Tag

, ,

688w. BeeTeuk. Oneshot.

.

Sesederhana caramu memandangku, aku memasakkan masakan sederhana untukmu. Kuaduk dan kucampur semua bahan menjadi satu kemudian menyajikannya untukmu. Untukmu yang terduduk bersila di depan meja sederhana tanpa penutup. Meja berwarna kayu lekat terdiri dari empat kaki setinggi lutut orang dewasa saja. Piring dan mangkuk tertata di atasnya, hanya tiga masakan termasuk dua mangkuk nasi untukmu dan aku. Kau mengambil dan merasakan. Hmm, kau bilang, sedikit kurang garam.

Aku memandangmu skeptis dan merasakan apa yang kau rasakan. Tidak, ucapku, menurutku ini sudah asin.

Kau hanya mengangguk. Tak banyak bicara, mungkin banyak yang kau pikirkan, mungkin pelik yang kau hadapi, tapi yang penting kau makan. Kau lapar dan aku punya makanan untukmu, jadi kau makan, sesederhana itu.

Malam nanti kau akan pergi. Memenuhi egomu, memenuhi kebutuhanmu memenuhi kebutuhanku. Demi aku, demi kami, kau pergi dan menebarkan senyum di wajah orang-orang. Kau menjelma lebih muda nanti malam, membuatku iri karena kaulah yang suami, tapi kaulah yang lebih cantik. Ih.

Tapi lalu kau pulang, memberiku senyuman yang lebih sederhana dari yang kau berikan pada orang-orang, menghadiahiku sapaan yang terlalu simpel dibandingkan dengan yang kudengarkan malam sebelumnya. Kau rengkuh aku, kau bawa aku dalam pelukmu. Sesaat aku mengenali aroma penyegar tubuh dan riasan bercampur jadi satu.

Terlalu sesaat karena kau langsung melepasku lagi. Kau ingin tidur, kau ingin istirahat, aku tahu, dan aku tidak menghalangimu. Beristirahatlah, esok kita sarapan bersama lagi.

Sesederhana panggilanmu pada Eunmi, aku meraih dirimu dengan mudah seperti itu. Nama anak itu begitu mudah terucap dari mulutmu. Penuh cinta, penuh sayang, penuh dunia. Seperti jalan bebas hambatan, perasaanmu untuk Eunmi mengalir polos. Tanpa tutup tanpa prasangka tanpa topeng. Jika ditanya, apa arti Eunmi bagimu, kau selalu menjawab tanpa ragu, dialah cintamu. Semudah itu semuanya tercantum dalam keseharianmu. Semudah itu pula tangan ini terulur mengarah padamu.

Tangan ini terulur untuk meminta tolong mengangkatkan panci yang berat. Tangan ini mengulur untuk merapikan lipatan bajumu di pinggang. Tangan ini terarah ke pintu kamar mandi dengan handuk tersampir di lengannya. Tangan ini menyusup ke genggamanmu. Tangan ini menyentuhmu. Tanpaku harus berpikir atau mempertimbangkan. Kepadamu tangan ini terulur.

Merasakanmu membuatku lengkap. Bahkan ketika hanya ujung jemari yang membelai, aku diselimuti keakraban yang hanya kau yang membawanya. Hangatmu terbagi denganku. Genggamanmu membuatku merasa aman. Aku membutuhkan tanpa aku sendiri sadar aku melakukannya. Ketika aku menyadarinya, rasanya begitu hebat bahwa ada kau yang kubutuhkan. Saat kau ada, aku sadar aku membutuhkanmu.

Hah, padahal aku selalu memenuhi kebutuhanku sendiri tanpamu.

Sesederhana jungkat-jungkit, kau membawa hidupku naik turun. Aku menghargai perasaan berada di bawah kalau kulihat kau di atas. Aku melambung bahagia saat kau menahanku di puncak. Kau penyeimbangku, kau penyelarasku.

Konsep jungkat-jungkit demikian menakjubkan sampai-sampai aku tak lagi mampu melihat keajaibannya. Kaulah yang menunjukkannya padaku.

Tawaku riang gembira saat kau bawa aku ke atas, sendaku hanya tertahan dan tak hilang ketika harus di bawah. Aku tahu, saat aku di bawah, kau yang di atas, kau memikirkan sesuatu untuk diberikan padaku. Namun kau tak tahu bukan, bahwa ketika kau berada di atas sana sementara aku di bawah sini, aku punya keuntunganku sendiri. Duniaku menjadi lebih bercahaya, karena matahariku dekat sekali.

Kau, matahariku. Kau matahariku yang pucat. Kau matahariku yang cantik. Kau matahariku yang tegar. Matahari yang hanya sejauh ujung papan jungkat-jungkit yang lain. Kau, matahariku.

Ketika aku di atas, kau menengadah dan yang kau lambungkan adalah keseluruhan diriku. Seluruh jiwaku, seluruh pikirku, seluruh perhatianku. Aku hanya mampu menatapmu. Bagaimana aku tidak sedangkan kau di bawah sana bermandi cahaya luar biasa. Berkilau hingga membias ke tubuhku. Kau yang berkilau, kau.

Sesederhana teriakanmu saat kau kesal padaku, aku dengan mudah berteriak balik padamu. Rumah kita ramai. Dengan kemarahanmu, dengan rajukanku, dan dengan tangisan Eunmi yang penuh kecemasan.

Kau tanya kenapa aku melakukan itu, aku menantang kenapa tidak. Kau menuduh aku dengan sengaja membuatmu kesal, aku menjelaskan melalui kemarahan. Kau mendiamkan aku, aku melempar barang padamu. Apa kita bertengkar sekeras ini dulu? Aku hanya tahu bahwa kita berbaikan dengan cara mesum yang…ehem… keras. Aku tidak ingat semua detil pertengkaran kita, tapi aku tahu raut wajahmu saat kau marah. Aku bergetar kalau mengingat itu. Bergetar karena takut, dan bergetar karena hal yang lain.

Karena kaulah yang marah. Aku rasa… aku menikmatinya.

.

.kkeut.

Iklan