Tag

, , ,

289w. Ini agak mengerikan. Tapi toh ini sudah jadi. Enjoy. Or not.

.

“Hello,”

Oh wow. Ada yang menyapaku.

“Haha, kenapa tidak?”

Kau bisa mendengarku?

“Jelas sekali.”

Lucu, aku bahkan tidak mengatakan apapun.

“Tidak perlu. Aku mengerti dirimu.”

Itu… agak menakutkan.

“Tenang saja, tidak ada yang perlu ditakutkan. Kau sudah aman.”

Aman. Aku bahkan tidak tahu aku dalam bahaya.

“Tadinya. Sekarang kau aman.”

Bagaimana bisa? Dan bagaimana bisa kita bicara sementara aku tidak mengatakan apapun?

“Untukmu, bahaya sudah berlalu. Kau tinggal menunggu dengan tenang sekarang. Dan sudah kubilang tadi kan, aku mengerti dirimu.”

Bagaimana kau bisa mengerti diriku kalau aku saja baru pertama bertemu denganmu?

“Ah, kau masih lupa rupanya. Kau adalah bagian dariku.”

Aku tidak lupa apapun. Aku masih ingat semuanya. Tapi aku tidak mengerti. Atau… aku tidak tahu bagaimana aku bisa sebagian darimu.

“Oh, kau tahu. Kau tahu sekali. Kau hanya lupa. Seperti yang lain.”

Bagaiman—

“Waktu akan menjelaskannya padamu kalau kau masih bingung.”

Ha! Haha! Klise sekali. Waktu.

“Dia punya kemampuan yang unik, si waktu ini, jadi ya… dia akan memberitahumu atau lebih tepatnya menjelaskan padamu.”

Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau bicarakan.

“Tidak apa-apa. Pada akhirnya nanti kau akan mengerti. Sekarang beristirahatlah. Pasti kau lelah setelah berjuang cukup lama.”

Ya, aku memang agak lelah.

“Jadi beristirahatlah. Nikmati waktumu sekarang.”

Waktu lagi.

“Betul. Waktu memberimu beberapa.”

Beberapa apa?

“Beberapa waktu.”

Kau membuatku pusing.

“Saat kau sudah kembali menjadi bagian dariku maka kau akan mengerti dengan sendirinya. Bagaimanapun juga, tanah akan kembali ke tanah.”

… Sial. Kau benar. Terima kasih sudah mengingatkan bahwa aku tinggal menunggu saatnya kembali menjadi tanah.

“Tidak seburuk itu kok. Tenang saja. Andai kau bisa melihat mereka, di kanan kirimu, mereka semua sama-sama sedang mulai mengerti apa sebenarnya yang dilakukan waktu pada kita. Kita akhirnya akan bersatu kembali.”

Menjadi segumpal tanah.

.

.kkeut.

Iklan