Tag

,

4,127w. also @ Saladbowl. Warning: rasisme; pembaca diharapkan kebijaksanaannya. Adakah kasus kriminal di New York yang tidak berkaitan dengan narkoba?

.

Ruang interogasi selalu sama. Dingin dan… dan… kotak. Sangat kotak. Andersen muak dengan kotak.

Di sebelahnya, Detektif Wayne sedang ribut dengan pengacara Cina sialan yang keras kepala. Meja digebrak. “Itu bukan pertanyaan menjebak!” Suara Wayne keras memenuhi ruangan. “Kami hanya melaksanakan tugas menginterogasi saksi—”

“Pertanyaan anda mengarahkan klien saya untuk menjawab sesuai yang anda ingin dengar. Dia punya hak untuk tidak memberikan—”

Fucking Chinese!” Wayne, kelewat emosional seperti biasanya, melempar kursinya terjengkang ke belakang.

“Saya akan catat itu sebagai penyerangan,” pengacara—Andersen sepakat dengan Wayne untuk yang satu ini—sialan itu berkata tenang. Ketenangannya membuat Wayne seperti mendidih, Andersen mungkin saja melihat asap di puncak kepalanya; dan membuat dirinya sendiri geram di dalam.

Andersen belum pernah berurusan dengan orang Cina yang tidak membuat masalah. Dia tidak ingin bersikap rasis tapi memang di dalam dirinya selalu ada rasa waswas menghadapi mereka. Ada apa dengan mata yang tidak bisa dilihat itu. Menurut Andersen, mereka tampak seperti selalu menyeringai penuh perhitungan. Mereka yang datang ke kantor polisi selalu bermasalah dan pengacara di depannya ini, Jack Lee—bukan Jet seperti bintang film itu—bukan pertama kalinya datang untuk membela teman sebangsanya.

“Dengar, Lee…” Andersen meraih bahu Wayne. Itu sebuah kode. Mereka berpasangan dan saat polisi baik dan buruk harus berganti posisi, kode mereka adalah menepuk atau menyentuh bahu yang lainnya. “Detektif Wayne sama sekali tidak bermaksud demikian. Ayolah. Kau lihat dia, pacarnya baru saja datang dan mereka baru bermesra-mesraan sebelum klienmu dan kau datang untuk ditanyai.”

Tatapan Wayne padaku, Hei!

Aku tersenyum lebar, pada Lee, tapi untuk Wayne sebenarnya; kadang membuat dia jadi lelucon cukup menyenangkan. “Kau juga pasti tak kan suka kan kalau disela saat sedang bermesraan? Tapi sudahlah. Bukan itu masalahnya. Klienmu ini, ng… dia tertangkap basah menyimpan barang bukti berupa senjata—”

“Diduga. Kita masih belum tahu apakah senjata itu yang digunakan untuk membunuh Brigitta Collar, jadi saya sarankan untuk menggunakan kalimat yang lebih umum,” Lee Besar Mulut ini menyelaku.

Mengangkat tangan, aku juga mengangkat bahu. “Barang bukti yang diduga kuat adalah senjata yang menewaskan Miss Collar. Aku yakin hasil DNA sebentar lagi keluar.”

“Kalau begitu tak ada lagi yang bisa dibicarakan. Selama tidak ada bukti kuat bahwa klienku adalah pemilik senjata tersebut, kalian tidak bisa melakukan apa-apa padanya. Mari Tuan—”

“Wow! Wow! Tunggu dulu—“ Tuan Sok Pintar, Andersen menghina dalam hati. “—klienmu juga tidak bisa pergi dari sini. Dia harus menjelaskan bagaimana benda itu bisa ada padanya. Itu kalau benar dia bukan pemiliknya.”

Lee melempar tatapan mengejek pada Andersen. “Klienku ini bukan orang bodoh, Detektif. Kau pikir dia akan berkeliaran dengan senjata pembunuhan sementara dia tahu pasti akan melewati pemindai di bandara? Coba kau pikir. Dia bahkan tak berusaha menyembunyikan barang itu. Pisaunya ada di bagian luar tasnya yang terbuka paksa. Siapapun bisa memasukkan benda itu ke sana.”

Andersen juga sudah tahu hal itu. Justru di situlah letak masalahnya. “Dia tetap tidak boleh beranjak ke manapun,” Andersen mendengar Wayne bersuara. Rekannya itu lantas meletakkan Surat Perintah Penahanan atas klien Lee di atas meja.

Andersen puas melihat perubahan di mata  Lee. Meski hanya sekejap.

