Tag

, ,

4.718w. MiMin.

.

Karena dia sangat indah (retweeted from @sekoretnight).

.

“Annyeonghaseyo.”

Miho menganggukkan kepala dan membalas salam yang ditujukan kepadanya itu, “Annyeonghaseyo.” Remaja lelaki itu berdiri canggung di hadapannya, kaki rapat dan tangan tergantung kaku di kedua sisi tubuhnya. Tas tergantung di pundaknya. Matanya menatap ke mana saja kecuali ke arah Miho.

“Uri Changminnie sudah pulang? Kemarilah,” Nyonya Shim, ibu sang remaja mendorong sebuah kursi, menunjukkan pada anaknya untuk duduk di sana. “Go Miho ssi, perkenalkan, ini putra kami, Shim Changmin. Dia sudah kelas 3 sekarang, itulah sebabnya kami mencarikan guru untuknya.”

Miho tersenyum ke arah Changmin yang tidak dibalas oleh anak itu. Dia hanya mengangguk dan duduk kaku di tempatnya. Sepertinya bukan anak yang suka bicara, pikir Miho. Baguslah, toh dia juga kesulitan kalau harus menghadapi anak-anak bawel.

“Changmin-a, Go Miho ssi akan membantumu belajar sampai ujian nanti, seperti yang sudah Eomma bilang kemarin-kemarin. Beri salam yang benar,” Nyonya Shim memerintah lembut tapi tegas.

Sekali lagi Changmin mengangguk, mulutnya bergerak mengeluarkan suara pelan dan saat itu matanya bertemu dengan tatapan Miho.

Miho berkedip. Polos, itu yang dipikirkannya.

.

“Changmin-a! Gurumu sudah datang!” Nyonya Shim berseru dari bawah. “Silakan langsung naik saja, Miho ssi,” ucap perempuan itu.

Miho mengangguk dan langsung beranjak menuju lantai dua.

“Kamar Changmin ada namanya!” lagi-lagi Nyonya Shim berseru dari bawah. Kali ini ditujukan pada Miho.

Miho tidak kesulitan menemukan kamar Changmin. Nama anak itu terpampang jelas di sana. Miho sudah mengulurkan tangan hendak mengetuk ketika pintu di depannya terbuka. Changmin melihatnya lurus-lurus selama sesaat sebelum mengangguk memberi hormat, “Seonsaengnim, annyeonghaseyo. Silakan masuk,” ucapnya.

Miho masuk.

Kamar Changmin tidak jauh berbeda dengan kamarnya sendiri. Dalam hati Miho memuji anak itu karena punya kamar yang lumayan rapi. Jika ada kaus kaki terselip di balik pintu, Miho menganggapnya wajar karena bagaimanapun Changmin adalah anak laki-laki.

Changmin menggelar meja lipatnya sambil bergumam, “Maaf agak sempit.”

“Ah tidak,” Miho berujar. “Kamarmu cukup rapi.”

Changmin tertawa, hampir bisa dibilang mendengus, “Aku baru merapikannya sebelum Seonsangnim datang.”

Miho menatapnya. “Kau sengaja merapikannya?”

Changmin meliriknya sekilas tapi lalu berkonsentrasi menggelar buku-bukunya. Miho bisa melihatnya merasa malu. Tak ingin melukai harga diri Changmin dengan mendesak rasa malunya, Miho tersenyum diam-diam.

“Jadi hari ini apa yang ingin kau pelajari?” tanyanya setelah duduk di hadapan Changmin.

Changmin menatapnya saat menjawab. Miho berkedip. Kaget karena dari dekat mata Changmin terlihat besar sekali.

.

“Yang ini past tense, Changmin-a.”

Changmin tidak menjawab tapi mencoret tulisannya dan menggantinya dengan past tense sesuai instruksi Miho. Dari samping Miho memutuskan bahwa Changmin hanya tidak melihat hal tersebut, bukannya lupa atau tidak tahu bahwa kalimat tersebut seharusnya berbentuk past tense. Setelah tiga kali mengajar Changmin, Miho tahu bahwa Changmin sama sekali tidak perlu ‘diajari’. Pada pertemuan kedua, dia mengemukakan hal ini pada Nyonya Shim, tapi wanita itu hanya tertawa dan berkata, “Tolonglah uri Changmin…”

Menghadapi hal itu Miho hanya bisa mengangguk dan kembali datang hari ini. Lagi pula, bayarannya lebih dari lumayan.

Keluarga Changmin ini, mereka orang-orang mapan. Uang bukan hal susah bagi mereka. Miho tahu selain dirinya masih ada dua orang guru lain yang mengajari kedua adik Changmin. Satu anak satu guru; mungkin setelah anak-anak dewasa nanti keluarga ini akan punya satu mobil untuk masing-masing anak. Yah, Miho pikir itu bukannya tidak mungkin.

Changmin menyerahkan buku latihannya pada Miho, memberinya sesuatu untuk menghentikan lamunan dan mulai bekerja. Tapi pekerjaannya sangat mudah. Changmin mengerjakan semua latihannya dengan benar. Dia bahkan mulai bosan memberi tanda benar untuk setiap soal. Bisakah anak ini lebih bodoh sedikit?

Astaga, apa yang baru saja diharapkannya?

“Kau tidak butuh guru, Changmin-a. Kau sudah pandai sekali,” Miho bergumam hampir setengah sadar.

