Tag

 

1,639w. Segala sesuatu ada tempatnya, ada masanya. Kesiapan hati membuat segalanya sedikit lebih baik. Mungkin. On Saladbowldetrois

.

Helga menatap jam tangannya. Pukul 7. Matahari mulai terasa panas, tapi bukan berarti tubuhnya baru mulai panas. Rasanya seperti paru-parunya hampir meledak dengan panas tubuh hampir membuatnya melepas kaos saat ini juga. Dia memutuskan menyelesaikan putaran ini lalu menyudahi larinya. Lagipula, Senayan semakin dipenuhi orang, mengingat ini hari Minggu, dia semakin susah berlari tanpa halangan.

Di dekat garis finis, segerombolan remaja baru masuk. Semakin lama percakapan mereka semakin jelas terdengar. “Terus bukunya diumpetin, dikira Pak Juki nggak tahu. Abis itu Pak Juki jalan ke mejanya, terus nyuruh ngambil buku di balik meja. Begitu diliat ternyata buku Matematika! Langsung deh dimarahin si Otong. Orang lagi pelajaran Bahasa, kerajinan amat belajar Matematika, gitu kata Pak Juki.” Salah seorang di antara mereka berkata hampir tanpa bernapas.

“Dasar Otong emang gitu. Waktu kelas satu juga dia konyol banget sekelas sama gue,” yang lain menambahi sambil tertawa.

“Tunggu. Yang lucu banget bukan itu. Waktu bukunya mau dibawa ama Pak Juki… Hahaha!” si anak yang bercerita pertama tadi mendadak meledak dalam tawa. Yang lain memprotes agar dia segera melanjutkan ceritanya dan menunda tawanya. Perlu beberapa saat baginya melakukan itu. Akhirnya, “Dari dalem bukunya ada yang jatoh. Ternyata gambar Pak Juki lagi ke pasar pake selendang!”

Garis finis seolah baru saja diledakkan oleh bom suara kecil karena sekitar lima orang remaja perempuan yang sangat bersemangat mendadak meledak tertawa. Helga mengernyit dan menyukuri keputusannya menyudahi sesi olah raga hari ini.

.

Kelemahan menggunakan transportasi umum adalah banyaknya waktu terbuang. Sekarang hampir pukul setengah sembilan dan Helga belum sampai di rumah. Transjakarta berjalan santai seolah mengolok-olok rencana penumpangnya untuk pagi ini.

Setelah melewati Monas, penumpang tidak lagi terlalu banyak, seolah semua orang di Jakarta di hari Minggu hanya punya dua tiga tempat tujuan utama dalam bepergian: Senayan, Bundaran HI dan Monas. Di dekat Helga duduk tiga remaja perempuan yang sibuk bergosip. Mendadak teringat remaja-remaja di Senayan tadi, Helga tanpa berpikir langsung menghela napas.

Helga mulai mendengar ketiga remaja terkikik. Suara mereka bergumam, jadi Helga tidak mengerti bagaimana mereka bisa mengerti apa yang dikatakan satu sama lain. “Kuuus… Kuuuusss…” hanya itu yang ditangkap telinga Helga beberapa kali sebelum mereka lagi-lagi terkikik.

“Kuus..Kuus.. Terus dia marah: Emang gue kucing!” salah seorang di antara mereka bicara yang berakhir dengan ketiganya terbahak selama setengah menit sebelum yang lain, “Ssst.. sstt… eh, eh…” Seolah itu adalah isyarat, kepala ketiganya kembali mengumpul berdesakan. Aura rumpi kuat mengelilingi mereka.

Helga tidak mengerti apanya yang begiu lucu dari sebuah rumpian. Kus, kus? Sesuatu yang tidak berarti bagi Helga. Dia berharap mereka bisa terus sadar bahwa sikap sopan untuk tidak ribut di tempat umum adalah hal yang memiliki arti bagi sebagian besar penumpang lain.

.

“Pagi, Bu Prima.”

Helga menoleh dan melihat Pak Tandi, tetangganya hanya mengenakan kaos singlet, menggendong Yusuf, anak terakhirnya yang baru berusia empat tahun. Dia tersenyum, “Pagi, Pak. Sedang berolah raga?” tanyanya basa-basi.

“Ayah, lagi! Lagi!” Yusuf merengek sembari merentangkan kedua tangan ke arah ayahnya minta digendong.

Seolah melupakan Helga, Pak Tandi berkata teatrikal pada Yusuf, “Lagi? Lagi? Lagi? Sini kamoooohhh… Ngeeeeenggg…” ucapnya sambil mengangkat Yusuf ke udara, memutar-mutarnya saat sang anak merentangkan kedua tangan.

“Pesawaaaatttt!!!!” Yusuf memekik kesenangan.

Pak Tandi menoleh lagi pada Helga. “Lagi momong anak aja,” ujar lelaki itu lantang agak terengah.

“Pesawaaaaaattt!!!” Yusuf memekik lagi dan Pak Tandi kembali mengangkatnya ke udara.

