Tag

,

1,958w. First encounter of a young healthy octopus with a dominant species.

.

Changmin adalah seekor gurita. Memang aneh. Dia adalah seekor gurita, dan dia tahu dia seekor gurita, dan dia tahu dia bernama Changmin. Alasan paling bagus untuk fakta ini adalah bahwa dirinya merupakan gurita terpintar yang pernah dia temui. Jika ada yang berpikir gurita adalah makhluk bodoh yang bergerak berdasarkan insting, mereka itulah sebenarnya yang bodoh. Changmin tampan, kepalanya besar dan gagah, tentakelnya panjang, dan meskipun dia tidak begitu suka berolah raga, dia tahu alat penghisap terbesarnya bisa menahan beban hingga 16 kg. Kalikan saja dengan semua alat penghisap yang dia punya, maka dia bisa mengangkat sebuah kapal karam dengan mudah.

Baiklah, itu mungkin berlebihan, tapi bukan berarti tidak benar. Changmin tidak pernah mencobanya, namun bukankah insting ada karena kesadaran diri yang tidak terbaca? Maksudnya, Changmin bisa mengukur apakah sebuah benda—uhuk, mangsa—bisa dia tahan atau harus dia lepaskan. Kemampuan itu berasal dari instingnya. Namun meski dia bergantung pada insting, dia selalu menelaah dengan cermat, mengingat-ingat seperti apa tekstur benda yang lepas dari rabaannya, sehingga dia bisa melakukan perkiraan dengan otaknya, bukan hanya dengan instingnya.

Gurita juga punya otak, kalian tahu? Dan Changmin memastikan dia menggunakan organ berharganya itu semaksimal mungkin.

Seperti saat ini, ketika dia, seekor gurita yang baru dewasa sedang tidak punya kerjaan kecuali bernapas dan mengatur tiga buah jantungnya untuk bekerja sebaik mungkin, dia berpikir. Dia baru saja makan dan sudah berolahraga melawan kepiting besar selama dua menit tadi sebelum akhirnya si kepiting menyebut nama Tuhan sesaat sebelum masuk ke dalam mulutnya. Mm, santapan yang nikmat. Dan olah raga yang menarik, dua menit tadi. Untung air di sekitarnya dingin, mungkin 7 atau 8 derajat celcius saja; kalau tidak, Changmin pasti sudah berkeringat.

Intinya sebenarnya bukan itu. Pikirannya memang terkadang mengembara seenaknya kemana-mana seperti satu tentakelnya yang tidak bisa diatur. Changmin tadi hendak berpikir bahwa kehidupannya sudah memuaskan. Memang dia tidak punya ibu. Seingatnya, ibunya sudah melepasnya dulu saat dia baru saja bisa melayang-layang sebagai plankton. Lalu dia banyak bertemu saudaranya yang berenang-renang juga tidak tentu arah—menjadi planktonis, itu istilah yang dia pakai—dan dalam prosesnya, dia sudah bertemu berjuta-juta calon adiknya yang ditembakkan oleh ayahnya (atau bukan ayahnya) dari jarak beberapa meter sebelum bertemu dengan sel telur ibunya. Karena gurita tidak kawin sambil bersentuhan, maka Changmin tidak tahu sel sperma mana yang milik ayahnya dan yang mana yang milik pejantan lain. Selain itu, Changmin juga tidak pernah tahu yang mana sebenarnya ayahnya.

Tentakel Changmin mengular di kolom air dan mendarat di atas anemon berjambul di sekitarnya. Tubuhnya tenang karena baru saja makan dan perairan di sekitarnya juga sedang tenang. Meski tidak bisa mendengar, Changmin pasti merasakan getaran kalau ada yang datang berbelas-belas meter dari tempatnya sekarang. Tentakelnya yang bergerak-gerak, berdansa mengikuti arus kolom air yang seperti bermain-main di sekitarnya. Pikirannya sendiri melayang pada ayahnya. Seperti apakah ayahnya? Apakah ibunya sempat mengenali ayahnya cukup lama sebelum menerima sperma darinya dan memberikan kesempatan bagi Changmin dan saudara-saudaranya untuk hidup dan tidak dimangsa oleh pejantan-pejantan lain?