Changmin diam saja. Miho mendongak dan mengamatinya. Tubuhnya kaku dalam posisi duduk sempurna. Kenapa Changmin melakukannya? Apakah Miho seperti sedang memarahinya sehingga anak itu duduk bersimpuh sempurna?

“Ini sudah benar semua. Aku yakin kau pasti bisa mengerjakan soal-soal lain sama sempurnanya.”

Changmin mengangguk.

“Kau tidak banyak bicara ya?” Lagi-lagi Changmin mengangguk. “Hmm, aku jadi bingung. Begini saja, ada yang tidak kau mengerti? Mungkin lebih baik kau bertanya dan aku menjelaskan daripada aku terus menjelaskan hal-hal yang sudah kau mengerti, rasanya seperti tindakan yang buang-buang energi.”

Changmin menatapnya lama, tangan anak itu terkepal di atas lutut-lututnya. Mulutnya terbuka tapi suaranya tak keluar.

“Bisakah kau duduk lebih santai?” Miho bertanya. Tapi langsung gelagapan. Terus terang, dia sama sekali tidak bermaksud mengatakan itu keras-keras. Seharusnya itu hanya ada dalam kepalanya.

Tapi syukurnya, Changmin benar-benar merubah posisi duduknya. Anak itu sekarang bersila dan memandanginya. Ketika Miho balas memandangnya bertanya, Changmin melengos hanya sedetik setelah mencoba bertahan. Ini terjadi beberapa kali sehingga Miho akhirnya terpaksa bertanya, “Ada yang salah denganku?”

Changmin menatapnya lalu menggeleng.

“Lalu kenapa kau memandangiku seperti itu?”

Lagi-lagi Changmin hanya membuka-tutup mulutnya.

“Changmin-a?”

“Aku tidak suka Bahasa Inggris,” ujarnya.

Miho tercengang. Dari semua kalimat yang diduganya mungkin akan dikatakan Changmin, yang satu ini membuatnya tergugah. Ini menarik. Dia mengangguk, “Teruskan.”

“A-Ak-Aku tidak suka Bahasa Inggris. Juga tidak suka pelajaran Bahasa Korea. Semuanya menyebalkan dan aku ingin kabur saja kalau harus belajar itu.”

Alis Miho naik sebelah. “Jadi maksudmu kita tidak usah belajar itu?”

“Di sekolah aku harus belajar itu.”

Miho tidak mengerti.

“Di sekolah kami tetap harus belajar itu, jadi aku ingin… aku ingin memastikan bahwa meskipun aku tidak menyukainya, aku tetap bisa mengerjakan soal-soalnya.”

Jadi? “Jadi?” Jujur, Miho masih tidak mengerti kenapa Changmin mengatakan semua ini.

“Jadi, aku tidak ada pertanyaan.”

“Tunggu dulu,” Miho mengangkat tangannya. “Jadi kau mau belajar Bahasa Inggris dan Bahasa Korea atau tidak?”

“Mau.”

“Lalu kenapa kau mengatakan semua itu? Apa pertanyaanmu?”

Changmin menggeleng. “Tidak ada.”

Kali ini alis Miho terangkat dua-duanya.

“Aku sedang memberi tahu seonsaengnim.”

Mulut Miho terbuka sedikit.

“Hanya ingin memberi tahu.”

“Oke,” Miho mengangguk cepat. Oke.

.

“Jadi bom bisa dibuat dari sabun.” Suara Changmin terdengar setelah keheningan beberapa saat setelah Miho selesai bicara. Mereka sedang belajar Kimia dan Changmin terdiam begitu Miho selesai menjelaskan. Miho pikir anak itu sedang mencerna penjelasannya.

“Kita sedang bicara aksi-reaksi, Changmin-a.” Miho mengingatkan tanpa bersemangat.

“Ya. Dan gliserin akan bereaksi jika kita melakukan aksi, menyampurnya dengan unsur lain, kan?”

“Semua zat akan menimbulkan reaksi, ya. Dan pada beberapa kasus spesifik, sabun bisa jadi bahan bom yang cukup kuat.”

“Itu sebabnya kita tidak boleh membawa banyak cairan ke dalam pesawat?”

Miho memiringkan kepala. “Itu dan lain hal. Apa hubungannya ini dengan pesawat?”

“Kalau bom bisa dibuat di pesawat, akan sangat mudah membajak pesawat. Akan jadi kasus pembajakan sempurna yang tidak terpecahkan.”

Miho menggeleng. “Hanya jika kau berhasil membawa bahan-bahan bom tanpa diketahui. Yang mana agak susah dilakukan. Mengingat pemeriksaan di bandara yang sangat ketat.”

“Jika seseorang sudah sangat sering ke luar negeri, sering diperiksa di bandara, akan mudah untuknya membawa barang-barang yang diperlukan untuk membuat bom.”

“Dan akan sangat mudah melacaknya karena dia punya catatan perjalanan yang sangat lengkap, gampang dilacak.”

“Aku akan sering pergi ke luar negeri.”

Miho menatapnya, bingung dengan perubahan topik yang sangat acak tersebut.

“Maksudku, aku akan jalan-jalan ke luar negeri dan orang-orang di bandara akan sangat bosan memeriksaku.”

Ya, mungkin.

“Nuna bagaimana?” Saat ini, Changmin tak lagi memanggilnya ‘Seonsaengnim’.

