Tag

, , ,

798w. Gracillaria fiction. Bee-Isaiah. #nulisrandom2015 #Day29

.

Bisakah kita berpelukan? Hari ini sangat dingin dan aku membeku. Sepotong pelukan pasti nyaman dan menyenangkan. Bisakah kita berpelukan? Maukah kau memelukku?

Tentu saja kau tidak memikirkannya. Kalau aku minta kau pasti mau, tapi sayangnya aku terlalu tegang untuk memintamu langsung. Akan dicap apa aku nantinya kalau memajukan bibir dan melebarkan mata sok imut, meminta, “Peluk akuuuu…” padamu.

Tidak ada wanita dewasa yang melakukannya. Tidak ada lagi sejak—katakanlah—enam abad yang lalu.

Uuugh, aku benci dingin.

Sebenarnya, aku benci dingin saat kau tak memelukku. Kalau kau tak di sekitarku dan kita tidak berjalan berdampingan membicarakan statistik yang oh-sangat-menarik-aku-ingin-tidur, aku rasa aku tak terlalu benci pada dingin. Justru kurasa aku menyuikainya. Sebab aku senang melingkar di bawah sesuatu yang menggumpal lembut dan merasa hangat sementara di sekitarku membeku.

Tapi kini akulah yang membeku. Lengan dan dadamu pasti begitu hangat, sayangnya aku di luar sini. Sejangkauan pelukanmu, kecil untukmu, tapi kau tidak memelukku. Boro-boro, berpikir memelukku saja tidak!

Hih.

Es di depan membuatku terpikir akan sebuah skenario. Mungkin aku bisa meluncur dan mengaku terpeleset, terjatuh dan memintamu menyokongku sepanjang jalan menuju institut. Bagaimana kalau begitu?

Tidak, ide buruk. Apapun yang ada hubungannya dengan berbohong selalu menjadi ide buruk bagiku. Wajahku adalah pengkhianat terbesar. Aku tidak bisa berbohong. Aku harus memikirkan hal lain yang membuatku bisa memelukmu.

Atau membuatmu terpikir untuk memelukku.

Astaga, murahan sekali aku ini. Tapi untukmu aku tidak peduli kalau memang harus menjadi murahan. Sebab kau adalah keinginanku.

“AWW!” aku berteriak.

Apa yang terjadi? Kenapa kepalaku lumayan sakit? Apakah seseorang benar-benar—

“AWW!” menimpukku dari belakang. Yeah, sepertinya itu benar.

Berengsek.

Ya, tertawa saja terus. Lempari saja aku terus dengan bola salju sampai terbenam sampai leher. Lalu aku nanti terkena pneumonia dan kalian semua akan menyesal sudah mengerjaiku.

“AWW! Stop it!”

Crap, wajah dan leherku sudah basah kuyup. Dasar teman-teman kurang ajar. Apa mereka tidak melihat bahwa aku tidak membalas sekalipun? Apa mereka tidak menyadari bahwa aku sedang tidak ingin bermain?

Henry mengejekku. Oke. Gumpalan jelek yang hobi sosis itu mengejekku.

Tapi tidak, Henry, aku tidak terpancing. Aku tidak mau main permainan konyol ini. Kekanak-kanakan. Permainan lempar salju sama sekali tidak menarik untukku. Yang aku inginkan adalah bergelung di lengannya dan terlindung dari saju-salju melayang yang—

Keparat! Siapa tadi yang menembak mulutku?!

Datangnya dari samping kanan, itu pasti—Oh..

Kau.

Apa tadi aku bilang keparat?

Kau keparat. Kau memang keparat! Aku mengharapkan tawaran kehangatan darimu dan kau menjejaliku dengan salju sebesar bogem?! Baiklah, kau sudah menarik tombol emosiku, Handsome. Bersiaplah mendapat balasan dariku.

Aku juga bisa membuat bola salju yang keras dan akan langsung kutembakkan ke dadamu.

Mungkin sebaiknya bola salju itu kuselipkan catatan pengakuan perasaanku?

Kampret! Bola saljuku belum siap, kau sudah melempar lagi?!

Rasakan ini!

Rasakan ini!

Rasakan ini!

“Shit! I got hit in the face!”

Shit, sejak kapan kau sampai di sebelahku? Aku sedang mencuri waktu untuk menenangkan degup jantung akibat lari-lari tadi, kau tahu? Kalau kau di sini, aku tak akan pernah berhasil menenangkan diri.

“Ohohoho, look at your face—“

Yeah, seperti aku bisa saja melihat wajahku sendiri. Tidak ada cermin, bodoh.

“God, you’re all wet,” kau bergumam.

Jenius. Ngomong-ngomong, inilah yang terjadi kalau kau jadi sasaran tembak bola salju.

“Shit, you’re freezing.”

Tentu. Aku sudah berbaring di sini lima belas menit dan kena bola salju terus, lho…

“Oh, you poor little tropical thing… Come here, let me warm you up.”

“Nghh..”

“Shit, your lips are trembling and I swear they don’t look alright. It’s all blue.”

No kidding, man. Apa kau tahu bahkan bulu mataku terasa seperti duri-duri es yang menempel di kelopak mata?

“Oh.. come here, you little. Here, let set this up. Hold my waist, yeah, just like that. And hide your face on my chest. I’ll wrap us both in my jacket.”

“Can’t breath.”

“Shit, sorry. Look up. My neck? Perhaps my neck is better. Try that.”

“Hgngghh…”

“What is it?”

Tidak. Bukan apa-apa. Terkutuklah aku kalau sampai mengaku bahwa ini sangat menyenangkan.

“All right?”

Mungkin aku perlu mengangguk, supaya kau tak perlu khawatir.

“How’s your breathing.”

Sip. No problem. Lihat jempolku? Dia naik ke atas kan?

“Good. Now everyone has stopped, we’re save.”

Yeah. I’m saved. I’m content. And I’m so very happy. Hold me, don’t let me go.

“If you already warm enough—“

Oh, no. mungkin sebaiknya aku mulai pura-pura batuk. Atau menggigil. Selama kau tidak melihat wajahku, kurasa aku akan aman. Aku akan terus menyembunyikan wajahku di lehermu dan pura-pura terus menggigil.

“We need to go home.”

Tidak mau.

“Everyone’s started to get worried, you know.”

Aku tidak mau tahu. Aku mau di pelukanmu terus. Jangan lepaskan aku.

“Bee, c’mon. you have to try.”

I’m trying! Trying to keep myself in your arms, Isaiah.

“What makes you better? Hmm?”

“Bee?”

“B—“

“Perhaps—“

“Yeah?”

“Perhaps… A kiss?”

.

.kkeut.

Iklan