“Kau tahu cara kerjanya, Lee…” Wayne bicara lagi, suaranya berubah tenang dengan mencurigakan. “Selangkah saja dia keluar dari ruangan ini, dia tak akan bisa kembali ke Cina—”

“Korea.”

“Apa?” Wayne menyipitkan mata.

“Klienku dari Korea, bukan Cina.”

Wayne tampak bosan. “Kau lihat aku peduli?”

Andersen menepuk bahu Wayne untuk menunjukkan kesetujuannya, tapi rupanya Wayne salah mengerti. Menoleh, rekan Andersen itu menatapnya menunggu. Oh, oke, Andersen yang salah. Kode berganti peran itu.

Tidak siap, Andersen berdeham membeli waktu. “Dia tak akan pulang ke Korea dengan nama baik kalau dia keluar dari sini,” ulang Andersen, merasa bodoh sekaligus pintar tanpa alasan yang benar-benar jelas.

Mendadak Andersen merasakannya. Tatapan dari klien Lee. Terkejut melihat tatapan lelaki itu sama sekali tidak keras, Andersen berusaha mengalihkan perhatian.

Dia mengatakan sesuatu pada Lee tanpa dia sendiri sadar apa yang dikatakannya. Konsentrasinya sudah buyar oleh pertemuan pandangnya dengan lelaki Ci—ah—Korea itu.

Salah satu sisi wajahnya terasa hangat. Dia masih merasakan tatapan lelaki asing itu padanya.

Berdeham lagi, Andersen bangun. “Aku ingin mengambil kopi. Kalian ingin kopi?” Dia bertanya pada tiga orang lain di ruang itu.

Wayne menatapnya terperangah. Lengan atas Andersen terasa geli karena rasa malu yang mulai timbul. “Apa?” Tantangnya pada Wayne. “Aku hanya menawari kopi.” Meski dia tak pernah melakukannya pada tersangka yang manapun sebelum ini. Andersen mendalih dirinya sendiri bahwa mereka sudah di sini selama hampir empat jam, mereka semua pasti sudah lelah.

Lee menggeleng sambil mengernyit, kliennya menggeleng sambil terus menatap Andersen. Wayne, “Boleh juga. Thanks.

Andersen meninggalkan ruangan sambil melambaikan tangan. Orang Korea sialan.

.

“Aku berjalan ke arah toko bebas pajak—” tangan Andersen yang terangkat membuat lelaki di hadapannya berhenti bicara.

“Kau meninggalkan kopermu?” Andersen bertanya. Pertanyaan yang sudah dilontarkan sekitar sembilan kali selama dua jam terakhir. Para bersalah biasanya mulai berubah di pertanyaan ketujuh. Lelaki ini tidak demikian. Dia tetap menatap Andersen lurus-lurus dengan mata sesekali menatap ke kiri atas.

Berpikir. Atau mungkin memikirkan kebohongan.

Tapi kebohongan selalu terlalu lancar diucapkan.

“Saya tidak ingat,” lelaki itu menggelengkan kepala. “Maksud saya, saya tidak tahu.”

Andersen mengangkat alis.

“Saya sudah berusaha mengingat semuanya tapi memang saya tidak ingat yang lain,” lelaki itu bicara lambat-lambat. Bahasa Inggrisnya hati-hati dan kaku. Layaknya orang yang menggunakan bahasa selain Inggris sebagai bahasa ibu.

“Bisa tolong Anda ceritakan sekali lagi kegiatan Anda hari itu.”

Lelaki di hadapan Andersen mendesah dan tampak putus asa. Tampangnya lebih parah karena lelah. Tapi Andersen juga lelah, jadi dia tak peduli.

“Kemarin hari terakhir saya di New York. Saya bangun pukul delapan pagi dan sarapan di lobi hotel. Kembali ke kamar—”

“Apa yang anda lakukan saat sarapan?” Andersen menyela.

Lelaki itu menatap Andersen cukup lama. Andersen menatap balik.

“Maaf?” Lelaki itu bersuara ragu.

“Saat sarapan, apa yang anda lakukan?”

Lelaki itu menelan ludah. Pertanda bagus. Ada yang membuat lelaki ini gugup. Jadi semuanya dimulai saat sarapan. “Hmm?” Andersen mendesak.

“Yang… saya lakukan saat… sarapan…” lagi, tersangka itu menatap Andersen. Sorotnya tak yakin. “Eh… saya… sarapan…?”

Andersen melongo. “I beg you pardon?”

“Saya… ehm… ah! Sarapan.” lelaki itu membuat gerakan dengan tangannya. Membentuk lingkaran di atas meja, membuat gerakan seperti memegang sesuatu, lalu menyendok, mengarahkan tangan ke mulut, “Saya makan!” Lelaki itu tersenyum lebar. Tampak bangga dengan penjelasannya. Tampak konyol.