“Aku tidak berencana sering-sering ke luar negeri. Aku tak punya uang,” Miho menjawab, tangannya tak sadar melukis pola abstrak di atas selembar kertas. Pasti enak kalau dia bisa bebas menginginkan pergi jalan-jalan dan merealisasikannya.

“Oh.” Hanya itu jawaban Changmin lalu dia terdiam. Kepalanya menunduk, wajahnya lurus menghadapi lanjutan soal-soal Kimia. Rambutnya tampak lemas seperti rambut bersih yang baru dikeramas. Tangan Miho mendadak terasa salah di tempatnya.

“Maksudku,”suara Changmin bergumam tiba-tiba membuyarkan pikiran Miho. “Maksudku kalau aku sering ke luar negeri, Nuna tidak akan mengajariku lagi.” Kepala anak itu terangkat. Belum masuk SMA dan tingginya sudah lebih tinggi dari Miho, terkadang Miho lupa itu. “Bagaimana?”

Miho menelan ludah. Tak mengajar Changmin lagi? Mendadak dia merasa tak bisa berpikir. Berapa lama dia sudah berinteraksi anak ini? Dua bulan? Tiga bulan? Tak pernah libur 1 kali pun setiap minggunya, satu minggu satu kali. Kalau suatu saat Jumat malamnya berakhir lebih dini karena Changmin tak ada di rumah—ke luar negeri, bagaimana?

“Kurasa aku akan jalan-jalan bersama temanku,” Miho menjawab sambil mengangkat bahu. “Atau berkencan.”

“Nuna punya pacar?” mata Changmin melebar menanyakan itu padanya. Miho tiba-tiba merasa malu. Tentu saja dia tidak punya pacar. Dia pacaran dengan buku, di perpustakaan, bercinta di sana—masturbasi, maksudnya. Astaga! Dia tidak masturbasi di perpustakaan, mengerikan sekali. Dia tidak masturbasi di mana pun. Dia tidak—oh, sudahlah.  Kalau Changmin berhenti menjadi muridnya, dia akan mencari murid lain yang akan memberinya pemasukan.

Menutupi rasa malu akibat pikirannya sendiri, Miho menarik buku Changmin dan meneliti jawaban anak itu di sana. “Mmm,” dia hanya bergumam.

“Oh.” Lagi-lagi hanya itu jawaban Changmin.

.

Changmin memutar-mutar pensilnya. Kali ini mereka sedang belajar peribahasa Korea. Bukan subyek kesukaan Miho, apalagi Changmin. “Apa yang kau lakukan? Cepat kerjakan soalnya. Jangan membuang-buang waktu.”

Changmin memandangnya tajam. Miho merasa jantungnya meloncat-loncat. Dia sudah bercerita tentang mata Changmin yang lebar?

Anak SMP, anak SMP, Miho berulang kali mengingatkan dirinya.

“Aku malas,” Changmin menggerutu. Bukan pertama kalinya. Pada tahap ini dia sudah hapal semua polah Changmin. Dari senang (yang sok disembunyikan) sampai mengesalkan seperti sekarang.

“PR-ku sendiri banyak, Changmin-a, jadi jangan mulai.”

Changmin terbelalak. “Nuna punya PR? Aku pikir anak kuliahan tidak punya PR lagi.”

“Ya, kami punya PR. Kami menyebutnya tugas. Jumlahnya jauh lebih banyak dari semua PR-mu dalam seminggu. Jadi nikmatilah duniamu sekarang, sebelum semuanya jadi lebih rumit.”

Bibir Changmin maju tidak senang. “Aku jadi berpikir dua kali untuk kuliah.”

“Ya, ya, terus saja malas-malasan. Biar bingung sendiri kau nanti, mau makan apa setelah dewasa.”

“Aku mau bekerja saja.”

Miho menaikkan sebelah alisnya. “Bekerja?”

Mendadak Changmin menjadi bersemangat. “Ya! Aku akan jadi artis, Nuna. Nuna tidak tahu? Aku lolos audisi. Aku sudah bertemu Boa dan dia sangat hebat. Uangnya banyak. Kurasa kerja jadi artis lumayan juga.”

Punggung Miho dirambati rasa dingin. “Jadi… artis…?”

“Ya. Eomma senang sekali. Karena dia bisa bertemu Boa. Dasar bibi-bibi, teganya memanfaatkan anak sendiri demi bertemu idola.”

Miho menatap bukunya—buku-buku Changmin—yang berhamburan di atas meja lipat. Jadi bepergian ke luar negeri itu bukan omong kosong? Bahkan jika tetap tinggal di dalam negeri pun… Miho harus segera mencari murid baru?

“Dia memaksaku ikut audisi di SM. Padahal aku tidak bisa apa-apa. Aku hanya bertepuk tangan sambil menyanyi. Kemarin mereka menghubungi Eomma bahwa aku lulus audisi. Aku hebat ya?”

Rasanya malas sekali mencari murid baru. Harus adaptasi lagi, harus mencoba metode-metode belajar baru lagi. Apa sebaiknya dia mencari kerja di kafe saja?

“Sebenarnya aku hanya beruntung. Yang lain menari-nari penuh semangat dan aku hanya tepuk tangan. Nuna tahu sebutannya dalam bahasa Inggris? Lucky bastard, aku mendengarnya di film-film.”

Tapi kafe hanya menerima orang cantik. Miho punya uang untuk membentuk kelopak mata saja tidak, bagaimana dia bisa bekerja di kafe?

