Tag

, , , ,

1,312w. Yaoi. “Kepalanya seperti Apel.”

.

“ISY! JOROK!!” kau menghardik kesal. Dia, Lay, hanya cengar-cengir sebentar sebelum berlalu begitu saja seperti butiran debu tersapu angin.

Alismu masih berkerut-kerut, kepalamu bergidik saking kesalnya. Entah sudah berapa kali kau bilang padanya, “Jangan gigiti kepalaku!” tapi dia tak pernah ingat untuk mengingat peringatanmu. Memang selama ini dia hanya merangkum kepalamu di genggamannya, membuatmu tak bisa bergerak, lantas menggigit kulitnya sendiri. Tapi kau bukannya tak pernah mendapati sejumput rambutmu basah karena dia menggigit kepalamu sambil bicara, mulut terbuka lebar-lebar, ludah berloncatan kemana-mana.

Kali ini pun, kau melihatnya mengerling menjanjikan dia masih akan menggigit kepalamu lagi di suatu saat di waktu yang akan datang. Kau acungkan tinju padanya. Dia menutup pintu kamarnya.

Sialan.

.

“Aku tidak mau duduk di sebelah Lay,” kau berbisik di telinga Suho.

Pemimpinmu itu hanya membalas dengan pandangan prihatin yang penuh rasa tahu. “Ayo semuanya,” dia bicara keras pada yang lain. “Mulailah berbaris. Siaran sudah mau dimulai.”

Tak ada yang memperhatikan. Kai masih seperti lintah menempel pada Kyungsoo, Sehun sibuk dengan ponselnya, bahkan Chanyeol tampak mengawang di udara dengan tangan mengacau menghapal gerakan.

“Semuanya… ayolah…” Suho menekankan perintahnya dengan tepukan tangan.

Baekhyun sibuk menggosip dengan Jongdae. Tao memejamkan mata dengan mata terangguk-angguk, telinganya tersumpal earphone. Lay me—uh oh, tidak. Kau tak mau melihat Lay. Baru tadi pagi anak itu ‘menggigitmu’ lagi.

“Hei!” nada suara Suho naik satu oktaf. “Semuanya! Ayo berkumpul dan baris yang benar!” tak lagi halus, dia bicara keras. Keputusasaan membayang dalam suaranya. Yang mana tetap tak berguna sebab tetap tak ada seorang pun yang mendengarkannya. Akhirnya…

“YHA!!” dia berteriak kesal. “DENGARKAN AKU!!!”

Semua orang terkejut dan berhenti melakukan apapun yang sedang mereka lakukan. Hanya satu detik, lalu semua kembali mengacuhkannya.

Suho mendesah sedih. Dia menarik napas dalam sekali sampai kau khawatir dadanya jebol. Anak itu lantas maju dan mulai menghampiri setiap anggota satu per satu, menepuki punggung mereka, menggiring mereka ke tempat seharusnya seperti penggembala bebek yang sering kau lihat di film dokumentari. Saat di dekatmu, kau berbisik padanya, “Junmyeon-a aku tidak mau—“

“—di dekat Lay. Aku mengerti, Hyeong… Aku tahu. Masuklah dalam barisan…” keluh pemimpinmu itu putus asa. Kau bersumpah melihatnya menghentakkan kaki. Saat dia berlalu, kau menatap punggungnya dengan iba.

.

Hujan dan ayam goreng adalah perpaduan sempurna. Sayang kau sedang tidak boleh minum bir, kalau sebaliknya, kau pasti akan langsung mengadu pada penggemarmu betapa hidupmu sudah sempurna. Yah, meski begitu toh kau cukup puas dengan soda.

Kau mencintai teman-temanmu, tapi sesekali makan tanpa dikurangi jatah makanmu oleh mereka ternyata rasanya lumayan juga. Setiap potong ayam ini  bisa jadi milikmu.