Yes. Right. Anda makan. Maksud saya apa anda mengobrol? Bertemu orang-orang? Menumpahkan makanan?” Andersen berusaha bersabar.

Lelaki di depannya ber-“aah,” mengerti. Dia tersenyum malu ke arah Andersen. “Saya pikir ucapan saya tidak jelas,” lelaki itu berkata.

Ada yang tidak tepat mengenai lelaki ini. Dia masih muda, warga negara asing dan tampak berpendidikan. Tapi dia juga sedang berada di negeri asing, terkena masalah dan saat ini sedang ditanyai untuk sebuah kasus kejahatan. Lelaki ini terlalu tenang untuk dianggap tidak bersalah, tapi semua sikap tubuhnya sangat proporsional. Seperti penolakannya saat pertama dibawa ke kantor polisi. Dia berontak, tampak bingung serta marah, tapi tidak benar-benar menolak, bahkan cenderung mudah untuk diajak bekerja sama. Lalu ketika diminta berulang kali menceritakan kejadian yang sama; dia kesal, namun terlihat jelas upayanya menahan diri dan menuruti kemauan pihak kepolisian.

Andersen bingung. Lelaki ini terlalu pasrah untuk menjadi pihak yang benar-benar bersalah, sekaligus terlalu lihai untuk tidak dicurigai.

“Saya makan pastry dan minum segelas kopi. Ah!” Mata lelaki itu berkilat ringan. “Kemarin tidak ada cangkir, jadi saya menggunakan gelas yang saya temukan.”

“Anda bicara dengan siapa saja?”

Lelaki itu mengernyit berpikir. “Tidak ada.”

Andersen menatapnya. “Tidak ada? Pelayan sekalipun?”

Lelaki itu menerawang. “Saat saya mencari-cari cangkir semua pelayan yang terlihat sedang melayani meja lain, karena saya menginginkan kopi segera, saya menuju ke meja tempas jus disajikan dan mengambil gelas dari sana. Saya menggunakannya untuk mengambil kopi. Tak ada seorangpun di meja minuman jadi, ya, saya tidak bicara dengan siapapun.”

“Bagaimana saat check out? Anda bertemu dengan seseorang di lobi?”

“Saya bicara dengan resepsionis. Oh, lalu memberi tip pegawai hotel.”

“Lalu anda langsung menuju bandara?”

“Setelah check out, ya. Tapi setelah sarapan saya tidak langsung check out. Saya—”

“Berjalan-jalan dulu di Central Park, ya.”

Lelaki itu terdiam. Lalu, “Maaf, Detektif. Saya tidak mengerti. Saya sudah mengulangi cerita ini lusinan kali. Apa lagi yang ingin anda ketahui?”

Andersen mengangkat bahu. “Kami hanya perlu melakukan pengecekan menyeluruh.”

“Berulang kali?”

Andersen menarik napas. Dia yang seharusnya bertanya, bukan lelaki di hadapannya ini.

Menepuk meja, dilemparkannya senyum lebar dengan simpati palsu, “Beristirahatlah sejenak. Kami akan kembali padamu nanti.”

Kemudian dia beranjak dari tempat itu.

.

“Aku punya firasat kuat dia bersalah.” Wayne berdiri dengan tangan tersimpan di saku celana. Pundaknya kaku.

“Aku tahu dia bersalah,” Andersen menjawab, lengan terlipat di depan dada.

Aku, sementara kalian sedang bermesraan dengan firasat, ditelepon Kedutaan Korea Selatan, meminta dia segera dilepas.” Kepala Polisi Stenson Hamilton bergumam riang. Dulu keriangan Hamilton bisa mencairkan suasana. Sekarang, auranya masam.

Mereka bertiga berkumpul di sebelang rung interogasi dan sedang menatap tersangka pembunuhan Brigitta Collar, wanita pirang menarik berusia awal tiga puluhan. Lelaki yang tidak mungkin lebih dari tiga puluh itu berpenampilan bersih dan rapi. Badannya tinggi untuk ukuran orang Asia dan pembawaannya cerdas. Terlepas dari bagaimana Andersen menganggap tatapannya mengganggu, lelaki itu mau bekerja sama dengan baik dengan pihak kepolisian. Alibinya sangat buruk, dan bukti-bukti mengarah pada lelaki itu, namun motifnya sama sekali tidak kuat; meski cukup seandainya tuduhannya hanya penyerangan. Pihak kepolisian sudah sangat gatal ingin menangkapnya sebagai terpidana, tapi rupanya lelaki itu seseorang yang cukup disegani di negaranya; terbukti dari telepon Kedutaan Besar yang langsung meminta pelepasan sang warga negara (biasanya penangguhan penahanan adalah permintaan terkuat).