“Aku sudah jalan-jalan ke dalam studionya. Hebat sekali, banyak tempat untuk latihan menari. Kacanya di seluruh dinding!”

Gerakan tangan Changmin yang heboh membuat Miho kembali memperhatikannya. Ini pertama kalinya Miho melihat wajahnya memerah bukan karena habis beraktivitas—seperti membersihkan kamar sebelum Miho datang, misalnya. Anak itu benar-benar bersuka cita dengan mimpi barunya. Yang langsung menjadi nyata, kalau boleh ditambahkan.

“Jadi ini sebabnya kau akan sering jalan-jalan ke luar negeri?” Miho tidak tahu kenapa dia menanyakannya.

“Aku bukan jalan-jalan, aku akan pergi bekerja. Tapi aku akan mengumpulkan banyak uang agar bisa jalan-jalan sesekali.”

“Hebat.” Miho hanya mampu mengucapkan itu.

Mereka bertatapan selama beberapa lama dan Miho menjadi jengah sendiri. Dia mengalihkan pandangan dan menunjuk dengan dagunya. “Tapi itu masih lama. Sekarang, PR peribahasa-mu dulu,” ujarnya.

Changmin menggerutu lagi, “Nuna benar-benar tidak bisa bersenang-senang, ya?”

Mungkin, pikir Miho. Atau mungkin hanya karena sebentar lagi dia tidak akan bisa bertemu Changmin lagi.

Ng… tidak, tidak, dia pasti sudah gila.

.

Mini market ini tidak terlalu ramai, membuat Miho dan Changmin hanya berdiri canggung di sana, di salah satu lorongnya, saling berhadapan, tanpa mengucapkan apa-apa.

“Yha! Miho-ya! Cepat kemari! Bayar minumannya!” suara Kim Eunheui terdengar keras dari kasir. Membuat Miho teringat kali ini dia yang harus membayar minuman mereka. Dia mengerjap sebelum berlari menyusul Enheui.

“Siapa?” temannya itu bertanya sambil menyikutnya.

“Muridku.”

“Woaa… Go Miho… Hebat juga kau. Muridmu kiyut, kau tahu?”

Miho mendelik pada Eunheui. “Anak. SMP,” ucapnya tajam.

Eunheui sama sekali tidak melihatnya, malah sibuk memperhatikan Changmin. “Karena itulah kubilang dia kiyut. Sebentar lagi, saat dia dewasa, aku akan bilang dia ganteng.”

Miho memutar mata. Dia buru-buru keluar toko, mencegah supaya Changmin tidak mendengar lebih banyak ucapan Eunheui.

.

“Nuna,” panggil Changmin.

“O?” Miho menjawab tanpa menoleh.

“Menurut Nuna aku kiyut?”

Miho hampir tersedak. Untung dia tipe yang tidak ngemil saat sedang bekerja atau belajar.

“Nuna?” Changmin mendesak saat Miho tidak kunjung menjawab.

Miho menengadah dan melihat ekspresi Changmin. Nafasnya tidak menjadi tidak beraturan. “Tentu saja. Kau masih SMP. Semua anak SMP kiyut menurutku.”

Wajah Changmin memerah.

“Aku mau ke kamar mandi,” anak itu bicara lalu bangun. Di pintu kamar dia menoleh dan berkata sebelum menutup pintu, “Nuna, di sana ada cermin.”

Miho menoleh ke arah cermin dan melihat ke dalamnya, penasaran mengapa Changmin mengatakannya.

Seketika wajah Miho menjadi sangat panas melihat ekspresinya sendiri. Oh, well, jadi Changmin tahu bahwa menurut Miho, Changmin memang kiyut. Kiyut yang kiyut, bukan kiyut anak SMP.

.

Suara serangga terdengar samar-samar dari jendela kamar Changmin yang terbuka. Udara sejuk tanpa harus menyalakan penyejuk udara. Mereka berdua duduk nyaman berhadapan dalam balutan sweater nyaman.

Changmin tekun mengerjakan soal-soalnya, Miho diam memperhatikan.

Lama mereka bekerja dalam sepi sampai akhirnya Miho menyodorkan sesuatu ke arah Changmin.

Changmin menatapnya bertanya tanpa suara.

“Jimat,” Miho menjelaskan. “Agar sukses ujian.”

Changmin memandangnya lama. “Terima kasih,” katanya pelan sambil menyimpan jimat itu.

Miho tersenyum dan membetulkan letak kaca matanya.

“Kalau sudah selesai ujian, kita kencan?” mendadak Changmin bicara, mencegah Miho merapikan tasnya.

Di hadapannya ada Changmin yang bermata lebar, berwajah seperti peri dengan kuping lebar. Bibirnya tertarik kaku, sekaku tangannya yang menggenggam pensil erat-erat.

Miho merasa hal ini lucu. “Aku sudah punya pacar, anak bodoh,” bohongnya sambil tertawa.

Changmin menelan ludah. “Aku belum,” katanya pelan sekali.

“Nuna, aku punya permohonan,” ucap anak itu semangat. “Aku akan berusaha keras. Kalau ujian ini nilaiku oke, aku ingin nuna mengabulkan keinginanku.”

“Apa keinginanmu?”

“Aku ingin pacaran. Kencan. Meski hanya sehari.”

Miho tak bisa bicara.

