Tag

, , , , , , , , ,

1.121w. BeeTeuk. Oneshot. “Yeppo, bagaimana kalau malam ini kita kencan?” tanya Jungsoo pada istrinya yang baru saja selesai merapikan kamar mereka.

.

“Sudah siap?” tanya Jungsoo di pintu kamar.

Aku mengangguk. Senyumku mengembang salah tingkah saat Jungsoo tersenyum padaku. Dia mengulurkan tangan dan hampir tanpa berpikir aku mendekat padanya. Lengannya mengular di pinggangku dan mataku entah mengapa tak bisa lepas dari lekukan bahunya. Ketika dada kami bertemu, aku kembali tersadar akan perubahan yang sudah dia alami. Tubuhnya saat ini lebih penuh, lebih berisi.

“Cantik,” bisiknya di pelipisku.

Bibirku membentuk garis tipis sebagai usaha menyimpan senyum lebar kesenangan. “Terima kasih,” ucapku berbisik pula, sekuat tenaga mengharap nada senangku tidak terlalu terumbar.

Dia melepaskanku, menggenggam satu tanganku, kemudian menarikku menuju pintu depan. “Ayo, yang lain pasti sudah menunggu,” katanya.

Aku mengangguk dan menurutinya.

Sesaat kemudian kami sudah meluncur di jalanan bagus Seoul. Lampu-lampu menyebabkan malam tak berbeda dengan siang. Semuanya terlihat, semua berkilau. Aku menahan tawaku dan menoleh ke samping. Jungsoo begitu mengesankan.

Aku merasa geli.

Sudah berapa lama aku bersamanya dan masih berpikir dia mengesankan? Konyol rasanya, seperti remaja puber yang kasmaran.

Dia menoleh dan tersenyum. Tanpa dia bicara, aku tahu dia sedang bertanya-tanya, “Wae? Ada apa?” membuktikan bahwa waktu memang sudah berlalu cukup lama sejak kami akhirnya bisa bersama. Aku tahu pikirannya hanya melalui matanya. Rasanya hebat.

Kucondongkan tubuh, bergulat dengan sabuk pengaman yang menyulitkan. Kukecup pipinya lembut, berusaha tidak meninggalkan terlalu banyak jejak lipstik di sana. Setelah kuusap sisa pewarna bibirku di pipinya yang berlapis krim rias tipis, aku kembali ke tempat dudukku. “Gomawo,” kataku.

“Terima kasih untuk apa?” dia bertanya heran, menatapku sekilas sebelum kembali menatap jalan.

“Untuk waktumu malam ini.”

Dia tertawa. Melepaskan satu tangannya dari kemudi kemudian mengulurkannya ke arahku. Tangan itu berhenti saat menemukan tanganku. “Bukan masalah,” ucapnya.

Kualihkan tatapanku ke jalanan di depan. Aku takut Jungsoo akan bolong kalau aku terus menatapnya seperti yang kulakukan.

Jalanan tidak terlalu lengang, tapi tidak begitu ramai sampai-sampai kami harus berjalan sangat pelan. Dalam kecepatan yang menenangkan, kami terdiam. Nyaman melingkupi kami. Hangat menyirami hatiku saat kami saling meremas tangan.

.

When you say you love me, know I love you more
When you say you need me, know I need you more
Boy I adore you…
I adore you…

Sesuatu dalam diriku tersenyum. Sesuatu di balik kelopak mataku tersenyum kembali padaku. Sesuatu di sekelilingku membuat suara gaduh.

Ketika aku membuka mata, kudapati banyak mata menatapku penuh godaan, (mungkin) penuh ejekan. Tapi aku tidak kuasa untuk tidak tersenyum. Aku bahagia malam ini dan hanya itu yang bisa kurasakan. Tidak kurang sedikit pun.

“Iya, tahu,” ujar Ryeowook dari tempat duduknya. “Kau tergila-gila pada Teukie Hyung,” katanya keras sebab mikroponnya terpasang menyala tepat di depan mulut.

Aku nyengir lalu kembali menatap layar di depanku. Barisan lirik berubah warna seiring melodi yang terus mengalun. Mulutku terbuka terus menyanyikan lagu yang sangat kusukai ini.

Baby, can you hear me? When I’m crying out for you
I’m scared oh, so scared. But when you’re near me
I feel like I’m standing with an army
Of men armed with weapons

Gelak tawa mengiringi suaraku. Siulan-siulan jahil menyertai. Aku tersenyum lebar di setiap lirik yang kuucapkan. Di mataku berkelebat bayangan Jungsoo yang tertawa menatapku. Di sana ada sosoknya yang merentangkan tangan bersiap menyambutku. Ada dia yang berkaos dalam lusuh dan berkeringat sehabis membereskan pipa yang bocor di dapur. Ada dia yang mengerutkan kening karena tidak suka melihatku terlalu lama berenang di laut bersama Eunmi.

