Tag

446w. Cerpen. #nulisrandom2015 #6 @nulisbuku

.

“Tapi itu sudah ada sejak lahir.”

“Ya tapi kamu mungkin bisa berkompromi sedikit.”

“Perasaanku tidak bisa berkompromi. Aku ini batu. Aku hanya tahu ujung dan ujung, tak punya daya tentang situasi di antaranya.”

“Kamu akan selalu marah kalau begitu.”

“Aku tahu aku selalu marah kalau aku melihat ketidakadilan. Aku marah kalau kalau aku melihat orang tidak tertib aturan. Aku marah kalau keadaan memaksaku melakukan KKN.”

“Aku tahu kau ingin mendengus. Tapi itu perasaanku. Namun ada hal lain. Saat hal darurat muncul, aku bisa membuat pengecualian. Aku bisa bantu selama alasan kedaruratannya masuk akal. Sayangnya tak semua mempertimbangkan hal itu baik-baik, alih-alih mereka memanfaatkan hal itu. Mengatakan ini itu, membuat-buat alasan agar mereka didahulukan. Itu membuatku marah. Dimanfaatkan membuatku sangat jengkel. Berani-beraninya mereka.”

“Jangan diam saja.”

“Kau mau aku berkata apa?”

“Apa saja.”

“Menurutku kau tidak masuk akal.”

“Sebab aku tidak permisif.”

“Bukan. Sebab kau benar-benar seperti batu. Kaku tak bisa diapa-apakan lagi. Kau bisa berkompromi sedikit, kan? Ini hanya pekerjaan. Meski biaya hidupmu bergantung padanya, ini tetap bukan hidupmu.”

“Kenapa sekarang kau yang terdiam?”

“Karena di mataku kau yang tidak masuk akal.”

“Kok bisa?”

“Bagaimana mungkin seorang manusia menjadi permisif akan aturan-aturan yang dibuat untuk kebaikan?”

“Aturan dibuat oleh manusia. Mereka tidak sempurna.”

“Tapi itu membuatku muak, melihat begitu banyak orang memandang aturan sebagai sesuatu yang bisa diremehkan, dilecehkan, diabaikan.”

“Ng—“

“Itu namanya mem-bully peraturan!”

“Kau melakukannya lagi.”

“Apa?”

“Marah-marah.”

“Aku tidak marah! Aku hanya tahu ini pandanganku. Kenapa mereka boleh mengungkapkan pendapatnya di hadapanku sementara saat aku melakukannya, mereka menyebutku marah-marah?”

“Maksudmu aku?”

“Maksudku mereka. Kau bagian dari mereka, tapi bukan hanya kau.”

“Ini membuatku frustasi. Kita sama-sama manusia. Kenapa kau dan aku bisa berpikir begiu berbeda? Padahal kita hanya membicarakan caraku berbicara.”

“Menurutku kau selalu marah-marah.”

“Menurutku aku hanya terlalu berlebihan dalam bersikap.”

“Itu berbeda.”

“Terserah. Aku tak pernah bermaksud marah. Aku hanya ingin melucu atau bersungguh-sungguh atau bersemangat menyampaikan sesuatu dan mereka mengatakan aku marah.”

“Kau memang kelihatan marah.”

“Aku tak tahu bagaimana agar aku tidak kelihatan marah saat aku memang tidak sedang marah.”

“Ha. Ha ha.”

“Mungkin ketika akhirnya aku berhasil berumah tangga, aku harus memberikan orang itu penghargaan tertinggi.”

“Maksudmu?”

“Karena dia orang yang sanggup menghadapiku.”

“Kau benar.”

“Dan aku senang memandang sisi positifnya.”

“O ya? Apa itu?”

“Yaitu aku tak akan bisa bersama orang biasa-biasa saja. Dia haruslah orang luar biasa yang bisa melihat sesuatu di balik kaca. Sesuatu yang sesungguhnya. Kalau orang biasa hanya melihat aku yang marah-marah, dia adalah orang luar biasa yang bisa menangkap bahwa aku tidak sama dengan kemarahan.”

“Kau takjub.”

“Ya. Aku takjub.”

“Ha! Kedengarannya bagus juga. Aku pasti akan bersama dengan orang yang luar biasa.”

“Amin.”

.

.kkeut.

Iklan