Wajah Changmin mendadak mendung. “Teman-temanku semua sudah punya pacar. Hanya aku saja yang tak tahu caranya pacaran. Banyak cewek yang mendekatiku, tapi aku bingung bagaimana membalasnya. Akhirnya mereka semua mundur, mengatakan aku dingin dan tak punya perasaan. Ugh, itu sangat menyakitkan!”

Miho masih tak bisa bicara.

“Aku bukannya tak tertarik. Aku pikir aku sudah cukup keren, bersikap keren, tapi mereka hanya mendekatiku sehari-dua hari, setelah itu pergi. Ini soal yang tidak bisa kujawab, Nuna. Aku tidak bisa bicara dengan para cewek!” Changmin memukul meja lipatnya terlalu bersemangat, membuat pensil-pensil dan penghapusnya melompat dan Miho tersentak.

“Ah, mian…” anak itu salah tingkah menyadari emosinya tersembur keluar.

Selama beberapa saat mereka tidak bicara sama sekali. Miholah yang akhirnya memecahkan kesunyian itu, “Kalau pacarku melihat, bagaimana?”

Changmin tidak melihat ke arah Miho, tapi mulutnya menjawab, “Bilang saja Nuna sedang menunjukkan padaku beberapa hal untuk dipelajari.”

Tawa Miho tersembur. Dia tergelak sangat keras sampai-sampai harus memegangi perutnya. Changmin tampak tersinggung di hadapannya, tapi Miho tak bisa berhenti tertawa.

Wajah Changmin berubah dingin, “Lupakan saja.”

Tawa Miho terhenti.

Sisa waktu belajar mereka, Changmin menyelesaikan semua soal dengan sangat sempurna, Miho tak berbicara lagi dengannya kecuali saat berpamitan pulang.

.

Waktu belajar mereka berikutnya sangat canggung Miho merasa dia bicara pada Changmin seperti membaca buku.

.

Yang berikutnya, Changmin bersikap sama dinginnya sampai membuat Miho putus asa.

Saat Miho mengemasi barang-barangnya di akhir sesi, Changmin berbisik, “Nuna, ujianku oke.”

Miho memandangnya tak mengerti. Lalu menjadi mengerti.

.

Taman universitas, hari Sabtu, jam 10. Jangan terlambat.

Sent to: Shim Changmin.

Lalu Miho merasa mulas setelah pesan itu terkirim.

.

Ya, Miho menata rambutnya, bukan hanya digulung seperti biasa. Dia merias wajahnya dengan eye liner, blush-on tipis dan lip-gloss, bukan hanya membubuhkan bb-cream ber-SPF. Dia mengenakan rok dan sweater manis, bukan celana dan jumper kebesaran 2 nomor. Ya, dia melakukan semua itu.

Karena ini kencan, demi mantan-mantannya yang berjumlah 0!

Dan karena Changmin berdiri sama tak pastinya di undak-undakan taman, menunggunya gelisah dan tak tahu harus melakukan apa dengan tangannya.

Mereka saling melemparkan senyum setelah Changmin tampak terperanjat dan memilih tidak mau melihatnya kecuali saat bertanya. Payah, dia pasti mengacaukannya, pikir Miho.

.

Mereka memperhatikan etalase toko pakaian dalam diam. Dari pantulan kaca beberapa orang melihat ke arah mereka. Miho menjadi terlalu sadar diri. Diam-diam dia bergeser menjauh.

Changmin mengajaknya makan.

.

Ini kafe yang nyaman. Mereka memilih makan spaghetti. Changmin makan dengan lahap, Miho makan tanpa berselera.

“Nuna kenapa?” Changmin bertanya mendadak.

“Tidak. Tidak apa-apa.”

“Nuna bisa makan lebih dari itu,” Changmin menunjuk piring Miho yang isinya tak berkurang lebih dari sepertiganya.

Miho tersenyum. Tapi tak menjawab.

“Nuna, maafkan aku.”

“Eh?”

“Apa Nuna takut pacar Nuna melihat kita?”

Miho gelagapan. Oh betapa dia berharap pacarnya melihatnya saat ini.

“Tidak, bukan,” gelengnya. “Aku hanya tak tahu caranya berkencan.”

“Eh?” giliran Changmin yang terperangah.

“Dengan lelaki yang lebih muda, maksudku,” dia buru-buru menambahkan.

Changmin menatapnya lama sekali; suatu keajaiban anak itu bisa lupa pada makanannya.

“Aku juga tak tahu bagaimana caranya berkencan dengan cewek yang lebih tua. Aku tak tahu caranya berkencan sama sekali, malah,” akhirnya anak itu berkata.

Miho menarik napas dalam-dalam sambil berusaha tertawa. Dia menggeleng. “Aku minta maaf. Apa dandananku berlebihan? Apa teman-temanmu tidak berdandan seperti ini?”

Wajah Changmin mengerut. “Aku tidak tahu seperti apa mereka berdandan. Nuna lupa ya, aku tidak pernah melihat cewek-cewek selain di sekolah. Mereka tidak dandan di sekolah.”

Miho mengangguk-angguk mengerti. “Aah… baiklah.”

“Apa Nuna selalu berdandan seperti ini saat kencan?”

Miho menatap Changmin agak lama sebelum menjawab, “Tidak.” Changmin membelalak. “Bedakku pasti lebih tebal, begitu pula eye-linerku. Dan aku akan pakai lipstik, bukan lipgloss. Aku pikir remaja belum saatnya pakai lipstik, jadi saat ini aku hanya pakai lipgloss.”

