dasi kupu-kupu dan sepatu oxford. Yang itu—“ mendadak suara Abdi jelas di telinga Luisa, napasnya menggelitik. “—berambut cepak, bahu lebar, tapi pakai lipstik dan maskara. Pesta ini hebat sekali.”

“Hentikan, Abdi. Kamu terlalu lancang.” Luisa mendesis.

“Abdi?” lelaki kencan Luisa di pernikahan salah satu teman mereka ini menaikkan alis.

Luisa menyesap minumannya untuk membantunya menelan ludah. “Mas.” Abdi tersenyum. “Mas Abdi,” lengkap Luisa luar biasa jengkel untuk alasan yang tak jelas.

Lagi-lagi Abdi terkekeh.

Seseorang memanggil namanya, Luisa menoleh. Orang itu tampak benar-benar gembira melihat Luisa. Nama Abdi mengalir janggal dari bibirnya dan tahu-tahu saja mereka sudah terlibat percakapan empat orang. “Aku selalu tahu ada sesuatu tentang anak muda ini sejak pertama kali melihatnya,” wanita yang memanggil Luisa berkata ramah.

“Jangan gegabah, Rossane, kau baru dua kali bertemu Abdi.” Luisa menyanggah.

“Tidak, aku tahu. Ada sesuatu darinya yang membuatmu berbeda.” Luisa melirik Abdi. Lelaki itu hanya tersenyum lebar menanggapi Rossane. “Kau jadi lebih—lebih—entahlah, Luisa, aku merasa kau lebih cantik hari ini.”

Luisa memutar mata. “Aku berdandan, Rossane. Ini pesta pernikahan.”

Rossane menggeleng. “Luisa, kau selalu cantik. Tapi hari ini kau sama cantiknya dengan minggu lalu saat kulihat kalian makan berdua.”

“Oh, Rossane, hentikan. Kau membuat Luisa malu,” lelaki yang mendampingi Rossane, Adrien, suami wanita itu, menghentikan istrinya.

“Ya, Rossane darling, kau membuatku malu,” Luisa menyentuh pipinya. Sikapnya pura-pura tersipu, tapi dia tidak terkejut pipinya benar-benar menghangat.

“Oh, masa muda memang indah,” Rossane terpekik senang. Luisa tak pernah mengerti jiwa romantis pasangan ini. Tidak banyak orang Perancis yang dikenal Luisa memiliki semangat romantisme seperti pasangan di depannya ini. “Kau benar-benar jatuh cinta!”

“Astaga, Rossane!” Luisa memprotes.

Rossane tetap tertawa. Adrien menyanggah istrinya, tapi tertawa sama senangnya.

Abdi menggaruk kepalanya, tapi matanya mengerut di ujung. Bibirnya terangkat di kedua sudut dan sinar matanya menghindari Luisa. Ini bencana. Ini lebih dari memalukan.

“Teruskan, gadisku,” Rossane berbisik di telinga Luisa, mencegah para lelaki mendengar. “Aku tahu kalian belum resmi berkencan, tapi dia milikmu, aku tahu itu.”

Luisa ingin memejamkan mata menahan malu, tapi takut matanya jadi berkaca-kaca sesudahnya, jadi dia menahannya.

Pasangan itu melihat orang lain yang mereka kenal kemudian berpamitan untuk menyapa. Luisa dan Abdi ditinggalkan berdua lagi. Kali ini kesunyian menyergap mereka. Kesunyian yang canggung.

Pasangan pengantin mulai menari. Pasangan lain mengikuti setelah pengantin menyelesaikan satu putaran. Sekejap saja semua orang sudah berada di lantai dansa, berseru-seru gembira, melambai-lambai tangan ceria. Kegembiraan mendesak-desak, menggiring orang-orang bergerak dan Luisa terdesak ke arah Abdi. Lengan mereka bersentuhan.

“Jangan pikirkan mereka,” Luisa tak tahu mulutnya sedemikian terus terang.

Abdi menoleh dan meski mendeteksi rasa canggung, ada kilau tanya di sana, meminta penjelasan.

