Tag

2,428w. Langit malam disinari bulan seadanya, dia terus berlari.

.

Awan menutupi gerhana matahari yang tampak dari kawasan Jakarta Selatan pada pukul 16.54.54 Posisi gerhana di Jakarta tidak sepenuhnya berbentuk cincin. TEMPO/Budi Yanto

[Cr: TEMPO/Budi Yanto]

Langit suram menggantung di atas kepala. Bulan sedih bertambah muram karena tinggal rupa sabitnya yang tertinggal. Manusia menyatakan bahwa bulan sabit maupun penuh tak berbeda, hanya bumilah penyebab bulan tampak sempurna maupun tidak. Oh betapa para manusia itu buta.

Kaum Ruaya telah mengetahui sejak hari mereka dilahirkan bahwa Kekuatan Gelap dan Demit Cahaya berperan dalam menciptakan bentuk bulan setiap malam. Sepanjang sejarah mereka, manusia mengamati bahwa bentuk bulan terus berubah dengan ritme yang pasti. Kaum Ruaya hanya tersenyum jika mereka mendengar ocehan manusia itu. Sudah lama sekali memang sejak Kekuatan Gelap dan Demit Cahaya saling berkompromi dalam menguasai bulan.

Ah sudahlah, tak akan ada hentinya teori perihal manusia. Mereka adalah makhluk tak bernomaden. Mereka tak pernah bergerak. Statis dan ritmis. Kaum Ruaya–terlepas dari kemiripan mereka dengan manusia–tak akan bisa menanamkan pengertian akan ilmu mereka pada manusia. Ilmu yang begitu limpah, sebab mereka selalu beruaya.

Saras menatap pawai awan kelam dengan khawatir. Manusia dan Kaum Ruaya dan Kekuatan Gelap dan Demit Cahaya bukan melulu makhluk yang berkeliaran di alam ini. Awan kelam selalu menandakan kehadiran makhluk ajaib. Awan kelam di malam hari separuhnya adalah pertanda kedatangan makhluk ajaib yang tak terlalu ramah–dalam sebutan paling manis.

Mengerjap kaget, Saras menanari geliat gelap yang menganyam asap langit. Geliatnya gemulai dan malas, cahaya bulan memberinya nuansa pucat. Naga.

Puncak lancip-lancip bak kipas di punggung mereka adalah ciri yang paling mudah dikenali. Selain itu, Saras paling akrab dengan Naga. Bukan, bukan artinya dia berhubungan baik dengan Naga, hanya saja bagi Saras, dia sedemikian mudah mengenali makhluk itu di manapun, dalam kondisi apapun. Dia pun tak mengetahui kenapa, hanya saja Nenek berkata bahwa dia memiliki kemampuan Naga. Bagi Kaum Ruaya, kemampuan Naga berarti kemampuan memenangi hampir segala pertempuran. Karenanya, pemilik kemampuan Naga biasanya tak disukai oleh para Naga itu sendiri. Mereka memperlakukan pemilik kemampuan Naga selayaknya pencuri.

Itu dan ketidaksukaannya sendiri terhadap Naga, membuat Saras berhenti. Diam dirinya di balik bayang pepohonan. Instingnya selalu mengatakan bahwa mengamati lawan adalah tindakan paling bijaksana. Kau selalu bisa memperkirakan gerakan lawan, memperhitungkan reaksimu dengan efisien.

Sang Naga di antara awan meliuk berbalik. Saras mengutuk dalam hati. Ilmu pengamatannya belum sempurna. Hampir setiap kali bertemu Naga, mengamatinya dalam diam, mereka selalu bisa mendeteksi keberadaannya. Hanya keberuntungan sejarang kemunculan Phoenix-lah yang sekali waktu menyembunyikannya dari radar naga-naga yang dia hadapi. Jangan ditanya sejarang apa Phoenix muncul. Kalau kau manusia, kau tergolong sangat beruntung jika pernah melihatnya sekali sepanjang umurmu.

Bertahanlah, Saras, perempuan berusia 27 abad itu berkata dalam hati. Kau mungkin belum menyempurnakan ilmu pengamatanmu, tapi tak ada yang bisa menandingi kesabaranmu. Dalam kesabaran, Saras sangat, sangat, percaya diri. Jika kemujurannya hanya sejarang kemunculan Phoenix, maka kesabarannya adalah apa yang lebih sering membuatnya aman dari serangan agresif para Naga.

