Tag

,

719w. Bilur-bilur kepedihan saat menatap punggung seseorang.

.

Langkah kakinya cerminan langkahmu. Setapak demi setapak lagi. Di belakangkanya kau mengulangi setapak demi setapak lagi. Tidak persis sama, namun serupa. Apa yang dia pijak, kau menjadikannya pijakanmu juga.

Angin menyibakkan rambutnya. Kau terpesona pada garis lehernya. Dia menoleh ke samping. Kau terpesona pada lekuk hidungnya. Tanah berbelok. Kau terpesona padanya yang hilang keseimbangan. Uluran tanganmu menawarkan bantuan. Dia menerimanya. Dia menatapmu. Dia berterima kasih. Tapi membiarkanmu menyentuhnya tanpa menyentuh balas. Kau terpesona pada sakitnya pengharapan yang tak berbalas.

Dia menyapa seseorang. Hidup, penuh penghargaan. Kau berharap kau berpapasan jalan dengannya.

Kau ralat.

Kau tidak mau berpapasan dengannya. Sebab hanya di satu titik pertemuan kau akan bisa bersua dengannya. Begini, di belakangnya, berada di jalurnya, lebih baik. Seolah kau bersamanya. Dan kau memang bersamanya. Di dalam hatimu kau meyakini itu.

Meski punggungnya satu-satunya yang kau sua.

Ketika tangannya terulur, kau meragu. Arah yang ditunjuknya arah berbahaya. Bisa jadi ada pengendara cepat melintas dan kalian bisa terluka. Tapi dia keras kepala dan melakukan apapun yang disukainya. Maka dia tetap mengulur tangan, tetap menunjuk, dan kau berpikir mungkin tidak apa-apa.

Angin membelai lengan kalian. Kau terkesima pada alirannya yang mendinginkan kulitmu. Selama ini kau tak pernah peduli ada dimana selama kau melihatnya. Dan ternyata, dunia bisa juga menawarimu kesejukan. Kau tersenyum.

Tangannya tertarik masuk. Kau menyayangkan itu. Kau masih ingin menikmati angin.

Kau termenung sesaat lalu memutuskan bahwa mungkin melangkah sambil mengulurkan tangan tidak apa-apa. Dia tidak harus tahu bahwa kau menemukan kenikmatan minor di samping kenikmatan mengikutinya.

Jalanan bersimpang. Kau tahu kau pergi kemana dia pergi.

Dia menyapa seseorang. Kembali hidup, penuh penghargaan, dan kali ini sembari bersinar penuh semangat. Kau semakin menyukainya dan menyukai keputusanmu memilih menyukainya. Kau tawarkan pujian padanya. Kau tawarkan gurau untuknya. Kau tawarkan keberadaanmu padanya. Dia menoleh padamu akhirnya. Lalu tersenyum. Hanya karena sedang bahagia. Bukan karena pujian, gurau maupun dampinganmu.

Pedih tak dibalas itu masih memesonamu.

Jalanan panjang dan kau tak melihat ujungnya. Tak masalah, karena kau tak peduli. Punggungnya adalah tujuan terdekatmu. Jalanan menyempit, kendaraan menyerempet, copet membayang, dermaga peristirahatan merayu, kau tetap berjalan saat dia melangkah. Karena padanyalah kau ingin berhenti.

Meski dia kembali menyapa seseorang. Kali ini disertai semua yang dia punya. Ditambah cinta.

Sakitnya luar biasa untukmu. Dan herannya kau terus terpesona. Berharap cinta yang kau lihat padanya akhirnya sudi berlabuh padamu. Darinya.

Dia bahagia. Kau tersenyum. Sambil terluka. Tapi dia bahagia.

Kau yakin kau hanya perlu menunggu. Sampai dia berjalan lagi. Sampai dia tahu bahwa berhenti di satu cinta miliknya sekarang bukan hal yang tepat.

Di hadapan punggungnya kau merekatkan telapak, terus menggumam mengharapkan akhir. Akhir yang kau harapkan, dimana dia pada akhirnya menerima adanya dirimu. Akhir dimana dia akan berbalik, berhenti dan menyuruhnya melangkah sedikit lagi untuk sampai dalam peluknya. Akhir dimana dia berhenti bersamamu, bukan bersama orang lain lagi.

Kau terhenti di sana, bersama pengharapanmu, bersama langkahnya yang terhenti,

Angin mendesau, air mengalir, kendaraan melaju, orang-orang berlalu. Kau menunggu.

Dia berhenti, tertawa, berbahagia, marah, bersedih. Kau menunggu.

Langit berubah, sinar matahari merubah panjang bayangan, awan menghilang. Kau menunggu.

Dia tertawa, berbahagia, marah, bersedih. Kau menunggu.

Dia tetap berhenti. Kau menunggu.

Kau sedikit lelah menatap punggungnya. Kau mengangkat wajahmu dan memandang sekitar.

Di kananmu ada danau yang sangat sejuk. Di kirimu gedung berpendingin tampak nyaman. Sedikit di belakang gunung menjulang menggodamu untuk menjelajahinya.

Kali ini kau bertanya. Mengapa dia berhenti, mengapa dia tidak pernah berhenti untuk berhenti, mengapa dia ada di jalanmu, mengapa danau itu tidak tampak sebelumnya, gedung itu seolah tak ada dan mengapa gunung itu mendadak ada di sana. Kau bertanya, mengapa kali ini kau melihat rumah. Satu-satunya hal yang bisa kau rasakan sebagai rumah dan tak mungkin yang lain.

Kakimu bergoyang. Dia berhenti, tapi rumah itu masih beberapa langkah lagi. Hanya sedikit di jalur sebelah kanan dan rumah itu menunggumu.

Kau ingin pulang.

Lalu dia menoleh. Dia melihatmu. Di matanya kau menjadi nyata.

Di matamu, kau melihat semua bekas lukamu menjadi nyata. Ada sinar dari dirimu sendiri dan kau sadar kau tidak menyadari kapan kau mulai mengeluarkannya. Dia menawarimu senyuman.

Kau terpesona. Pada dirimu sendiri yang terpantul dari permukaan danau.

Dia menoleh, berbalik bahkan. Menyusuri jalan kembali, mengarah tepat ke arahmu.

Kau bergeser ke kanan dan kau tahu jalurmu telah tepat. Rumah itu tepat di depanmu.

Dia menghilang. Andai kau perhatikan, bahunya menurun kalah kala kau melangkah maju.

Dia menghilang. Kau menemukan rumahmu.

.

.kkeut.

Iklan