Changmin memutar bola mata, “Memang ada bedanya?”

“Tentu saja!” Miho teringat film-film komedi romantis yang selalu ditontonnya. “Cewek dewasa akan memakai lipstik tebal-tebal agar bentuk bibirnya sempurna. Lalu memasang bulu mata juga agar mata terlihat lebih cantik. Aku tak punya bulu mata yang bagus, tapi kalau kupakai sekarang, kurasa kau akan ketakutan melihatku.”

Changmin tergelak. “Mungkin… lalu, cewek dewasa akan berkencan ke mana?”

“Ke tempat belanja!” Miho menjawab pasti, lalu terkikik melihat ekspresi Changmin. “Kalau berkencan, tugas cowok adalah membuat cewek bahagia dengan belanja, dan cewek membuat cowok senang dengan menjadi cantik dan memanjakannya.”

“Heol! Lalu kalau cowoknya tidak punya uang?”

“Tidak usah kencan. Di rumah saja makan ramyeon sambil nonton DVD sewaan, baca komik bersama atau…” wajah Miho mendadak merah.

“Atau?” Changmin memburunya dengan menyelidik.

“Atau pulang saja ke rumah masing-masing.”

“Maksudmu pasti bukan itu kan? Kau pasti hendak bilang: nge-seks.”

“Astaga, Changmin-a!”

“Ayolah Nuna! Aku 15 tahun! Aku tahu apa itu ngeseks.”

“Kau bilang kau belum pernah berkencan!”

“Tapi aku kan sudah tahu… Memangnya hanya lewat kencan aku bisa tahu yang begituan—“

“Aaah! Benar! Kau punya—“ Miho memotong ucapan Changmin yang kemudian terputus karena tahu dia membongkar rahasianya sendiri.

Changmin membelalak. “Punya apa?!” tanyanya tajam.

Miho menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia berdeham dan membenahi roknya dan masih tidak nyaman menjawab pertanyaan Changmin.

“Nuna mengintip kamarku!” Changmin berseru. Kecewa, malu dan kesal terdengar dalam suaranya.

“Aku tidak mengintip! Aku kan di sana! Kau saja yang tidak merapikan koleksimu dengan benar! Mereka mengintip dari bawah tempat tid—“

“Aaaak! Jangan katakan!” wajah Changmin merrraahhh sekali.

Miho menggigit bibirnya. Rasa malunya tertutupi oleh rasa ingin menggoda Changmin. “Apa mereka model dari Jepang?”

“NUNA!” Changmin berseru merajuk.

“Tapi sepertinya bukan. Sepertinya ada wajah yang aku kenali—dari Korea?”

“Yha! Nuna!”

Miho kembali terkikik. Dia melontarkan pandangannya ke luar jendela hanya karena Changmin memelototinya dengan jengah. Lalu tatapannya menangkap sesuatu. Mendadak tawanya terhenti.

Changmin bukannya tidak sadar. “Apa—“ dia menoleh ke arah yang ditatap Miho. Dari samping, Miho bisa melihatnya membelalak, lalu menelan ludah, dan seolah lupa Miho ada di sana, anak itu terus memandangi tempat berlabel “HOTEL” di seberang jalan.

Tanpa sadar Miho menyandarkan dagunya di telapak tangan. Matanya mengamati garis-garis wajah remaja di hadapannya. Changmin luar biasa menarik, saat dewasa nanti dia pasti akan membuat banyak wanita patah hati. Apalagi dia punya setengah jalan terbuka menjadi seorang idola, Miho yakin dia akan punya harem sendiri. Haha. Hidungnya mungkin besar, tapi juga mancung, bukankah itu sempurna? Bulu matanya redup ke bawah, tak terlalu panjang, tapi saat kau melihatnya dari depan, dia punya rangkaian mata yang sangat memesona. Lalu dagunya, buah lehernya yang samar…

Miho mengulurkan tangan, satu jarinya dia letakkan di bawah dagu Changmin dan memaksanya memutar wajah agar kembali mengahadapinya. “Hei,” sapanya seolah mereka baru bertemu. Changmin mengedip, setengah sadar. “Kau tahu kencan seperti apa yang sempurna?” Changmin diam saja, tapi Miho memilih menjawab sendiri pertanyaannya, “Ayo kita pergi. Aku tunjukkan kencan yang sempurna padamu.”

.

Mereka pergi ke taman hiburan.

Mereka naik roller coaster dan berteriak sepuasnya, melepaskan semua rasa canggung yang menggelayut.

Lalu mereka menaiki Vikings, membiarkan angin dingin menyapu wajah mereka keras. Lengan mereka saling bersentuhan.

Mereka berfoto di depan tenda sirkus. Dengan wajah konyol.

Mereka berfoto di depan istana Putri Salju. Dengan wajah manis.

Mereka berbagi harum manis. Dan burger. Dan kue ikan. Dan kentang goreng. Dan lain-lainnya sampai Changmin kenyang dan Miho kekenyangan.

Mereka memasuki rumah hantu. Jejeritan. Miho benci rumah hantu. Changmin juga, tapi jadi tidak terlalu karena Miho sangat ketakutan. Mereka berpelukan. Keluar dari sana Miho tidak ingat bahwa dia pernah berdebar sehebat ini gara-gara memasuki rumah hantu.

