1,514w. Secondly at Saladbowl de Trois.

.

“Hari ini tidur sampai jam berapa, Ay?” tanya Yati.Aku menyendok nasiku. “Jam delapan kurang lima.”

Yati tertawa. “Dasar kebo.”

“Ya coba aja kamu bangun jam dua, pasti jam enam sudah ngantuk lagi.”

“Aya tidur? Di mana?” kali ini Rindu yang bertanya.

“Iya, dia setiap pagi tidur di musholla. Bikin orang-orang yang mau sholat segan masuk. Nggak tahu kenapa hobinya macam makhluk kerajinan, bangun jam dua setiap pagi.”

Aku mendelik pada Maris yang dengan seenaknya menyuarakan jawabanku. Belum termasuk menyelewengkannya untuk mencemarkan nama baikku. Untung sebagai orang baru Rindu tidak termasuk orang baru yang reseh.

“Fitnah,” aku berkata datar. Inginnya sih berseru atau apa, tapi kantin di jam makan siang bukan tempat yang tepat untuk menelanjangi dirimu sendiri. Lagipula, apa yang bisa kukatakan? Tubuhku pasti otomatis bangun pada pukul dua pagi. Aku tidak bisa menghentikannya.

“Loh, kan kamu sendiri yang bilang kalau setiap pagi kamu tidur di musholla,” Maris menangkis.

“Tapi memang sih, Ay. Kalau aku jadi kamu, aku juga pasti butuh tidur banget,” Yati berkata menggusur kesempatanku membela diri. “Pekerjaan kamu itu bikin stres banget. Kamu butuh setiap istirahat yang bisa kamu dapatkan.”

Aku menuntaskan makan siangku. Selalu, aku paling cepat selesai. “Kalau nggak lapar aku juga lebih baik tidur siang.”

“Kalau itu mah jangan…” Rindu menyela. “Nanti kamu kena maag. Memang pekerjaan kamu berat banget ya? Aku lihat-lihat sih memang kalau sudah di meja, mukamu kayak ada tempelan ‘AWAS GALAK’ gitu.”

Aku melongo menatap Rindu. Tidak mengerti orang ini membela atau mengejek. Yati dan Maris sudah cekikikan di tempat mereka.

Mulutku baru terbuka hendak mendebat ketika suaraku menghilang. Aku mengambil minumanku dan menyeruputnya sampai hampir habis.

Yati menyindir, “Haus, Bu?”

Maris menyeletuk, “Atau ada Daus, Bu?”

Dang! Tepat sasaran. Dan tepat waktu pula. Sebab saat itu Daus menoleh dan tampak sama salah tingkahnya denganku saat mata kami bertemu.

.

Aku tidak pernah menyangka akan bertemu Daus. Kami bekerja di gedung yang sama, di perusahaan yang berbeda. Saat melihatnya pertama kali di lingkungan gedung, aku gelagapan tak jelas. Waktu itu teman makan siangku hanya Maris. Yati belum masuk di perusahaan kami. Mungkin kedengarannya agak jahat, tapi terkadang aku menyesali kedatangan Yati, sebab kalau Yati tidak muncul, tentu gelagapannya aku di sekitar Daus tidak akan diperhatikan oleh Maris.

Waktu itu Yati berkata sambil mengamati sosok Daus, “Nah, yang begitu itu yang bikin aku lebih senang makan siang keluar kantor daripada menitip pada OB.”

Sontak, aku dan Maris langsung menoleh. Maris langsung cekikikan, sepakat. Aku sendiri pias. Sebab yang dimaksud Yati adalah Daus. Sebagai yang paling muda di antara kami, Yati yang paling berjiwa bebas. Baginya, ramah dan flirting itu tidak ada bedanya. Dan dia adalah orang paling ramah—atau mudah flirting?—dengan orang lain. Melihat gelagatnya, aku seharusnya tidak terkejut saat melihat Yati mendekati Daus tanpa malu.

Namun tentu saja aku terkejut. Yati dengan santainya sengaja menabrak Daus, berkenalan dan mengajaknya duduk di dekat kami sebagai permintaan maaf pura-pura tanpa tahu kegelisahanku yang seperti cacing diberi garam. Daus kala itu tersenyum manis, santai saja menerima tawaran Yati. Hingga dia sampai di meja kami, melihatku, dan itu membuat senyumnya sukses beku. Tampak tegang dan berusaha menguasai diri, Daus memperkenalkan dirinya kepada kami semua, menyalami kami satu per satu. Termasuk aku.

