Tag

, , , ,

Word count: 140w

http://wp.me/p1rQNR-iz

…/

“Jangan cemberut…” bujuk awan.

“Aku tidak cemberut!” Hanya memelototi airmu, batinku.

“Kau tahu dia sibuk…” ujar angin sambil menari.

Aku tahu awanlah yang terlalu sibuk. Aku hanya melirik jengkel pada angin.

“Hei,” pohon melambai-lambai, satu, dua, tiga daunnya gugur. Aku menoleh. Tangkai-tangkai bergerak. Dan aku tak bisa tidak tersenyum.

“Sudahlah, aku tidak apa-apa. Terima kasih atas tawaran pelukannya,” kataku. Pohon selalu jadi yang paling diam, tapi paling peduli.

Air berloncatan gembira bertemu tanah. “Ayo menari bersama kami. Ayo! Ayo!” suara-suara kecil mereka memaksaku tersenyum. Tapi malas.

Aku menunduk. Sedih. Bahkan aku tak bisa melihat tubuhku sendiri. Merahku, jinggaku, kuningku, hijauku, biruku, nilaku, unguku, semuanya tak berdaya. Dia tak datang. Tak pernah datang meski awan sudah membawakan air untuknya berbias. Padahal yang lain berusaha menyenangkanku, tapi kenapa dia tidak datang?

Aku ingin tampil cantik, dan untuk itu aku mau matahari, titik.

/…

Iklan