Tag

615w. Aku tak merokok, tapi terkadang aku melakukannya bersama sahabatku, Damien.

.

smoking.

Namanya Damien. Hobinya makan mie. “Indo**e kesukaanku,” nyatanya suatu ketika. Aku tidak sedang bertanya kala itu. Aku sedang—entah apa.

Namanya Damien. Rambutnya pirang, matanya cokelat terang, dihiasi bilur-bilur warna kopi yang dalam menghanyutkan. Kulitnya putih kemerahan dan keringatnya hampir tak pernah absen melapisi tipis permukaan kulit tempat rambut-rambut pirang halus tumbuh sporadis. Aku ingin menyentuhnya di sana, membelainya saja, bukan macam-macam. Tapi dia tak akan menghargai tindakanku. Dan aku bisa jadi sakit hati karenanya, maka aku mengabaikan keinginanku.

Damien tidak kasar. Meski tidak lembut. Dia menyikutku kalau bercanda. Terkadang kami saling menempeleng kepala masing-masing. Main-main saja, tak ada yang serius. Lalu terkadang dia membiarkanku menyalin catatannya. Jarang saja, tak ada yang keseringan. Kebaikannya biasanya tercetus saat dia mengajakku duduk di bar. Nongkrong saja, tak ada yang benar-benar punya acara. Atau mungkin dia bisa punya acara namun dia memilih bersamaku.

Best friend forever. Teman terbaik selamanya. Ha. Lucu. Kalau di Jakarta, mereka akan memanjangkannya secara berbeda, TTS itu. Teman tapi sayang.

Aku dan Damien memang begitu. Teman tapi sayang—sayang dia tak menyayangiku; kira-kira begitu. Padahal aku jadi belajar merokok karena ingin terus mendengar suaranya. Dia tak punya alasan memperlakukanku seperti anak lemah—yang mana sudah kuperbaiki kekuranganku yang satu itu—dan menyuruhku masuk duluan agar aku tak masuk angin. Ha. Dari mana pula dia menemukan istilah itu, when some wind enter your body making you sick.

Rokok yang terbakar di ujung jariku menjadi tampikan regulerku. Awalnya dia selalu mengernyit tak setuju, tapi karena aku selalu menyediakan rokok terbaik untuknya, dia tak pernah protes panjang-panjang. Terima kasih Maudy yang membuatku selalu punya stok rokok kretek sekalipun aku tak terlalu suka baunya. “Tangan halusmu tak cocok memegang rokok sambil sok gagah begitu,” Damien pernah membujukku tanpa usaha serius.

Temanku Damien yang tak menyayangiku sebagaimana aku menginginkannya itu juga tak menyadari rambut yang kupanjangkan karena dia bilang suka melihat cewek berambut panjang. Agak buta rupanya dia. Andai saja aku juga begitu. Sehingga aku tak perlu berulang kali melirik ke bibirnya yang tipis dan banyak bicara. Sehingga aku bisa cukup agak buta akan lehernya yang panjang menyelinap dari kerah kaus bola kesayangannya.

Ada aroma asin yang sangat samar menari di bawah cuping hidungku. Damien berkomentar bahwa malam ini agak hangat. Aku mengiyakannya. Sebentar lagi, aku harus masuk ke kamarku. Di sebelah kamarnya, sebenarnya, tapi itulah risiko berada di sebelah temanmu, kau tak bisa menjadi fokus pandangnya yang lurus ke depan. Aku tak pernah menggemari waktu-waktu seperti ini. Aku akan mendengar gerakannya di kamar sebelah dan ingin menyatroninya tapi tak kuasa. Aku akan membayangkan menderap ke sana dan menyepak tulang keringnya, mengatakan aku menyayanginya dan dia harus berhenti menjadi buta. Tapi lagi-lagi, tak kuasa. Menghabiskan malam bersamanya hanyalah dongeng pengantar tidur.

Ada telepon masuk ke ponsel Damien. Itu petunjukku untuk menguatkan diri mendengar pengunduran dirinya dari kebersamaan kami selepas senja ini. Wang sudah memulai inspeksinya malam ini, suaranya yang ramah dan hangat terdengar selintas di telingaku, membuat Damien menjawab bahwa dia sedang merokok sebentar di luar bersamaku. Wang yang baik dan perhatian, cukup beruntung mendapatkan Damien. Wang yang penuh pengertian. Aku benci padanya.

Wang—suaranya saja—menarik Damien menjauh dariku. Punggungku kedinginan kala kulihat punggung Damien ditelan pintu yang menutup. Malam ini jatah Damienku sudah habis. Untuk kesejutakalinya aku merencanakan akan mengenakan rok besok, dan mungkin meronce rambutku agar terlihat menarik. Dan untuk kesejuta satu kalinya aku tahu aku tak akan melakukannya.

smoking2

Kuremuk puntung rokok di bawah ujung sepatu. Agak lega bisa lepas dari racun itu. Masam perasaanku. Tapi kutelan saja. Sebaiknya aku masuk dan mulai belajar. Besok aku kuliah dua mata kuliah bersama Damien, itu seharusnya bisa jadi pengungkit semangatku. Jadi, sampai jumpa besok, mungkin aku akan bercerita lagi padamu besok.

Dan, oh ya, namaku Agus.

.

.kkeut.

Iklan