Tag

, ,

851w. HoMin. A good day on Trafalgar Square.

.

Hari itu cerah. Ini photoshoot mereka yang ke sekian. Photobook memberi rekening kami masukan, para penggemar puas secara emosional sementara kami bisa menjalani hidup.

“Changmin ssi, buka kerah jaketmu sedikit, tunjukkan kemeja yang kau kenakan,” fotografer mereka, Kim Jihui memerintahkan Changmin yang sedang berpose di depan air mancur.

Senyumku lebar dengan barisan gigi terlihat. Secara instingtif aku menyampirkan lenganku ke bahu Changmin dan anak itu menoleh. Mulutnya membentuk tawa. Tawa senang yang terlihat seperti tawa mengejek. Hanya Changmin yang bisa melakukan itu dan butuh waktu bertahun-tahun untukku bisa membedakan apakah dia benar-benar sedang mengejekku atau tidak.

“Yak, bagus, begitu. Kalian sedang liburan. Kalian sedang bersenang-senang.”

Tentu saja kami bersenang-senang. Photoshoot bisa menjadi sangat menyenangkan kadang-kadang. Kami bisa pergi ke tempat mana pun di dunia dan semuanya gratis, bahkan kami mendapat bayaran untuk itu. Kalau dipikir sesederhana itu rasanya hidupku sudah sangat sempurna.

“Hyeong, habis ini aku ingin jalan-jalan.” Aku mendengar Changmin berkata. Ketika aku menoleh, aku harus menyipitkan mata melihat sinar matahari yang sangat berkilauan di wajah Changmin. Ada apa dengan Changmin hari ini, dia tampak sangat bercahaya. Aku yakin dia tidak habis ‘ehem-ehem’ tadi malam. Aku tahu sebab dia tidur sebelum aku dan bangun setelah aku. Dia bahkan tidak protes ketika aku memeluknya untuk menggodanya (anak itu biasanya sangat penggeli dan agak terlalu sadar diri akan kedekatan kami—akibat terlalu banyak membaca fanfiction).

“Tentu saja. Kau mau jalan-jalan ke mana?”

“Aku mau jalan-jalan di sekitar sini saja. Tempat ini terlihat sangat bagus,” dia mengedarkan pandangan, menutupi mata dengan tangan.

“Tidak, tidak, jangan tutupi wajahmu dengan tangan, Changmin ssi,” Kim Jihui memprotes.

“Boleh aku pakai kacamata?” Changmin berseru.

Menurutku kacamata ide bagus. “Ya, boleh kami pakai kacamata?” aku mendukung Changmin.

Anak itu menoleh dan menyunggingkan senyum senangnya, membuatku juga jadi tersenyum. Kapan pun perasaan Changmin baik, aku selalu mudah terbawa olehnya.

Tim konsep kami mengatakan bahwa itu ide yang tidak buruk, jadi mereka memasangkan kacamata pada kami.

“Yunho ssi, hadap ke mari. Aku adalah penggemarmu nomor satu,” aku mendengar Kim Jihui berkata dan secara otomatis aku tertawa saat menoleh padanya.

“Ada scooter di sana, kita boleh meminjamnya. Apa kalian tahu berkeliling Trafalgar Square bisa sangat menyenangkan dengan scooter?” Kim Jihui berseru lagi.

Cool, kami boleh meminjam scooter-nya? Tidak akan ada yang marah?” Changmin turun dari tempatnya bertengger di tepi air mancur dan segera berlari kecil ke arah yang ditunjuk Kim Jihui.

Aku tergelak. Selamanya uri magnae akan selalu menjadi anak kecil.

Aku mengikuti Changmin yang berlari sambil sesekali menghadap ke belakang, tangannya melambai ke arahku agar aku cepat-cepat mengikutinya. Aku berlari kecil, tapi berhenti kala dia tidak melihatku.