“Minta, Ge!” mendadak dari belakangmu sebuah lengan terulur, mengambil sepotong ayam—yang paling banyak dagingnya—tanpa menunggu jawabanmu. Kau menoleh dan membelalak kesal pada Lay.

Dia meringis dan sebelum sempat kau bereaksi, dengan tangannya yang tak memegang ayam diraihnya kepalamu dan, “Aaemm! Mm!”

Begitu sadar, kau sudah menjerit dan siap menyerangnya.

.

“Hyeong, kenapa kau selalu menggigit kepala Minseok-i Hyeong?” kau mendengar Sehun bertanya santai.

Bagus sekali, Sehun-a, pikirmu mulai beranggapan bahwa di balik segala hal yang menyebalkan tentangnya ternyata Sehun cukup berbakti. Kau arahkan pandanganmu pada Lay, menuntutnya dengan tatapan.

Tak berguna, sebab baik Lay maupun Sehun tetap tak mengalihkan tatapan mereka dari layar televisi tempat mereka bermain game.

Lay hanya mengangkat bahu dan menjawab tanpa ekspresi, “Kepalanya seperti apel.”

Kau mendelik. Kurang ajar. Kau ada di sana dan mereka menganggapmu tak lebih dari perabotan.

Saat kau meninggalkan ruang televisi, kedua junior yang tidak menganggap kau ada itu sedang berteriak memakimu karena kau cabut sambungan listrik play station mereka.

.

Tanganmu terulur, matamu terbuka lebar, begitupun bibirmu. Napasmu penuh perhitungan. Di depanmu Lay siap menyerangmu. Kau kesal, tapi bangga karena kau bisa mendeteksi serangan Lay. Kau menghindar tepat pada waktunya.

Lay memandangmu sedih, bibir bawahnya yang entah kenapa selalu basah itu terulur maju. Kau menggeleng keras. Lay tidak akan mendapatkan apa yang diinginkannya kali ini.

.

“Hentikan, Hyeong,” Jongdae menegur Lay.

Lay menggigit bibir bawahnya. Kau bersembunyi di belakang Jongdae. “Kenapa kau selalu mengganggu Minseok-i Hyeong?” suara Jongdae penasaran agak bercampur kesal.

“Aku tidak mengganggunya,” Lay menjawab. “Aku suka kepalanya.”

Kau acungkan tinjumu padanya. Dia tertawa. Kau benci suara tawanya.

“Sesuka-sukanya kau dengan kepalanya, kau tidak bisa selalu menggigitnya. Itu bukan kepalamu,” Jongdae mencoba.

“Tapi aku ingin…” Lay merajuk.

“Kau tidak bisa memuaskan semua rasa inginmu juga. Lagipula kau juga tidak pernah benar-benar menggigitnya. Lebih baik kau cari apel dan benar-benar kau gigit,” Jongdae berkata sambil menghalau Lay yang maju lagi hendak meraihmu.

“Apel tidak sebesar kepalanya,” Lay beralasan.

Kau pikir, anak itu benar-benar gila. Lebih baik kau kabur sekarang.

.

Kau bisa merasakannya. Kau bisa mengetahuinya. Saat Lay condong ke depan dan tangannya terulur, kau tahu. Kau berbalik dan mengulurkan apa yang telah kau siapkan. Tangan Lay menangkap bukan kepalamu tapi buah yang kau siapkan. Tanpa menunggu kau dorong tangan anak itu dan memaksanya menggigit. “Itu pir apel. Cukup besar. Makan itu saja,” ujarmu sebelum beranjak meninggalkannya yang menggigit sambil agak bengong. Terima kasih pada Jongdae, kau sudah membeli banyak sekali pir apel sebagai perlindunganmu.

.

Pir apel tidak cukup untuk melindungimu dari tatapan Lay. Kau bergidik menatap matanya yang tajam terarah padamu—pada kepalamu—sementara mulutnya menggigit pir apel yang kau jejalkan untuknya.

Entah kenapa kau merasa masalahmu tidak sepenuhnya selesai.

.

