Tag

,

500w. secondly at Saladbowl de Trois.

.

mayx01

.

Jadi, inikah orangnya.

Itu bukan pertanyaan. Itu adalah pernyataan. Hari ini akhirnya aku melihat sendiri bagaimana rupa orang yang dijodohkan denganku. Tidak tepat juga seandainya kubilang aku kecewa melihatnya. Ada sesuatu yang menarik darinya meski menurutku tidak ada yang istimewa juga. Mungkin seandainya kami bertemu langsung, aku bisa menilai dia punya sisi lebih yang bisa diharapkan.

Mata Madam Merry berbinar. Ganteng kan, katanya dengan kepercayaan diri kelewatan.

Aku pikir lelaki ini terlalu muda. Meski dari percakapan yang aku lakukan dengannya via SNS, dia seharusnya cukup dewasa.

Aku memprotes Madam Merry, bilang padanya bahwa lelaki itu terlalu muda. Lalu kami terlibat tawar-menawar. Madam Merry bilang dia tidak melihat bahwa kami tidak cocok. Aku bilang itu karena kami saling menghormati orang yang baru dikenal lewat media sosial. Menurutnya itu tanda yang bagus. Aku bilang meski bagus, saat bertemu semuanya bisa berubah. Madam Merry membantah lagi, bilang bahwa aku harus mencoba bertemu dulu baru bisa memprotes.

Aku mendesah. Madam Merry memang tak bisa dibantah. Sejak menyebut nama lelaki itu, Shim Changmin, wanita penjual manusia itu tidak pernah berhenti mencekokiku dengan nilai lebih seorang pekerja media yang karirnya sedang menanjak itu.

Untukku tidak ada bedanya apakah lelaki itu pekerja media atau sedang bagus karirnya. Untukku yang terpenting adalah dia menerimaku apa adanya. Di percakapan SNS mungkin Shim Changmin cukup berpikiran terbuka pada para wanita sepertiku (orang-orang menyebutku feminis), tapi ini rumah tangga yang kami bicarakan. Kehidupan suami istri yang ‘sama’ sering memiliki makna berbeda bagiku dan bagi kebanyakan orang (yang bukan feminis). Madam Merry akan lepas tangan setelah pernikahan terjadi; dia mak comblang, bukan konsultan pernikahan.

Aku ragu, ragu sekali segalanya akan berjalan lancar jika aku langsung berucap iya saat ini juga.

Kuambil foto Changmin dari atas meja, kuamati sebentar, lalu kulemparkan senyum pada Madam Merry. Mulutku berucap bahwa aku akan memikirkannya baik-baik.

Madam Merry tidak puas, tentu saja, tapi dia bertahan tidak membantah. Syukurlah.

Setelah berbasa-basi, aku pamitan dari Rumah Jodoh Madam Merry. Melindungi mata dari sengatan sinar matahari, aku membuka mobil kemudian duduk di dalamnya. Ponselku berbunyi tepat setelah mesin menyala.

Jadi bertemu jam tiga nanti? Isi pesan singkat yang baru masuk.

Aku mengeluh.

Bukan aku tak menghargai, bukan aku tak mau memberi kesempatan, tapi aku takut. Takut sangat.

Madam Merry sudah merusak semua kejutannya sehingga aku tak bisa berkutik lagi. Shim Changmin membuatku tertarik. Aku terpesona pada kecerdasan dan luas wawasannya. Itu membuatku mempertanyakan apa artinya kemandirian feminitas jika ada lelaki yang sanggup memenuhi aspek-aspek vital dalam pemikiranku. Aku berharap sangat aku bisa bertemu dengannya saat aku mampu mengendalikan diri dengan baik. Sekarang, gara-gara Madam Merry, semuanya berantakan.

Aku selalu tahu Changmin lebih muda jauh tahun dariku. Tapi foto dari Madam Merry membuatku mengerut penuh waswas. Dia begitu cerah, begitu bersinar, dan sangat muda. Tipikal pria yang membuatku mudah jatuh hati.

Tapi sayang tak pernah membantuku bangun dari kejatuhan itu.

Betapa aku ingin melindungi perasaanku. Namun juga ingin mempertaruhkannya dalam judi rasa yang hampir tidak pernah kumenangkan.

Pesan itu, mungkin harusnya kujawab tidak, namun aku sangat ingin membalas ya, tentu saja.

.

.kkeut.

Iklan