Lucu, para Naga ini. Mereka tak punya hasrat menyerang lebih dulu. Jika melakukannya, itu selalu karena ada provokasi. Tapi anehnya, hal tak penting pun bisa memprovokasi mereka untuk menyerang. Katakanlah, jika kau melukai mereka, atau menculik telur atau bahkan anak-anak mereka, kau akan tahu bahwa kau sudah melakukan hal yang salah dan pantas diserang. Namun jika kau hanya memanjat pohon mangga lantas mereka menciummu dengan napas panas kulitmu terancam melepuh karenanya, apakah itu masuk akal? Kenapa suatu Naga begitu posesif terhadap pohon mangga sementara Naga yang lain bahkan tak akan melirik si pohon sama sekali? Kau tak akan pernah tahu bagaimana isi kepala mereka bekerja.

Jadi Saras lebih suka menghindari mereka. Itu lebih aman. Bagi tubuh, kulit, dan jiwanya. Stres memikirkan apa yang bisa membuat suatu Naga tersinggung adalah hal paling kontra-produktif yang bisa Saras pikirkan.

Saat ini, paling tidak. Dia sedang sibuk menanti Naga di atasnya untuk berlalu. Tak ada waktu tersisa yang bisa dibuang-buang bagi kesabarannya untuk memikirkan hal lain.

Celaka baginya, naga itu tidak pergi. Seperti pesawat menunggu isyarat aman mendarat dari menara pengawas, naga itu berputar-putar di atas pepohonan. Saras dapat melihat matanya memancar hijau terang di keremangan malam, satu per satu mempertimbangkan kemungkinan ada makhluk selain dirinya yang berkeliaran malam ini.

Manusia jarang berada di sini. Tak ada pun yang tinggal di daerah ini. Ini adalah rawa-rawa air tawar. Danaunya ramai didatangi, namun rawanya diabaikan. Rupanya yang tak terlalu jelita membuat manusia tidak memandang tempat ini berpotensi. Mereka yang datang ke sini adalah mereka yang ingin berurusan dengan Kekuatan Gelap dan Demit Cahaya. Mereka anggap keduanya adalah hal gaib yang lebih berkuasa atas hidup manusia. Mereka salah, tentu saja, tak ada yang lebih berkuasa atas suatu kaum kecuali kaum itu sendiri. Tapi itulah karakter unik manusia yang tak dimiliki oleh kaum lain: senang mengabdi, berpikir ketidakmampuan mereka adalah komoditas, bukan aset yang bisa dipertajam.

Saras sama sekali tidak tertarik membahas manusia. Dia hanya fokus tentang membuat dirinya lepas dari incaran sang Naga. Memang ada sedikit kekhawatiran mengenai manusia-manusia yang mungkin mampir, tapi itu samar sekali muncul di batas kesadarannya.

Kepala sang Naga berputar. Sekarang kesempatannya! Saras beringsut sepelan yang dia bisa menuju ke pohon lain.

“Hrrrhhh!” Sang Naga berseru dari atas awan.

Bodoh! Saras memarahi dirinya sendiri. Dia menyesali kemampuannya yang tak terlalu ciamik.

Baiklah. Baiklah. Saras harus berpikir terpusat. Ke mana dia hendak pergi. Bagaimana medan yang dia hadapi. Seberapa banyak ruang sembunyi yang dimilikinya. Kalau tak ada kesempatan baginya untuk bergerak tanpa diketahui, maka dia harus lebih lincah untuk sampai ke tujuannya dengan selamat.

Ke mana dia hendak pergi.

Ke mana dia hendak pergi?

Sial, gara-gara si ular naga panjangnya itu Saras sampai lupa tujuannya.

Baiklah, itu urusan gampang. Ini adalah rawa, jadi banyak titik di sini pasti digenangi air. Tidak melulu dangkal, seingat Saras banyak pula bagian yang genangan airnya cukup dalam.

Lalu di mana Saras bisa bersembunyi? Banyak pepohonan yang bergerombol namun untuk mencapai ke sana Saras harus bersiap terpapar cahaya bulan, dan itu bukanlah konsep yang menenangkan. Langkahnya harus dipikirkan dengan sangat hati-hati. Pemilihan gerombol pohon dan waktu berlari menjadi penentu bagi Saras. Seandainya saja dia tahu harus ke mana–

Tapi bukankah itu aneh? Bagaimana Saras bisa sampai di sini jika dia tak tahu mau ke mana?

naga7

Ah, mendadak kepala Saras terasa sakit.