Mereka menaiki bianglala. Atas rengekan Miho, mengabaikan ekspresi Changmin yang merendahkan. “Apa serunya, sih?” tanyanya. Miho beralasan dia ingin melihat matahari senja dari atas.

Miho tak melihat matahari terbenam. Dia merekam wajah Changmin baik-baik dalam ingatannya. Sempurna dalam siraman sinar senja.

“Nuna?” Changmin memanggilnya tanpa menoleh.

“Mm?”

“Hari ini Nuna berdandan. Menurutku itu bagus,” Changmin tersenyum lebar padanya, kali ini menoleh dan menatapnya tanpa pertahanan sama sekali. Semacam perdamaian, tapi lebih terasa seperti hadiah untuk Miho.

.

“Saya ingin berterima kasih pada seonsaengnim,” suara Nyonya Shim terdengar anggun. Keletak cangkir bertemu tatakannya ringan mendenting di telinga Miho. Nyonya Shim lantas menggeserkan amplop yang tampak gemuk ke arah Miho. “Nilai Changmin sangat memuaskan. Sekarang dia bisa bekerja dengan tenang. SM Entertainment memastikan dia meneruskan sekolah di samping bekerja sebagai trainee. Mereka akan meneruskan usaha seonsaengnim mengawasi Changmin belajar.”

Miho meneguk tehnya dengan perlahan. Amplop gemuk itu membuat jantungnya berdebar. Dia tidak menyangka Nyonya Shim begitu memperhatikannya. Miho tidak mau mengira-ngira, tapi jumlah uang di dalam amplop itu pastilah sesuatu yang bisa membuatnya bertahan dengan layak selama mencari murid baru.

“Sayang sekali Seonsaengnim tidak mau mengajari adik-adik Changmin,” Nyonya Shim menyelipkan seberkas rambut ke balik telinganya.

Dia memang tidak mau. Hatinya mengatakan dia harus keluar saat ini juga atau dia tidak akan menyukai akhir ceritanya nanti. Dia tertawa ringan, “Aduh bagaimana, ya, Nyonya Shim. Saya bukannya tidak mau, tapi tugas kuliah saya semakin banyak dan saya juga mendaftar program beasiswa. Saya sedang mengambil kesempatan untuk bisa belajar di luar Korea dengan beasiswa.”

“Ya, ya, tentu saja. Anak muda harus gigih mengejar impiannya. Saya tidak akan memberatkan Miho ssi dengan permintaan saya.”

Miho tersenyum lagi lalu, “Kalau begitu, lebih baik saya berpamitan dengan Changmin,” katanya.

“Tentu saja. Changmin ada di atas. Saya rasa sedang beres-beres kamar, seperti biasanya kalau Soensaengnim datang,” ucap Nyonya Shim yang membuat mereka berdua tertawa.

Miho beranjak dan sebentar saja sudah berdiri di depan kamar Changmin. Dia mengetuk pintunya, entah kenapa teringat akan kali pertama dia berdiri di sana. Tanpa menunggu jawaban yang punya kamar, dia masuk.

Kamar itu kosong. Tapi rapi.

Miho beranjak menuju meja belajar Changmin yang sekarang sudah sangat rapi karena hanya berisi sedikit barang. Sebagian sudah dipindahkan ke asrama yang disiapkan SM Entertainment. Miho tidak tahu Changmin di mana tapi anak itu ada di rumah. Karenanya dia tidak terkejut saat pintu kamar dibuka dan seseorang masuk ke dalam. Langkah kaki itu milik Changmin. Lucu bagaimana Miho bisa menghapalnya.

“Nuna?” suara Changmin dalam. Sejak kapan suara anak itu berubah?

“Mejamu rapi sekali,” masih asyik menekuri meja Changmin, Miho bertanya sebagai ganti sapaan.

Changmin mendengus. “Tentu saja, sebagian barangku sudah out dari sini. Terakhir aku memindahkannya minggu kemarin. Nuna tahu aku akan seasrama dengan berapa orang? Tujuh orang. Lima calon debutan, dua manajer. Cih, luasnya hanya setengah lantai ini, aku tak tahu bagaimana kami bertahan nanti.”

Miho tertawa. “Sekarang kau lebih cerewet. Dulu kau hanya mengangguk dan menggeleng. Aku datang untuk—oh, kau baru mandi,” suara Miho terkejut. Dia baru saja berputar dan di hadapannya berdiri Changmin dengan hanya sepotong celana panjang yang menggantung rendah di pinggul dan sehelai handuk yang hanya menutupi kepalanya. Punggung Changmin telanjang dan—Miho baru sekarang mengetahuinya—lebar. Warnanya lembut, terlihat lembap akibat air yang masih sedikit menempel di sana.

Changmin mengusap-usap kepalanya kasar tanpa berbalik. Miho menikmati mementonya merekam punggung Changmin. Siapa yang tahu di masa depan dia harus bayar berapa untuk melihat punggung itu.

“Aku habis merapikan kamar lagi. Setelah sebagian barangku diangkut, rasanya ada barang-barang yang jadi tidak pada tempatnya. Nuna tadi bilang datang untuk apa? Oh, Nuna berdandan!” suara Changmin terkejut.