Kenapa juga Brigitta Collar harus tertarik pada daun-daun muda. Dia tidak akan mati seandainya dia tidak ceroboh dan memperturutkan kemauannya mengencani lelaki-lelaki belum matang. Ditambah lagi, dalam kasus ini, adalah orang asing.

Kenapa dia membunuh Collar?” Wayne bertanya mengambang.

Exactly my question,” Andersen menjawab.

Brigitta dan lelaki itu diketahui hanya berkencan semalam. Setelah itu Brigitta berkencan dengan lelaki muda lain sementara lelaki ini melanjutkan aktivitasnya menjadi turis. Dia tidak keluar NY, itulah kenapa sangat mudah menghubungkannya dengan pembunuhan Collar yang terjadi keesokan malamnya.

“Jangan lupa pada Logan,” Stenson berujar.

Logan, adalah tersangka lain yang saat ini hampir diturunkan statusnya menjadi saksi. Pisau besar alat pembunuhan Collar ditemukan di dalam tas Si Korea, jadi Logan, yang berkencan dengan Collar pada malam sebelum wanita itu terbunuh, secara tidak resmi sudah tidak menjadi tersangka.

Meski Stenson memiliki pendapat yang berbeda.

“Mari kita tanyai Logan lagi,” Andersen mengajak Wayne sebelum keluar ruangan.

.

Sepanjang menanyai Logan, Andersen terus memikirkan si lelaki asing. Kenapa lelaki itu membunuh Collar, adalah pertanyaan terbesarnya. Bahkan seorang psikopat memiliki pemicu saat mengeksekusi korbannya. Lelaki itu bukan psikopat, Andersen yakin.

“Ya ampun, kalian mau mendengar berapa kali lagi? Sudah ratusan kali kubilang, aku tidak bertemu wanita itu lagi sejak kami selesai esek-esek!” Logan berseru jengkel.

“Tidak perlu marah-marah, pal,” Wayne menyergah bosan.

“Kalian membuatku sakit kepala. Kata kalian, dia dibunuh pakai apa? Pisau? Di mana senjata itu sekarang? Kalian sudah menemukannya? Kalian jangan menuduh sembarangan kalau tidak punya barang bukti!” Logan masih bicara dengan nada tinggi.

“Oh, kau tidak perlu khawatir tentang itu. Kami sudah menemukannya dan sebentar lagi akan memastikan apakah ada dna-mu di sana atau tidak,” Wayne menggertak. Andersen tahu, rekannya itu sudah sebal. Logan bukanlah apa yang kau sebut sebagai orang ramah.

Logan membelalak. Dia tertawa gugup. “Kau tak akan menemukannya, Detektif. Karena aku bukan pembunuhnya.” Lucu, tapi suara Logan menjadi lebih rendah sekarang.

Mendadak Andersen punya ide. “Dengar, apa kau tahu lelaki ini?” Diletakkannya foto orang Korea Selatan itu di atas meja.

Logan menatap sekilas, lalu tatapannya kembali ke arah Andersen. “Tidak,” jawabnya.

Andersen mendengarnya. Dia yakin Wayne juga. Jawaban Logan terlalu cepat, terlalu pasti, terlalu yakin. Atau mungkin bukan itu semua, tapi insting Andersen mengatakan bahawa Logan telah mengakui kebalikan dari kata-katanya.

.

Mereka di ruang Stenson sekarang. “Jadi menurutmu Logan mengenal lelaki itu?”

Andersen mengangguk mantap. Wayne membeo di sampingnya. Keluar dari ruang interogasi Logan setelah melontarkan beberapa pertanyaan bermodus, dia dan Wayne sudah saling menginformasi dugaan masing-masing. Pada dasarnya mereka sama-sama berpikir bahwa Logan telah berbohong mengenai hubungannya dengan lelaki asing di ruang interogasi lainnya.

“Apa kalian punya bukti tentang ini?” Stenson memiringkan kepala. Jelas ragu.

Mata Wayne bergerak. Gusar. “Tidak,” Andersen menjawab kecut. “Sayangnya tidak.”

Guys…” Stenson bahkan tak perlu melanjutkan kalimatnya. Andersen dan Wayne tahu bahwa pimpinan mereka itu keberatan mendukung teori mereka tentang Logan.

“Dua puluh empat jam,” Andersen berkata.

Stenson menatapnya skeptis.

“Ayolah, Chief. Beri kami dua puluh empat jam saja untuk membuktikan teori ini,” Wayne membantu Andersen.