Pikiran itu membuat Changmin bergidik. Kalau membayangkan bahwa saat ini hanya tinggal beberapa saja dari saudaranya yang masih hidup dan bisa mencari makan, Changmin merasa ngenes. Dia masih bisa merasakan dengan jelas ketika aura membunuh itu membayangi masa-masa remajanya. Changmin tidak mengerti mengapa gurita-gurita jantan dewasa senang menyantap gurita-gurita yang lebih kecil. Bukankah bisa jadi mereka menyantap anak mereka sendiri? Bagaimana kalau semua gurita kecil habis disantap? Bukankah ketika yang dewasa mati maka tidak ada lagi yang bisa disantap?

Sebuah getaran terasa di kolom air dan mendadak Changmin berhenti berpikir. Gerakan itu lincah dan bersemangat. Iramanya dikenali dan Changmin segera tertarik akan denyutan yang sampai di saraf-saraf penerima getarnya. Aroma, ada aroma yang terbawa hingga ke lubang perasanya. Lubang perasanya ada di seluruh porinya, maka dia tidak mungkin salah bahwa ini adalah aroma gurita muda.

Mendadak Changmin merasa lapar lagi.

Menyadari hal itu, Changmin tertegun sesaat. Ternyata aroma gurita muda begini menggiurkan untuk disantap.

Changmin akhirnya melihat calon mangsa lezatnya. Dia lewat di depan Changmin, hanya sedikit lebih besar dari anak si kepiting yang tadi baru saja dia mangsa. Dia biarkan si anak kepiting pergi saat dia menyantap ayahnya. Dalam hati ketika itu Changmin agak merasa bangga karena bisa membebaskan anak kepiting dari ancaman dimangsa oleh ayahnya sendiri. Tapi sekarang, Changmin tidak tahu dimana rasa bangganya karena dengan malu Changmin mengakui, si anak gurita itu begitu menggiurkan untuk diserang dan dilahap.

Si anak gurita berhenti berenang. Jaraknya pas sekali dengan jangkauan tentakel Changmin. Tapi Changmin menunggu dan bertahan. Katup napasnya meniup-niup teratur dan Changmin tahu si anak gurita tahu dia sedang diawasi. Pada usia segitu, pandangan anak kecil itu belum setajam Changmin, tapi Changmin yakin dia pasti bisa merasakan aura hendak-menyantap yang dipancarkan Changmin, karena sedetik kemudian dia berenang cepat sekali menjauh dari tempat itu.

Changmin tidak mengejarnya. Saat si anak gurita menjauh, bayangan kepiting santapannya tadi kembali memenuhi benaknya dan Changmin kembali merasa cukup. Dia masih kenyang. Dia membiarkan getaran air beriak lucu seiring getaran kabur si anak gurita.

Changmin menutup matanya perlahan, menikmati kembali alam di sekitarnya dan tidak terlalu peduli tentang apa yang terjadi. Setelah makan rasanya keinginan berpikirnya tidak terlalu kuat seperti seharusnya. Tapi bukannya Changmin protes juga sih. Dia senang bisa tidur sejenak setelah makan.

Maka dari itu Changmin merasa kaget luar biasa ketika lingkungan di sekitarnya mendadak berubah. Ketenangan yang tadi dirasakannya mendadak tegang. Dia sedang diamati, dan Changmin hanya perlu membuka mata untuk tahu siapa yang sedang mengincarnya.

Ketika dia melakukannya, Changmin agak bingung. Ini bukan aura membunuh. Ini bukan aura memangsa. Tapi ini sesuatu yang berbeda yang mengganggu Changmin.

Di sekitarnya, muncul makhluk-makhluk yang sama besar sepertinya, mengeluarkan gelembung-gelembung udara besar-besar. Changmin tidak mengenal warna, tapi dia tahu makhluk-makhluk ini berwarna lebih gelap dari kolom air di sekitarnya. Tentakel mereka lebih sedikit dari yang dimiliki Changmin dan salah beberapa ada yang terjulur ke arahnya.

Ah, ada satu yang tampak terang. Sepertinya mereka bukan makhluk yang sama, sebab sebagian dari mereka memiliki tentakel yang berbeda bentuknya. Tentakel yang berbeda itu memiliki sesuatu yang berkedip-kedip di ujungnya dan Changmin tidak bisa merasakan sama sekali dia itu hendak membunuh atau hanya penasaran mengamati seperti yang lain.