“Maksudku, kau tahu aku memang memintamu jadi teman kencan ke pesta ini, kan?”

Abdi tampak tercenung.

“Aku membutuhkan bantuanmu dan katamu kau bisa. Anggap saja kita sedang bermain peran. Seperti dulu.”

“Luisa…”

“Kita biasa main ibu-ibuan, kan?”

“Jangan…”

“Yah, ini hanya pura-pura. Lagipula kau tidak kenal mereka jadi—“

“Luisa—“

“Kau tidak rugi apa-apa. Ibu-ibuan, kita sedang main ibu-ibuan.”

Abdi menarik lengan Luisa. Tahu-tahu saja pinggangnya sudah dibimbing oleh telapak tangan Abdi dan mereka mulai berdansa bersama orang-orang lain. “Luisa,” Abdi memanggil sementara tubuhnya mulai bergerak mengikuti musik ceria yang tidak romantis: Labamba.

“Luisa, aku tidak suka main ibu-ibuan,” Abdi berujar, terpaksa mendekatkan bibir ke telinga Luisa karena suasana yang begitu riuh.

Sungguh, Labamba bukan musik romantis. Luisa bersumpah!

Seseorang menepuk bahunya, ternyata temannya yang paling kepo di kampus. Wanita itu mengacungkan jempol ke arahnya. Sebelum Luisa menyadari apa yang terjadi, mereka sudah berbalik dan kini Abdi melihat acungan jempol temannya. Abdi pasti melihatnya sebab di bawah tangannya, Luisa merasakan pundak Abdi sedikit menegang.

Hampir tanpa berpikir, Luisa membenamkan wajahnya ke pundak Abdi. Wajahnya benar-benar panas. Dia tak pernah dekat dengan siapapun. Semua orang mengiranya aseksual. Tak sekali dua dia didekati lelaki, tak pernah mempan. Para perempuan pun ada yang mencoba mendekatinya, dia selalu menjawab tidak. Dan kini dia mengejutkan semua orang dengan datang bersama Abdi. Selain sang pengantin, sepertinya Luisa adalah topik hangat malam ini. Kenapa dia sampai kepikiran meminta Abdi menjadi kencannya malam ini. Bukannya mereka akan berkencan betulan atau apa, padahal.

“Sebaiknya kita pulang,” Luisa cukup terkejut dengan usulnya sendiri. Abdi tidak kalah kaget. “Ayo, Abdi,”wanita itu menggandeng tangan Abdi. Di dalam, dia merasa seperti bocah TK setelah dimarahi guru: ingin pulang memeluk mama.

“Hei,” Abdi menahannya. “Ada apa?” lelaki itu kini terlihat khawatir. Ekspresi yang serius khawatir, bukan khawatir main-main.

“Tidak apa-apa. Kita pulang saja.”

“Luisa, tunggu dulu,” lagi-lagi Abdi menahannya saat Luisa menggiringnya menuju meja penerima tamu.

“Kita pulang.”

Abdi meraih lengan Luisa dan memaksanya berbalik. Saat itu tatapan Luisa bersirobok dengan tatapan penasaran beberapa teman. “Kau dipanggil,” Abdi berbisik di telinganya. “Pura-pura tidak dengar bukan permainan orang dewasa, Luisa.”

Meski tergelitik risih di telinga, Luisa tak mampu menahan senyumnya. Hanya saja, senyum itu menghilang secepat datangnya. Permainan orang dewasa selalu menjadi bahan pertengkaran lucu di antara dirinya dan Abdi. Ada apa dengan semangat bersaing menjadi yang lebih dulu dewasa di antara mereka, Luisa tak sepenuhnya mengerti.

Namun, terlepas dari permainan mereka, Abdi benar. Luisa tidak sopan kalau kabur begitu saja saat smua orang tampaknya gembira melhatnya. Mungkin berpamitan bukan ide buruk. Dia menghela napas.

“Baiklah, Abdi.” Lingkaran jemari Abdi di lengannya menyempit. Luisa melihat pandangan menuntut dari lelaki itu. Oh, ego lelaki! Rutuk Luisa tak benar-benar sengit dalam hati. “Mas. Baiklah, Mas Abdi. Kita berpamitan, lalu pulang.”