Stenson mengusap wajah. Setelah mendesah dengan berlebihan, dia berkata, “Baiklah. Dua puluh empat jam, itu saja.”

Wayne dan Andersen berlalu dari sana tanpa berkata apapun.

.

“Logan hanya pengedar kelas teri,” Andersen menutup berkas di hadapannya. Benaknya mengeluh bosan; adakah kasus kriminal di New York ini yang tidak berkaitan dengan narkoba?

“Logan bukan sekedar pengedar, Vin. Dia penjerat. Malam itu dia mengencani Collar dengan bonus menjerat cewek itu untuk membeli pil darinya,” Wayne menyanggah Andersen. Saat mereka hanya berdua seperti ini, biasanya mereka saling memanggil nama depan.

“Tapi Collar mencurinya alih-alih membeli,” Andersen berkata lagi, tatapannya menerawang.

“Cewek itu mencuri lebih banyak. Dia mencuri jatah Cina sial itu,” mulut Wayne benar-benar tak mengenal rem kalau mereka sedang tidak dikelilingi ‘yang berwenang’.

“Korea.”

“Oh, jangan mulai!”

“Kenapa kau sangat membencinya? Kau sangat rasis!” Andersen bertanya. Sama sekali tidak punya niat protes.

“Kau harusnya bersyukur aku cukup rasis untuk kita berdua. Jangan kau kira aku tak tahu apa pendapatmu tentang orang itu.”

Andersen terkekeh. “I don’t know, man. I just don’t like him.”

“Kau tidak pernah suka orang mata sipit.”

“Kau kenal aku, lah…”

“Aku hanya benci penjahat. Dan aku benci pembohong. Aku tahu si Cina di sana itu kombinasi keduanya.”

Right. Berkat kau aku tidak perlu bersikap rasis di hadapan orang-orang. Trims.”

Wayne memandang Andersen polos-polos. “Sama-sama, man.”

“Kita punya satu masalah,” Andersen melanjutkan seolah mereka belum bicara sebelumnya. “Menurutmu, bagaimana si Cina itu membunuh Collar?”

Wayne mendecak. “Kurasa dia tidak membunuh cewek itu.”

“Begitukah?”

“Kurasa dia punya masalah dengan Logan. Lihat, aku sudah mengecek informasi rekeningnya.” Wayne melemparkan bendel rekening koran berisi rangkaian transaksi keuangan dalam Won. “Keuangan lelaki itu di Korea sana cukup mengesankan. Kurasa dia orang kaya. Semua pengeluarannya di sini dilakukan dengan kartu kredit dan tidak ada penarikan tunai sejumlah besar. Kita tahu kelas teri atau tidak, Logan tidak menjual pil sembarangan. Mereka tidak murah, dan Logan,” Wayne melemparkan bendel lain berisi rekening koran milik Logan, “tidak main kartu. Dia pemain tunai.”

“Hasil penggeledahan apartemen Logan tidak menunjukkan apapun.”

“Kau sudah menggeledah loker penyimpanannya di stasiun besar?” Wayne bertanya.

“Tidak ada uang tunai di sana.”

“Orang kita mengatakan Logan sedang terdesak. Dia sedang buntung akhir-akhir ini. Menurutmu si Cina itu tidak mau bayar?”

“Man, aku juga tidak. Aku tidak terima barang apa-apa!” Andersen menjawab.

“Pemeriksaan fisik—”

“Sudah dilakukan. Akhirnya.”

Wayne mendengus. “Lee sialan. Kita harus meminta surat perintah hanya untuk menggeledah tubuh tersangka.”

Andersen tergelak kecil. “Ide hebat kau menghubungi Hakim Brett, Bro. Lelaki itu harus mulai mengikuti konseling alkohol.”

“Lee akan membenci kita seumur hidup.”

“Aku memilih hidup begitu.”

Mereka tertawa sejenak. Senang rasanya bisa lepas dari tekanan sebuah kasus menyebalkan. Meskipun hanya sesaat.

“Bagaimana kita menghubungkan Logan dan si Cina itu?” Wayne bertanya sesaat setelahnya.

“Aku sedang menunggu cetakan percakapan—”

Ucapan Andersen terputus saat pintu diketuk.

“Hai, Vin. Ini rekaman percakapan telepon Logan yang kau minta. Isinya kacau, tapi sudah kutandai yang dari nomor-nomor asing.” Sesosok wanita cantik berkacamata berdiri di pintu.

“Oh, hai, Magg. Trims, ya. Kuhargai bantuanmu.”

Maggie mengangkat bahu lalu berlalu setelah berucap, “Tak masalah.”

Begitu Maggie lenyap di balik pintu yang tertutup, Andersen membalas seringaian Wayne yang sudah menunggu.