Mereka tidak mendekat, jadi Changmin memberanikan diri mendekatkan salah satu tentakelnya ke arah mereka. Rasa penasarannya demikian besar sampai-sampai Changmin merasa tentakelnya gatal ingin tahu.

Changmin berhasil mengecap salah satu makhluk yang berkedip-kedip dan rasa penasarannya makin besar. Makhluk ini memiliki tentakel yang tidak enak dan keras. Tidak ada aroma yang bisa dirasakan alat penghisap Changmin ketika organnya itu melekat ke kulit si makhluk aneh. Changmin langsung kehilangan selera.

Dia mengurai tentakelnya dan menyentuh tentakel makhluk yang lainnya. Mereka tidak berontak, jadi pasti mereka tidak berbahaya. Dan kemungkinan besar tidak cocok dijadikan mangsanya. Karena mereka tidak takut tapi—Changmin bisa merasakan—tertarik padanya, maka Changmin memutuskan dia tidak terlalu berselera menanggapi sesuatu yang tidak bisa dimakan.

Saat Changmin melepaskan rabaan penasarannya pada para makhluk itulah, dia terkejut setengah mati. Mereka mencengkeramnya!

Sial, sial, sial!

Changmin harusnya sudah menduga bahwa mereka tidak mungkin tidak berbahaya. Ini pertama kalinya Changmin melihat makhluk seperti mereka, dan makhluk asing tidak pernah tidak berbahaya kecuali mereka sudah mati. Harusnya Changmin cepat-cepat menyelinap saja tadi. Atau menyamar. Atau berenang cepat pergi. Tapi semuanya terlambat.

Belum sempat Changmin berpikir, dia merasa kulit kepalanya bergetar di bagian yang berkerut-kerut. Changmin memiliki bagian kepala yang kulitnya mengerut. Dia dan semua saudara sekandungnya punya, agak berbeda dengan saudaranya yang berasal dari ibu dan pejantan yang lain. Getaran itu membuat lubang napasnya agak tersengal. Changmin tidak suka perasaan ini.

Para makhluk itu memegangnya lembut. Tidak sakit, tapi Changmin tetap tidak suka. Apalagi ketika dia tahu bahwa tentakel-tentakel mereka ada yang memiliki tentakel yang lebih kecil yang sekarang sedang membelai salah satu tentakelnya. Ugh, Changmin bingung dengan rasa ini.

Changmin bernapas lebih cepat untuk menyemprotkan air yang lebih kuat, menakut-nakuti para makhluk aneh ini, tapi tidak ada gunanya. Mereka malah menguasai Changmin, menahan semua tentakelnya dan mengelus-elusnya. Saat tentakel-tentakel kecil mereka menyentuh alat penghisap Changmin satu per satu, Changmin bergidik.

Changmin tidak pernah bergidik sebelumnya dan tentu saja gurita tidak bergidik. Tapi kali ini Changmin bergidik.

Tentakel-tentakel kecil itu terus menggelitikinya. Ada yang mengusap kepalanya berkali-kali, dan jujur saja itu membuatnya tenang. Ada yang terus mengelus-elus bagian atas tentakelnya. Dan banyak yang meraba-raba alat-alat penghisapnya. Rasanya Changmin lemas merasakan banyak sekali rasa di setiap ujung saraf perasa yang dimilikinya. Kalau gurita bisa bersuara, pasti Changmin sudah melenguh.

Tentakel-tentakelnya terpentang ke segala arah sehingga selaput tentakelnya terpentang lebar. Changmin tidak berusaha menutupi apa-apa; dia suka ketika mengejar mangsa yang membuatnya harus meregang lebar dan ketat. Itu membuatnya senang dan bersemangat dan matanya justru agak terpejam saat melakukannya. Dan meski benci mengakuinya, saat ini, Changmin agak menikmati ketika selaput tentakelnya terpentang lebar-lebar.

Arus yang agak kuat datang dan gelombang air dingin menyapu mulut Changmin.

Di mulut itu, Changmin memasukkan banyak benda. Di mulut itu juga, Changmin mengeluarkan banyak hal. Tidak perlu disebut, tapi di mulut itu, saraf-sarafnya adalah yang paling sensitif. Oh ini aneh sekali. Changmin terganggu, tapi sentuhan para makhluk ini sangat disukainya.