“Kenapa?” Abdi bertanya heran.

“Kenapa apanya? Ya pulang.” Luisa mulai tidak sabar. Dia tidak pernah tahu kapan penyakit bodoh Abdi akan kumat.

“Maksudku kenapa pulang?”

“Sudah sore.”

“Apaan, sih.”

“Apaan gimana? Sudah sore kita harus pulang.”

“Nanti dicari Mama, gitu? Sudah sore, kita harus mandi, gitu?”

“Ih, apa, sih?!” Luisa menggedikkan bahu dengan sebal. Dia tahu sekaligus tidak tahu percakapannya dengan Abdi ini mengarah ke mana.

“Makanya. Apaan, sih.” Abdi memasukkan tangan ke saku celana pantalonnya. Luisa gagal segera mengalihkan pandangan. “Tadi kamu mau buru-buru kondangan. Sekarang maunya pulang. Mana janjimu membiarkan aku mencicipi semua makanan di sini?” Abdi mendelik.

Luisa terperangah.

“Aku lapar, Luis.”

Luisa tidak perlu tersipu dengan panggilan yang hanya sesekali dilontarkan Abdi itu. Tak ada orang lain, hanya Abdi yang melakukannya. Dan karena hanya sesekalilah, Luisa benar-benar tidak perlu tersipu.

Fine,” menghela napas, akhirnya Luisa mengalah. Dia sudah berjanji. Abdi sudah menolongnya, maka paling sedikit dia bisa membiarkan Abdi makan sampai puas. “Makan sekarang,” tangan wanita itu dilebarkan untuk menunjukkan sekeliling ruangan. Dia sendiri tidak terlalu perhatian di mana meja makanan diletakkan.

Abdi menyeringai. Luisa kelabakan.

Yang dia tahu selanjutnya adalah dirinya ditarik dan digiring ke sana kemari, mendampingi Abdi makan. Sambil berdiri, sambil duduk, sambil mulutnya dijejali makanan. Sebelum dia menyadari, dia sudah tertawa lebar dan melupakan semua kecanggungannya ‘berkencan’ bersama Abdi.

Semua kegundahan Luisa terlupakan saat Abdi dengan sok memerintahnya ini itu. Dari mencicipi makanan untuknya, sampai mencarikan soda ke dapur.

Sayang, begitu kembali, Luisa mendapati Abdi tidak ada di manapun. Pikiran pertama yang menghampiri Luisa adalah lelaki itu sedang membuat onar di suatu tempat. Itulah yang paling berbekas di benak Luisa tentang Abdi. Pembuat onar. Paling sering membuat kepala orang di sekitarnya pusing mengkhawatirkan dan dibuat malu olehnya. Kehilangan pandangan dari Abdi biasanya bukan pertanda bagus. Maka Luisa bergegas. Dia harus menemukan Abdi. Sebelum kekacauan—yang mungkin atau mungkin tidak sedang diciptakan—semakin membesar.

Di pojok taman kecil di luar gedung pesta, Luisa menemukan Abdi. Sedang pipis. Atau sedang mengencingi pohon perindang di samping gedung.

Lengkingan suara Luisa untuk memanggil Abdi tidak pernah terdengar. Keduluan oleh gelak tawa feminin. Tak butuh waktu lama bagi Luisa untuk melihat seorang pelayan wanita—yang rambutnya yang pirang seharusnya tersimpan dalam cepol rapi tapi kini sudah lepas, ujungnya meliar dari ikatan—mendatangi Abdi sambil bertepuk tangan, kemudian menggelayut manja di lengan lelaki itu. Wanita itu tampak lebih tua dari Abdi, mungkin seusia Luisa, tapi jelas bersikap lebih muda. Bebas dan tak terkekang aturan. Menarik sekaligus mudah didekati.

Wanita itu dan Abdi saling berangkulan dan bertukar gumaman sebelum wajah Abdi merunduk dan—Tuhan, jangan biarkan hati Luisa anjlok sampai ke mata kaki—wajahnya sangat dekat dengan wajah wanita itu. Luisa terkejut ketika melihat alih-alih mencium, Abdi hanya membisikkan sesuatu di telinga wanita itu.