.

Meski bukti percakapan telepon tidak cukup kuat untuk dijadikan bukti, Andersen mengajukannya pada Stenson sebelum waktu dua puluh empat jam mereka berakhir. Dia berharap itu bisa membeli waktu dan harapannya terkabul. Logan kembali menjadi salah satu tersangka dan sekarang kedua orang favoritnya sudah pindah ke dalam sel di kantor polisi.

Pagi ini Andersen kembali mendatangi TKP berharap menemukan petunjuk. Dia sedang memandangi pohon tempat mayat Collar ditemukan ketika Wayne datang.

“Kurasa kau harus lihat ini,” ujar rekan Andersen itu.

Andersen menoleh. Dia melihat sebuah plastik segel di tangan Wayne. Di dalamnya ada potongan sesuatu. “Apa itu adalah apa yang kupikirkan?”

“Kalau kau berpikir ini patahan pisau yang digunakan untuk menikam Collar, kau benar.” Wayne menjawab.

“Di mana kau menemukannya?” Andersen bertanya penasaran.

“Di saku jaket Logan.”

Andersen membelalak.

“Semuanya ada di sana. Darah Collar, sidik jari Logan, ada beberapa partikel yang diduga serbuk kimiawi pil narkotika—kita mudah menghubungkannya, kan?” Wayne bicara panjang lebar.

“Tunggu, kau menemukannya dan menganalisanya tanpa mengatakan apapin padaku?” Andersen mendadak merasa dilangkahi.

“Bukan aku yang menemukannya tapi tim kita. Saat itu kita sedang pusing menghadapi Lee, jadi kita langsung menyuruh temuan apapun dianalisa di lab. Ingat?”

Merasa malu, Andersen tersenyum tidak enak. “Oh, ya, kau benar. Aku tidak ingat.”

Wayne hanya mengangkat bahu. Mungkin sudah terbiasa dengan Andersen yang penuh dengan prejudis.

“Kita tak bisa menemukan sidik jari Logan di pisau yang kita temukan dalam tas si Cina itu.” Andersen menggumam.

Wayne menggeleng, “Tidak, tapi aku menemukan kain berlumur darah Collar di saku jaket yang sama dengan tempat ditemukannya potongan pisau ini.”

“Yang benar? Di mana jaket itu kau temukan?”

“Logan memasukkannya ke tempat pencucian pakaian. Tebak tempat apa itu sebenarnya?”

Andersen menggeleng.

“Tempat pencucian uang kriminal kroco,” Wayne menjawab sendiri.

What?”

Wayne mengangguk. “Kau dengar aku. Logan langganan di sana. Dia sering mencuci bajunya di sana, tapi lebih sering baju-baju itu diambil tanpa dicuci. Dia keluar membawa uang bersih.”

Shit. Apa Matt tahu tentang ini?” Matt, teman Andersen di NYPD adalah pimpinan tim pengusut pencucian uang dan pengedaran uang palsu.

“Matt sudah mencurigai tempat itu. Temuan kita membantunya menggali lebih dalam.”

“Bagaimana dengan teman Cina kita?”

“Dia bersih. Aku sudah mengecek kamera pemantau di sekeliling tempat itu, teman kita itu tidak terlihat di manapun.”

“Ada kemungkinan menyamar?”

“Tidak ada. Sudah mengecek beberapa kali.”

“Sial, Paul. Kau harusnya memberitahuku semua itu.”

Kali ini Wayne menarik bibirnya dalam upaya tersenyum, tapi upayanya buruk. “Aku memercayaimu untuk menghadapi Stenson.”

.

Wayne tidak suka kesalahan. Termasuk jika itu adalah kesalahannya sendiri. Saat ini, dia tidak jujur kalau tidak mengakui bahwa dia sedikit gelisah berhadapan dengan orang…Korea—bukan Cina—yang tidak disukainya untuk mengakui kesalahan.

“Jadi begitu,” dia berharap dia tidak harus mengulang kata-kata maafnya. Terutama dengan Lee tersenyum miring penuh ejekan.

Lee berujar, “Jadi katamu…” oh, pikir Wayne. Jadi Lee tidak mau melepaskannya dengan mudah. “Klienku dijebak oleh saksi kalian yang sebenarnya adalah pembunuh aslinya?”

Lee brengsek. Mengusap wajah, Wayne, “Dengar, Lee, itulah gunanya pengusutan. Bukan salahku kalau klienmu mencurigakan.”

Mr. Shim,” Lee berkata dengan tekanan penuh pada nama kliennya. “Tidak mencurigakan kecuali di mata polisi penuh praduga. Tapi sudahlah, bukankah setiap manusia selalu melakukan kesalahan?”

