Tag

,

607w. Also at SaladbowlPacaran anak muda zaman sekarang, ck…ck…ck…

.

Pesan

Tangan Sehun mengambang di atas ponsel. Jemari panjangnya bergerak mendekati permukaan benda itu, tapi lalu ditarik lagi. Dia menghela napas. Sudah lebih kurang delapan kali dia melakukan hal yang sama. Ponsel bersensor panas itu tidak mau mati-mati, Sehun tidak menjauh cukup lama untuk membuat ponsel itu merubah mode menjadi stand-by.

Dipandanginya jalanan di depan 7Eleven tempatnya duduk dengan senewen. Benaknya sibuk merancang kalimat…

Sudah sampai? Dia akan dibunuh.

Baru baca pesanmu. Semacam kena tempeleng.

Bagaimana acaranya? Mungkin mulutnya dijejali sepatu.

My sweat Marischka… Kau pasti cantik sekali hari ini. Kau jadi pakai baju merahmu? Rambut— ‘sweet’ atau ‘sweat’? Marischka selalu mengingatkannya untuk tidak pernah bolos les Bahasa Inggris tapi cowok itu tidak keren kalau sampai les Bahasa Inggris. Tunggu, salah fokus.

Aku baru selesai jadi baru baca pesanmu. Bahkan Sehun terpikir untuk menghina dirinya sendiri begitu kalimat itu selesai terbentuk. Marischka paling tahu bahwa hari Jumat kegiatannya hanya tidur seharian.

Ah! Semalam Junmyeon Seonbae mengajak minum jadi aku menderita sepanjang hari akibat hangover.

Kedengarannya bagus. Sehun cepat-cepat meraih ponselnya. Tangannya sudah mengetik nama seniornya ketika teringat bahwa Marischka cukup dekat dengan Junmyeon dan bukan sekali dua ceweknya itu mengecek kegiatan Sehun pada sang senior. Keset buluk! Bahkan alasan terbaik yang bisa dipikirkannya punya konsekuensi mengerikan seperti Marischka menyentil hidungnya dengan jebakan tikus.

Kenapa dia harus punya pacar yang anarkis?! Sehun mendengus. Dia sudah terlalu jatuh cinta untuk peduli saat dia tahu betapa anarkisnya Marischka.

Oke, sekarang saatnya melanjutkan lagi berpikir.

Mungkin… mungkin dia bisa menciptakan beberapa situasi. Situasi yang tidak terlalu berlebihan karena ini hanya masalah kecil. Kan? Dia hanya tidak mengecek ponselnya dan lupa tidak membalas pesan dari Marischka.

Memang seharusnya dia tidak boleh lupa, karena ini hari saat Marischka pergi berlibur dengan teman-teman sekampusnya. Sehun bergidik. Teringat lagi saat Marischka harus pergi menginap satu malam demi tugas kampus dan Sehun memutuskan Marischka akan baik-baik saja sehingga dia tidak menelepon cewek itu sama sekali. Tidak mengirim pesan juga. Dia ingin tapi tidak dia lakukan. Oke, tidak terlalu ingin, tapi lebih ke… tidak ingin sekali. Hanya agak tidak ingin. OKE, dia lupa sama sekali! Tidak terpikir olehnya, tidak melintas di benaknya, tidak ada dalam reminder-nya, semuanya itu. Tapi itu kan hanya pergi s.a.t.u malam.

Tidak bisa begini terus. Dia harus mengirimkan sesuatu.

Babe… ketiknya.

Bagus. Bagus. Babe selalu bagus. Marischka suka sekali dipanggil ‘babe’—tidak terlalu sering, cukup sekali-sekali—membuatnya merasa istimewa.

Tapi Babe apa?! Sehun tak bisa memikirkan kelanjutannya.

Dia butuh inspirasi.

Pergi ke bagian minuman dingin, Sehun terus memikirkan apa yang harus dia tulis di pesan untuk Marischka. Sesuatu yang tak akan membuat ceweknya itu merasa diabaikan, apalagi kesal karena dilupakan. Agak berat karena dia sebenarnya melakukan persis kedua hal itu.

Kembali ke tempat duduknya semula, dia langsung bersemangat karena teringat Jongin. Temannya Jongin pasti bisa membantu.

Yeah, aku bisa membantumu mengantar barang, menyelesaikan game. Aku bahkan bisa membantu ibumu belanja, tapi aku tidak bisa membantu menulis pesan untuk cewekmu, Dude. Satu, kau tahu aku belum pernah pacaran, berengsek. Bagaimana aku bisa tahu hal-hal semacam itu?! Dua, cewekmu itu mengerikan, jadi jangan hubungi aku lagi sampai kau berhasil menjinakkannya.” Adalah jawaban Jongin.

Hebat.

Sehun mengetik semua ejekan dan makian yang bisa dia pikirkan untuk Jongin, mengambil gelasnya lalu meminum isinya sampai tuntas, menyumpah sedikit karena cairan bersusu yang menumpahi jaketnya, lalu kembali ke ponselnya dan mengetik ‘kirim’.

MENJIJIKAN. JANGAN PANGGIL AKU BABE!” jawab Jongin.

Sehun melongo. Shit. Babe-nya terkirim pada Jongin. Padahal dia bermaksud mengirimkannya pada Marischka.

Cepat-cepat Sehun mengulangi prosesnya. Diawali dengan ‘babe’, dia memastikan nama penerima pesannya adalah Marischka, lalu: kirim. Done.

ARGH FUCK SHIT! Kenapa hanya ‘Babe’?!!!

Sehun melorot di kursinya, menyerah pada kebodohannya yang tak pernah benar-benar sembuh.

sehun galau

.

-cut-

Iklan