Tag

,

477w. Pacaran anak muda zaman sekarang, ck…ck…ck…

.

Jerawat

Marischka bergeser menjauh. Apa namanya Sehun kalau tidak mengejarnya?  Meski Marischka memelototinya, Sehun hanya nyengir tak merasa bersalah. Sampai akhirnya Marischka pindah tempat duduk, punggung  menghadapi wajah Sehun.

“Ya, ya, yah…” Sehun mulai protes.

Marischka kembali memelototinya. Sehun merana.

Marischka yang melotot itu menakutkan. Tapi demi apa, tetap cantik. Tapi demi apa lagi yang lain, ceweknya itu tidak kurang dari sangat menyebalkan.

Marischka berpaling dan Sehun nelangsa. Apa salahnya?

“Oke, aku pulang,” Sehun berkata pelan. Dia tidak ingin pulang, sumpah. Hanya sepertinya dia memang disuruh pulang. Walau baru datang lima menit lalu. Setengah jam lalu sih, sebenarnya.

Marischka bisa dibilang tidak bergerak.

“Kau akan membiarkanku pulang?”

“Aku tidak menyuruhmu datang,” Marischka menjawab ketus.

“Memang aku pembantumu, kau suruh datang baru aku datang?”

“Kau terlalu berlebihan.”

Memutar mata, Sehun tidak mundur, “Apa salahnya datang menemui pacar sendiri? Lagipula kutelepon kau bilang tidak punya rencana apa-apa.”

“Aku bilang aku sedang di rumah, ada yang harus kulakukan.”

Sehun mengerutkan kening. Memang begitu.

“Kau tidak jadi pulang?” masih punggung Marischka yang bicara padanya. Kemarahan Sehun mendadak meletup.

“Ya!” bentaknya.

Letupan yang mungil, karena dia langsung menyesal melihat bahu Marischka terlonjak keras karena bentakannya. Putus asa, dia melanjutkan dengan lebih lembut, “Kau tidak kangen padaku?” Marischka diam saja. Sehun merasa rendah diri. Jadi dia mengulangi pertanyaannya, “Kau tidak kangen pada es krim yang kubawa?” Suaranya lebih lirih dari sebelumnya.

“O, terima kasih. Nanti kumakan. Sekarang kau pulang saja,” akhirnya Marischka bicara dengan normal. Dengan kalimat yang membuat emosi Sehun jadi abnormal.

“Tapi aku kang—“

Marischka bergerak cepat menyambar lengan Sehun, menariknya ke pintu, mendorongnya keluar, menutup pintu tepat di depan wajah lelaki itu. Sehun menganga di tempatnya. Apa-apa—

Pintu kembali terbuka, Marischka muncul dengan telapak tangan menutupi kening. Cewek itu berjinjit sedikit demi mengecup Sehun. Bibir mereka bersentuhan halus. Terlalu cepat dan singkat untuk letupan besar yang langsung menyambar Sehun. Itulah Marischka, sedikit dan sebentar saja dosisnya, Sehun jadi tidak bisa lagi pura-pura tenang atau cool.

Memperparah keadaan, sekarang Marischka menatapnya lurus-lurus. Matanya terlalu hijau untuk wajah oriental yang membingkainya. “Minggu depan,” cewek itu berkata. “Datang lagi minggu depan. Jerawatku sudah hilang.”

Lalu pintu menutup di depan Sehun tanpa basa-basi. Dan tanpa dibuka lagi kali ini.

Sehun berbalik dengan menurut. Tangannya masuk ke saku, kaki melangkah pelan sampai di luar pagar. Satu, dua, sepuluh langkah kemudian, ada kerikil malang menghalangi langkahnya. Mendadak kekesalannya meroket, bukan sekedar letupan. “AAARGH!” teriaknya sambil menendang kerikil di hadapannya keras-keras. “Cewek bodoh! Tidak peka! Bule dingi—“

“Kau cari mati, ya?!” seseorang merenggut kerah baju Sehun.

Sehun menoleh dan mendapati wajah seseorang memerah di dahi. Seperti digigit serangga. Serangga yang sangat besar. Atau mungkin, melihat kerikil yang familiar di tangan orang itu, serangganya terbuat dari batu. Mata orang itu menyala-nyala, napasnya beruap, mungkin sebentar lagi berapi.

Ingat roket Sehun tadi? Roket itu terjun bebas. Mendadak gagal mesin.

Sial, pikir Sehun sebelum nyengir lebar memohon belas kasihan bagi nasibnya.

.

semar3

 

.

-cut-

Iklan