Telinga Luisa kebas. Bisikan-bisikan Abdi terngiang lagi olehnya. Namun meski panasnya sama, efeknya justru membuat perasaan Luisa membeku.

Abdi lantas melihatnya. Seringai anak nakal menghiasi wajahnya dan dia sempat menepuk pantat si pelayan pirang sebelum kemudian menghampiri Luisa. “Ayo makan lagi.”

Luisa menekan rasa mualnya.

Entah berapa menit kemudian mereka akhirnya bermobil pulang. Meski tak ingin bicara, tapi Abdi berhasil membuat Luisa menanggapi berbagai macam teorinya tentang ekonomi makro. “Dasar mahasiswa baru,” ejek Luisa saat Abdi ngotot mempertahankan pandangannya yang oh-so-text-book sekali.

Mereka sampai di rumah dan Luisa segera berganti baju. Sebentar lagi gelap dan entah kenapa hari ini terasa sangat melelahkan. Dia hendak turun melewati kamar Abdi setelah berganti pakaian. Di tangga teratas wanita itu berseru, “Abdi, kamu masih mau makan atau tidak?”

Kepala Abdi melewati kusen pintu. “Tidak. Aku mau pergi lagi.”

Sebuah batu memutuskan menetap di dada Luisa. Seharusnya dia tahu.

“Pelayan yang tadi?” mencoba tenang, Luisa bertanya sambil mencoba tersenyum.

“Yep. Dia mengajakku ke bar di kota.”

Luisa menuruni tangga, tahu dia tak akan bisa mengatur ekspresinya meski ingin. Perasaannya terlalu kebas. “Hati-hati. Jangan lupa pakai kondom!” serunya dari lantai bawah.

Tak ada jawaban. Luisa juga tidak berharap banyak. Dia mengambil coklat dan menuangkan susu begitu sampai di dapur. Mencampurkan keduanya di dalam panci, kemudian dia menjerangnya di atas kompor. Abdi muncul di dapur dengan pakaian skater berlapis-lapis saat Luisa sudah menyesap susunya. Lelaki itu meremas kedua lengan Luisa kemudian mengecup pelipisnya. “Aku pergi dulu,” katanya bersemangat.

Merasa tepat kebalikannya, Luisa ber-“emh-heh” singkat. Saat gemerincing kunci masuk kantong terdengar, Luisa berseru, “Abdi, bajumu tadi ditaruh mana? Harus segera di-laundry supaya tidak rusak…!”

Sesaat tak ada jawaban, tapi lalu wajah Abdi muncul di pintu dapur. Dia tampak menyesal, meski tidak terlalu. “Aku menaruhnya di atas kasur. Maaf, tapi aku hampir terlambat.”

Luisa menghela napas. Wajahnya jelas menunjukkan raut tidak suka. Yah, paling tidak, untuk urusan ini dia bisa bersikap jujur. “Aku tidak mau mengurusi pakaianmu terus, Abdi. Kamu tidak bisa melakukan ini terus.”

Abdi kembali memasuki dapur. “Maaf… Benar-benar minta maaf. Tapi, ayolah, Luisa. Gwen sudah menunggu—“ jadi namanya Gwen “—aku tidak enak. Atau kau tinggalkan saja pakaiannya, nanti aku bereskan sendiri.”

Wajah Luisa makin keruh. “Aku mengharapkan paling tidak kamu punya perasaan saat mengabaikan baju yang kubelikan untukmu. Itu baju bagus, Abdi!”

“Uuurgh!” Abdi menggeram jengkel lalu Luisa mendengar suara kaki berderap di tangga. Tak lama kemudian, suara itu terdengar lagi dan Abdi muncul di pintu dapur sambil membawa tas kain tipis berisi setelan yang tadi dia pakai. “Ini! Aku musti letakkan di mana?!” sewotnya.

Luisa menunjuk ke atas meja dapur. Abdi meletakkannya di sana kemudian berbalik pergi. Baru beberapa langkah, lelaki itu berbalik dan mengacungkan telunjuk pada Luisa. “Dan panggil aku Mas! Berapa kali sih harus kuingatkan?! Aku ini kakak sepupumu!”