Berkas cahaya lemah mengejutkan Saras. Di atas kepalanya sekarang bukan lagi reranting dan dedaunan melainkan arak-arakan asap bak renda. Di selanya terdapat keliman panjang dari tubuh Naga. Dadanya berdegup cepat kelewat mendadak. “Oh!” Serunya terkejut.

Sang Naga tampak marah. Dia tak perlu provokasi apapun, pemilik Kemampuan Naga sendiri biasanya sudah cukup jadi pemicu kemarahan suatu Naga.

Sorot mata hijau kini berlapis merah. Sang Naga jelas tidak suka pada Saras.

“Rrrooaaarr!!” Mulut sang Naga membuka ganas saat menyerukan kenihilcitaannya.

Saras menciut. “Oh tidak.”

Kaki Saras bergerak lebih cepat dari otaknya. Mendadak dia sudah berlari. Kecipak air terdengar setiap kali kakinya menapak. Menengok, sang Naga menukik gemas ingin meraihnya. Berkelit.

Tersuruk ke ilalang tinggi. Rerumputan nan lembab menggelitik. Saras berusaha bangun. Rasanya lama sekali sampai dia benar-benar bangkit dan mulai berlari lagi. Sang Naga seolah sudah menutup jarak antara mereka berdua ketika kakinya mulai berkecipak lagi di rawa-rawa.

“Astaga. Astaga. Astaga.” Saras bergumam panik.

“Haummm,” lagi-lagi dia mendengar reaksi Naga. Punggungnya seperti digelitiki hebat oleh rasa takut.

Seharusnya Saras bisa bertarung saja alih-alih berlari. Namun instingnya menyuruhnya terus berlari. Saras bukan sekali ini berhadapan dengan Naga. Dia punya segalanya. Kemampuan, keterampilan dan pengalaman melawan Naga. Mungkin bukan yang terhebat, tapi dia juga tak selalu kalah. Buktinya dia masih hidup. Jika kekalahan adalah taruhannya, Saras selalu bisa melarikan diri dari para Naga yang menjadi lawannya. Bukankah itu juga pertanda bahwa dia punya cukup akal sehat dalam bertarung melawan Naga? Melarikan diri seperti ini bukanlah hal yang dia biasa lakukan.

Masih berlari. Rawa ini rupanya tidak dalam seperti perkiraan Saras. Aneh, sebab setahunya adalah sebaliknya. Apakah sebenarnya dia telah menguasai kemampuan berjalan di atas air?

“Ah!” Teriaknya saat merasakan sesuatu di lengannya. Sesuatu yang dingin dan kuat. Keras dan menguasai. Menoleh, rangkaian kuku Naga siap meraihnya lagi.

Bagaimana bisa kuku, kulit dan sisa tubuh Naga yang lain begitu dingin sementara dengusnya berasap panas dan tenggorokannya menyemburkan api? Tetiba Saras dihinggapi pemikiran.

Namun itu bukan hal yang penting saat ini. Saras harus melakukan sesuatu sebab kuku-kuku itu telah mulai merapat siap menggenggam Saras layaknya gelondongan kayu.

“Kyaaa!” Teriakan perempuan itu memenuhi udara. Saras telungkup di atas rawa, matanya terpejam erat saat menjatuhkan diri dengan sengaja. Dalam pikirannya, sang Naga akan mendapatkan cengkeraman kosong.

Benar. Benar sekali. Karena Saras merendahkan posisinya, Naga tak dapat mencengkeram Saras.

Denyut kelegaan mengalir dalam dada.

Hanya untuk dikagetkan lagi ketika tubuhnya mulai teremas dan terangkat dari atas bumi. “Hyaa!”

Lengannya seperti ranting ilalang saat memukuli sisik dingin kaki belakang Naga yang kini membawanya terbang.

Ingin rasanya menangis, tapi itu tak ada gunanya, bukan? Toh dia tak terpanggang, tak lumat oleh gigi-gigi Naga. Dia masih bernapas, meski sesak oleh dingin karena posisinya begitu tinggi di atas bumi.