Helga mengangguk pamit dan melangkah. Dia ragu Pak Tandi menyadarinya. Berjalan ke rumah, gelak tawa Yusuf kecil terus mengikutinya sampai dia menutup pintu depan.

.

Denting piring meningkahi udara. Gedung terasa panas meski blower sudah menyedot daya listrik yang demikian besar. “Prima mana?” pertanyaan Mestika mengembalikan fokus Helga.

Dia menggeleng. “Entah. Biasalah, bertualang mencari makanan. Namanya juga di tempat undangan.”

“Atau sedang merencanakan sesuatu dengan Jason,” Mestika menyipitkan mata pada Helga setelah menyuap sepotong semangka. Helga tersenyum. Sebagai orang asing, Jason, suami Mestika seolah tidak pernah bosan membuat rencana untuk jalan-jalan. “Anggi-anggi belum datang, ya?”

“Ah, iya. Aku belum melihat mereka dari tadi.” Helga memandang berkeliling mencari temannya Anggi dan Anggi. Pasangan yang secara lucu memiliki nama panggilan sama persis: Anggi.

“Mungkin anak mereka diare dan mereka tidak jadi datang,” Mestika menyeletuk sekenanya, mengundang pelototan Helga.

“Jahat, ih,” Helga menegur tapi terbenam oleh seruan Mestika.

“Itu mereka!”

Dari jauh, sepasang suami-istri datang mendorong kereta bayi. Pemnadangan aneh di tempat undangan. Begitu tiba di depan mereka, Anggi sang istri langsung meracau meminta maaf disambung meminta tolong dan sebelum Helga dan Mestika sempat mengatakan apa-apa, pasangan itu sudah melangkah menjauh untuk menyalami pengantin di pelaminan. Mestika menyeletuk lagi, “Nanny satu, Nanny dua,” ucapnya sambil menunjuk dirinya sendiri dan Helga.

Di dalam kereta bayi, sebuntal gelembung kecil menggeliat-geliat. Tangannya mengepal-ngepal ke atas dan wajahnya merah jambu. Helga berpendapat anak ini lucu sekali. Mestika tidak punya pendapat, tapi dia sibuk bertanya apakah Helga ingat nama anak ini. Sejujurnya, Helga sama sekali tidak ingat. Mestika bertanya lagi dengan panik yang ditekan, “Bagaimana kalau dia menangis? Aku harap Anggi-anggi itu tidak terlalu lama.”

Tapi antrian sangat panjang dan si bayi sepertinya merasa gerah di dalam kereta. Mestika semakin tidak bisa menekan kepanikannya. “Kau tahu cara menenangkan bayi?” Helga menjawab tidak. “Bagaimana kalau anak ini mengamuk?” Helga bilang ingin menggendongnya. “Astaga! Kau mau membunuhnya?” Mestika memulai dramanya.

Helga menggendong anak itu dan si bayi menatapnya diiringi suara cempreng tak berkosakata. “Mesti, lihat.”

“Tidak, jangan tarik aku untuk bertanggung jawab. Kau yang mela—“

“Dia tidak menangis. Lihat. Dia tersenyum.” Mestika berhenti mengoceh dan mulai terpekik-pekik senang. Beberapa orang mulai tertarik dan mereka mulai mengelilingi Helga. Seorang bapak-bapak agak tambun mendekat dengan senyum lebar dan mulai membuat wajah-wajah lucu sambil menyuarakan cilukba. Si bayi terkekeh.

Seketika, semua orang ber-“Aaaaah…” Lalu semua orang berlomba melakukan cilukba dan membuat si bayi tertawa-tawa senang.

Menurut Helga, semua bayi adalah makhluk ajaib. Asal mereka tertawa, otomatis semua orang di sekitar mereka ikut tertawa. Senang rasanya bersenang-senang bersama si bayi.

.

“Hari ini semua orang yang kutemui sedang bahagia,” Helga berkata di dalam mobil. Setelah tempat undangan, dia dan Prima, Mestika dan Jason, serta Anggi-anggi sepakat untuk berkumpul bersama untuk bersosialisasi. Awalnya Helga dan Anggi suami adalah teman kuliah. Lalu mereka mengenal Anggi istri yang mengenalkan Mestika, rekan tempat kerja yang asyik. Mestika membawa Jason, Helga mengenalkan Prima. Setelah beberapa tahun, mereka semua bersahabat dekat. Lingkaran kecil yang menyenangkan.

“Oya?” Prima menyahut. Mereka sedang pulang ke rumah sekarang. Hari sudah gelap, sudah hampir pukul setengah sembilan malam. Terima kasih pada Jakarta dan hobi macetnya di akhir pekan.

“Ya. Banyak orang tertawa hari ini. Tapi lucu.”

“Apanya?”