“AARRGH!!” kau berteriak kaget saat merasakan gigi-gigi beradu dengan kulit kepalamu. Berbalik cepat, kau meninju siapa yang sudah kau duga melakukan hal ini padamu.

Lay yang tak menyangka gerakanmu secepat ini, jatuh terduduk di lantai. Kau menghambur ke arahnya, meninjunya berkali-kali, bahkan meraih kepalanya dan menggigitnya. Rasanya sungguh tidak enak. Rambut dimana-mana di dalam mulutmu dan… dan.. meskipun rambut Lay beraroma wangi tapi. “Jangan!” kau meninju dadanya “Lakukan!” kau pukul lengannya “Itu!” kau raih kepalanya “Lagi!” suara ‘duk’ terdengar saat kau membenturkan dahimu ke dahinya.

.

Kau memejamkan mata dan menarik napas dalam sekali saat Lay kembali menggigit kepalamu. Tidak sekeras yang pertama saat dia melakukannya dengan gigi, tapi kau sungguh-sungguh jengah membayangkan bibirnya mengerucut di kepalamu, mengambil bagiannya menggigitmu. Seperti kecupan yang terlalu lebar.

Lay tidak ada, kau bertekad. Dia tidak ada di dunia ini dan apapun yang terjadi saat ini hanya bayanganmu. Mungkin kalau kau mengabaikannya, Lay akan bosan dan tidak akan melakukan hal ini lagi.

“Mmm? Kenapa kau diam saja, Ge?” Lay malah berputar ke depanmu dan sekarang, setelah mendengar suaranya, kau terpaksa membuka mata, langsung bertatapan dengan matanya yang selama ini kau kira selalu ditutupi kabut.

Untuk ke sekian kalinya, Lay merasakan benturan dahimu. Kau sendiri sudah terbiasa, jadi tak lagi merasa sakit. Hanya hangat napas Lay di pipimu yang masih belum terbiasa kau rasakan. Dongsaeng kurang ajar!

.

Cukup adalah cukup. Berapa lama lagi dalam hidupmu kau harus diam diperlakukan sebagai bahan makanan oleh orang yang lebih muda darimu? Lay akan merasakan dendammu kali ini.

Kau melihatnya mengendap dari pantulan di layar televisi dan kau sudah siap saat dia menyerang. Kau berputar. Kepalamu terjebak dengan wajahmu menghadapnya. Kau menantang matanya dan yakin kau melihat kilasan di sana. Baiklah kalau dia tidak berniat mundur. Kau tahu berdasarkan insting bahwa dia akan tetap berusaha menggigitmu. Kepalanya maju.

Kau menunggunya sampai cukup dekat, lalu—cup. Seluruh tubuhmu merinding saat bibirmu mengenai bibirnya.

Tangan Lay langsung terkulai dan meski kau sendiri belum bisa pulih dari rasa yang menyengat tubuhmu, kau tahu Lay tak akan menyerangmu lagi kali ini. Kau tahu kau sudah bebas dari Lay. Anak itu akan membiarkanmu hidup tenang mulai sekarang.

Senyummu terbit di sudut bibir. Penuh perasaan kau tersenyum padanya. “Mau lagi?” tanyamu menggoda sambil mengangkat alis. Lay tak menjawab, tapi kau sudah menduganya. Kau melenggang dari hadapannya, menikmati kemenanganmu. Manis sekali rasanya.

Bukan, bukan rasa bibir Lay, kau bersikeras pada benakmu yang berteriak-teriak.

.

.kkeut.

.

PS.

Terhempas ke dinding, kau mengerang. Tubuhmu terkekang dan yang bisa kau gerakkan hanya kelopak matamu. Kau buka mereka dan melihat Lay menahanmu. Wajahnya tegang, lengannya teregang menahan kepalamu. “Lagi,” kata anak itu tanpa menunggu kau bereaksi.

Kau merasakan bibir Lay lagi. Di bibirmu.

.

Iklan