Aku membuka mata dan ada dia di depanku.  Wajahnya yang tirus, dahinya yang lebih lebar sekarang, kerutan halus tak kentara di antara alisnya, bibirnya yang rasanya tidak sehalus kelihatannya. Dia berdiri di hadapanku dengan senyum miring terpasang. “Kau memujaku?”

Lirikku terganggu. Mulutku tak menjawab, tapi lenganku yang terulur ke lehernya, tubuhku yang mendekat ke arahnya, semua menyerukan “Ya, aku memujamu, Eunmi Appa…”

Tubuhnya bergerak. Pinggulnya berayun dan tangannya sudah beristirahat di pinggulku. Di bawah pinggang tubuh kami merapat.

“Oh, seriuslah, Hyung!” suara Kyuhyun mengiringi bantal kecil yang dilemparkan ke arah kami.

“Apa kalian tidak punya malu?” kali ini Heechul yang berseru. “Cari hotel sana! Kita di sini untuk karaoke, bukan untuk mesum!”

Lalu bagian itu berputar lagi:

Boy I adore you…
I adore you…

Aku menyanyikannya dengan penuh perasaan. Jungsoo membimbingku bergerak seolah kami sedang berdansa. Suara Eunhyuk dan Siwon tertawa membuat perasaanku lebih hangat. Betapa mereka sudah benar-benar jadi keluarga untukku sekarang. Tidak ada lagi rasa jengah menunjukkan pada semua orang bahwa aku mencintai lelaki ini, Hyung mereka yang tertua.

Jungsoo mencium pipiku, lalu pelipisku, lalu Donghae mengerang, “Hyung! Kau tidak adil! Kakak ipar, kalian keterlaluan!”

Aku hampir terkikik geli. Di antara semuanya, secara mengejutkan justru Donghaelah yang belum bisa berhenti bertualang. Baru minggu lalu dia kembali putus dari ceweknya yang kesekian. Kali ini alasannya karena menurut Donghae cewek itu terlalu kaku, tidak bersedia pamer hubungan. Diam-diam saja, tapi aku rasa Donghae sedikit berjiwa ekshibisionis.

“Untung Cheol sudah tidur, kalau tidak aku pasti langsung pulang sekarang,” kudengar Shindong bicara dari tempatnya duduk memangku anaknya yang baru dua tahun.

Jungsoo menoleh dan aku tahu dia memandang Shindong saat berkata, “Kau terlalu lemah padanya, Dong. Seharusnya anakmu itu tidak kau perbolehkan ikut. Ini malam untuk orang dewasa.”

Pasangan Eunhyuk dan Kangin yang juga ikut malam ini bergumam setuju.

“Hey, ini anakku!” Shindong protes.

“Ya, dan kau terlalu tergila-gila padanya. Itu tidak sehat, Dong,” kali ini Kangin yang menimpali.

Aku menyusupkan wajah ke pundak Jungsoo, menghidu aroma tubuhnya yang sangat familiar. Aku mencintai lelaki ini. Masih dan sepertinya belum akan berubah beberapa lama ke depan.

Jungsoo, seperti bisa membaca pikiranku, mengeratkan pelukannya di pinggangku. Aku mengayunkan tubuhku mengikuti gerakannya dan bersama kami terus bergoyang, menghiraukan percakapan orang-orang di sekeliling kami. Beberapa masih protes melihat kebersamaan kami, beberapa tampaknya sudah tidak peduli. Untukku sendiri, ini nyaman dan menyenangkan.

Jarang-jarang aku bisa bersamanya seperti ini. Dalam suasana santai yang tidak mendesak. Tidak ada jadwal syuting, tidak ada jadwa pengamatan untukku, tidak perlu terburu-buru menjemput Eunmi (terima kasih Inyeong Eonni, sudah menjaganya malam ini), tidak perlu menjaga sikap karena semua di sekitar kami adalah keluarga. Jarang sekali aku mendapat kesempatan menunjukkan perasaanku padanya seperti sekarang.

Kehidupan berkeluarga sangat jauh dari bayangan indah-indah yang dikira semua lajang. Berkeluarga bukan melulu manis-manisan setiap saat, saling melempar tatapan dan senyum penuh kebahagiaan karena bisa bersama. Tapi kehidupan berkeluarga itu adalah kehidupan yang dipenuhi syukur saat menyadari bahwa kebersamaan masih memiliki arti yang dalam bagi semua anggota keluarga.

Untukku sendiri, saat-saat seperti ini, ketika kami bisa berkencan, memanfaatkan waktu luang dari jadwal rekaman yang seabrek, mencuri sedikit masa dari tanggung jawab menjaga anak dan rumah, serta bolos sebentar dari menulis jurnal, adalah saat-saat aku bisa menunjukkan pada Jungsoo bahwa aku sangat, sangat memujanya. Masih.

Ketika melodi terakhir terputar, aku mendongak, merangkum wajahnya dengan tanganku dan menurunkan mikropon yang sedari tadi terjepit di antara kami berdua. Kukecup bibirnya mesra sekali. Itulah caraku mengatakan padanya bahwa sama seperti sebelumnya, aku (masih) terus mencintainya.

.

.kkeut.

Iklan