“Hari ini aku mendengar anak SMP menceritakan teman mereka yang dimarahi guru karena bertingkah di kelas. Menurutku itu memprihatinkan, bukan lucu.  Tapi mereka tertawa keras sekali sampai-sampai rasanya aku ingin ikut tertawa.” Prima menyalakan lampu sinyal untuk berbelok. “Lalu ada anak SMA, mereka terbahak-bahak hanya karena menemukan nama panggilan untuk teman mereka.”

“Memang apa panggilannya?”

“Kuskus.” Prima terkekeh. “Oke, itu lumayan lucu, tapi tidak selucu itu. Sampai mereka mengguncang bus.” Prima menatapnya. Helga menggigit bibir. “Ya, itu berlebihan, tapi mereka tertawa sangat keras.” Prima terkekeh lagi.

“Semua orang tertawa untuk alasan yang berbeda-beda. Aku menganggap bayi Anggi-anggi lucu aku tidak bisa berhenti tersenyum melihatnya. Dia luar biasa.” Prima diam. “Tapi buat bayi itu, yang lucu adalah saat orang bilang cilukba. Kau lihat tawanya tadi, kan?” Prima hanya tersenyum.

“Aku jadi teringat dulu. Sebelum menikah, rasanya lelucon tentang suami yang mengorok dan istri yang teledor lucu sekali. Sekarang kalau mendengarnya rasanya aku ingin membentak mereka yang mengatakannya dan menyuruh mereka tidur di sampingmu.” Helga bicara.

“Dan aku akan menyuruh mereka tinggal denganmu seminggu, lihat apa mereka tahan dengan pakaian dalam tercecer di mana-mana,” balas Prima.

“Tidak lucu.” Helga bersungut.

Prima lagi-lagi hanya tersenyum. “Aku ingat dulu sewaktu kuliah, kau tertawa lepas sekali setiap pulang dari konser-konser yang kau sukai,” kali ini pria itu yang memulai.

“Mungkin sekarang masih.” Helga berkata pelan.

Prima mendengus.

Helga mendesah. Prima tidak pernah suka konser. Tidak pernah suka musik. Tidak pernah suka seni. Helga adalah semuanya yang berbau seni. Dia berkata pelan, “Sekarang yang kau tertawakan adalah nilai dolar yang tiba-tiba melejit, pendapat politisi tentang pemilu, kecelakaan di pintu kereta.”

Selama beberapa saat tak ada yang bicara di antara mereka berdua. Sampai akhirnya Prima bicara, “Menurutmu itu tidak lucu? Orang-orang terus bicara. Mereka seolah tuli dan buta dari kecacatan mereka sendiri.” Helga menggeleng, tapi dia tak bersuara. Entah Prima tahu atau tidak, lelaki itu justru bicara lagi, “Negara kita sudah kacau. Kita sudah kacau. Kalau dilihat-lihat, itu lucu, tahu?”

Helga menggeleng lagi. Lebih tidak peduli apakah kali ini Prima tahu atau tidak.

.

Jam digital di samping tempat tidur berkedip mengganti menit. Pukul 01.13. Hari sudah berganti, namun Helga ingin tetap seperti kemarin, seperti saat semua orang tertawa bahagia. Dengkuran Prima terdengar keras, pada satu momen, dengkuran itu mencapai puncaknya dan Prima tersedak. Dulu Helga pernah menganggap itu lucu. Bagaimana Prima terlihat sangat konyol karena tersedak air liurnya sendiri. Sekarang tidak lagi.

Begitu banyak hal yang sudah berubah. Ada hal-hal yang dulu tak dia mengerti kini menjadi jelas dan lucu. Ada yang dulu begitu menggelikan namun kini terasa tawar. Setelah keguguran, misalnya. Helga bisa tertawa bersama Prima saat mereka kehilangan janin di dalam perut Helga. Prima selalu memandang semuanya dengan positif, membuatnya menjadi lelucon. Namun pada satu titik, Helga menyadari bahwa Prima hanya sedang bersikap pahit. Leluconnya selalu getir dan pada akhirnya Helga tak lagi mengerti apa yang ditertawakan pria itu.

Kepahitan terus bergulir bersama perasaan yang tertekan dan kemarahan yang ditutup-tutupi. Konflik-konflik berlalu tanpa pernah ada solusi. Orang tua yang merindukan cucu, pekerjaan yang dijadikan pelarian, meregangnya jalur komunikasi, semuanya dibuang ke belakang. Pura-pura buta, semua itu disisihkan dengan tawa palsu.

Kenapa semua orang bahagia dan lepas tertawa sementara dirinya tidak? Helga bertanya. Langit-langit sama sekali mengacuhkannya. Dengkuran Prima mengoloknya—menertawainya.

 

Helga ingin tertawa lepas. Ingin menemui dirinya yang dulu. Menjadi dia yang dulu. Matanya tertutup namun benaknya membuka laci nakas di samping tempat tidur. Formulir perceraian ada di sana. Menjomblo menunggu dijamah. Kapan Helga berani melamarnya? Padahal jelas-jelas saat ini kebahagiaan sudah memberinya talak tiga.

.

crack marriage

.

.kkeut.

Iklan