Tag

1,245w. Oh, ini hanya kisah seorang istri yang jatuh cinta pada lelaki sempurna; bukan cerita rumit penuh pemikiran, tenang saja.

.

Pagi itu semua berjalan normal. Seperti biasanya, ibu sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk kami semua. Adik, yang tinggal di blok kamar yang agak jauh sedang mempersiapkan anaknya untuk pergi ke sekolah. Masih TK, keponakanku itu, dan lucunya pakai sekali. Aku sangat mencintainya seperti anakku sendiri. Dia bisa berlari-lari dan menyenggol barang-barangku, membuat segalanya berantakan, membuat ibuku berteriak-teriak cemas, tapi dia hanya perlu tersenyum sambil mengulurkan sebutir kacang, lalu hatiku akan meleleh seperti mentega dipanaskan.

Ah—saat kudengar suara Heungseol bercerita tentang permainan perosotan di sekolahnya—betapa pagi ini damai sekali.

Kutepuk-tepuk wajahku yang baru tersemprot pelembab. Suasana hati yang baik juga baik untuk kulit, jadi rasanya aku bertambah bahagia saja mengetahui tidak ada hal buruk yang akan mempengaruhi kesehatan kulitku sepagi ini.

Pintu kamar terbuka. Dari kaca meja rias aku bisa melihat siapa yang masuk. Aku tersenyum. Bukan hanya kedamaian pagi yang membahagiakan kulitmu, kau tahu? Pemandangan yang bagus juga punya efek hebat. Membuatmu awet muda dan senantiasa fit. Seperti pemandangan yang kulihat sekarang.

Kaki berbulu terbalut handuk yang menggantung di pinggang. Perut yang sedikit menggembung namun masih cukup liat untuk dikagumi. Naik ke atas sedikit, aku ingat baru menciumi dada itu tadi pagi. Lalu lengannya; mendadak kesejukan pagi terasa menghangat saat kuingat bagaimana lengan itu melingkari pinggangku kala aku menggeliat menciumi rahangnya.

Bibir. Oh, bibir suamiku. Mematut seperti anak kecil. Ketika dia meraih pintu lemari, dahinya berkerut karena suara pintu lemari yang berdecit, bibirnya lebih maju lagi. Membuatku gemas. Sangat gemas. Kalau saja bisa, aku akan memilih tidak menatapnya terus. Kalau saja bisa.

Aku cukup heran sebenarnya. Sudah tiga tahun aku bersamanya seperti ini. Entah kenapa selalu saja ada momen di mana aku tak sanggup berpaling darinya. Dia punya kebiasaan agak mengerikan waktu tidur. Mengerikan baunya, karena liurnya banyak menetes ke atas bantal, tapi jika momen itu tiba, semua yang mengerikan tentangnya menjadi hilang. Dia juga bertingkah buruk sekali kalau kami sedang bertengkar. Keras kepalanya kebangetan. Meski tahu salah, dia selalu mengharapkan aku dulu yang mengalah. Tipikal anak lelaki satu-satunya, bungsu pula. Tapi momen yang satu itu membuatku lupa akan sifat buruknya.

Ya Tuhan, apa yang ada dalam benakmu saat kau ciptakan makhluk sesempurna suamiku? Bahkan rambutnya yang bercabang di ujung melengkapi kesempurnaannya dalam meneteskan air setelah keramas.

“Di mana celana dalam unguku?”

Lihat? Bahkan seleranya tidak punya estetika. Dia suka pakai celana dalam ketat berwarna terang. Ungu muda belum ada apa-apanya dibanding koleksinya yang lain: pink, kuning manyala, baby blue. “Kau mencucinya dua hari lalu. Belum kering. Hujan terus akhir-akhir ini.”

“Ah, benar.” Lalu dia sibuk lagi mencari pakaian yang akan dikenakannya hari ini.

Dulu, dia tak perlu mencari pakaiannya sendiri. Praktis sebelum air di tubuhnya kering, seseorang sudah berdiri di hadapannya dengan sestel pakai pakaian hari itu. Kini selama seminggu dia memakai tujuh stel pakaian berbeda sebagai hasil padu-padan dari tujuh stel pakaian minggu sebelumnya. Hebatnya, dia melakukannya sendiri.

Aku tahu. Aku tahu itu yang dilakukan orang normal. Tapi dulu dia di atas normal. Dia punya segalanya sampai tak terbiasa memikirkan pakaian hari ini dalam kepalanya sendiri.

Oh, tulang pipi itu tertarik. Matanya tertangkap mataku. Ada kilau geli di sana.

“Sudah?” dia bertanya.

“Apanya? Tanyaku balik.

Alisnya terangkat menggoda.

Entah kenapa aku merasa pipiku menghangat.

“Kau cinta mati padaku, kan?”

Aku memutar mata.

“Kau sudah mati dan berada di surga kan, sekarang?”

Mau tak mau aku tertawa. Dia masih ajaib. Yah, itu normal untuknya.

Dia berputar menghadapku. Tangan di simpul handuk di pinggang. Lalu mendadak, handuknya sudah tergeletak di seputar kakinya.

Mataku membelalak melihat ketidaktahumaluannya.

Aku tidak bilang aku tidak senang, lho, ya.

“Ayo. Lakukanlah,” ujarnya sambil merentangkan tangan ke sisi-sisi tubuh. Dagunya tengadah. Angkuh. Membuat sesuatu mengalir di tulang punggungku. Ada yang menggairahkan dari keangkuhan lelaki yang kau cintai. Dalam dosis yang tepat, itu sangat baik untukmu.

“Apa?” aku bertanya. Bukan pura-pura tak mengerti, tapi memang aku tidak tahu apa yang dia maksud dengan ‘lakukan’.

