880w | warning: violence acts, precission of language.

.

Mata keduanya sama tajam. Kabut melayang di beberapa belas meter di bawah mereka. Sekilas si pertama melirik, terlalu sekilas untuk membuatnya merasa takut, kebiasaannya berkelahi justru membuat otaknya merancang rencana pelolosan diri seandainya dia harus terjatuh ke jurang di bawahnya. Si kedua tidak mengikuti kilas pandangan si pertama, terlalu beresiko. Meski definisi dirinya adalah preman, namun tetap saja prefix ‘mantan’ sudah terlanjur melekat di depan predikatnya itu. Sudah terlalu lama dia membiarkan lidahnya bertarung menggantikan ototnya, entah itu untuk mendebat ataupun untuk menyuruh orang lain bertarung untuknya.

Si kedua punya rencana pertahanan diri, tapi hanya sedikit niat untuk menyerang. Pada taraf ini hidupnya sudah banyak mengajari untuk menjatuhkan orang di sela pertahanan, itu lebih efektif dibandingkan membiarkan lawan melihat gerak kita terlebih dulu. Menangkap serangan dan memelintirnya lebih cocok dengan gaya bertarung si kedua.

Si pertama sibuk memperhitungkan gerakan demi gerakan yang bisa dilakukan untuk menyerang si kedua, sekaligus memperkirakan balasannya. Otaknya juga bekerja keras mencari celah menjauhi jurang setelah dia melemparkan si kedua ke bawah sana. Sebenarnya kalau udara lereng gunung tidak sedingin ini, si pertama sudah bermandi keringat, untuk bergerak sekaligus berpikir.

Lengkingan suara penuh kebencian dari si pertama memulai pertarungan mereka berdua di ronde yang entah keberapa, tak sempat pun keduanya menghitung sudah berapa kali maraton gelut itu mereka lakoni. Saat emosi sudah tersulut, keduanya yang sama-sama berjiwa bajingan tak lagi ambil pusing tentang skor.

Si pertama melayangkan tinju kosong, si kedua gesit mengelak. Si kedua mendapat celah ulu hati, yang dipelesetkan oleh si pertama. Lutut si pertama terangkat mengarah pada perut si kedua. Kena!

Si kedua mundur cepat menghindari serangan berikutnya. Si pertama tak buang waktu, mengejar, menahan senyum saat menyadari si kedua tinggal satu langkah ke mulut jurang. Si kedua bukan tak tahu, dia bergeser tepat saat si pertama melayang tinggi di udara mengacungkan tendangan. Kalau tangan si pertama tak cepat tanggap meraih leher si kedua dia sudah dalam perjalanan menamatkan hidup.

Kaitan tangan si pertama membuat si kedua terkesiap, namun dengan tenaga yang telah dihematnya dari tadi dia mampu melepaskan belitan itu hampir secepat datangnya. Tinju si kedua menghantam keras pipi si pertama.

Si pertama terhuyung mundur menjauhi jurang tapi adrenalinnya sudah naik lagi ke kepala. Tanpa mengambil nafas dia menyeruduk si kedua, berusaha sekali lagi menjatuhkan si kedua.

Yang ternyata bertenaga sekuat banteng. Serudukan tak berarti yang hanya membuat si pertama membuka celah tubuhnya sendiri untuk dihantam tinju dan menerima pitingan si kedua.

Kedudukan langsung berbalik. Posisi si pertama terancam bahaya. Si kedua hampir menyeringai membayangkan jurang itu sebagai Kappa* yang siap menelan si pertama kalau saja nafasnya tidak terkikis sadis oleh lelah. Bahkan bertahan pun sudah melelahkan bagi si kedua.

Mengambil kesempatan terakhirnya, si pertama melonjakkan kaki hingga dia bersalto di udara, kepala bertumpu pada perut si kedua. Belum sempat si kedua menyadari apa yang terjadi, lehernya sudah berkalung kaki-kaki si pertama.

Mereka berdua terjatuh telentang di tanah. Dengan kepala si pertama menghantam keras perut si kedua. Keras kepala, salah satu julukannya yang berasal dari banyak sebab.

Meresapi rasa sakit yang masing-masing rasakan, keduanya terdiam sesaat. Sedetik kemudian keduanya berguling saling menjauh.

Keduanya bangun dengan awas, mewaspadai gerakan lawan. Sekali lagi, mereka beristirahat tengah ronde. Mereka tak akan berhenti, masih akan berlanjut. Ini masalah harga diri. Harga diri dua bajingan yang saling menganggap lainnya lebih tidak bajingan dari dirinya sendiri. Tepat itulah yang membuat masing-masing membenci yang lain lebih dari seharusnya. Sesama bajingan dilarang jadi orang baik.

Si kedua meludah. Tidak, tidak merah, tak ada pendarahan dalam. Hanya gerakan sok, sedikit berharap saat itu ada sutradara lewat dan tertarik melihat keliarannya kemudian diajak main film laga. Yang tak laku lagi.

Si pertama menyeringai. Jelek, bukan seringaian tawa ataupun senyum. Seringaian jelek menunjukkan giginya yang secara menakjubkan mengagetkan, bagus, putih, tertata. Terima kasih pada teknologi kawat gigi dan dompet orang-orang yang dipalaknya.

Mereka memandang benci pada yang lainnya, berputar bagai dua orang Indian primitif yang hendak memulai pertarungan. Jejak melingkar yang seharusnya terbentuk akibat langkah kaki mereka, tidak terbentuk. Itu jalanan aspal, jadi kecuali mereka melekatkan bata merah atau kapur di sepatu mereka, jejak melingkar yang bisa terasa abstrak dan nyeni bagi sebagian orang yang menganggap hal aneh sebagai seni, tidak akan terbentuk.

Sungguh mereka saling membenci. Sungguh mereka tak sebenci itu pada orang tua yang membuat mereka menggelandang dan jadi preman, atau pada istri yang berselingkuh dengan adik sendiri, atau pada orang baik-baik di luar sana yang menganggap preman sah-sah saja ditembak sniper untuk bisa membuat kehidupan lebih damai. Sungguh perkelahian ini mulai jadi sangat mengesalkan karena lawan mereka tak juga mati.

Lalu seolah ada yang mengomando, keduanya serentak bergerak maju hendak menghantam yang lain sambil berteriak.

Si pertama maju dan menginjak batu. Kakinya terkilir dan dia bergulir.

Si kedua terlempar batu di mata keras sekali. Dia tak bisa melihat dan dia terhuyung.

Ke mulut jurang. Keduanya.

Kemudian lenyap dari pandangan.

Hening tiba-tiba.

Satu menit kemudian sebuah mobil berhenti di tepi jurang. Pengemudinya keluar sambil tersenyum. Dia sangat menyukai daerah ini. Setiap kali pulang mengunjungi orang tuanya, dia pasti akan memilih lewat jalan ini yang memiliki satu titik istimewa dimana jurang membuka matanya akan keindahan lembah. Sesuatu yang sudah sangat susah ditemui. Kesejukan udara yang bukan AC, angin semilir, aliran darah yang melancar lagi setelah duduk lama untuk mengemudi, membuatnya senang.

Inilah kedamaian, pikirnya.

.

.kkeut.

.

*Kappa: setan legenda dari Jepang.

Iklan