Mendadak kemarahan menculik emosinya. Dia sangat ingin terlepas dari cengkeraman Naga. Ingin diturunkan lagi ke bumi dan dibiarkan berjalan menyongsong tujuan mulanya. Apa salahnya memang? Dia tak berniat mengganggu siapapun. Hanya berjalan dan tiba-tiba saja makhluk ini sudah mengejarnya tanpa alasan. Bukankah mereka punya akhir yang berbeda kenapa harus Saras berjuang berkelit berdegup kacau melawan Naga?!

“Bawang busuk!” Saras memaki. Sang Naga melirik. “Aaargh!!!” Kembali dirinya memukuli kaki Naga.

Tak ada gunanya. Memukul maupun menyuruh agar dia diturunkan, sama sekali tak ada gunanya. Saras tahu itu. Hatinya telah menjawab bahkan sebelum Saras bertanya.

Ingin menangis.

Tak bisa.

Ingin menyerah.

Tak sudi.

Ingin berjuang.

Berhenti! Ucap sebuah suara dalam dirinya.

Apa itu?! Kenapa dia tak boleh berjuang untuk kembali ke asalnya? Ada apa di atas sini yang adalah hal baik baginya? Hatinya mendadak menjadi bodoh, pikir Saras.

Lalu sesuatu terbentuk di tangannya. Benar, ini adalah ilmunya. Dia memiliki hal ini. Pedang. Pedang di tangannya adalah pilihannya. Dulu sekali ketika diberi pilihan, Saras memilih Pedang Jiwa sebagai pertahanan dirinya. Pedang yang akan selalu muncul saat Saras menginginkannya; sadar ataupun tidak.

Ini adalah berkah! Saras tersenyum lebar.

“Hei!” Saras memanggil. Sang Naga melirik, lalu pupilnya membesar. Tak menunggu, Saras menghunus pedangnya.

Sang Naga meliuk. Tusukan pedang Saras kecil, namun itu adalah Pedang Jiwa, senjata yang melemahkan lawan hanya oleh tekad si pemilik.

Sang Naga berteriak. Saras kembali menusuk. Mereka bertengkar lagi lengkap dengan segala aksi laga.

Lalu Saras sudah berada di muka sang Naga. Tubuhnya dicengkeram oleh kuku-kuku kaki depan sang Naga, gigi makhluk itu siap menggigit Saras.

Seringaian lebar mengerikan dilontarkan Saras. Dia telah menunggu kesempatan ini.

Itu tepat sebelum pedangnya berayun ke leher Naga.

Sekejap, tubuh Naga meluncur ke bawah mengikuti kepalanya yang terjun berguling-guling menuju bumi kembali.

Saras berseru senang. Rasa yang demikian sekejap. Karena bersamaan dengan tubuhnya yang meluncur deras, kegirangannya pun menyurut cepat. Jiwanya seolah terlepas. Dan Saras mencari jawabannya di langit.

Langit semakin jauh. Masih kelam dan kemilau berdampingan, berias bulan sabit tempat Keluatan Gelap dan Demit Cahaya bermain, namun jawaban yang tadi sejatinya sedang dicari Saras di bawah sana, beringsut kembali ke balik tirai langit. Saras bahkan tak sempat tahu bahwa jawabannya sedang mengintip keluar.

.

Membuka mata, Saras menemukan langit-langit putih dan bukannya hitam. Napasnya menderu, kepalanya penuh.

Dia hampir digigit Naga. Dia hampir digigit Naga!

Serangan panik melandanya hingga dia dengan serampangan menjatuhkan bebendaan di atas nakas saat meraih gelas minum.

Heck, mimpi macam apa itu tadi? Betapa kacau benaknya sampai memikirkan hal serupa itu. Menoleh ke arah jam, Saras memaksa dirinya untuk kembali menyerah pada akal sehat.

Sudah pagi, saatnya bersiap-siap bekerja.

Saat mandi, Saras sudah melupakan semua mimpinya. Namun saat sarapan dia tak bisa menghilangkan rasa galau yang terus bercokol di pangkal pikirannya. Rasanya dia telah melakukan kesalahan, tidak, bukan, ini lebih buruk; rasanya dia akan melakukan kesalahan fatal hari ini.

.

Aneh, ujar teman-temannya saat Saras menceritakan mimpinya. Dia sangat setuju.

Lalu bosnya datang, tergopoh-gopoh menyuruh Saras mengikutinya ke ruang Bos Besar. Bawa agenda! Ponsel untuk merekam! Demikian perintah yang diterima Saras.