Wayne naik pitam. Hanya saja kali ini dia menahannya. “Kami sudah meminta maaf, Lee. Don’t push it.”

Lee sudah hendak menyanggah, tapi Mr. Shim mengangkat tangan kemudian bertanya, “Tolong jelaskan padaku, Detektif. Bagaimana pisau itu bisa ada di sana?”

Wayne menghela napas sebelum berpaling ke arah si penanya. “Kami menelusuri jejak anda di bandara dengan CCTV. Seharusnya anda ingat, tapi jika lupa pun wajar saja, ada orang yang bersenggolan dengan anda di depan toko bebas pajak. Anda sedang melihat produk wajah ketika itu dan kalian berdua terlibat percakapan singkat. Saat itulah orang itu menyusupkan senjata itu di tas anda.”

Shim tampak mengawang sejenak. Kemudian menggeleng, “Maaf, saya tidak ingat. Tapi kalau benar demikian, kenapa saya? Saya yakin saya tidak bertemu siapapun yang saya kenal di bandara itu.”

“Siapapun bisa menjadi korban kejahatan, tapi anda seharusnya mengenal Tommy Logan. Dialah yang menjebak anda.”

“Tommy siapa?”

Wayne mengeluarkan foto Logan dan meletakkannya di hadapan Shim. Lelaki itu tampak terkejut. Saat tatapannya bertemu dengan Wayne, detektif itu tahu lelaki itu tahu sudah terlambat baginya berpura-pura tak mengenal Logan.

Shim menelan ludah. “Namanya bukan Bob Smith?”

Wayne mendecak kasihan. “Bukan. Namanya Tommy Logan dan dia pengedar aktif meski tidak terlalu sukses.”

Di sebelah Shim, Lee bergerak-gerak gelisah. Shim berkata, “S-saya h-hanya… Saya bukan…”

“Cukup, Mr. Shim. Anda berhak diam dan tak mengatakan apa-apa yang tidak ditanya.” Lee memotong.

Wayne menyeringai. “Kami tak akan bertanya apa-apa lagi, anda bebas pergi.”

“Bagus!” Lee yang menjawab. “Mari pergi dari sini, Mr. Shim.”

“Kenapa dia menjebak saya?” Shim bergeming. Ditatapnya Wayne lurus-lurus.

Wayne mempertimbangkan kata-kata memojokkan untuk sesaat tapi kemudian memutuskan itu sama sekali tidak perlu. Shim selalu sopan tak peduli seberapa buruk sikapnya pun Andersen terhadap lelaki itu. “Kau bertransaksi dengannya. Untukmu, transaksi mungkin batal karena kau tak jadi menerima apapun. Untuknya itu cukup merugikan karena bisnisnya mulai sepi.” Mengangkat bahu, detektif itu melanjutkan, “Akhir-akhir ini, bahkan senggolan bahu bisa membuat seseorang memutuskan membunuhmu. Yang dilakukan Logan kepadamu hanya pembalasan kecil.”

“Tapi kenapa dia membunuh wanita itu?” Shim bertanya lagi, wajahnya bingung.

“Collar mencuri dari Logan. Itu alasan yang lebih dari signifikan bagi orang-orang seperti Logan untuk membunuh orang lain.”

“Tapi—wanita itu tidak kelihatan seperti pencuri.”

Wayne ingin terkekeh. Tapi dia tidak pernah terkekeh. “Aku yakin kau akan terkejut mengetahui apa yang bisa dilakukan orang-orang di balik penampilan mereka.”

“Baiklah, terima kasih, Detektif Wayne. Boleh klien saya pergi sekarang?” Lee buru-buru mencegah saat Shim tampak hendak mengatakan sesuatu lagi.

You’re free to go. Tapi kami belum bisa membiarkan anda ke luar kota atau ke manapun di luar US sebab anda perlu menjadi saksi.” Wayne menjawab.

Shim mengatakan tidak masalah, kemudian berpamitan pada Wayne, mengikuti pengacaranya ke luar ruangan.

.

Persidangan Logan berlangsung cukup lama dan alot. Penjahat itu tetap menyatakan diri tidak bersalah. Dia bersikeras tidak membunuh Brigitta Collar, meski semua bukti mengarah padanya. Logan tidak bisa berkutik. Hakim mengetuk palu disertai keputusan 43 tahun penjara. Logan mengamuk, tapi tak terlalu banyak pihak yang bersimpati padanya.

Selama masa persidangan, Andersen dan Wayne tak pernah melewatkannya barang sekalipun. Mereka mencermati bagaimana kasusnya berkembang dan pada akhirnya bernapas lega saat hakim memberikan keputusan.

