Tag

,

602w. Secondly at SaladbowlPacaran anak muda zaman sekarang, ck…ck…ck… 

.

Pizza

Apa yang lebih nikmat dari pizza pepperoni dengan topping setebal 5 senti? Untuk Sehun, tidak ada. Hidup lelaki muda berusia 21 tahun itu lengkap setelah dia mengenal pizza pepperoni di usia 8 tahun. Dia sangat memuja makanan itu sampai-sampai dia benar-benar meyakini bahwa pizza pepperoni adalah satu dari keajaiban dunia setelah Pulau Jeju.

Marischka? Sama sekali tidak bisa menandingi pizza pepperoni. Sehun bahagia jika Marischka bahagia, tentu saja, namun dia lebih bahagia jika dipertemukan dengan pizza pepperoni. Marischka tidak tahu hal ini, Sehun tidak bodoh. Dia sangat berhati-hati mengenai perasaannya yang sebenarnya. Kalau sampai pacarnya itu tahu, Sehun sama sekali tidak khawatir diputuskan—dia adalah pizza pepperoninya Marischka, anggapnya—tapi dia lebih khawatir ditertawakan. Dia bisa menerima ditertawakan tentang apapun, tapi tidak tentang perasaannya pada pizza pepperoni.

“Aku senang kau mau datang,” Marischka berkata pelan.

“Mmmhh…” Sehun hanya menggumam.

Marischka tertawa kecil. Dia berkomentar, “Kau pacar yang baik sekali, mau menemaniku menonton Project Runaway.”

Sungguh, Sehun tidak keberatan.

Selama beberapa saat Marischka tidak bicara apa-apa, tapi lalu tangannya menepuk kepala Sehun dengan sayang, membuat lelaki itu menoleh. Mata mereka bertatapan, mata hijau Marischka menatapnya berbinar. Sehun tidak yakin debaran di dadanya yang berpacu makin cepat hanya disebabkan oleh tatapan itu, ada kenikmatan luar biasa dalam mulutnya.

Kepala Marischka mendekat dan saat bibir mereka sudah sangat dekat, cewek itu mendesah sebelum akhirnya mencium Sehun di sudut bibir. Ciuman itu punya kadar nafsu yang setara dengan kelembutannya, membuat Sehun kelepasan bernapas memburu. Marischka adalah cewek idaman setiap cowok Korea Selatan: cantik, berbodi bagus, kaya, gaul, dan terutama, tidak basa-basi dengan gairahnya. Mungkin karena sebagian darah Perancis dalam tubuhnya.

“Makanmu belepotan,” Marischka berkata dengan nada rendah. Ujung lidahnya keluar sedikit untuk mengelap ujung bibir Sehun.

Sehun mengerjap. Marischka terkikik pelan.

“Kau luar biasa, Sayang,” puji Marischka menowel pipi Sehun. Wajah mereka masih sangat dekat, Sehun tak bisa menyembunyikan apa-apa dari tatapan ceweknya itu. Bahkan jika dia tahu apa yang harus disembunyikan.

“Hanya perlu seloyang besar pizza pepperoni untuk membuatmu duduk manis bertahan menonton seluruh seri Project Runaway bersamaku semalaman,” cewek itu menggulung sejumput rambut Sehun di ujung jarinya.

Sehun mengerjap lagi, tidak yakin ke mana arah pembicaraan ini.

“Teman-temanku pasti akan menggerutu kalau kutunjukkan videomu duduk manis di sampingku semalaman ini.” Marischka mengatakannya sambil tertawa senang.

“Kenapa?” Sehun bertanya. Meski tidak merasa, tapi dia melakukannya dengan tampang bodoh.

“Karena artinya aku menang taruhan. Terima kasih pada pizza tersayangmu,” Marischka menjelaskan seperti dia melakukannya pada anak kecil.

Sehun menatap pizzanya yang tinggal setengah loyang.

“Boleh aku minta sepotong?” Marischka bertanya, matanya mengerjap-ngerjap sok polos.

“Eh,” Sehun terbata. Kata ‘tidak!’ sudah mengambang di ujung lidahnya. Hanya sedikit fakta bahwa ini adalah Marischka yang memintanya yang membuat Sehun menahan diri.

Marischka mendadak tertawa terbahak-bahak, musik latar Project Runaway terdengar seperti musik latar suara cewek itu. Di matanya, ekspresi Sehun yang menderita seperti orang menahan kentut itu sangat berharga. “Bercanda, Sayang. Aku hanya bercanda.” Marischa membelai kepala Sehun, mengecup ujung hidungnya, lalu berkata lembut—masih sambil tertawa—“Tenang saja. Aku hanya main-main. Lagipula aku sedang diet, ingat? Ini, mau kuambilkan sepotong lagi, untukmu?”

Sehun mengangguk.

Good boy. Sekarang duduk yang manis ya, masih ada 3 episode lagi. Kau bisa menemaniku sampai akhir, kan?”

Lagi-lagi Sehun mengangguk, mulutnya mengunyah pizza pepperoni dengan perlahan.

“Aku tahu kau memang cowok terbaik,” Marischka tersenyum sebelum kembali fokus pada layar televisi.

Sehun menatap profil ceweknya itu dari samping. Entah kenapa dia merasa dibodohi.

Tapi siapa yang peduli? Pizza pepperoni ada di sini. Dia bahagia dan puas. Kenyataan bahwa Marischka sepertinya juga puas adalah hal yang bagus, bukan?

Mata Sehun menangkap loyangnya dan pupilnya berubah bentuk menjadi hati. Oh, pizza pepperoni, I love you, gumam Sehun dalam benaknya.

.

pdate4

-cut-

Iklan