Untukku, ini sudah ke sekian kalinya aku melihat lelaki itu. Bagi Daus, ini mungkin pertama kalinya dia melihatku di lingkungan kantor. Dia memperkenalkan dirinya padaku singkat sekali. Kupikir, itu hal yang bagus. Sayang, pikiranku dan Yati ternyata tidak sejalan. Yati justru langsung sadar bahwa Daus menyalamiku dengan aneh. Dan wajahku lebih aneh lagi ronanya dibandingkan ekspresiku yang manapun selama dia mengenalku.

Jadilah sejak saat itu Daus menjadi ‘incaran’ku—meminjam istilah Yati.

.

“Umur kamu berapa sih, tahun ini, Ay?” Yati bertanya padaku saat kami pulang makan siang hanya berdua karena Maris dan Rindu ada pekerjaan di luar kantor.

“Nggak sopan nanya-nanya umur ke perempuan,” balasku datar.

Yati mencubit lenganku. Aku ber-AWW keras. Lalu menyeringai.

“Berapa???” Yati bertanya tidak sabar.

“Kenapa, sih?” aku mencoba mengalihkan subjek.

“Kamu nggak kepengin nikah?”

Aku mendelik padanya. Dia ganti menyeringai ke arahku.

“Sebenarnya…” Yati bicara. Dia mengangkat tangannya. Dengan telunjuk tangan lainnya, dia menunjuk selingkar cincin di jari tengah. “Aku habis dikasih ini,” katanya dengan sedikit malu-malu dan kebanyakan bangga.

Aku mendelik. Ah, rupanya.

“Dia ngajak aku nikah tahun ini. Terus kemarin setelah makan malam dia bilang akan mengajak orang tuanya berkunjung segera,” Yati merujuk acara makan malam rutinnya dengan sang pacar setiap sebulan sekali.

Aku tersenyum lebar. “Selamaaaat!!!” aku berseru-seru girang. Kuraih tangannya dan mengamati cincin di jarinya. Penuh kekaguman aku memuji cincinnya.

“Menurut kamu…” Yati berkata pelan di sela seseruan kami. “…terlalu cepat nggak, sih?”

Aku mendongak menatap matanya. “Apanya?”

“Ya… kami memang sudah lima tahun pacaran, tapi aku baru dua puluh empat. Menurutmu… kalau aku menikah tahun ini, terlalu cepat nggak, sih?” Yati menjelaskan dengan kebahagiaan yang ragu-ragu.

Aku termangu. Rasanya seperti deja-vu. Untung pandangan menanti Yati membuatku cepat tersadar. Aku mendecak. “Ya nggak, lah! Itu umur yang pas banget. Selamat!!!”

.

Beberapa tahun yang lalu aku harus menghadapi Ayah dan Ibu dengan tegang.

“Kata kalian, sudah berapa lama kalian berhubungan?”

Aku menoleh cemas. Daus di sebelahku tidak membalasku, tapi langsung menjawab pertanyaan ayah, “Delapan bulan, Om.”

Bohong. Sebenarnya baru tiga bulan. Tapi jawaban itu sudah jadi kesepakatan kami.

“Apa tidak terlalu cepat?” Ibu bertanya. “Aya, kamu baru dua puluh…”

“Saya sudah diterima kerja, Om. Tapi di Sulawesi. Itulah kenapa saya ingin menikahi Aya,” Daus berujar. Nada cemas jelas dalam suaranya dan kubayangkan telapak tangannya pasti berkeringat dingin.

Benar dan bohong sekaligus. Kerja di Sulawesi itu bagian benarnya. Tapi alasan menikah? Konyol. Tentu saja bukan itu. Saat itu dalam kepalaku terngiang racauan kami berdua setelah malam itu, “Kita harus menikah, kita harus menikah, kita harus menikah.”

Karena malam itu, satu minggu sebelum Daus datang dan duduk di hadapan ayah dan ibuku, kami sudah terlalu jauh bertindak. Pertama dan sekali-kalinya sebelum menikah. Pertama dan sekali-kalinya sehingga kami berdua tak bisa memikirkan hal lain selain harus menikah karena takut aku hamil.

Keputusan menikah adalah keputusan terbaik untuk bisa melihat bahwa kami melakukan kesalahan. Terlalu muda untuk menikah? Tentu saja ungkapan itu muncul bukan tanpa latar belakang. Selalu ada orang-orang seperti aku yang menjadi alasan bagi tindakan semacam itu. Bereaksi, bukan bertindak karena tujuan.