“Ayo, Hyeong!!” Changmin berseru tidak sabar. Dia sudah hampir sampai di scooter itu. “Aku ingin lihat toko-toko fashion di sekitar sini! Cepat, Hyeong! Nanti aku belikan t-shirt yang kau suka!”

Aku melambai dan mulai berlari lagi. Dari balik kacamata aku melihat Changmin menoleh lagi padaku dan angin menyebabkan tatanan rambutnya berantakan. Sinar matahari menyinari sela-sela rambutnya. Dia tampan sekali. Sebut aku bias atau apa, tapi menurutku Changminnie adalah yang paling tampan di antara semua bintang SM. Dia mungkin akan mengira pujianku padanya hanya apa yang harus kuucapkan di depan kamera tapi aku biasanya hanya bersikap jujur.

“Hyeong!” Changmin memanggil dan aku mempercepat lariku.

Saat itulah semuanya berubah. Langit masih cerah, angin lembut masih berhembus, tapi di sekitar kami orang-orang mulai berlarian. Aku belum sempat mencerna apa-apa saat kudengar suara tembakan. Aku tidak sempat mencerna apa-apa karena aku langsung berlari menuju Changmin.

Yang sudah jatuh terkapar di atas paving.

“Changmin-a!!!” aku berseru dan berlari padanya.

GET DOWN!!”

“Changmin-a!!!” aku berteriak. Rasanya jarak kami tadi tidak sejauh ini.

Di sekeliling kami teriakan-teriakan semakin keras. Lalu suara tembakan kembali terdengar beberapa kali.

“CHANGMIN-AA!!” aku berteriak panik karena Changmin hanya menggeliat-geliat.

POLICE! EVERYBODY GET DOWN!

Seseorang menabrakku dan aku jatuh tersungkur. “Andwae!” aku mengerang. “Changmin-aaa!!!!”

Aku mendongak dan melihat genangan darah mulai terbentuk di bawah tubuh Changmin.

“Changmin-a andwae! Changmin-a!” aku berteriak dan suara tembakan kembali terdengar.

Teriakan-teriakan seolah membeku saat akhirnya aku berhasil menggapai Changmin. Kugenggam tangannya yang dingin. “Changmin-a, andwae. Hyeong di sini, bertahanlah, Changmin-a.”

Tubuh Changmin bergetar dan bibirnya bergetar. “Hyeong…” panggilnya lemah.

“Hyeong di sini. Bertahan, Changmin-a. Bantuan segera datang.”

Mata Changmin menjadi sayu.

“ANDWAE!! CHANGMIN-A SADARLAH! BANGUN!” aku berteriak panik.

Tanganku sudah berlapis darah sekarang. Changmin tidak mengatakan apa-apa lagi tapi getaran tubuhnya semakin keras. Dia menggigil, jadi aku mengangkatnya, memeluknya erat. “Dimana yang tertembak, Changmin-a?” tanyaku dengan suara serak penuh air mata.

Changmin tidak menjawab, hanya mencengkeram jaketku.

HEEELPPP!!” aku berteriak. “HELP! MY BROTHER, HELP!!!

Aku kembali pada Changmin dan mengusap air mata yang mengalir dari sudut-sudut matanya. Dia terbatuk dan aku hampir terkena serangan jantung melihat darah yang mengalir dari sudut mulutnya. “Changmin-a, bertahan. Hyeong mohon bertahanlah. Kau masih belum jalan-jalan. Bertahanlah, Changmin-a… Hyeong mohon…”

Changmin tidak sempat menjawab sebab lalu suara tembakan terdengar lagi di kejauhan dan aku disingkirkan dari tempatku.

Semuanya seperti film bisu saat mereka menarikku dan mengangkat Changmin dengan tandu. Mungkin aku berteriak, mungkin aku memberontak, tapi aku harus berada di dekat Changmin. Atau mungkin aku hanya diam dan dengan keras kepala mengikutinya yang dilarikan oleh orang-orang berseragam. Aku tidak tahu. Telingaku tuli.

Changmin-a…

.

.kkeut

Iklan