Tag

, , , , ,

858w. Also at SaladbowlPacaran anak muda zaman sekarang, ck…ck…ck…

.

Jongin memasukkan tangan ke saku. Dahinya mengerut khawatir tapi dia tetap melangkah menyesuaikan ritme langkah Sehun. Dilemparkannya pandangan ke arah Sehun dan tanpa berpikir mulutnya berkomentar, “Harusnya kau ganti baju dulu.”

“Kelamaan,” ucap Sehun hampir tanpa berpikir.

Jongin membuka mulut dan rangkaian nasihat meluncur panjang. Seseorang akan mengenali Sehun lah, seragamnya akan jadi kotor lah, memalukan lah, semua berputar-putar tanpa benar-benar diperhatikan oleh yang punya seragam. Sehun pikir, peduli amat, toh besok hari minggu.

Kadang Sehun iri pada Jongin yang tidak harus memakai seragam untuk bekerja. Dia bisa memakai apapun yang dia suka ke tempat bekerja dan itu membuatnya selalu tampak keren.

Kepala Sehun ditepuk dari belakang, “Siapa suruh kau masuk ke perusahaan. Kau sudah kuajak masuk agensi tapi tidak mau,” Jongin berkata. Rupanya Sehun menyuarakan pikirannya keras-keras.

“Jadi, di mana?” Sehun bertanya, separuh untuk membuat kesal Jongin dengan sengaja mengabaikannya, separuh untuk mengalihkan pembicaraan dari topik tak penting.

Jongin memandangnya seolah berkata, “Serius, masih nanya?!”

Taman, kalau begitu, putus Sehun. Mereka lalu berjalan tanpa bicara menuju taman.

Sesampainya di taman, beberapa orang menyapa Sehun dengan gembira. Sudah lama, ke mana saja, orang hilang sudah ketemu, kata mereka. Sehun tersenyum kecut. Dia menyibukkan diri menggulung lengan seragamnya hanya agar tidak terpancing menjawab ejekan orang-orang ini.

Lalu Sehun mulai menari. Ini kelompoknya. Dia bernapas bersama mereka. Dia tahu orang-orang ini seperti galur-galur di telapak tangannya sendiri. Dan dia tahu menari sebagaimana Jongin tahu bagaimana menggerakkan tubuhnya di atas panggung. Dia dan Jongin sudah seperti pacaran kalau yang dibicarakan adalah masalah tarian, tak peduli meski dibilang homo atau apa. Dan dia merasa matanya mulai aktif kembali sekarang, saat dia mulai menari lagi, mengamati teman-temannya bergerak, mengantisipasi gerakan berikutnya yang mungkin terjadi.

Seseorang menepuk pundaknya. “Bir, kawan?” Sehun tersentak. “Kau tidak ingin turun dan menari lagi bersama mereka?” orang itu—kalau tidak salah namanya Jackson, dia hanya bertemu orang ini sebentar sebelum kantor mulai menariknya keluar lingkaran—bertanya di sebelahnya.

Baru disadari Sehun, dia ternyata tidak mulai menari. Matanya hanya menatap dan memerhatikan orang-orang ini dan seolah tubuhnya sudah bergerak. Tapi nyatanya dia tidak bergerak sama sekali. Hanya terpaku di tempat.

“Tinggalkan dia, Son!” Jongin berteriak dari tengah kerumunan.

What?!” Jackson balas berseru, pundaknya terangkat. “Aku hanya mengajaknya bicara. Sudah lama kami tidak bertemu!” lalu Sehun mendengarnya menggerutu dengan suara lebih kecil, “San-son-san-son, stop calling me Son! Call me Jack!”

Sehun ingat, Jackson bukan orang Korea. Dia orang Amerika. Orang Cina yang tinggal di Amerika, maksudnya.

“Kenapa dia memanggilmu Son?” bukan [sǝn] atau [jæk], sambung Sehun dalam hati. Dia punya dugaan Jongin memanggil orang ini ‘son’ sebagi kependekan dari ‘sontoloyo’.