Daus masih pontang-panting beradaptasi dengan pekerjaannya. Aku ngos-ngosan menjalani kehidupan rumah tangga yang tanpa persiapan. Enam bulan pertama kami terus-menerus merengek minta didukung secara finansial oleh orang tua sebelum mereka semua memutuskan kami harus belajar mandiri.

Rasa senang akan kebebasan melakukan apapun sesuai keinginan kami dengan cepat menguap. Kami gelagapan menanggapi status baru kami. Tanggung jawab dan kebijaksanaan harus segera kami kuasai. Tak ada waktu untuk belajar atau bertoleransi akan kesalahan. Konsekuensi adalah kepastian tak terelakkan.

Hidup pontang-panting seperti itu, kami hanya sanggup menjalaninya selama satu tahun setengah. Ibu sempat berontak dan ayah marah-marah saat kami pulang membawa kesepakatan cerai. Mereka berujar bahwa mereka dulu setuju karena curiga aku sudah hamil. Setelah setahun setengah kami masih tak memiliki keturunan, mereka akhirnya lega, tapi hanya untuk dihantam kembali dengan berita perceraian.

Tak ada yang mudah. Satu langkah pun setelah itu tak ada yang berjalan mudah. Namun untukku, aku sedikit bisa bernapas lega. Aku jauh lebih berhati-hati dalam hal berhubungan dengan laki-laki. Aku sudah pernah menikah, rasanya masih tak rela jika harus terikat lagi. Rasanya menyenangkan bisa melakukan semuanya sendiri tanpa dituntut pertimbangan ‘suami’.

Lalu kenapa, akhir-akhir ini aku merasa masam saat mendengar temanku yang a, b atau c akhirnya menikah? Bahkan rasanya seperti ditonjok tepat di dada. Tentu aku bukan ingin menikah lagi, kan? Tiga puluh satu dan mapan. Aku bahagia, bukan?

.

Cinta-Lama-Bersemi-Kembali

.

“Ini undangannya. Datang, ya…” Yati tersenyum lebar sambil mengulurkan sebentuk undangan pada Daus.

Aku mengunyah nasiku yang seperti karet. Tidak habis pikir kenapa Yati hobi sekali membuatku mati kutu dengan mengundang Daus makan siang bersama kami setiap kali ada kesempatan.

“Di Jakarta?”

Yati mengangguk. “Tadinya mau di Serang, tapi keluarga cowokku banyak di sini jadi ya di sini saja,” Yati menjelaskan. “Kalian bisa datang berdua kalau mau,” lanjutnya yang membuatku mendepak kakinya di bawah meja.

“Aduh! Kok nendang sih, Ay?” Yati mendelik padaku. Lalu menoleh pada Daus, “Jangan cubit-cubit! Genit! Aku udah mau kawin,” tegurnya sok suci.

Aku menggigit bibir. Daus menahan cengir.

“Sudahlah, kenapa masih aneh, sih? Kalian datang berdua juga nggak ada yang protes, kok,” Rindu berkomentar sambil menggigit kerupuk. Nasinya sudah ludes.

“Tapi Daus tanggung jawab cariin aku temen ya. Soalnya aku bakal sendirian nanti,” Maris menyeruput habis jusnya.

Yati melempar bungkus kerupuk kosong ke arah Maris. “Katanya nggak bakal bisa datang!”

“Ya ngerjain Daus aja, sih,” ungkap Maris asal. “Udah ah, bayar, yuk?” Lanjutnya tanpa peduli protes Yati.

“Aku sudah bayar, aku tunggu di luar, ya,” ujarku. Semua sepakat.

Saat menunggu itu, pipiku dicolek. Aku menoleh dan menahan napas. Daus tersenyum lebar, rupanya dia sudah selesai bayar. “Nungguin?”

Aku membalas senyumnya tanpa bisa menahan diri. “Iya. Sembilan tahun.”

Senyum Daus memudar, undangan yang terputar di tangannya mendadak berhenti. “Eh,” sahutnya kikuk. Aku yakin wajahku tidak kurang merah dari wajahnya. Kenapa menjawab begitu aku sendiri tidak tahu. “Jadi…” tanyanya sambil menunduk.

Tiba-tiba jari kelingkingku dikaitnya. “Sekarang sudah oke?”

Ya Tuhan, memang dipikirnya aku bisa memikirkan apapun selain: “Oke.”

Eh.

clbk

.

.kkeut.

Iklan