Di dalam ruang Bos Besar, Saras berusaha mempertahankan wajah datarnya. Tak ada karyawan normal yang tulus bekerja suka pada Bos Besar, ucapannya meliuk-liuk, tak pernah tetap. Perintahnya semena-mena dan hampir semua tahu, Saras adalah satu dari beberapa gelintir karyawan yang sering ditindas oleh Bos Besar muda yang sok otoriter itu.

Bos kecilnya sendiri langsung keluar ruangan lagi untuk menerima telepon begitu Saras duduk di kursinya.

Oh canggung, tak ayal datang menghampiri.

“Kamu dampingi saya makan malam,” mendadak suara lelaki yang penuh kuasa terdengar dalam ruangan yang dingin.

Saras memandang lurus-lurus. Ini bukan pertama kalinya Saras mendapat perintah tanpa basa-basi. Belum Saras sempat berkata, Bos Besar berkata lagi, “Dengan pihak Tiongkok. Besok malam. Di Kempinski.”

Besok malam itu malam minggu. Sabtu bukanlah hari kerja.

Mendadak kekesalan Saras memuncak. Selalu. Ada saja perintah di hari libur. Bos Besar menggilirnya dengan Andromeda dan Njou untuk mendampinginya melobi rekanan-rekanan besar perusahaan. Padahal ada yang namanya sekretaris Bos Besar dan lelaki itu punya TIGA!

Saras bukan sekretaris, begitu juga dengan Njou dan Andromeda. Mereka karyawan biasa. Staf. Terlihat sekali Bos Besar tak menyukai mereka bertiga. Andromeda mungkin memang lelaki berbusa, terlalu banyak bicara, tapi Njou dan dirinya bukanlah karyawan menonjol. Oke, Njou mungkin menonjol karena dia satu-satunya orang Afrika yang bekerja di perusahaan ini; tapi Saras?!

“Maaf pak, besok malam saya tidak bisa.” Peduli setan kalau Saras dipecat.

Bos Besar menatapnya tajam. Seolah ada asap keluar dari hidungnya yang mulai bernapas lebih cepat. “Kenapa? Ada yang lebih penting dari perusahaan?”

Menarik napas, Saras memperpanjang kesabaran. “Ya, Pak. Ada. Itu adalah hari penting saya dan pacar saya.”

Bos Besar memandangnya tajam. Saras bergidik. Hatinya entah kenapa terus menyuruhnya untuk diam. Namun otaknya berontak.

“Saya tidak bisa menangguhkan janji saya yang satu ini, Pak. Ini menyangkut keluarga juga.”

“Apa katamu kau hendak lamaran?”

Jujur, Saras sudah dua tahun jomblo. Dia mengangguk mantap. “Ya, Pak.”

Bos Besar terdiam. Pupilnya membesar. Saras rasanya punya ingatan tentang pupil lain yang melebar karena kaget akibat dirinya.

“Baiklah,” ucap Bos Besar kemudian. “Saya akan minta Wendah menemani saya kalau begitu.”

Saras mencelos. Apa? Begitu mudahnya? Sekali menolak dan satu dari tiga sekretaris cantik itu akhirnya akan diberdayakan? Tuhan Maha Ajaib!

“Terima kasih, Pak.” Saras bicara.

Bos Besar tak menjawab. Hanya menatap Saras. Membuat punggung perempuan itu dialiri getar cemas. Lalu seperti deja vu, Saras kembali pada malam itu. Saat dia memenggal kepala Sang Naga. Memutus semua gelora kehidupan dari matanya. Saat kepala itu meluncur dan Saras menemui matanya yang hanya menyorotkan satu cahaya: dingin. Saras melihat sorot yang sama di mata Bos Besar.

Kalau mimpi digigit ular sih katanya mau ketemu jodoh. Tapi kalau naga, apa, ya? Komentar salah satu temannya terngiang di telinga Saras.

Saras tak tahu. Saras belum sempat digigit, dia langsung memenggal kepala sang Naga.

Saat ini, terbangun dan siang bolong, Saras merasakan kembali perasaannya yang menyurut. Dia sudah melakukan kesalahan besar, itu ucap sebuah sura dalam dirinya. Namun Saras tetap tak sepenuhnya mengerti.

totga

.

.kkeut.

Iklan