Setelah persidangan terakhir, Andersen bertemu si Korea di toilet gedung pengadilan. Lelaki itu menawari senyum basa-basi yang dibalasnya dengan hampir tanpa berpikir; Andersen terlalu terbiasa menyunggingkan senyum palsu.

“Aku akan segera pulang ke Korea Selatan,” lelaki itu bicara saat mereka berdiri bersisian mencuci tangan.

Andersen mendengus sopan. “Kabar baik,” ucapnya ramah.

Lelaki itu tersenyum tanpa suara. “Kau tahu, kurasa orang Amerika harus mulai belajar cara bersikap lebih baik.”

Andersen memandang lelaki itu. Sama sekali tidak menduga serangan verbalnya yang langsung. Selama ini dia mengira lelaki di sebelahnya ini adalah pria menyebalkan dan menjadi begitu karena terlalu naif dan lurus dan… oriental (entah apa hubungannya). Yang baru saja lelaki ini katakan sangat bertolak belakang dengan karakternya.

“Detektif Andersen, apa kau tahu orang bisa membunuh hanya berdasarkan alasan remeh?” Lelaki itu sudah selesai mencuci tangan dan saat ini sedang mengeringkan kedua tangannya dengan tisu. Andersen mengangkat alis mendengar pernyataannya.

Melihat reaksi Andersen, lelaki itu tertawa kecil, “Detektif Wayne yang mengatakannya padaku. Logan membunuh Collar karena mencuri. Kupikir, bagaimana hal itu bisa terjadi? Apa orang Amerika sudah gila?”

“Apa aslinya kau memang banyak bicara?” Andersen memiringkan kepala.

Lelaki itu tertawa kecil. “Sekarang aku bisa melihat kenapa setiap orang sangat ingin membunuh orang lain. Kehidupan kalian begitu penuh dengan kesinisan kalian bahkan tidak memandang orang lain sebagai manusia yang punya perasaan.”

Si Korea itu berjalan mendekati Andersen di dekat pintu keluar. Di sebelahnya, lelaki itu berhenti. “Tapi kalau cerdik, di sini kalian bisa melakukan apa saja termasuk membuat orang lain membayar perbuatanmu. Bukan begitu, Detektif?”

Andersen mengerjap.

Saat dia menemukan kembali kesadarannya, lelaki itu sudah keluar dari toilet.

.

“Hei, Vin,” seorang petugas berseragam menyapa Andersen. Dia mengenalinya sebagai petugas lapangan yang sering kebetulan membantunya menyelidiki hal-hal kecil. Andersen membalas sapaannya dengan lambaian tangan.

“Senang Logan sudah tenang di selnya?” Petugas itu bertanya ringan.

“Yeah, lega.”

“Aku membawakanmu ini.”

“Apa ini?”

“Ini berkas yang kau minta tentang pil-pil milik Logan. Kau benar, pal, itu barang unik. Aku bisa menemukan yang lebih baik, tapi barang itu lumayan. Salah satu yang terbaik. Mereka tidak membuatnya di sini.”

Andersen memandang petugas itu dengan penasaran. “Oya? Di mana mereka membuatnya? Asia Tenggara?”

Petugas itu menggeleng. “Nah. Bukan. Barang itu sudah lama beredar tapi karena reaksinya yang lambat, kurang diminati di sini. Bukan berarti tak ada pembeli, pengirimannya dari Korea Selatan masih terus berlanjut saat ini.”

“Apa?”

“Itu bukan barang baru—”

“Bukan, bukan, maksudku, dari mana barang ini berasal, katamu?”

“Korea Selatan. Mereka belum berhasil menemukan penyalurnya. Sama seperti produknya, orang-orang itu bermain halus. Sangat rapi. Kudengar bahkan mereka menggunakan orang-orang terkenal seperti selebriti sebagai agen.”

Di suatu tempat di dalam kepalanya, ada berkas terbuka di hadapan Andersen. Sesuatu tentang data diri si lelaki Korea yang tatapannya membuat Andersen ingin meninju sesuatu. Di sana tercatat nama lelaki itu: Shim Changmin; profesi: aktor pertunjukan musikal.

Lalu memorinya terputar kembali pada pertemuannya dengan Shim Changmin di toilet pengadilan. Lelaki itu menyembunyikan senyum lebarnya dengan tangan. Matanya berkelip dengan binar yang seolah mengatakan, oh Pak Detektif, kau sama sekali tidak tahu apa-apa, ya.

Andersen merasa geram. Herannya, dia tak mampu melakukan apa-apa sekarang ini.

.

mayx02

.

.kkeut.

 

Iklan