Tag

Author: B
Genre: general
Length: 384w. Oneshot
Fandom: Secret Garden (the drama)
Pairing: OC-rumah
Disclaimer: The house is mine, you can take the OC.
Sinopsis: In the end, the search is reaching it’s end. Tadaima.

~

Di ujung jalan rumah itu berada. Dari seluas tanah yang tak terhitung, rumah itu berdiri. Dindingnya bukanlah dinding melainkan kaca. Rawa dan hutan kering mengelilinginya. Dalam diam rumah itu menyapa udara, bernafas dengannya. Tersenyum pada sinar matahari yang datang, bermandi pada hujan yang menyapa. Teronggok gagah di tepi jalan yang terakhir. Rumah itu ada di sana.

Di tengah seluas tanah tak terhitung rumah itu berdiri. Bentuknya manis melingkar-lingkar. Warnanya putih berkilau. Pusat cahaya di tengah hutan kering dan rawa. Semua tertarik pada cantiknya. Udara mengalir di dalamnya. Keriangan menari bersamanya. Kehangatan tak lepas darinya. Sapaan tak pantas untuknya, berteriaklah gembira padanya. Menyinggung sang rumah di ujung. Di tengah seluas tanah tak terhitung, rumah itu ada di sana.

Manusia itu berjalan menyusuri kelokan. Tak pernah berakhir, kelokan lagi setelah yang lain. Tertawa manusia itu melihat si rumah di tengah. Kegembiraan menghinggapinya. Langkah kakinya tak mampu berhenti karena ia harus menari bersama si pusat perhatian. Tawanya melayang-layang di udara bersama musik yang tercipta. Kehangatan meresap dalam hatinya.

Lalu musik berhenti. Di rumah tengah itu tawa masih terdengar. Kehangatan masih memancar. Ringan dan menyenangkan. Namun manusia itu tak ingin menerus. Dia gembira dan senang, namun ada yang masih harus diketahuinya. Dia harus temui yang mengganjal rasanya. Kehangatan tak cukup, keriangan belum memuaskannya. Masih belum. Belum saja.

Langkahnya tak ragu. Pelan dan meresapi. Namun tak sekalipun manusia itu menoleh ke belakang. Ke depan adalah satu-satunya langkah yang ia tahu. Kelokan lagi. Kelokan terus. Kelokan ke kanan, lalu ke kiri. Kakinya tak berhenti, matanya tak terdiam. Dengan yakin kepalanya menoleh-noleh mencari apa yang dicarinya. Apa yang belum diketahuinya.

Apa yang sekarang dilihatnya. Tak perlu diburu. Tak harus berlari. Dia tahu akan sampai pada tujuannya. Yang harus disiapkannya hanyalah senyuman. Memberi penghargaan atas kegagahannya menanti. Menghadiahi keteguhannya bersikap dingin.

Tak ada musik tak ada riuh tawa. Namun dinding kacanya memperlihatkan semua. Begitu terbuka. Sinis sekaligus tulus. Menyakiti sekaligus mengobati. Menusuk sekaligus membelai. Tepat di tempat yang diinginkannya. Membuat manusia itu berhenti. Benar-benar berhenti. Dan berkata “Akhirnya…”

Dia telah sampai pada ujungnya. Bukan udara ringan yang membuatnya tersenyum. Bukan indah siluet sang rumah yang menggembirakannya. Bukan kesendirian yang menenangkannya. Dia telah sampai di rumah itu untuk menghilangkan sendiri. Untuk melengkapi diri. Akhirnya, dia telah sampai pada rumah di ujung. Yang menantinya selama ini.

“Aku datang,” bisiknya.

“Selamat datang,” peluk rumah itu.

KKEUT.

Iklan