Tubuhnya yang kenyal terasa menggelenyar dan dari dalam Changmin merasa ada kelenjarnya yang memproduksi lendir berlebih. Changmin ingin mengeluarkan lendir itu tapi tidak bisa. Menurut instingnya, saat ini harusnya ada betina, sehingga Changmin bisa menyemprotkan lendir berlebihnya itu.

Tapi betina itu tidak ada, hanya ada para makhluk aneh ini yang terus saja menggerayanginya.

Dan, oh sial, mereka menggerayanginya makin dekat ke arah mulut.

Changmin berusaha berontak kali ini. Karena ini memalukan sekali. Rasanya menyenangkan sekali diobok-obok seperti ini. Tapi dia seekor gurita, gurita muda yang bersemangat dan bangga. Apa kesalahannya sehingga dia menerima nasib seperti ini, merasa senang digrepe-grepe.

Oh, tentakel kecil itu…

Oh…

Oh…!

Oh ya…

Tentakel itu pintar sekali. Kalau Changmin sudah siap menyemburkan lendir berlebihnya, dia tahu pasti dari mana lendir berlebih itu akan tersembur. Dan tentakel kecil itu sepertinya juga tahu dengan tepat.

Jangan…

Oh, jangan…

Jangan berhenti, oh tolonglah…

Rasanya aneh sekali ketika tentakel kecil itu bergerak seperti memastikan setiap gerigi di organ kelamin Changmin. Hmm, rasanya memalukan tapi menyenangkan. Ketika tentakel-tentakel itu bergerak menari menyentuh setiap permukaan di alat kelaminnya. Itu rangsangan luar biasa yang baru pernah Changmin rasakan. Changmin ingin itu dihentikan sekaligus ingin itu diteruskan selamanya.

Oh yeah, rabaannya terasa tepat sekali menyentuh setiap inci tubuh kenyalnya.

Sayangnya, rabaan itu berakhir terlalu cepat. Changmin baru saja mulai pasrah menerima nasibnya, tentakel-tentakel kecil itu sudah berhenti dan meninggalkan tempat yang paling nikmat disentuh.

Secepat itu pula pegangan di tentakel-tentakelnya mengendur dan segera, selaput renangnya ikut mengendur. Changmin merasakan antiklimaks yang sangat tidak menyenangkan. Dan meski kedengarannya sangat aneh, mendadak Changmin merasa malu.

Ada celah di antara para makhluk yang mengelilinya. Dengan sigap Changmin beranjak pergi meninggalkan para makhluk dengan tentakel kecil menyenangkan itu, agak malu karena serius berpikir tentakel-tentakel kecil itu benar-benar menyenangkan. Sekuat tenaga Changmin mendorong air menjauhi para makhluk yang tidak mengejarnya, agak sedih karena sepertinya dia tidak terlalu menarik bagi mereka sehingga tidak terlalu layak untuk dikejar.

Sebelum jauh, Changmin merasakan sebuah tepukan lembut di tubuhnya dan dia hanya melemparkan tatapan sekilas ke arah makhluk-makhluk aneh itu sebelum kembali mendayung menjauh dari mereka.

Oh Tuhan, itu tadi sangat absurd, pikir Changmin.

Dan oh Tuhan, segera pertemukan aku dengan betina, aku sudah siap. Sepertinya.

.

Di sebuah kapal di permukaan laut.

“Itu tadi gurita muda yang sangat bersemangat, bukan begitu menurutmu, Jeff?”

Orang yang dipanggil Jeff mengangguk. Dia menambahkan, “Kuharap dia tidak bertemu gurita jantan lain yang lebih kuat. Kalau tidak dia akan langsung dimangsa. Dan alat kelaminnya tadi sangat jelas terasa. Saat aku merabanya, gerigi di lubangnya bereaksi kuat. Aku rasa dia akan menghasilkan keturunan-keturunan yang kuat nantinya.”

Semua kru kapal dan penyelam mengangguk setuju sebelum mulai membahas temuan-temuan lain selain gurita yang terakhir mereka temui sebelum naik tadi. Tidak ada seorang pun yang berpikir bahwa di bawah sana ada seekor gurita jantan muda yang kelimpungan mencari betina.

.

.kkeut.

Iklan