Tag

, ,

782w. Saat mengakhiri berarti memulai. #nulisrandom2015 #day14

.

“Bertahanlah, Erika!”

“Sano… Entahlah.”

“Apa maksudmu ‘entahlah’?! Kau harus bertahan. Demi aku, demi kita!”

Erika menghembuskannya napasnya satu per satu. “Tapi ini terlalu berat, Sano. Aku tidak yakin—“

“Yakinlah, Erika!” Sano berseru, dia berusaha sekuat tenaga menguatkan pegangannya akan Erika. Namun sesungguhnya, dia sendiri tidak terlalu yakin. Situasi saat ini semakin memanas, perlahan-lahan kekuatan dirinya semakin melemah.

Erika, dia tersenyum lemah. “Sampai jumpa? Begitukah, Sano? Seribu tahun lagi?”

“TIDAK!” Sano mengingkari keras-keras. Ketidakinginannya berpisah dari Erika memberinya kekuatan lebih. Sedikit.

“Sano… Aku tak akan ke mana-mana—uhuk!” Erika mencoba menenangkan Sano. Mereka selalu bersama selama ini. Tak pernah lepas dari sisi satu dan lainnya. Bukannya dia tak merasa sedih akan berpisah dengan Sano, tapi dia yakin pertemuan setelah seribu tahun itu benar adanya. Setelah bersama-sama bertahun-tahun, memiliki takdir untuk terus berdampingan entah berapa lama hingga sekarang (Erika tak ingin menghitungnya—kebersamaannya dengan Sano lebih dari sekedar hitungan), Erika yakin bahwa meskipun setelah seribu tahun mereka tak langsung bisa mengingat satu sama lain, mereka akan selalu tahu bahwa mereka pernah bersama.

“Berusahalah, Erika! Lihat aku! Jangan tinggalkan aku!” Sano semakin panik. Erika kini semakin melemah. Dia semakin transparan.

“Lihat aku, Sano. Aku tak ingin, tapi aku tak bisa melakukan apa-apa.”

“Mendekatlah! Mendekatlah seperti yang biasa kita lakukan saat semua perpisahan itu mengancam kebersamaan kita!”

Erika tersenyum sedih. “Kau tahu itu tidak mungkin, Sano…” Sebab, kali ini mereka tak menghadapi perpisahan. Ini adalah kodrat.

“Jangan bodoh!” Sano terdengar sangat marah, tapi saat Erika melihatnya, temannya itu justru tampak sangat sedih. “Aku mohon, Erika… Jangan tinggalkan aku…”

Kau tahu aku tak akan meninggalkanmu sama sekali, kini suara Erika berubah menjadi bisikan.

Sano benar-benar panik. Ada yang terasa sangat pedih dalam dirinya. Separuh karena ikatannya dengan Erika sudah hampir habis terurai, separuhnya lagi situasi yang semakin melemahkan tubuhnya.

Ingat aku, Sano. Bisikan Erika terdengar sangat lirih sebelum menghilang.

Begitu saja.

Tanpa narasi Erika menghilang. Sano tak bisa lagi merasakannya. Erika telah berubah. Tak ada lagi Erika yang sebelumnya selalu bersinggungan dengannya, selalu bersebelahan dengannya, tertawa dan bertengkar dengannya. Mereka selalu bersama sejak… berapa? Seratus tahun? Tiga ratus? Entahlah, sudah lama sekali. Takdir tak pernah memisahkan mereka.

Kecuali saat ini.

Rasanya semakin perih. Tubuh Sano semakin lemah dan seperti Erika sebelumnya, dia semakin ringan dan transparan. Masanya telah tiba. Sebentar lagi dia akan menghilang—tidak, bukan itu—dia akan berubah. Akan butuh seribu tahun untuknya kembali menjadi Sano, atau paling tidak, menjadi seperti Sano yang sekarang.

“Yo! Sanora! Apa kabar, Dude?”

Sano menoleh dan menatap yang memanggilnya.

“Kau pasti tak ingat aku. Aku Mikhayla. Kita sempat bersama sekitar dua ribu tahun lalu.”

Yang benar saja.

Mikhayla tersenyum agak merendahkan. “Ya, memang agak gila kan? Tapi aku ingat kau. Kau si anak culun yang terlalu polos, tidak mengerti apa yang sedang terjadi.”

Sano tak menjawab. Bukan hanya karena dia sudah terlalu lemah untuk menjawab, dia juga tak mau.

“Sekarang kau sudah siap? Sudah ingat, rupanya. Enak kan, melayang-layang di atas sana.”

Tutup mulut. Apa sebenarnya yang sedang kau bicarakan, siapa tadi, namamu?

“Ah, sudah semakin lemah rupanya, kau. Tenang saja, sebentar lagi kau akan bebas. Tak ada yang akan menghalangimu di atas sana. Tenang saja, sayap-sayapmu ini hal baik. Kau pasti akan kembali bertemu takdirmu.”

Tentu saja. Mendadak Sano kembali teringat pada Erika. Kesedihannya kembali. Apakah Erika sudah melupakannya? Ke mana dia pergi? Bisakah Sano menyusulnya?

“Dude, jangan bertampang sedih begitu. Berapa suhumu sekarang? Pasti hampir seratus.”

Oh tidak. Jangan ingatkan, Sano ingin berteriak.

“Ups, sepertinya sudah sembilan puluh sembilan. Selamat, Dude. Kau akan segera jadi uap lagi, terbang! Bebassss!!! Aku iri!”

Sano menutup dirinya sendiri. Ini sungguh menyedihkan, dia bisa merasakan memorinya yang tinggal sedikit semakin terlepas.

“Sampai jumpa di udara, Dude. Waaa!!! Kau sudah memasuki 100°C!!!” teriakan Mikhayla lolos dari pendengaran Sano.

Ini udara. Sano tak lagi merasakan apa-apa. Dia tak berat dan terikat dengan kuat, dia hanya melayang dan semakin lama semakin tinggi. Sano melihat cahaya di mana-mana. Ada yang menyapa, tapi Sano tak bisa membawa diri untuk membalasnya. Dia seolah tertegun tapi sesungguhnya dia hanya melayang, berpikir pun tidak. Semakin lama semakin tinggi.

Dia tak lagi tahu bahwa sebelum ini dia adalah partikel air di dalam cawan yang terus saling tarik-menarik dengan sesamanya. Dia melupakan suasana di dalam cawan yang semakin panas yang membuatnya semakin naik ke permukaan, bergesekan kuat dengan udara. Dia melupakan semuanya, termasuk bertahun-tahun perjalanan fantastis bersama Erika, menukik di atas bumi menuju ke kedalaman bumi lalu muncul lagi di permukaannya. Dia hanya tahu bahwa lama sejak sekarang, dia akan mengalami banyak hal, mungkin mengenali semua di sekitarnya, mungkin berteman, mungkin…

Entahlah, Sano tak merasa harus berpikir. Dia hanya merasa sedikit antusias, menanti apa yang akan terjadi.

Temperatur semakin dingin di sini, segalanya jauh lebih dingin dari 100°C.

.

.kkeut.

Sources:

Iklan