Tag

,

193w. Changmin-Bee.

.

“Ahh!”

“Kau kenapa?”

“Sakit…”

“Apanya?”

“Ahh.. andwae..!”

“Yha, kau kenapa?”

“Dadaku… dadaku, Changmin-a…”

“Eiish, jangan main-main, bangun, jangan geletakan di lantai begitu. Lantainya kotor.”

“Ahh!”

“Kamu kenapa sih? Wajahmu itu lho, nggak percaya aku, kamu beneran sakit.”

“Sakiit, Changmin-a… Ahh…”

“Jangan lebay deh. Kamu mau apa? Ngomong aja nggak usah pake drama-dramaan segala.”

“Changmin-a… kabulkan keinginanku… Raih tanganku…”

“Itu doang? Raih tanganmu? Udah?”

“Bukan… Kemarilah, ini keinginanku…”

“Ck, aku malas jongkok.”

“Changmin-aaa~~”

“Arasseo arasseo. Wae?”

“Cium aku.”

“Mwoya!”

“Sebelum aku pergi,” aku harus mencegahnya bangun, jadi aku menggelayut pada lehernya.

“Apaan sih, jangan main-main deh…”

“Aku… Sakit, Changmin-a…”

“Dari tadi juga baik-baik aja. Cari alasan minta cium juga yang masuk akal keles.”

“Tapi, tapi ini semua karena kau, Changmin-a…”

“Apaan.”

“Andwae! Jangan tatap aku begitu! Sudah cukup kau menusuk hatiku. Aku menyerah!”

“Apaan coba!”

“Changmin-a… untuk terakhir kalinya… cium aku…”

Changmin menatapku tidak percaya.

“Aaaa~~ Cium akuuu~~~”

Dan yes! Akhirnya!

“Ugh, Changmin-nim… kau membunuhku…” aku menggeletak di lengannya. Dan dia menyentil dahiku. “Aak! Sakit!”

“Dan aku menghidupkanmu lagi, Pabo-ya. Jangan tinggalin aku lagi!”

“Wae?”

“Apa masih perlu dibilangin? Pokoknya jangan tinggalin aku lagi. Ini perintah!”

“Baik, Changmin-nim… Aaakh, tatapanmu!! Menusuk jantungku!”

.

.kkeut.

pabonikka

 

Iklan