I don’ know, man. He’s crazy in there,” Jackson memutar jari di sekitar kening.

Sehun ingin tertawa, Jongin memang agak gila, tapi bibirnya tidak terangkat sedikit pun. “Dia temanku,” jawabnya tanpa berpikir.

Jackson menatapnya datar lalu berdeham setelah Sehun melihat pendar di matanya. Malu? Tidak enak? Menganggapnya aneh? Anak itu menunjuk ke tengah taman di mana semua orang berkumpul, “Aku akan menari. Sampai jumpa lagi, Sehun… Hyungnim.” Panggilan terakhir itu membuat Sehun terkejut. Dan mengernyit. Tidak ada hyung siapapun di tempat ini. Semua orang sama-sama menari, tidak ada urusannya dengan usia atau senioritas. Kalau ada yang menggunakan panggilan hormat justru rasanya seperti penghinaan.

Jackson terlihat bicara dengan Jongin, membuat temannya itu melirik ke arahnya. Mereka lalu menari sebentar sebelum Jongin berhenti dan berlari ke arahnya.

Mereka berdiri tanpa bicara. Bersandingan menonton para penari di tengah taman. Kemudian suara Jongin memecah keheningan, “Sehun… Hyungnim?” Sehun memutar mata. Jongin menatapnya lama. Temannya itu berkata, “Telepon dia,” sebelum kembali ke tengah taman dan menari.

‘Telepon dia’?  Dia siapa? Jackson? Buat apa? Memangnya kenapa dia harus mene—Sehun menunduk—Oh. Teleponnya terbuka. Menyala. Di laman percakapan dengan Marischka.

Dia tidak akan menelepon Marischka. Marischka sedang liburan. Dia juga libur dari Marischka. Ini adalah boys’ night. Saatnya dia main dan berpuas ria bersama teman-temannya. Kalau Marischka bisa puas jalan-jalan dengan temannya, seharusnya Sehun bisa puas kembali menari di taman ini.

Yep, begitu saja, putus Sehun. Dia pun bergerak ke tengah lapangan dan mulai mencari celah untuk berduet dengan Jongin. Seperti masa-masa menyenangkan yang dulu. Sebelum dia membenturkan kepalanya tiap kali bergerak.

“Yha!” Jongin menarik lengan Sehun dengan nada kesal yang tertahan. “Minggir sana!” bentak Jongin sambil berbisik di telinga Sehun. “Area ini untuk mereka yang mau menari, bukan yang sedang merana ditinggal jalan-jalan pacarnya!”

Sehun melotot. Jongin melotot lebih galak. Sehun melipir mundur. Dia kembali ke pinggiran. Berbalik, dia berteriak kesal ke arah Jongin, “Aku tidak merana!”

Suaranya kalah oleh musik yang sedang mengiringi tarian Jongin. Kampret.

Setelah itu, sepanjang malam, Sehun hanya bolak-balik dari pinggiran ke tengah. Saat dipelototi oleh Jongin, dia terpaksa mundur lagi. Tapi dia segera lupa jika sudah melihat ponselnya. Di pinggiran, yang dilakukannya hanya mengecek ponsel, masih di laman chat-nya dengan Marischka. Lalu dia mendongak dan melihat Jongin menari, dan dia lupa tadi sudah diusir beberapa kali. Mendekat, dipelototi Jongin, mundur lagi, mengecek ponsel lagi. Begitu lagi, berulang-ulang.

Sampai botol birnya yang ketiga. Di tetes terakhir, ketika dia baru kembali ke pinggiran, setelah dipelototi Jongin, ponselnya bergetar. Tangan Sehun ikut gemetar. Di sana ada: “Sudah tidur?” dari Marischka.

Sehun memencet huruf pertama. Lalu kedua. Lalu ketiga. “YHAA! KENAPA BARU MENGHUBUNGIKU?!!!”

.

semar4a

-cut-

Iklan