Miho tersenyum. Changmin membalasnya dengan cengiran. Anak itu menghampiri Miho dalam sekejap. Ketelanjangan yang tadi memamerkan punggung kini mempersembahkan dada. Kerempeng, tidak terlalu berisi, tapi otak Miho jadi agak korslet berdiri sedekat ini dengannya. Dia harus menengadah untuk menatap wajah Changmin. Sial, bahkan tingginya pun berubah drastis. Kiyutnya semakin berkurang.

Mata Changmin merambati seluruh wajahnya. “Apa Nuna ada kencan setelah ini?”

Miho mengerutkan alis.

“Nuna pakai lipstik.”

“Ah. Itu. Tidak. Aku sengaja berdandan karena untuk—ini—aku mau—kupikir karena ini—“ Miho menarik napas, agak kesal karena harus tergagap hanya karena menghirup segarnya aroma tubuh Changmin setelah mandi. “—Kupikir ini untuk berpamitan, jadi aku ingin tampil lebih baik dari biasanya.”

Changmin menatapnya beberapa saat sebelum tersenyum. “Nuna mencoba menampilkan ‘guru’ padaku? Haha..”

Miho agak malu dibilang begitu. “Bukan begitu. Masa setiap kali ke sini aku selalu pakai baju sekedarnya. Aku juga ingin dianggap pantas,” ucapnya tanpa sakit hati. Tangannya mencubit lengan Changmin. Tepat saat kulitnya menyentuh kulit Changmin, Miho hampir berhenti karena salah tingkah.

“Nuna tetap tidak kelihatan seperti ‘guru’,” Changmin masih tersenyum terlalu lebar.

Miho mendengus. “Aku tahu. Aku memang bukan guru.”

“Nuna terlihat oke begini,” nada bicara Changmin mendadak berubah. Matanya serius dan Miho kesal karena sepertinya hanya dia saja yang menjadi tuli akibat berdiri terlalu dekat dengan Changmin.

Sesuatu menyentuh rambutnya dan Miho tersenyum malu saat menyadari Changmin sedang menyelipkan seberkas rambut ke balik telinganya. Saat mengangkat wajah lagi, Miho membiarkan dirinya terhanyut. Rambut Changmin yang basah dan lembap membuat Miho tidak mampu berdiam diri.

Tangannya ganti terulur meraih handuk di kepala anak itu dan mulai mengelapnya pelan. Dia mengeringkan rambut Changmin sambil merasakan dadanya berdentum hebat. Changmin tetap memandangnya polos.

“Hei, Changmin?”

“Apa, Nuna?”

“Kalau kau sudah terkenal nanti, jangan lupa kirimi aku tiket gratis menonton konsermu, ya?”

Changmin terkikik, mengingatkan Miho lagi betapa masih mudanya anak itu. Ditahannya kepala Changmin dengan menjewer kupingnya tanpa kekuatan. “Pokoknya harus,” ucapnya memastikan Changmin menatap matanya.

Changmin mengangguk. “Mungkin,” katanya lalu tertawa lagi.

“Hei, Changmin?”

“Apa lagi?”

“Kau belum belajar hal yang terakhir.”

“Hah? Apa?”

“Caranya menutup kencanmu dengan sempurna.”

Mata Changmin terbuka lebih lebar lagi.

“Tapi maaf, aku tak bisa mengajarimu cara menutup kencan dengan cewek remaja,” Miho berbisik. Matanya kini sejajar dengan hidung Changmin, “Tapi aku bisa memberitahumu cara menutup kencan dengan wanita dewasa.”

Lalu bibirnya menutup bibir Changmin. Hangat dan lembut dan lembap dan Miho ingin segalanya kecuali berhenti.

Tapi dia harus berhenti. Maka sebelum Changmin sadar apa yang terjadi, dia melepaskan anak itu, mundur satu langkah dan berujar, “Annyeong, Changmin-a.”

.

“Halo semuanya… Aku mau membuat pengakuan.”

“Pengakuan apa, Jejung Hyung?”

“Sebetulnya, kemarin… Ah, aku tidka yakin bolehkan mengatakan ini…”

“Memang kenapa?”

“Sebetulnya kemarin… Aku… Habis mencium seseorang.”

“Ah!”

“Ah!”

“Ah! Itu! Ya. Itu benar.”

“Benar. Benar.”

“Aku bahkan mengambil gambarnya.”

“Apa? Sekarang kita punya paparazzi di dalam mobil kita?”

“Hahaha… Benar sekali. Aku kemarin mencuri ciuman pertama seseorang.”

“Hahaha… Ini seru.”

“Dan kemarin, aku mencuri ciuman salah seorang anggota kami yang belum pernah melakukan ciuman pertamanya.”

“HAHAHAHA!”

“Dan itu adalah ciuman pertama magnae kami. Haha, aku mencurinya.”

Miho berhenti bergerak. Radionya masih berbunyi, penuh dengan ejekan dan di sela-selanya dia bisa mendengar suara Changmin memohon agar candaan itu dihentikan. Upayanya tidak terdengar tulus. Dan Miho mendadak rindu pada suaranya. Dia berharap Changmin bicara lebih banyak lagi.

Tapi tentang ciuman pertama… Mendadak senyuman Miho melebar tanpa suara. Untung dia sendirian saat ini. Kalau tidak orang-orang pasti menganggapnya gila.

Ciuman pertama yang mereka hebohkan itu… Ah.

Miho hanya bisa terus tersenyum, merasakan kembali angin musim semi yang berhembus melalui jendela yang terbuka dan aroma segar tubuh setelah mandi.

.

.kkeut.

Iklan