Tag

, ,

700w. Apakah perasaan itu hal yang nyata?

.

“Tapi—“

Dia menatapmu dengan tatapan bosan. Kau berusaha menenangkan diri, mencoba mencari kata-kata yang tepat agar dia memberikan jawabannya, menjelaskannya padamu… mengerti apa yang hendak kau katakan. Kau menarik napas dan menghitung sampai lima sebelum memulai lagi.

“Aku tidak melihat adanya keuntungan dengan memisahkan kami. Justru kalau kami bersama bukankah kau pikir mereka dengan mudah menemukan semua yang mereka butuhkan dengan sekali melihat?”

Ada sinar kasihan yang memancar darinya padamu sembari menjawab, “Itu kan menurut logikamu. Menurut logika mereka, itu tidak benar. Dan jangan lupa, mereka berperasaan.”

Kau berusaha menenangkan ketersinggungan yang menerjangmu cepat bagai cheetah. Pelan, pelan sekali, kau kendalikan amarahmu. “Justru aku bicara begini karena aku juga berperasaan,” memang kau pikir aku tidak punya perasaan? “Kalau mereka tumbuh, aku juga. Aku punya sel-sel yang sama seperti mereka. Berkembang, beraktivitas, dan karenanya, aku punya emosi.” Jangan katakan kau sendiri tidak punya emosi, karena kalau tidak, kau tidak mungkin kesal padaku sekarang. “Kenapa kau bilang mereka berperasaan seolah kita tidak?”

Dia masih menatapmu. Seumur hidupmu kau tahu dia selalu menatapmu. Tidak pernah ada yang tahu kapan kita akan mati dan dipisahkan dari dia yang selalu berada di samping kita, tapi kita selalu bisa menghargai waktu dengan sebaik-baiknya. Dan kau bersyukur dia hanya menatapmu selama ini.

“Kau pun bosan padaku, kan?” kau bertanya padanya.

Dia memberimu pandangan menilai. Kau menyambung cepat karena kalau ada yang bisa kau manfaatkan untuk memenangkan argumen ini, itu adalah kemampuan berpikirnya yang sangat mendalam hingga selalu membutuhkan waktu ekstra untuk akhirnya menjawab. “Aku selalu di sini. Memberimu semua pertanyaan yang kau punya jawabannya tapi tidak pernah membuatku puas. Logikaku tidak bisa menerima semua ini begitu saja dan aku merasa kita berhak menginginkan lebih. Aku ingin berada di sana karena di sana aku bisa bersamanya. Kita sudah berapa lama di sini? Seharusnya kau sendiri muak padaku karena selalu membuatmu berpikir.”

Dia menatapmu tapi tidak benar-benar menatapmu. Lalu menggumam. “Aku tidak menginginkan lebih. Aku baik-baik saja meski selalu bersamamu dan hanya di sini.”

Ada yang bergerak di dalammu dan kau mengenali itu sebagai rasa bersalah. Tapi kau masih menginginkan bersama dia yang di sana. “Dengar, maafkan aku. Aku juga baik-baik saja bersamamu. Tapi rasa inginku ini karena aku merasa tidak adil. Kenapa kita harus selalu di sini sementara dia bisa di sana? Apa yang benar-benar membedakan kita dari dia? Kita ada karena mereka, dan mereka menentukan dia bisa di sana sementara kita cukup di sini.”

“Tapi di sini lebih sejuk dan nyaman. Kau tidak berpikir begitu? Bukankah kita lebih beruntung?”

“DAN karena itu juga!” kau menemukan koneksimu. “Kenapa dia harus di sana sementara kita bisa di sini? Apa dia tidak berhak mendapatkan kenyamanan seperti kita? Kenapa semua hal harus dikelompokkan? Kenapa ada himpunan di dunia ini? Kenapa ada kelompok? Bukankah semuanya sama dan saling melengkapi? Bukankah kalau misalnya dia,” kau menunjuk dia yang lain, yang berdiri di seberang kalian, “berada di sini, kita justru bisa saling melengkapi? Kenapa kita harus berada dalam kelompok berbeda? Sekali lagi, kenapa harus ada kelompok?”

Dia termangu. Lalu jawabannya membuatmu ingin melemparnya dengan brutal, “Karena sudah semestinya.”

Kehilangan kesabaran, akhirnya kau berteriak, “Siapa yang memastikan? Siapa mengharuskan?!”

Dia diam saja.

“Selamat datang!” di kejauhan terdengar suara.

Lalu  sesosok perempuan tampak menenteng keranjang belanja. Perempuan itu berjalan ke arah dia yang kau ingin bersamanya. Kau menatap sengit. Bukan karena iri karena perempuan itu berada di sana dan kau berada di sini tak terlihat di matanya, tapi lebih karena kau berpikir seandainya kalian berdekatan, perempuan itu pasti bisa melihatmu juga. Perempuan itu mengulurkan tangan dan dia yang kau ingin bersamanya berpindah ke dalam keranjangnya.

Kau menghela napas kesal. Di sebelahmu, dia terus menatapmu. “Perempuan itu sedang datang bulan. Dan kurasa dia tidak lapar. Kalau tidak dia pasti sudah menghampiri kita,” dia berkata pelan, nadanya menghibur.

Kau ingin menoyor kepalanya, tapi tidak bisa, bungkusan roti tidak punya tangan, dan bungkusan roti tidak punya kepala untuk ditoyor. Meski kalian seharusnya sama-sama kotak dengan pembalut dan kau pikir, sangat masuk akal jika yang berbentuk kotak bisa ditempatkan di rak yang sama dan bukannya dipisahkan. Sel-sel ragi di dalammu saat ini pasti berkembang lebih cepat karena kekesalanmu membuat suasana semakin panas.

Dasar manusia. Sukanya pilih-pilih dan main kelompok-kelompokan. Sungguh kau benci sifat mereka yang satu itu.

.

.kkeut.

Iklan