Abdi bahkan tidak menunggu jawaban Luisa. Dia melesat begitu saja. Luisa mengejarnya dan di pintu dia berteriak, “Sepupu tidak dihitung kakak!”  dia membanting pintu. Membukanya lagi, dia berteriak, lebih kencang kali ini, “Dan aku lebih tua darimu! Lima tahun, Abdi!”

Luisa menolak memandangi punggung Abdi. Sekali lagi dia membanting pintu dan buru-buru dia kembali ke dapur, menghabiskan coklatnya dalam sekali tegukan.

Hanya dalam waktu satu sore, semua kebahagiaan Luisa berubah jadi amarah konyol. Ya, dia malu, dia gelisah, dia merasa canggung saat Abdi bersedia menjadi ‘kencan’nya tadi. Tapi dia tetap merasa bahagia. Lalu dia menjadi tidak bahagia. Hanya karena si Gwen sialan yang tawanya seperti burung woodpecker itu! Dia harus menghabiskan malamnya sendirian karena Abdi-nya disandera oleh wanita murahan yang memakai dasi kupu-kupu dan oxford lelaki untuk bekerja!

Kesal karena tahu ada yang salah pada pola pikirnya dan keposesifannya terhadap Abdi, Luisa meraih setelah lelaki itu kemudian melemparnya ke tempat sampah.

Terbayang dalam benaknya saat memilih setelan itu. Dia membayangkan Abdi akan keren memakainya dan dia tidak keliru. Abdi memang keren sekali dalam balutan setelan pilihannya. Tapi kemudian Abdi tetap memilih stok pakaian skater-nya dan wanita yang mungkin lehernya dikalungi rantai hitam. Bukan susu coklat hangat dan pembicaraan yang nyaman di rumah. Tentu saja, secara logika, Abdi pasti akan memilih wanita hot yang menawarkan diri—dan tempat tidur—padanya dibandingkan sepupu lebih tua yang keahliannya mendebat materi kuliah.

Ponsel Luisa berbunyi. Ada pesan masuk dan hampir tanpa berpikir Luisa membuka pesan itu.

From: Abdi

Aku minta maaf tentang setelan itu. Aku akan pulang malam ini. Tidak terlalu malam. Hanya nongkrong dengan Gwen dan teman-temannya.

Luisa menelan kekesalannya. Kali ini lebih mudah dilakukan. Oh dia masih kesal, tapi—Luisa mulai membuat rencana di kepalanya—kekesalannya tidak lagi sekeras batu. Hanya gumpalan seperti play-doh yang mudah didorong oleh air dan besok pagi sudah keluar dari tubuh. Baiklah, sudah diputuskan, Luisa akan mendorong kekesalannya dengan menonton film.

Sebelum keluar dapur, dia melihat pakaian di tempat sampah. Kekesalannya datang lagi. Agak penuh emosi, didatanginya tempat sampah dan menjejalkan pakaian itu ke dalamnya. Dia dan setelan itu sudah bergesekan dalam sebuah dansa aneh yang menggelisahkan, itu mungkin cukup menyenangkan untuk diingat, tapi setelan itu juga sudah bergesekan dengan Gwen si tukang nongkrong; jadi tidak, Luisa tak mau melihat setelan itu lagi, sesempurna apapun jatuhnya setelan itu di tubuh Abdi.

Fine suit my ass, pikir Luisa sambil menyambar ponselnya.

To: Abdi.

Tidak usah pulang! Main saja terus biar kulaporkan pada Om Gilang kerjaan anaknya yang di Amerika ngakunya kuliah!

Dikirim.

Luisa menyalakan komputer portabelnya dan mengambil posisi nyaman di sofa. Senyumnya merekah sekejap, tapi lalu wajahnya serius lagi saat film dimulai.

Dia baru saja hendak seratus persen berkonsentrasi saat ponselnya berbunyi. Menilik pengirimnya, Luisa tersenyum.

From: Abdi

.

.kkeut.

Iklan