Matanya terbuka. Mata kecil nan sendu, tapi berbinar penuh ide. “Kagumi aku,” bibirnya bergerak. “Tatap aku sampai kau puas. Aku ada di sini untukmu, Nyonya.”

Otaknya benar-benar korslet parah sampai memercik api.

Apinya sampai padaku. Dengan bahagia kuamati seluruh baju lahirnya. Kulitnya, jemarinya, rambut-rambut halusnya—omo! “Kau porno!” seruku melihat sesuatu bergerak tanpa digerakkan.

Dia menatapku seolah akulah yang bersalah. “Memang kau pikir ini gara-gara siapa?”

Aku tergelak. Dia suamiku. Sudah berapa ratus kali aku melihatnya telanjang, tapi posisi selantang ini tak ayal tetap membuatku tersipu. “Kau sesenang itu?” dia bertanya. Suaranya sudah berubah lembut.

Aku mengangguk.

Dia mencubit pinggangnya. Cukup banyak daging terlibat ujung jarinya. “Bahkan ini, kau suka?”

“Apa yang salah dengan pinggang yang sedikit menggelambir?”

“Yang salah adalah aku tidak punya six pack.”

“Tak masalah. Nanti kubelikan ayam isi enam kalau kau benar-benar mau six pack.”

Dia menatapku sebelum bicara, “Maksudku, aku tak sesempurna dulu lagi. Tubuhku sudah berubah. Daguku hampir dua. Buluku banyak, kau tahu aku tak punya waktu ke salon merawat tubuh seperti dulu lagi. Yang paling parah, aku tak punya uang sebanyak dulu lagi. Karirku mentok sebagai manajer. Teman-temanku sudah berbeda, tak sophisticated seperti Ji—“

“Tubuhmu bertambah gemuk, tapi tidak parah. Cocok untukku. Aku senang sesuatu yang empuk. Jangan salah paham, aku suka tubuh kerasmu dulu, tapi ini juga tidak buruk. Sama sekali tidak buruk. Aku masih memandangimu kelaparan setiap kali ada kesempatan, kan? Tidak peduli kau berbulu atau tidak.”

Dia tertawa. “Kupikir kau hanya pada dasarnya mesum.”

Kulempar dia dengan pemulas pipi. Dengan sempurna dia menangkapnya. “Sekalipun dagumu hampir dua, dia tetap sangat runcing sehingga kau tak perlu khawatir orang-orang akan memperhatikan. Tulang pipimu masih sempurna, matamu seajaib biasanya, bahkan lebih baik. Kau masih lebih tinggi dan lebih besar dariku sehingga aku selalu merasa aman bersamamu. Yang terpenting—“ aku bangun karena dia mendekat. Kuambil pemulas pipi yang diulurkannya dan meletakkannya kembali di atas meja rias. “—itu semua hanya tubuh. Uang pun tak bisa kubawa mati. Perubahanmu masih membuatku jatuh cinta, jadi aku tak melihat alasan aku harus kecewa denganmu.”

Tangannya menyusur rambutku yang belum disisir. Bibirnya tersenyum. Dia manis sekali saat tersenyum. “Kadang aku kecewa denganmu,” akunya.

“O ya?” kuakui, aku agak terkejut.

“Waktu kau sedang datang bulan, kau membuatku kecewa dan ngilu.”

Kupukul dadanya. Dia terbahak. Sambil menarikku dalam pelukannya. Kuhidu aroma tubuhnya. “Tenang saja. Aku bukan benar-benar kehilangan kepercayaan diri. Aku selalu tahu saat kau lagi-lagi jatuh cinta denganku. Aku hanya ingin mendengarmu meyakinkanku.”

Tengadah, aku mendengus sayang. “Dasar. Baiklah, kau tahu apa yang paling tidak mengecewakan darimu?”

“Apa?”

“Ini,” tanganku menangkup bokongnya dan meremasnya. “Ini satu daya tarikmu yang tidak pernah gagal. Aku sangat menyukainya.”

Dia menyentil hidungku. “Aku tidak mau dimarahi Heungseol karena terlambat mengantarnya ke sekolah. Jangan membuatku jadi ingin dimarahi olehnya hanya karena aku lebih kepingin menyekolahkanmu.”

Aku terkekeh. Dengan bahasa tubuh, kuminta dia untuk menciumku. “Mari berdoa agar malam cepat datang. Sehingga aku cepat pergi sekolah.”

Dia menggeram, “Aku sudah berdoa dari tadi.”

Di tengah ciuman kami yang semakin sulit untuk direlakan lepas, aku mendengar pintu kamarku diketuk tidak sabar. “Samchon! Cepat! Kalau tidak nanti aku terlambat!!” suara Heungseol keras di pintu.

Kami menahan diri sambil cekikikan. Setelah berhasil lepas, aku buru-buru membantu suamiku berpakaian. Setelah siap, dia menuju pintu.

“Ya, Choi Seunghyun! Jangan lupa tasmu!” aku memanggilnya tepat saat dia membuka pintu, wajah bulat Heungseol penuh penantian di sana.

“Ah, benar,” Seunghyun menepuk dahi lalu berbalik.

Kusongsong dia dan kuserahkan tasnya. Saat dia berbalik lagi hendak keluar, aku menarik lengannya dan membuatnya berputar. Berjinjit, aku menciumnya sebuas yang aku inginkan, tanganku meremas bokongnya lagi sama mendesaknya.

Lalu terdengar jeritan Heungseol, “OMMAAAA!!!!! ADA ORANG MESUUUMMMM!!!!”

.

.kkeut.

Iklan